
Sukardi membukakan pintu kamar Erick agar Brady dan Hanifa bisa masuk ke dalam, karena sebelumnya pintu itu dikunci dari dalam saat teman-teman Erick sudah pulang.
"Kalau begitu saya izin pergi ke dapur dulu Tuan, Nyonya!" seru Sukardi ketika pintu telah terbuka, dan kemudian dia pun langsung pergi berlalu.
Ketika Sukardi telah meninggalkan kamar Erick, perlahan Brady dan juga Hanifa masuk ke dalam kamar tersebut. Di wajah mereka berdua, dengan sangat jelas menunjukkan ekspresi orang tua yang sedang khawatir.
Lalu tanpa aba-aba dan secara tiba-tiba, Hanifa berlari ke ranjang putranya, dan memeluk Erick dengan sangat erat.
"Maafkan mama sayang!" Isak tangis wanita paruh baya itu pun pecah saat memeluk Sang Putra. Hal itu tentu saja membuat Erick menjadi sangat kebingungan, "Apa yang sedang terjadi?" gumam Erick di dalam hati kecilnya.
"Erick, papa juga minta maaf ya. Papa sangat menyesal karena semua hal yang kamu alami selama ini," ucap Brady yang baru saja sampai dan berdiri di samping ranjang tidur Erick.
Mendengar ucapan Sang Papa, Erick menjadi semakin bingung. Dia pun menaikkan salah satu alisnya, "Sebenarnya ini ada apa, Pa?" tanya Erick yang sudah tidak tahan dengan semua kebingungan tersebut.
Brady diam dan tak menjawab pertanyaan dari Erick, sementara Hanifa perlahan melepaskan pelukannya. Kemudian setelah itu, suami istri tersebut saling pandang dan seperti sedang mengisyaratkan sesuatu.
Lagi-lagi Erick dibuat tidak mengerti dengan kelakuan orang tuanya. Bahkan Si Ketua Geng Sky Bruiser itu hampir ingin meminta agar kedua orang tuanya pulang saja, jika memang tidak ada hal yang ingin mereka katakan.
Namun pada akhirnya Sang Mama pun bersuara, "Katakan saja Pa," ucap Hanifa dengan lirih, Brady pun membalas perkataan Hanifa dengan anggukan kecil kepalanya.
"Erick, Papa ingin mengaku bahwa sebenarnya saat itu, ketika kamu berteriak dan mengatakan semua yang kamu rasakan selama ini, Papa telah mendengar semuanya. Hanya saja perlu waktu yang cukup lama untuk Papa mengerti apa maksud kamu saat itu."
"Hingga pada akhirnya kami sadar, kalau selama ini kamu sebenarnya hanya menginginkan kasih sayang dari kami. Sekarang kami sadar, kalau kamu nakal itu semua karena salah kami."
"Papa akhirnya mengerti kenapa selama ini kamu lebih dekat dengan Pak Sukardi, karena memang dia lah yang selalu ada untuk kamu selama ini. Bukan kami yang merupakan orang tua kamu."
__ADS_1
Brady mengucapkan semua hal yang ingin dirinya katakan kepada Sang Putra dengan nada bicara yang sendu. Wajah sedihnya pun terlihat jelas.
Setelah mengatakan semuanya, perlahan Brady meraih tangan Erick, hal yang sama dilakukan juga oleh Hanifa. Mereka menggenggam dengan erat tangan putranya.
"Sayang, Mama benar-benar minta maaf. Andai saja Mama lebih peka tentang kemauan kamu yang sebenarnya, penderitaan kamu pasti tidak akan berlangsung selama ini, kamu bahkan sampai sakit sekarang. Hiks ... Maafkan Mama Erick! Mama salah," ucap Hanifa yang kembali menangis.
"Papa juga minta maaf ya Erick. Papa sungguh menyesal atas semua masalah ini, selama ini Papa selalu menyalahkan kamu tanpa bercermin dengan diri Papa sendiri. Papa salah, dan Papa harap Papa bisa menembus semuanya mulai sekarang," sambung Brady, tanpa sadar air mata pun ikut jatuh dari mata pria paruh baya itu.
Erick yang mendengar semua permintaan maaf yang tulus dari kedua orang tuanya, tidak dapat lagi menyembunyikan air matanya yang juga mulai berjatuhan setetes demi setetes.
Kini dirinya dipenuhi oleh rasa senang. Erick tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa dia bisa merasakan ketulusan dari orang tua seperti ini.
Perlahan tangan Erick bergerak untuk membalas genggaman tangan orang tuanya, "Pa, Ma. Erick juga minta maaf ya, maaf karena selama ini Erick udah kasar dan jadi anak yang nakal, anak yang tidak dapat dibanggakan, anak pembangkang, dan menjadi aib dari keluarga ini—" ujar Erick yang benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Rasa kesal pada dirinya sendiri, dan juga rasa senang beradu menjadi satu.
"Sudah, sudah Erick. Kamu bukan anak yang seperti itu, jangan menyalahkan diri kamu. Mari sekarang kita belajar untuk membenahi diri kita sendiri, dan juga keluarga ini!" ucap Brady sembari menepuk-nepuk pundak Erick.
"Hhuuwaahhh ... Hhuuwaahhh!" Devil boy yang selama ini bersikap dingin, kini menangis dengan sangat kuat di dalam pelukan hangat kedua orang tuanya.
"Huft ... Akhirnya semuanya berakhir ya Tuan muda, selamat menikmati keluarga yang bahagia mulai dari sekarang!"
......................
Di malam hari setelah Erick dan orang tuanya saling bercengkrama, Erick kembali sendiri di dalam kamarnya.
Awalnya Hanifa meminta dia untuk tinggal di rumah mereka mulai dari sekarang, tapi Erick menolak tawaran tersebut dengan alasan ingin belajar hidup mandiri.
__ADS_1
"Huft ... Benar-benar hari yang melelahkan!" lirih Erick disertai dengan aksi menghela napas kasar.
Tak lama setelah dirinya mengatakan kalimat tersebut, Erick tertidur dengan cukup lelap.
Lalu esok harinya, saat matahari pagi mulai bersinar, Sukardi menemukan Erick dengan kondisi yang kembali drop di dalam kamarnya.
"Ini pasti karena kemarin. Kemarin Tuan muda mendapatkan banyak sekali kejutan, itu pasti sangat melelahkan bagi mental Anda. Jadi sekarang tuan muda istirahat baik-baik, ya!" Dengan suara yang tegas, Sukardi berbicara sembari menarik selimut hingga ke dada Erick.
Setelah dia melakukan hal tersebut, Sukardi pun keluar dari kamar Erick, dan Erick kembali tidur agar kondisinya bisa membaik.
Waktu demi waktu berlalu, hingga akhirnya Senin pagi pun tiba. Pagi-pagi sekali, pria yang dijuluki sebagai Devil boy itu sudah bangun untuk berangkat ke sekolah, karena hari ini dirinya sudah sembuh.
Kemudian saat jam pulang sekolah tiba, Erick bertemu dengan kedua orang tuanya di jalan menuju ke tempat parkiran. Hal itu tentu saja membuat Erick menjadi kaget sekaligus bingung.
"Loh, Mama Papa? Kenapa kalian bisa ada disini? Bukannya seharusnya sekarang kalian ada di kantor?" tanya Erick dengan wajah kagetnya.
"Mama dan Papa sengaja luangkan waktu buat kamu sayang, ayo kita jalan-jalan!" jawab Hanifa dan dengan tiba-tiba langsung mengajak Si Anak untuk pergi jalan-jalan bersamanya dan suami.
Mendengar hal itu Erick menjadi semakin kaget, dia pun diam terpaku, membuat Hanifa jadi tidak sabar dan langsung menarik tangan Erick menuju ke parkiran mobil, tempat dimana mobil mewah Brady berada.
"Tapi motor Erick gimana?" Erick bertanya dengan cepat sebelum mereka terlalu jauh dari parkiran motor.
"Biar Sukardi yang membawanya pulang ke villa kamu," sahut Brady yang lagi-lagi justru membuat Erick kebingungan, "Loh emangnya pak Sukardi bisa bawa motor besar?" Erick kembali bertanya untuk kesekian kalinya.
Kali ini, Sukardi yang menjawab pertanyaan dari Sang Majikannya, "Aduh Tuan muda, gini-gini dulu saya juga anak geng motor!" ucap Sukardi dengan nada bicara yang riang. Ucapan Sukardi itu sontak membuat Erick tertawa, begitupun dengan Brady dan juga Hanifa.
__ADS_1