
Saat ini, keheningan terjadi antara Erick dengan Navya. Keheningan itu dimulai sejak Navya menyelesaikan kalimat panjangnya.
Erick diam, karena dia mencoba memikirkan usulan-usulan yang Navya lontarkan secara tidak langsung dari kalimat wanita itu.
Sementara Navya terdiam, karena dia melihat Erick yang tidak merespon kalimatnya. Navya takut jika dia salah bicara, sehingga membuat Erick menjadi diam seperti sekarang.
"Navya!" Setelah keheningan itu berlangsung kurang lebih sekitar 5 menit, tiba-tiba saja Erick berseru menyebutkan nama Navya dengan begitu bersemangat, membuat Navya yang mendengarnya langsung menjadi bingung.
Selang beberapa detik, senyum manis terukir di wajah Si Angel Girl itu, "Ini kedua kalinya Erick menyebutkan namaku!" girang Navya kesenangan di dalam hatinya.
"Luh tahu gak, kalau gue itu paling benci sama yang namanya kekalahan?" Erick langsung melanjutkan perkataannya dengan sebuah pertanyaan, sontak Navya pun langsung menggelengkan kepalanya.
Erick tersenyum, bukan senyum licik maupun sinis, melainkan senyuman yang hampir sama dengan senyuman milik Navya.
"Sebenarnya, awal masuk ke sini, gue pikir sekolah di sini bakal membosankan, tapi nyatanya sekarang mulai menarik! Ada Rayn yang harus gue kalahkan, dan sebelum Rayn merasakan kekalahan, gue bakal tetap di sini!" ucap Erick dengan semangat yang membara.
Navya yang mendengar hal itu pun dibuat kembang kempis senyumnya, dia bingung harus senang karena semangat Erick sudah kembali, atau sedih karena tujuan Erick itu salah.
"Navya." Erick kembali menyebutkan nama gadis malaikat yang ada di depannya saat ini, "Ini ketiga kalinya dia menyebutkan namaku! Arrghh!" Hati Navya terus saja menggebu-gebu saat Erick menyebut namanya.
"Luh mau bantu gue buat mengalahkan Rayn yang udah berani memfitnah gue itu? Ya luh gak perlu khawatirkan hal yang aneh-aneh, karena seperti yang luh bilang, gue bakal mengalahkan Rayn dalam aspek kepintaran!" tanya Erick disertai dengan penjelasannya.
Navya menganggukkan kepalanya, "Selagi bukan dengan cara kekerasan, maka aku akan selalu membantu yang benar!"
Mendengar jawaban yang begitu meyakinkan itu, Erick pun kembali tersenyum, dan tentu saja Navya langsung membalas senyuman tersebut.
Hingga akhirnya guru mata pelajaran sejarah yang datang sedikit terlambat memasuki kelas, seketika saja semua murid kembali ke bangku mereka masing-masing, termasuk Navya.
"Assalamualaikum, dan selamat pagi semua!"
"Waalaikumsalam, Bu!"
"Pagi, Bu!"
__ADS_1
Dan dengan diucapkannya salam itu, jam pelajaran keempat dengan mata pelajaran sejarah pun dimulai.
................
Setelah menyelesaikan semua jam pelajaran yang ada, tepat pada pukul 14.35 Erick langsung meninggalkan sekolahnya itu, dan pergi untuk kembali ke villa miliknya.
Namun saat masih ditengah perjalanan pulang, ponsel Erick berdering, hingga Erick memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan.
Saat Erick melihat siapa orang yang telah menelpon dirinya, nama "Pak Sukardi" tertulis jelas di ponselnya itu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Erick menarik simbol berbentuk telepon berwarna hijau ke arah atas layarnya, membuat telpon dirinya dan Sukardi pun tersambung.
"Halo, Pak. Ada apa?" sapa Erick kemudian langsung bertanya, karena saat ini dia juga tidak bisa berlama-lama berhenti di pinggir jalan itu.
"Tuan muda, saya mendapat telpon dari Tuan Besar beberapa saat yang lalu!" balas Brady.
Erick menaikan salah satu alisnya, "Papa? Apa yang dia katakan? Jika dia menyuruhku untuk pergi ke rumah itu, maka aku tidak akan mau!" Pria itu mengucapkan kalimatnya yang terakhir dengan suara yang begitu tegas.
Sukardi yang ada dibalik telpon itu pun terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Erick.
"Baiklah, baiklah! Tidak perlu dilanjutkan lagi, aku sudah tahu apa yang Pak Tua itu maksud. Aku akan langsung kesana sekarang juga!" Dengan nada suara yang kesal, dan juga terdengar begitu malas, Erick mengucapkan kalimatnya tersebut sebelum akhirnya telpon itu dimatikan.
Setelah memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya, Erick pun menyalakan motor Ducati miliknya itu lalu melaju pergi.
Dan dia terpaksa untuk mengganti tempat tujuannya, dimana awalnya dia ingin kembali ke villanya lalu langsung beristirahat karena lelah.
Bahkan Erick juga telah mengatakan kepada anggota gengnya, bahwa dia tidak bisa ikut ngumpul seperti biasanya siang ini.
Tapi, dia yang ingin kembali ke villanya untuk beristirahat, kini malah harus pergi ke neraka dunia yang pasti akan membuatnya semakin merasa kelelahan.
Hingga akhirnya, Erick memutuskan untuk tidak meladeni apa yang akan orang tuanya katakan nanti. Sebelum sampai dan menginjakkan kaki ke rumah itu, dia sudah bertekad untuk hanya akan diam, dan tidak akan mengatakan apapun.
................
__ADS_1
Sekitar 15 menit, waktu yang dibutuhkan Erick untuk sampai ke kawasan komplek perumahan elit tempat dimana rumahnya berada.
Ketika sudah memasuki komplek perumahan tersebut, Erick pun memperlambat laju motornya, bermaksud agar tidak ada seorang pun yang mengetahui kehadirannya di sana.
Karena selama ini, setiap kali orang-orang di komplek tersebut melihat Erick, mereka akan langsung membicarakan pria itu.
Mulai dari pembicaraan dengan topik pada umumnya, sampai ke pembicaraan yang sedikit sensitif, seperti hubungan Erick dengan kedua orang tuanya itu.
"Aku saja belum masuk ke dalam sana, tapi kenapa hawa panasnya sudah sangat terasa, ya?" gumam Erick saat motornya sudah terparkir di halaman besar neraka dunia baginya itu.
Setelah mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi hawa panas di dalam neraka dunia tersebut, dengan perlahan Erick melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
"Kenapa kau bisa lama sekali?!" Baru saja Erick menginjakkan kaki di dalam rumah yang mewah itu, sudah ada seorang pria yang menyambutnya dengan suara bentakan, di belakang pria itu juga ada seorang wanita paruh baya.
Erick hanya diam, dan tidak menjawab bentakan yang dilontarkan padanya itu, meski di dalam hati dia terus mengatakan, "Tentu saja aku harus menyiapkan mental terlebih dahulu, sebelum masuk ke neraka dunia ini!"
Tapi seperti yang sudah dia tekad kan sejak awal, Erick tidak akan membalas apapun perkataan dari kedua orang tuanya itu, hal ini dia lakukan agar semuanya cepat selesai, dan dia jadi bisa pulang ke villanya untuk beristirahat.
"Erick!" Kini sosok wanita yang ada dibelakang Brady mengucapkan nama itu dengan suara yang lantang, dia adalah Hanifa—ibunda Erick.
"Apa yang kamu lakukan disekolah hari ini?! Mengapa di hari kedua mu masuk sekolah, kamu sudah berkelahi dengan temanmu, dan langsung mendapatkan 50 poin hukuman?!" lanjut Hanifa dengan nada dan wajah yang marah.
"Erick! Jika nanti kamu dikeluarkan dari SMA Jaya Sakti, maka keputusan Papa akan bulat! Kamu akan Papa kirimkan ke Swiss, dan tidak akan ada penolakan lagi!" sahut Brady.
Awalnya Erick masih bisa menahan diri ketika mendengar perkataan dari Hanifa, namun ketika dia mendengar perkataan dari Brady, Erick sudah tidak mampu mempertahankan tekadnya.
"Papa stop! Stop berpikir untuk mengirim ku ke Swiss! Apa kau benar-benar ingin membuang anakmu ini? Setelah kau membuang ku ke villa itu, kau akan membuang ku ke Swiss?!" Erick berteriak dengan wajah yang memerah karena emosi, kini dia benar-benar sangat marah.
Sementara Brady, dan juga Hanifa yang mendengar perkataan penuh emosi dari anak mereka itu hanya bisa terdiam.
"Huft ...." Setelah suasana hening menyelimuti mereka selama beberapa saat, hembusan kasar napas Erick memecahkan keheningan.
"Huft ... Huft ...." Erick terus menarik, kemudian membuang napasnya selama berkali-kali, hingga akhirnya emosinya mulai mereda.
__ADS_1
Selang beberapa saat, dan emosi dari pria itu sudah benar-benar reda, dia pun mengatakan kalimat terakhirnya, sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya itu.
"Kalian tenang saja, aku telah menemukan kesenangan di sekolah baruku yang kalian pilih. Oleh karena itu, aku tidak akan keluar dari sana!"