Devil Boy And Angel Girl

Devil Boy And Angel Girl
Eps 9. Memutuskan menjauh


__ADS_3

Suasana pagi hari di SMA Jaya Sakti bisa dibilang cukup ricuh, terlebih lagi jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.


Hal seperti itu memang sangat jarang terjadi di SMA swasta yang elit itu, tapi entah mengapa, sejak Erick masuk ke sekolah tersebut, suasana langsung berubah secara drastis. Entah itu karena Erick, atau ada faktor lainnya lagi.


"Huft ...." Erick menghela kasar napasnya. Saat dia turun dari motor dan berjalan menuju kelas, semua mata para murid disana menatap tajam dan tak suka ke arahnya.


Sepanjang jalan menuju kelasnya itu, Erick dapat mendengar dengan jelas suara-suara bisikan dari orang-orang disekitarnya tentang dirinya.


"Dia sudah mendapatkan 50 poin hukuman, bukan?" ucap salah satu murid dengan suara yang pelan, kemudian disahuti oleh murid di sebelahnya, "Begitulah yang kudengar!"


"Ya, ku harap dia segera mendapatkan 120 poin, agar dia keluar dari sini. Dan juga, akan lebih baik jika dia keluar dengan kemauannya sendiri!" ujar murid yang lainnya. Dan hampir semua yang mereka katakan membahas hal yang sama.


Namun, Erick tidak terlalu peduli dengan hal itu, lagi pula dibenci merupakan suatu hal sudah yang wajar, dan sangat sering terjadi padanya.


Jangankan dibenci oleh orang lain yang tak ia kenal, orang tuanya saja bahkan juga benci dan tidak menyukai dirinya.


Hal seperti itu adalah makanan sehari-harinya, jadi Erick benar-benar tidak mempermasalahkan hal tersebut, dia pun juga bersikap seolah-olah tidak mendengar apa pun.


Erick terus berjalan menuju kelasnya tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, pandangannya lurus ke depan, dan dia juga melangkahkan kedua kaki miliknya dengan cukup cepat.


Dengan demikian, Erick lebih cepat sampai ke kelasnya. Setelah masuk ke dalam kelasnya itu, dia pun langsung berjalan menuju ke bangkunya.


Namun, saat Erick melewati meja Navya yang berada di barisan kedua, wanita malaikat itu menghentikan langkah kakinya.


"Pagi, Erick!" sapa Navya dengan senyuman yang ramah, sembari berdiri di depan Erick, membuat jalan pria itu pun menjadi terhalang.


"Minggir," ucap Erick dengan datar dan begitu dingin, mendengar kata singkat dari Erick itu, Navya mengernyitkan dahinya.


"Bukankah kemarin kami sudah cukup dekat?" lirih Si Angel Girl itu dalam hatinya.


Disaat Navya masih terdiam karena bingung dengan sikap Erick yang terus saja berubah-ubah, secara tiba-tiba Erick meraih pergelangan tangan wanita itu, lalu kemudian menariknya. Tarikan itu membuat Navya kini berada di belakang Erick.

__ADS_1


Karena penghalang jalannya sudah tersingkirkan, Erick pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tempat dia duduk itu.


"Tunggu!" Lagi dan lagi langkah kaki Erick terhenti, kali ini karena Navya menahan tangan Erick, sehingga Erick tidak dapat melangkah lagi.


Erick yang sudah mulai kesal itu akhirnya berbalik untuk kembali melihat Navya, dia menatap mata Navya dengan tajam, tatapannya itu pun terlihat penuh dengan tanda tanya.


"Ada apa? Apa yang luh lakukan? Kenapa luh terus saja mengganggu jalan gue, huh?!" Erick yang kesal melontarkan banyak pertanyaan.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, sebenarnya kamu kenapa? Ada masalah? Kamu boleh cerita semuanya ke aku kok," balas Navya dengan suara yang benar-benar sangat lembut.


Mendengar hal itu Erick diam sejenak, sampai akhirnya dia kembali memegang pergelangan tangan Navya, dan kali ini dia menarik Navya untuk mengikuti dia ke bangku miliknya.


Erick duduk di bangkunya, sementara Navya duduk di bangku milik Caera yang masih menghilang entah kemana.


Saat mereka berdua sudah duduk dalam posisi yang saling berhadapan, Erick sedikit menunduk dan kemudian mendekat ke arah Navya, melihat hal itu Navya pun melakukan hal yang serupa.


"Hei, Navya! Dengarkanlah apa yang akan gue katakan ini baik-baik!" ucap Erick dengan suara yang kecil, dan Navya meresponnya dengan anggukan kepala. Di dalam hati Navya berkata, "Ini keempat kalinya dia menyebut namaku!"


"Berhentilah menyebut namaku, menyapaku, dan juga berbicara denganku! Berhentilah, dan jauhi gue mulai sekarang!" Erick berbicara dengan suara yang terdengar begitu tegas.


"Memangnya ada apa, Erick?" Dengan cepat, setelah mendengar permintaan dari Erick itu, Navya pun langsung menanyakan alasan Erick mengatakan hal tersebut.


"Apa maksudnya mengatakan hal itu? Padahal kemarin dia baru saja meminta bantuan ku untuk membantunya mengalahkan Rayn," lirih Navya di dalam hati kecilnya.


Navya melihat Erick yang masih belum mau menatap dirinya, dia melihat pria yang saat ini ada di hadapannya itu dengan sendu.


Selama beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka berdua, hingga akhirnya Erick pun menjawab pertanyaan Navya tadi, "Karena semua orang disini membenci gue! Terlebih lagi karena masalah antara gue dan Rayn kemarin. Gue yakin banget, kalau Rayn udah nyebar semua kebohongan yang dia katakan pada Pak Edison ke semua murid yang ada di sekolah ini."


"Aku bisa bilang ke mereka semua kalau apa yang dikatakan Rayn itu bohong, bukan? Mereka pasti akan percaya denganku. Lagi pula, aku lah yang menjadi saksi atas pertengkaran kalian." Lagi dan lagi Navya terus berusaha untuk meyakinkan pria yang ada dihadapannya ini, karena dia tidak ingin menjauh dari pria tersebut.


Mendengar semua respon cepat dari Navya itu, Erick tersenyum semirik, wajahnya yang terus menunduk sedari tadi dia angkat sedikit, hal itu membuat matanya dan Navya saling bertemu.

__ADS_1


"Lihatlah mata orang-orang yang saat ini sedang memperhatikan kita berdua!" titah Erick, sontak Navya pun langsung melakukannya.


Dia menarik pelan pandangan matanya dari kiri ke kanan, melihat setiap mata yang ia temui. Setiap Navya selesai melihat mata satu orang, matanya terus membulat semakin besar.


Hingga akhirnya dia telah melihat semua mata yang dapat ia jumpai, dan Navya pun kembali melihat Erick. Saat melihat mata Erick, Navya dapat merasakan suatu pertanyaan yang keluar dari mata itu, "Kau tahukan maksudku?" Itulah pertanyaan yang muncul di dalam mata Erick, dan membuat Navya mengangguk kecil.


"Mata mereka semua melihat kita dengan tidak suka, mereka tidak suka luh dekat dengan gue, mereka gak suka luh bicara sama gue, dan juga mereka gak suka malaikat mereka ternodai oleh pria iblis yang nakal seperti gue."


"Mungkin mereka semua memang akan mendengarkan penjelasan dari luh, tapi yang pasti, kebenaran yang mereka yakini adalah satu kebohongan yang Rayn katakan."


"Pada akhirnya, jika luh menjelaskan kepada mereka tentang apa yang terjadi sebenarnya, mereka malah akan berpikiran bahwa gue telah menghasut, atau bahkan mengancam luh, hingga membuat luh mau mengatakan semua itu."


Dengan suara yang jelas namun tetap dengan volume yang pelan, Erick menjelaskan kepada Navya tentang kondisi mereka saat ini di mata semua orang di sekolah tersebut.


Sekaligus menjelaskan beberapa hal yang akan terjadi, jika Navya memberitahukan ke semua orang tentang kebohongan Rayn itu.


Mendengar penjelasan yang cukup panjang tersebut, membuat Navya benar-benar bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


Dia tidak ingin Erick menjauh darinya, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa pun saat ini.


"T–tapi aku ingin tetap b–berteman denganmu, Erick! Tidak bisakah kita berdua mencari jalan keluarnya bersama-sama, k–kita teman bukan?" seru Navya dengan suara yang ragu-ragu.


Namun, bukannya membalas atau menjawab kalimat dari Navya itu, Erick malah tersenyum dengan wajah yang terlihat jijik.


"Haha ... Jangan terlalu naif, Navya. Luh bukan pengen jadi teman gue, tapi luh lakuin semua ini cuma karena luh kasian kan sama gue?! Asal luh tahu, gue gak butuh belas kasihan dari luh!" Erick berbicara dengan emosi yang bercampur aduk, antara kesal dan juga merasa bodoh.


Entah mengapa, Erick berpikir, bisa-bisanya kemarin dia bersikap terlalu akrab dengan Si Angel Girl itu. Padahal, semua itu tak seharusnya terjadi diantara mereka berdua, karena mereka adalah dua orang yang memiliki kepribadian terlalu berlawanan.


Disaat perasaan Erick bercampur aduk, Navya pun juga merasakan hal yang sama, tapi Navya antara perasaan senang dan sedih.


Dia senang, karena pria yang ada dihadapannya itu telah menyebut namanya sebanyak 5 kali. Tapi dia juga sedih, karena berpikir mungkin itu adalah panggilan terakhir dari Erick.

__ADS_1


__ADS_2