
Semua pendukung Erick dalam balapan kali ini, kini sedang mengerumuni Sang Pemenang itu.
Abian, Theo, Bryan, dan 3 orang lagi yang juga merupakan anggota dari geng Sky Bruiser, saat ini sedang mengangkat tubuh Erick, mereka melempar tubuh Erick ke atas, lalu kembali menangkapnya, dan hal itu terus terulang.
Sementara itu, baik Alex yang kalah maupun pendukungnya yang juga ikut merasakan kekalahan, kini sedang kesal dalam diam.
Dari jauh, mata mereka semua melihat Erick dan teman-temannya yang sedang begitu bahagia, dengan tatapan dan raut wajah tak suka.
"Sial!" teriak Alex yang benar-benar tidak terima dengan kekalahannya itu, saat ini rasa malu dan marah pun tercampur aduk di dalam tubuhnya.
Marah karena kalah, dan malu karena kalah padahal merekalah yang menantang ketua geng Sky Bruiser itu untuk balapan.
Ditengah-tengah dua suasana yang saling bertabrakan itu, suasana bahagia dan kesal, tiba-tiba saja terdengar suara sirine polisi.
"Itu polisi?" lirih Bryan sembari mencari sumber suara, hal yang sama pun dilakukan oleh semua orang yang ada disana.
Ttiiinnnuuu .. Ttiiinnnuuu ...
Suara sirine mobil polisi itu terdengar semakin kuat, suaranya seperti mendekat ke arah mereka berada saat ini. Hingga akhirnya, 3 mobil polisi muncul dari balik bayang-bayang gedung.
Melihat hal itu, seketika saja semua orang menjadi panik, dan tanpa tahu arah, mereka berhamburan untuk kabur agar tidak ditangkap
Semua orang yang ada di sekitar arena balap itu, benar-benar dengan sangat cepat meninggalkan jalan raya yang menjadi arena balap tersebut, tak terkecuali untuk Erick.
Suasana yang awalnya ricuh karena sorak-sorai kemenangan, kini menjadi ricuh karena panik dan ketakutan.
Ddooorrrr ...
Sebuah tembakan kosong di tembakan ke udara, dan kemudian 3 orang polisi turun dari mobil mereka. "Berhenti kalian!!" teriak polisi itu.
Mendengar suara tembakan dan juga teriakan polisi itu, semua orang semakin mempercepat gerakan mereka, ada yang berlari dan masuk ke gang-gang kecil, dan ada juga yang pergi menaiki motor milik mereka.
__ADS_1
"hahaha ... Cepat tinggalkan tempat ini! Ayo berpencar!" teriak Erick kepada para anggota gengnya, dia pun mengatakan hal itu dengan tawa terbahak-bahak, tidak ada raut takut ataupun panik yang terlihat di wajahnya.
Setelah menyuruh semua anggotanya untuk berpencar, Erick langsung menancapkan gas motornya, dan melaju meninggalkan tempat itu.
Namun, ternyata nasib Erick malam hari ini cukup tidak beruntung, karena dari banyaknya orang yang kabur, hanya dirinya lah yang di kejar oleh para polisi-polisi itu.
Hingga, setelah beradu kecepatan dengan 3 mobil polisi, Erick akhirnya dapat dihentikan. Salah satu mobil polisi yang ada menghadang jalannya, lalu dengan cepat mereka turun dari mobil dan menangkap Erick.
......................
Di dalam ruangan polisi yang cukup kecil, Erick sedang diinterogasi oleh 2 orang polisi yang menangkapnya tadi.
"Erick! Sebenarnya apa mau kamu? Saya tanya sekarang, kamu tahu sudah berapa kali kamu kami tangkap karena melakukan balapan liar?!" Dengan suara yang tegas dan penuh penekanan, polisi yang duduk tepat di hadapan ketua geng Sky Bruiser itu bertanya padanya.
Erick diam, enggan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh polisi di depannya itu.
"Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa padamu! Apa kamu tidak kasihan pada kedua orang tuamu? Mereka harus menanggung malu karena perbuatan nakal mu ini!" Lagi-lagi polisi itu berbicara dengan penuh penekanan.
BRRAAKK ... !!
Erick memukul meja yang ada di depannya dengan cukup kuat menggunakan kedua tangannya itu.
Melihat aksi Erick tersebut, dua polisi yang sedang menginterogasinya kaget bukan baik.
"Pak! Apa anda telah dibayar oleh orang tua saya, sehingga anda mengatakan hal seperti itu? Saya harus kasihan sama mereka? Mereka harus malu karena saya?!" Erick melontarkan begitu banyak pertanyaan kepada para polisi itu dengan nada bicara yang terdengar sangat marah.
Dia diam selama beberapa saat, mencoba menahan emosinya yang terus meluap-luap.
Ketika dirinya sudah mulai tenang, Erick kembali melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti.
"Kali ini giliran saya yang bertanya pada kedua polisi yang terhormat di depan saya ini, apakah mereka pernah datang untuk menjadi penjamin ketika saya ditangkap? Tidak! Selama ini tidak pernah kan, Pak? Lantas kenapa mereka bisa malu?" lanjut Erick dengan nada bicara yang datar, tapi jika dilihat dari wajahnya, wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
__ADS_1
Setelah semua kemarahannya dia luapkan ke luar, Erick terdiam. Dan tidak hanya Erick yang diam, kedua polisi yang menginterogasinya itu pun ikut terdiam, karena mendengar semua kata-kata yang dalam dari Erick tersebut.
Suasana yang hening pun tidak dapat dihindari, selama beberapa menit, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Erick maupun kedua polisi itu. Ketiganya benar-benar terdiam.
Hingga akhirnya, suara dari Erick menyudahi kesunyian tersebut, "Pak, sekarang apa saya boleh menelpon seseorang sebagai penjamin saya? Saya harus segera pulang, Pak!" ujar Erick yang sudah benar-benar tenang.
"Silahkan!" balas salah satu polisi, mendengar respon tersebut sekilas senyum pun terbesit di wajah Si Ketua Sky Bruiser itu.
Segera Erick membuka ponselnya, dan melihat nama-nama kontak yang ada disana.
"Pak Sukardi." Itulah nama kontak yang paling sering Erick hubungi, nomor telpon Pak Sukardi itu pun berada di panggilan paling atas.
Namun, dengan tiba-tiba Erick menghentikan jempolnya yang hampir menekan kontak Pak Sukardi itu. "Selama ini, Pak Sukardi lah yang selalu gue telpon, jika hal-hal seperti ini terjadi. Sebaiknya kali ini gue tidak merepotkannya!" gumam Erick dalam hatinya.
Erick kembali menggeser layar ponselnya, mencoba mencari kontak siapa lagi yang bisa dia hubungi selain Pak Sukardi.
"Wanita itu"
"Pria itu"
Dua nama kontak yang aneh itu bahkan Erick lewatkan dengan cepat, yang dimana itu adalah nomor mama dan papanya.
"Apa saya boleh menghubungi teman saya saja, Pak?" tanya Erick yang sudah pasrah untuk menghubungi orang dewasa.
Dia baru menyadari, bahwa hanya ada 3 nomor orang dewasa di ponselnya itu. Satu-satunya nomor orang dewasa yang sering dia hubungi adalah nomor Pak Sukardi. Nomor mama dan papanya? Erick sudah tidak pernah menghubungi nomor itu mungkin hampir setengah tahun.
Karena selama ini, jika Brady ingin menghubungi Erick, dia akan menghubungi anaknya itu dengan cara menelpon Sukardi, lalu meminta Sukardi untuk menyampaikan pesan darinya.
Sementara Erick, dia tidak pernah ada niat untuk menghubungi kedua orang tuanya sama sekali.
"Asalkan bukan anggota geng mu, dan juga bukan kenalan-kenalan kamu yang berandalan itu, maka dia bisa menjadi penjamin mu kali ini. Karena akan sama saja, jika kamu menelpon orang yang persis perilakunya seperti dirimu, bukan begitu?" ucap polisi yang duduk di depan Erick, menjawab pertanyaan dari Erick tadi.
__ADS_1
Mendengar jawaban tersebut, Erick menjadi benar-benar bingung. Tidak bisa menghubungi Pak Sukardi, tidak ingin menghubungi Brady dan juga Hanifa, serta tidak boleh menghubungi para teman-temannya, lalu siapa yang bisa dirinya hubungi sekarang?