
Situasi canggung menyelimuti Navya, Erick, dan Caera yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu Si Angel Girl. Sementara dua orang pria lainnya yang ada di ruangan itu bertindak layaknya orang yang sedang menguasai permainan.
"Jadi, ngapain kalian berdua datang ke sini?" tanya Papa Navya dengan suara yang berat sembari memberikan tatapan tajam dan tidak suka kepada Erick, lalu tatapan datar kepada Caera yang duduk di samping putrinya.
Erick yang duduk di samping kiri Rayn hanya diam tidak menjawab, dia seperti menyerahkan pertanyaan itu kepada Caera. Menunggu sampai Caera yang menjawab pertanyaan dari Hendra.
"Ih dasar ya tuh anak!" kesal Caera di dalam hatinya, dia benar-benar tidak menyangka Erick menjadikannya umpan seperti ini.
Caera tersenyum tipis kepada Hendra, rasa takut dengan Hendra yang terlihat menyeramkan mulai menghantui pikiran Caera. "Om!" serunya sambil mengganguk kecil. "Em itu ... Ada hal yang mau Caera bicarakan baik-baik sama om," gumamnya ragu-ragu dengan kepala yang sedikit menunduk.
Mendengar hal itu Hendra menjadi bingung, "Apa itu? Dan kenapa pria yang duduk di samping Rayn juga ikut kemari?" Hendra kembali bertanya.
Masih sama seperti tadi, Erick diam, pandangan matanya yang dingin menyorot Rayn yang ada di sampingnya. Wajahnya yang datar terlihat seperti ingin menikam pria yang ada di sampingnya itu.
Sementara Navya juga diam karena mereka sempat membuat kesepakatan di awal, bahwa hanya akan Caera dan Erick lah yang berbicara dan menghadapi semua perkataan Hendra.
Oleh karena itu, lagi-lagi harus Caera lah yang menjawab. Meski sudah cukup takut, dia terus mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab.
"Ujung-ujungnya hanya aku yang berbicara, ya" lesunya dengan suara yang lirih. Caera menghela napas dengan berat. "Ini masalah keinginan yang sempat Navya ajukan sama Om, saya yakin Om masih ingat. Saya sudah mendengar semuanya, dan menurut saya tidak salah jika Navya ingin kebebasan sesekali. Hanya sesekali Om, bukan setiap saat," ucap Caera menjelaskan.
__ADS_1
Tentu ucapan Caera tersebut membuat Hendra marah, "Jadi dirimu juga sudah terkontaminasi dengan limbah pria itu? Sekarang kamu sama saja seperti Navya! Memang lebih baik kalau Navya berteman dengan Rayn saja," ujarnya dengan suara yang tegas.
BBUUUGGGG ...
Tiba-tiba saja suara keras yang diakibatkan dari tabrakan antara kaki Erick dengan meja yang ada di depan mereka mengangetkan semua orang.
"Maaf, saya sengaja melakukannya." Dengan senyum menyeringai miliknya, Erick berbicara sembari menatap Hendra. "Anda bilang apa tadi? Lebih baik putri Anda berteman dengan Rayn? Ahh ... Kalau begitu apa lebih baik putri Anda melakukan kecurangan untuk mendapatkan nilai dibandingkan istirahat sejenak ketika sudah lelah belajar?" lanjut Erick yang akhirnya berbicara dengan kalimat yang panjang.
Perkataan Erick membuat Hendra tidak mengerti, sementara Rayn menjadi panas dingin ketika mendengar hal tersebut.
"Apa maksudmu?!" bentak Hendra dengan suara yang sangat keras, dia berpikir bahwa Erick hanya ingin memprovokasi dirinya dengan kebohongan belaka. "Jadi Rayn belum menceritakan tentang hal itu kepada Anda? Wajar sih, soalnya itu hal yang sangat memalukan!" balas Erick yang kini tertawa puas, Caera yang suka dengan cara Erick ini pun juga melakukan hal yang sama.
Bukannya marah mendengar hal tersebut, Erick malah tertawa semakin keras. "Pria yang ada di samping saya ini sesempurna itu, ya? Tapi justru bukankah ini akan menjadi semakin memalukan? Bagaimana menurut pendapatmu, Rayn? Orang yang dianggap sempurna melakukan kecurangan hanya untuk mengalahkan seorang ketua geng motor?" ucap Erick, tawanya pun semakin besar dan memenuhi ruangan.
Rayn mengepal tangannya, dia benar-benar marah dengan apa yang Erick katakan, tapi dia tahu kalau dirinya tidak bisa membantah itu.
"Meski udah belajar dengan giat, melakukan hal yang curang, tapi masih kalah sama ketua geng motor ini? Dengan semua itu masih belum bisa ngalahin orang yang jarang belajar? Lucu sekali, Hahaha!" Caera yang sangat suka dengan situasi saat ini, segera masuk ke dalam pembicaraan itu untuk memberikan warna tambahan. Membuat situasi semakin memanas.
"Jadi gimana Om? Sepertinya kami cuma bisa ngasih sedikit spoiler deh, penjelasan detailnya langsung tanya aja ke orang yang bersangkutan!" sambung Caera dengan senyum buatannya.
__ADS_1
"Setelah mendengar penjelasan Si Ketua OSIS yang paling sempurna nanti, Anda pasti akhirnya sadar kalau bakat itu akan menghasilkan sesuatu tanpa perlu upaya yang terlalu keras. Jika Anda tetap memaksakan Navya, itu berarti secara tidak langsung Anda menyatakan bahwa Navya bukan orang yang berbakat, tapi hanya orang yang terus berusaha tanpa ada bakat alami!" Erick menarik kesimpulan dan mengakhiri perdebatan mereka dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Pa, semua hal yang dikatakan Erick tadi benar. Buktinya aja Erick yang belajar jarang-jarang gini jadi juara satu olimpiade, Rayn aja dikalahkan!" seru Navya dengan semangat, kini dirinya tidak tahan lagi untuk tidak ikut bicara.
"Erick itu memang nakal, tapi nakalnya nakal baik kok! Maksudnya tuh gak merugikan ... Jadi Erick gak membawa dampak negatif ke kami, justru dia membawa dampak positif! Gara-gara Erick saya dan Navya jadi memiliki pemikiran yang lebih luas juga bebas, serta gak terkekang dengan sesuatu," sahut Si Sahabat Navya itu.
Karena terus tertekan dengan setiap ucapan dari ketiga orang yang tidak memihaknya itu, akhirnya Hendra menyerah untuk saat ini.
"Baiklah, Papa akan kasih kamu waktu 3 jam untuk bermain dalam sehari. Jika lelah kamu boleh beristirahat. Namun, kalau sehari saja kamu melewati waktu itu, maka kamu tidak akan boleh lagi untuk bermain dan harus kembali ke jadwal kamu sebelumnya. Hal yang sama berlaku jika nilai dan prestasi kamu turun!" jelas Hendra dengan suara yang tegas.
Mendengar hal tersebut Navya menjadi senang bukan main, tentu persyaratan dari Hendra tidak masalah baginya. 3 Jam sudah sangat cukup bagi wanita itu. "Makasih, Pa!" seru Navya dengan kegirangan.
Hendra membalasnya dengan anggukan pelan, "Lalu untuk kamu, Erick. Kalau kamu berani buat putri saya rusak karena lingkungan kamu itu, saya tidak akan segan-segan memberikan pelajaran!" ketus Hendra dan diabaikan oleh Erick.
"Rayn, tolong terus jaga putri Om ya. Kamu awasi terus dia!" Kini Hendra berbicara kepada Rayn dengan nada yang sangat berbanding terbalik saat berbicara dengan Erick. Sungguh perbedaan perlakuan yang besar.
Hal itu membuat Erick menjadi kesal, "Kalau sama dia bukannya di jaga, justru diajak untuk melakukan kecurangan!" sindir Erick tanpa menoleh ke arah Hendra maupun Rayn.
"Tunggu, dia gak peduli saat Papamu marah kepadanya, tapi menjadi sangat kesal ketika Om Hendra memperlakukan Rayn dengan baik. Jadi selama ini Erick cemburu?!" Caera berteriak riang dengan suara yang hanya dapat didengar oleh Navya, "Kenapa aku baru sadar sekarang sih!" serunya kepada diri sendiri.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Navya menaikkan salah satu alisnya. "Cemburu? Maksudnya?" tanya Navya yang tidak mengerti. "Iya cemburu! Dia kesal karena Papa kamu lebih mendukung Rayn dan malah membenci dirinya," jelas Caera dan Navya pun menjadi mengerti. Hal itu pun menjawab kenapa perilaku Erick menjadi aneh sejak tadi.