
Sudah 5 hari Erick tidak masuk sekolah, dimana seharusnya dia hanya izin selama 3 hari untuk mengikuti lomba, itu berarti selama 2 hari Erick tidak masuk karena alasan lain.
Selama dua hari itu juga, Navya terus berusaha menghubungi Erick, tapi Erick bahkan tidak mengangkat telponnya sama sekali.
Navya menjadi semakin khawatir. Hingga akhirnya, di hari Jumat—hari kelima Erick tidak masuk sekolah—Karlina memberitahukan bahwa Erick tidak masuk karena sakit, itu pun karena Navya yang menanyakannya.
Hal itu karena di SMA Jaya Sakti, murid-murid yang ingin izin dengan alasan apapun harus menghubungi wali kelas mereka, dan biasanya pihak wali kelas hanya akan memberitahukan alasan tidak masuknya murid itu kepada guru yang akan mengajar di hari tersebut.
Jadi terkadang para murid lain tidak tahu apa alasan teman kelasnya tidak masuk sekolah.
"Caera, pulang sekolah jenguk Erick yuk!" ajak Navya setelah mendapatkan informasi dari wali kelasnya. Mendengar hal itu Caera terlihat berpikir sesaat.
"Emm ... Boleh tuh! Yaudah kalau gitu aku minta Abian untuk share tempat tinggal Erick, ya!" ucap Caera setelah setuju dengan ajakan sahabatnya.
Navya pun mengangguk riang, "Sepulang sekolah kita langsung berangkat!" Navya yang tidak sabar pun menekankan waktu untuk mereka pergi, "Ya!" balas Caera dengan cepat.
......................
Ketika bel pertanda semua pembelajaran di SMA Jaya Sakti telah berakhir, Navya dan juga Caera langsung dengan cepat keluar dari kelas mereka, dan bergegas pergi untuk menjenguk Erick.
Kedua wanita itu membawa mobil mereka masing-masing, dan Caera lah yang memimpin jalan, karena dia yang tahu di mana Erick saat ini berada dari lokasi yang telah Abian kirimkan.
Setelah sekitar 15 menit berlalu, kini akhirnya Si Angel Girl dan juga Caera sudah berada tepat di depan gerbang besar sebuah Villa yang mewah.
Perlahan mereka berdua pun turun dari mobil, lalu berjalan ke arah gerbang itu, "Erick tinggal sendiri di villa sebesar ini?" gumam Navya lirih sembari melihat-lihat pemandangan di balik gerbang tersebut.
Mendengar ucapan Navya, Caera mengangguk, "Dari lokasi yang sudah dikirimkan oleh Abian, ini benar tempat tinggal Erick, dan Abian juga bilang kalau kedua orang tua Erick tidak tinggal di villa ini," jelas Caera sesuai dengan yang dirinya tahu.
Lalu disaat Navya dan Caera masih melihat-lihat, seorang pria sekitar umur 35 tahunan keluar dari pos security yang terletak di dalam villa besar itu, lalu kemudian dia menghampiri mereka berdua. Di pakaian pria itu, tertulis jelas tulisan "security."
"Permisi, mbak-mbak ini ada perlu apa ya? Dari tadi saya lihat, kalian celingak-celinguk aja ke dalam villa," ucap pria itu ramah.
__ADS_1
Navya dan Caera pun kaget karena ditanya, mereka sempat bengong sesaat, dan pembuat Si Security itu menjadi semakin bingung.
"Jadi gini Pak, kami berdua temannya Erick, dan kami dengar dari wali kelas kami, bahwa saat ini Erick sedang sakit, makanya kami datang untuk menjenguknya." Navya menjelaskan dengan jelas agar security tersebut mempercayai dan tidak mencurigai mereka.
"Ahh ... Teman tuan muda ternyata, ya. Ayok ayok silahkan masuk!" seru security itu, lalu kemudian dia membuka gerbang dan mempersilahkan Navya beserta Caera masuk.
"Pak Ari, siapa itu?" Disaat Si Security sedang membimbing teman dari tuannya untuk masuk ke dalam villa, terdengar suara seorang pria dari arah belakang mereka bertiga.
"Tuan Sukardi! Ini tuan, dua wanita ini adalah teman tuan muda, dan saat ini mereka ingin menjenguk tuan muda!" Si security itu pun membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh orang yang bertanya tadi.
Pria yang tak lain adalah Sukardi itu mendekat ke arah Navya dan yang lainnya. Sukardi tersenyum, "Jadi ini teman-temannya tuan muda di sekolah barunya. Pak Ari, bapak kembali ke pos saja, biar saya yang mengantarkan nona-nona ini ke kamar tuan muda," ujar Sukardi dengan senyuman.
"Baiklah, Tuan Sukardi!" balas security itu, lalu kemudian dia pergi meninggalkan Navya dan Caera bersama dengan Sukardi.
Setelah tinggal bertiga, Sukardi langsung menunjukkan jalan menuju kamar Erick kepada kedua wanita itu, mereka berdua pun mengikuti.
Sepanjang jalan, Navya, Caera, dan juga Sukardi saling mengobrol. Hingga akhirnya mereka tiba di dalam kamar Si Devil Boy.
"Pak, tolong bawakan minum untuk mereka berdua, ya!" ucap Erick dengan nada bicara yang terdengar cukup lemas.
"Duduklah," pinta Erick kepada kedua tamunya tersebut. Kedua wanita itu mengangguk, mereka pun duduk di dua kursi yang ada di samping ranjang tidur Erick.
Saat sudah duduk, raut wajah Navya berubah menjadi sedih. Tanpa sadar dia langsung meraih tangan Erick, "Panas," lirih Navya.
"Erick, kamu udah minum obat? Udah makan? Ada perlu sesuatu gak? Kenapa bisa sakit kayak gini? Erick kamu—" Navya melontarkan begitu banyak pertanyaan kepada pria yang ada di hadapannya saat ini.
Namun, omongannya terhenti karena Sang Sahabat menegurnya, dan mengatakan jika Navya terlalu banyak bertanya, itu hanya akan memperburuk kondisi Erick.
"Maaf."
"Tidak apa-apa, gue udah minum obat, udah makan, gak perlu apa-apa, dan sakitnya datang tiba-tiba." Saat melihat wajah Navya yang terlihat begitu sedih dan khawatir, Erick pun menjawab semua pertanyaan yang wanita itu lontarkan.
__ADS_1
Jawaban yang Erick berikan itu membuat Navya menjadi sedikit lega, setidaknya rasa khawatirnya menjadi sedikit berkurang.
Kemudian setelah itu, mereka bertiga saling membicarakan topik yang sangat ingin mereka bahas sejak Erick memenangkan pertandingan cerdas cermat. Mulai dari Erick yang bertanya tentang bagaimana Rayn sekarang, sampai Navya yang bertanya tentang soal-soal saat lomba cerdas cermat beberapa hari yang lalu.
Hingga pada akhirnya, setelah satu jam telah berlalu, Navya dan Caera memutuskan untuk pulang. Karena mereka tahu bahwa Erick masih butuh istirahat yang banyak, itu sebabnya mereka tidak boleh mengganggunya lebih lama lagi.
Diantara mereka berdua, Caera lah yang pulang lebih dulu. Sementara itu, Navya pulang saat sudah memastikan Erick tidur dengan lelap.
"Pak, tolong jaga Erick ya. Besok saya kesini lagi, kalau ada apa-apa telpon saya saja," ucap Navya sebelum meninggalkan villa milik Erick itu. "Baik nona!" balas Sukardi dengan senyuman.
......................
Hari ini, Caera dan Navya kembali menjenguk Erick di villanya. Tapi bedanya, kali ini mereka datang bersama dengan tiga orang petinggi Geng Sky Bruiser, yaitu Abian, Theo, dan Bryan.
Di dalam kamar Erick, mereka semua saling bercanda gurau, membicarakan banyak hal, dan tidak lupa memberikan doa dan ucapan kepada Erick agar cepat sembuh.
Lalu setelah sudah cukup lama waktu yang mereka habiskan, mereka pun pamit pulang satu persatu. Para wanita pulang lebih dulu karena ada urusan, lalu kemudian disusul oleh Bryan, Theo, dan yang terakhir adalah Abian.
"Cepat sembuh, bro! Kita butuh luh di geng!" seru Abian sebelum akhirnya dia pergi menyusul yang lainnya untuk pulang.
Erick hanya tersenyum tipis saat melihat teman-temannya yang sudah pergi. Suasana di kamar itu menjadi tenang.
"Huft ...." Erick menghela napas berat, hari ini dia merasa benar-benar lelah, meski dia hanya duduk di kursi dan tidak melakukan apa pun.
Hingga akhirnya, Si Ketua Geng Sky Bruiser itu memutuskan untuk kembali berbaring di atas kasur, dan beristirahat.
Namun, ketika dia ingin memejamkan matanya, Sukardi masuk ke dalam kamar Erick.
"Tuan muda, Tuan besar Brady dan Nyonya Hanifa datang!" seru Sukardi saat masuk ke dalam kamar Erick.
"Suruh saja mereka masuk," balas Erick singkat juga dengan nada bicara yang sangat datar.
__ADS_1
"Anda yakin Tuan muda? Kondisi anda bisa saja membu–" Sukardi yang khawatir dengan kondisi Erick, sebenarnya sangat tidak setuju jika Erick bertemu dengan kedua orang tuanya. Terlebih lagi dia tahu betul, bahwa Erick sakit saat ini setelah berdebat dengan kedua orang itu.
Namun belum sempat Sukardi menyelesaikan kalimatnya, Erick memotong kata terakhirnya itu. "Tidak apa-apa, Pak. Biarkan saja mereka masuk," ucap Erick dengan penuh meyakinkan. "Baiklah Tuan!" balas Sukardi yang akhirnya pasrah.