
Di jalan raya kota Batam yang sudah mulai sepi karena hari telah larut malam, motor Ducati milik Erick melaju dengan cukup cepat.
Suara knalpot yang khas pun mewarnai malam yang sunyi itu. Sepanjang jalan, hanya suara knalpot tersebutlah yang terdengar.
Sementara itu, Erick dan Navya benar-benar diam, sudah hampir 10 menit mereka menaiki motor itu, tapi belum ada percakapan di antara mereka.
Suasana diantara Si Devil Boy, dan Si Angel Girl itu benar-benar sangat canggung kali ini.
Namun, disaat jarak rumah Navya hanya tinggal dua kilometer saja, akhirnya suasana yang hening itu dipecahkan oleh Erick yang memulai obrolan diantara mereka berdua terlebih dahulu.
"Tipe cowok luh itu kayak gimana sih?" tanya Erick tanpa basa basi, meski sebenarnya dia pun juga tidak tahu mengapa bisa menanyakan hal seperti itu kepada Navya, wanita yang begitu ingin dia jauhi beberapa jam yang lalu.
Mendengar pertanyaan itu, Navya dibuat kaget bukan main, "Mengapa Erick menanyakan hal seperti itu?" Itulah pertanyaan yang sedang mengguncang hati Navya.
"Kalau luh gak mau jawab, yasudah. Lagian gue cuma gabut aja, makanya kasih pertanyaan random kayak gitu," ujar Erick karena melihat Navya yang terus diam.
Pada akhirnya, ucapan Erick barusan membuat Navya langsung bersuara. "Hmm ... Gak banyak sih, aku cuma mau cowok yang baik juga tulus, dan kalau bisa dia pintar!" jelas Navya menjawab pertanyaan yang Erick lontarkan tadi.
Erick tersenyum sekilas, "Pintar? Aneh banget luh, rata-rata cewek tuh ya sukanya sama cowok kaya raya, bukan pintar!" sahut Erick diiringi dengan tawanya.
"Apa salahnya berbeda dari yang lain? Bukankah bintang yang paling berbeda itu jauh lebih indah? Dan menurutku, orang yang pintar adalah orang yang kaya raya, kaya akan ilmu pengetahuan! Dengan ilmunya dia bisa melakukan banyak hal, dan menjadi orang kaya yang sesungguhnya," ucap Navya panjang lebar.
Dengan suara yang lembut, dan juga senyum yang tak henti-henti mengembang, wanita itu menjelaskan alasan dirinya tentang mengapa lebih memilih cowok pintar menjadi tipenya, dibandingkan dengan cowok kaya raya.
Penjelasan itu membuat pemikiran Erick sedikit terbuka, pria itu pun mengangguk tanda ia telah mengerti ucapan dari Navya tersebut.
Dengan anggukan kepala Erick itu, suasana yang sempat berwarna kini terlihat kembali berkabut. Suasana hening kembali menyelimuti mereka.
Hingga akhirnya, setelah kurang lebih 5 menit telah berlalu, mereka berdua sampai di depan gerbang rumah Navya.
Navya turun dari motor Erick secara perlahan, "Terimakasih, karena sudah mau mengantar ku pulang, Erick!" seru Navya saat dia telah turun.
__ADS_1
Karena tidak ada balasan dari Erick, Navya pun memutuskan untuk pergi berlalu masuk ke dalam rumahnya itu, rumah besar dengan warna dasar putih, dan bercorak abu-abu.
Sssrrrttt ...
Bunyi gerbang yang dibuka pun menandakan bahwa Navya sudah siap masuk ke dalam lingkungan rumah besarnya itu.
Saat sudah berada di sisi lain gerbang, Navya membalikkan badannya, melihat Erick yang ternyata masih belum pergi.
"Sampai jumpa besok Erick!" teriak Si Angel Girl itu dengan aksi melambaikan tangannya, setelah melakukan hal tersebut, Navya pun benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
"Huft ...." Hela napas pelan Erick saat Navya sudah hilang dari pandangannya, "Baiklah, saatnya pulang!" seru Erick.
Pria itu kembali memakai helm nya yang sempat dia lepas sebelumnya, kemudian bersiap untuk menjalankan motor miliknya itu.
Namun, baru saja Erick ingin pergi, dia mendengar suara teriakan yang sangat kuat dari dalam rumah Navya, bahkan teriakan itu dapat di dengar olehnya dengan jelas, padahal dirinya berada di luar lingkungan rumah itu.
"Navya! Dari mana saja kamu malam-malam begini? Apa yang kamu lakukan di luar?!"
"Navya, ingat sayang, kamu harus belajar lebih giat, kurangi main-main kamu itu!"
Dua orang berteriak secara bergantian, di sela-sela teriakan mereka, terdengar pula suara benda-benda jatuh. Tapi, dari banyaknya suara yang berisik itu, Erick tidak dapat menemukan suara wanita yang baru saja dirinya antar itu.
"Apa yang sedang terjadi di dalam sana?" ucap Erick dengan lirih, sembari terus memandangi rumah yang mengeluarkan suara berisik tersebut.
......................
Saat ini, banyak murid yang sedang berkumpul di depan mading utama SMA Jaya Sakti, mulai dari murid kelas 10 hingga murid kelas 12.
Mereka semua berkumpul disana, karena hari ini merupakan hari pengumuman nilai ujian tes.
Semua nilai mereka akan di pajang di mading besar itu, dimana nilai mereka tersebut akan sangat berpengaruh pada masa-masa sekolah mereka. Karena seperti yang semua orang tahu, para murid SMA Jaya Sakti begitu mementingkan nilai mereka, jika nilai mereka kecil, maka mereka biasanya akan mendapatkan diskriminasi dari murid yang mendapatkan nilai tinggi.
__ADS_1
"Gantian dong, aku mau lihat juga nih!"
"Minggir, minggir, gantian!"
"Yang udah kebelakang, ya!"
Suara teriakan dan desak-desakan terus terjadi, mereka semua benar-benar tidak bisa menunggu untuk melihat nilai yang begitu penting itu.
Disaat semua murid sedang berdesak-desakan untuk mendekat ke mading, dan melihat nilai hasil ujian tes mereka, tubuh Erick yang tinggi membuat pria itu tidak perlu untuk terlalu dekat.
Erick berdiri di belakang kerumunan yang berdesak-desakan itu. Dengan pedenya, dia tidak melihat daftar dari paling kiri, melainkan langsung melihat daftar paling kanan, dan dimulai dari yang paling atas. Dimana daftar nilai paling kanan adalah 20 orang dengan nilai terbesar.
...****************...
...1. Navya Salsa Ayuningtyas [98,7]...
...2. Rayn Putra Bimantara [96,3]...
...3. Erick Brady Aditya [96,1]...
...****************...
Itulah 3 nama siswa kelas 12 yang menduduki peringkat 3 teratas. Ternyata, Erick tidak hanya sekedar pede, nyatanya namanya itu memang lebih cepat ditemukan jika mencari dari daftar nilai paling kanan, dan di mulai dari paling atas.
Setelah melihat nilainya tersebut, Erick pun memutuskan untuk pergi, dan meninggalkan keramaian itu. Dirinya pergi dengan raut wajah yang terlihat biasa-biasa saja, tidak ada raut wajah senang karena berada di peringkat tiga umum di wajahnya itu.
Ketua geng Sky Bruiser itu pun pergi menuju ke lapangan basket. Sesampainya dia disana, Erick duduk di salah satu kursi penonton. Melihat para anak ekskul basket bermain.
"Erick!" Disaat Erick sedang asyik-asyiknya sendiri, seorang wanita datang menghampirinya, wanita yang menolongnya tadi malam, dan wanita yang telah dia antar ke rumahnya.
Siapa lagi wanita itu kalau bukan Navya, setelah menyebut nama pria yang mengantarnya pulang tadi malam, Navya pun duduk di kursi sebelah pria tersebut.
__ADS_1