
Setelah cukup lama Geng Sky Bruiser mengorek informasi dari para anggota Geng Black Mortal, mereka mendapatkan sebuah pesan dari Rayn.
Pesan tersebut berisi sebuah ancaman dari Rayn bahwa dia akan melaporkan Geng Sky Bruiser ke polisi dengan laporan aksi kejahatan karena telah menyandera teman-temannya.
Jika Geng Sky Bruiser tidak ingin itu terjadi, maka mereka harus melepaskan seluruh anggota Geng Black Mortal.
Tentu ancaman seperti itu tidak akan membuat Erick dan teman-temannya gentar. Namun ada beberapa alasan yang membuat mereka tidak ingin hal tersebut terjadi.
Jadi pada akhirnya mereka memutuskan untuk melepaskan seluruh anggota Geng Black Mortal yang mereka tahan tersebut.
"Ketua Luh pengecut ya! Gak bisa rebut kalian sendiri, eh malah bawa-bawa polisi. Serius kalian masih anggap diri kalian itu anak geng motor? Mendingan bubar lagi deh!" gumam Erick dengan lirih dan juga dengan senyum mengejeknya.
Mendengar hal itu wajah para anggota Geng Black Mortal yang terikat pun terlihat ketakutan, marah, sekaligus malu. Sementara itu semua anak-anak Sky Bruiser malah tertawa dengan kuat ketika mendengar perkataan ketua mereka. Mereka pun menyoraki anggota Geng Black Mortal sembari melepaskan ikatan yang mengikat geng musuh mereka tersebut.
Setelah semua ikatan sudah terlepas, dengan terbirit-birit para anggota Geng Black Mortal itu kabur dan pergi menjauh dari markas Geng Sky Bruiser, tempat yang begitu mengerikan.
"Hahaha lihatlah mereka semua! Apa yang ingin mereka lakukan dengan mental kerupuk seperti itu?" seru Bryan diiringi tawanya.
"Kau benar! Mengingat ekspresi mereka tadi setelah mendengar perkataan Erick saja sudah membuatku ingin terus tertawa," sahut Theo.
Abian pun ikut tertawa, "Tapi perkataan Erick tadi benar-benar sangat menusuk sih. Jadi wajar saja mereka semua terlihat seperti itu!" ucap Abian dengan aksi memukul pelan pundak ketuanya, "Seperti itulah ketua kita, terkadang menyakiti tanpa menyentuh!" lanjutnya.
"Tentu saja!" semua anggota Geng Sky Bruiser yang ada disana pun menyahuti perkataan Abian.
__ADS_1
......................
Rumah mewah 3 lantai dengan perpaduan warna coklat dan cream, serta berada di kawasan salah satu komplek elit yang ada di Batam menjadi tempat kediaman Navya dan keluarganya.
Rumah besar dan mewah ini dulunya dihuni oleh 4 orang, tapi kini hanya dihuni oleh 3 orang saja. Mereka adalah Navya dan kedua orang tuanya.
Di tiap lantai setidaknya ada satu perpustakaan, lengkap dengan buku-buku pelajaran serta alat penunjang belajar seperti komputer. Hal tersebut dikarenakan keluarga Navya adalah keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan.
Kedua orang tua Navya sangat ingin anaknya mencapai peringkat pertama dalam semua aspek pendidikan. Baik itu juara kelas, juara umum di sekolah, juga juara cerdas cermat dari tingkat kota sampai internasional.
Tiap hari Navya akan dituntut untuk belajar setidaknya 5 jam di luar jam pelajaran sekolah. Tentu hal itu akan membuat jenuh kebanyakan orang, dan bisa juga menimbulkan stres, tapi bagi Navya hal seperti itu adalah wajar, dan dirinya pun tidak mempermasalahkan akan hal itu.
Namun, sejak bertemu dengan Erick perasaan Navya mulai berubah. Navya cemburu dengan Erick yang tetap pintar meski tidak selalu belajar, semakin hari dia juga semakin ingin merasakan kebebasan seperti yang Erick miliki.
Bisa bertemu dengan teman-temannya saat pulang sekolah, ataupun ketika waktu malam tiba, Navya ingin merasakan hal seperti itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Si Angel Girl tersebut mengetuk pintu kerja orang tuanya yang ada di lantai 2. Setelah menerima sahutan dari dalam ruangan, Navya pun masuk.
"Pa, Ma," ucap Navya lirih dengan nada yang terdengar cukup gelisah, "Ada apa, sayang? Apa ada yang kamu butuhkan?" balas Sriayu—Mama Navya—dengan wajah yang kebingungan.
Navya terus berjalan semakin mendekat, "Ada hal penting yang ingin Navya katakan. Ini ... Tentang keinginan Navya," ungkap Navya saat sudah duduk diantara kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mendengar hal itu kedua orang tua Navya semakin kebingungan, Hendra—Papa Navya—pun mendekati putrinya, "Keinginan? Apa itu sayang, katakan saja," ucap Hendra dengan lembut.
Navya menunduk, dia masih berusaha untuk memberanikan dirinya. Navya takut Mama dan Papanya akan marah nanti.
Tangan Si Angel Girl itu pun sedikit gemetaran. Hingga perlu waktu beberapa detik sampai Navya akhirnya benar-benar berani untuk bersuara.
"Ma, Pa, akhir-akhir ini Navya mulai punya sebuah keinginan yang mungkin akan membuat Mama dan Papa marah. Tapi Navya janji kalau Navya gak akan mengecewakan kalian, Navya janji akan tetap juara dalam hal apapun." Navya memulai ucapannya dengan sebuah penjelasan, hal ini dia lakukan agar orang tuanya tidak terlalu marah nanti saat mendengarkan keinginannya.
"Navya ingin sesekali pergi bermain bersama teman-teman Navya ketika pulang sekolah, atau mengikuti acara ulang tahun teman sekolah ketika malam. Navya ingin mengurangi jam belajar Navya sesekali," ungkap Navya dengan nada bicara yang cepat karena ketakutan.
Mendengar keinginan putri mereka tersebut, Hendra dan juga Sriayu langsung kaget dan berdiri dari duduknya.
"Apa yang kamu katakan barusan? Ingin bermain? Ingin mengurangi jam belajar kamu? Apa kamu bercanda Navya?!" teriak Sriayu dengan suara yang cukup kencang.
Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu seharusnya tahu, bahwa di dunia ini tidak ada tempat untuk orang yang gagal! Apa kamu akan berhasil jika tidak berusaha dan belajar?" sahut Hendra dengan suara yang sangat tegas.
"Awalnya Navya berpikir seperti itu, Pa. Kita tidak akan berhasil jika tidak mati-matian berusaha dan terus belajar. Namun akhirnya Navya tahu, bahwa hiburan sesekali itu bukanlah suatu masalah. Tak apa jika kita ingin bermalas-malasan sesekali," balas Navya dengan tekad yang teguh.
Lagi dan lagi perkataan Si Angel Girl itu membuat orang tuanya kaget tak percaya, kedua orang tua Navya pun semakin marah dengan putrinya.
"Kamu ingin bermalas-malasan Navya?! Sejak kapan pemikiranmu menjadi konyol seperti ini? Apa ada orang yang membuatmu menjadi seperti ini? Apa kamu ingin menjadi orang gagal seperti kakak laki-lakimu itu? Lihat saja apa ada tempat untuknya?" Sriayu memberikan begitu banyak pertanyaan kepada Navya dengan suara yang membentak.
Namun anehnya hal itu tidak membuat Navya gentar lagi, tiba-tiba dia merasa memiliki keberanian yang lebih untuk saat ini.
__ADS_1
"Iya! Ada orang yang telah membuat pemikiran diriku terbuka, seorang anak laki-laki berandalan, ketua geng motor, dan selalu tidur ketika jam pelajaran matematika, tapi hebatnya dia tetap pintar bahkan melebihi diriku! Dia jarang belajar, tapi karena dia pintar, maka itu tak masalah. Jadi setidaknya aku ingin sepertinya sesekali, bebas!" Kali ini Navya melawan argumen orang tuanya dengan suara yang tegas dan tak gentar.
"Lalu ... Aku yakin bahwa saat ini Abang punya tempat di salah satu bagian dunia ini, tempat yang tenang dan tanpa tekanan," lanjut Navya merendahkan suaranya, dan setelah mengatakan kalimatnya ini Navya pun pergi meninggalkan ruangan kerja orang tuanya tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.