
Setelah 3 hari bersaing akhirnya kemenangan Erick sudah dapat dipastikan. Dirinya telah diumumkan sebagai juara satu dalam ajang olimpiade cerdas cermat sekota Batam.
Ketika Erick sudah diperbolehkan meninggalkan tempat lomba, ia pun langsung pulang dijemput oleh Sukardi menuju rumahnya.
Sepanjang jalan, wajah Erick yang dingin berubah menjadi murung. Dia tidak tahu apa alasan orang tuanya memanggil dirinya untuk datang ke rumah mereka, tapi menurut Erick itu pasti hal yang tidak menyenangkan.
"Harus sekarang ya, Pak?" tanya Erick kepada Sukardi dengan suara yang lirih. Sukardi pun mengangguk, "Iya tuan muda," balasnya.
"Tapi saya lelah, Pak! Gak bisa besok apa?" Erick menjadi semakin kesal, ketua geng Sky Bruiser itu benar-benar tidak ingin pergi ke rumahnya itu. Atau lebih tepatnya lagi, Erick tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
Perlahan pria itu melihat ke arah luar kaca mobilnya, "Huft ...." Erick menghela napas kasar, kini matanya tertuju melihat langit, "Sebenarnya apa yang ingin mereka katakan," gumam Erick dengan lirih di dalam hatinya.
Mobil yang dinaiki Erick pun melaju menuju ke komplek perumahan elit tempat rumah kedua orang tuanya berada.
......................
Setelah sekitar 20 menit berlalu, kini Erick sudah berdiri tepat di depan pintu masuk rumahnya. Dia diam di tempat, Erick benar-benar enggan untuk masuk, tapi Sukardi terus mendorongnya dengan kata-kata. Hingga akhirnya, dirinya pun terpaksa untuk memasuki rumah yang layaknya neraka itu.
Cklek ...!
Pintu masuk yang besar perlahan mulai terbuka ke arah dalam, selang beberapa detik, terlihatlah dua orang paruh baya yang sepertinya sudah berdiri disana sejak beberapa saat yang lalu.
"Erick!" seru seorang pria paruh baya kegirangan dengan aksi memeluk Erick secara tiba-tiba, hal itu membuat Erick terpaku.
Brady, itulah sosok pria paruh baya yang saat ini sedang memeluk putranya. Disamping Brady, Hanifa berdiri dengan senyuman yang terus mengembang.
__ADS_1
"Erick, papa benar-benar bangga sama kamu. Dari dulu papa sudah tahu bahwa kamu anak yang jenius! Andai saja kamu seperti ini sejak dulu, maka kami tak perlu membuatmu harus tinggal di villa itu," ucap Brady setelah dirinya melepaskan pelukan tadi.
Kata-kata Brady itu kembali membuat Erick terdiam, kini Erick hampir kehabisan kata-kata. Emosinya pun menjadi campur aduk sekarang.
Dia merasa marah, kesal, senang, dan aneh diwaktu yang bersamaan. Ini membuatnya benar-benar bingung.
"Jadi bagaimana, Erick? Apa sekarang kamu sudah mau untuk menjadi CEO di perusahaan keluarga kita?" Disaat masih terpaku, Brady kembali melontarkan kalimat yang membuat ketua geng Sky Bruiser itu kesal.
Wajah Erick mulai memerah karena kesal, sekuat mungkin dia menahan amarahnya untuk keluar, "Maaf, Pa, tapi kurasa tidak!" jawabnya singkat dengan suara yang terdengar datar.
"Kenapa?!" balas Brady tak percaya, lagi-lagi anak satu-satunya itu menolak untuk meneruskan bisnis keluarganya.
Mendengar pertanyaan itu, Erick tersenyum sinis sekilas, "Karena aku tak ingin, membuat anakku nanti juga ikut sengsara sama sepertiku saat ini!" Erick berbicara dengan menatap dingin kedua orang tuanya.
Tentu saja, perkataan Erick barusan langsung membuat Brady maupun Hanifa marah besar. "Apa maksudmu?!" Brady membentak anaknya dengan suara yang cukup besar.
Namun, ditengah-tengah kepuasan Erick karena rasa kemenangannya, Hanifa yang lebih bisa menahan emosinya, mencoba untuk meredakan amarah Sang Suami.
Ketika amarah Brady sudah mulai reda, Hanifa pun menanyakan tentang alasan Erick kenapa tidak mau melakukan apa yang orang tuanya minta. "Erick, jika bukan kamu, lalu siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan keluarga kita? Apa kamu sendiri mau perusahaan yang telah keluarga kita bangun begitu lama hancur?" ujar Hanifa dengan suara yang sedikit lembut.
Tanpa perlu waktu yang lama, Erick langsung membalas perkataan dari mamanya tersebut, "Kenapa harus Erick, Ma? Kan masih ada anak haram papa, hasil dari perselingkuhan papa dengan tante Vania?" Erick tersenyum dengan sinis sembari berbicara, dan melihat Papa Mamanya secara bergantian.
"Erick!" Lagi-lagi emosi Brady kembali naik, kali ini dia benar-benar sangat marah, dengan kata-kata dari anaknya tersebut.
Perlahan Brady pun melirik ke arah istrinya. Dengan perasaan takut-takut, Brady melihat mata Hanifa, dia tahu betul bahwa kini Hanifa sedang marah besar terhadapnya, atau terhadap perkataan putranya.
__ADS_1
Hanifa tersenyum, membuat Brady semakin keringat dingin. "Dalam hal ini, jangan salahkan Erick sepenuhnya! Kalau seandainya saja kamu gak pernah selingkuh, dan anak haram itu tidak lahir, maka Erick pasti tidak akan mengatakan hal seperti ini!" ujar Hanifa dengan nada bicara yang datar tapi terdengar begitu mengintimidasi.
Setelah mengatakan kalimat-kalimatnya tersebut, Hanifa pun berlalu pergi meninggalkan suaminya dan Erick. Dia pergi ke kamarnya.
"Huft ...." Brady menghela napas kasar, dia tidak habis pikir dengan apa yang telah dikatakan oleh Erick, itu semua membuatnya benar-benar emosi.
"Dasar anak gak tahu diri! Gak bisa apa-apa, tapi suka adu domba orang tuanya, berandalan nakal. Mau jadi apa kamu hah?! Anak durhaka?" Dalam emosi yang meluap-luap, Brady mengeluarkan segala unek-unek dirinya terhadap Erick.
Perkataan-perkataan seperti itu sudah sering Erick dengar, dia sudah terbiasa, jadi itu bukan masalah baginya. Erick pun terlihat biasa saja.
Namun, di tengah-tengah ketidakpeduliannya dengan perkataan Brady, ada beberapa kalimat yang keluar dari mulut pria paruh baya itu, yang membuat Erick marah.
"Andai saja anakku dan Hanifa adalah Sandi, dan bukannya kau, maka aku yakin kami berdua pasti akan lebih bahagia daripada sekarang! Karena Sandi tidak berandalan sepertimu!" Itulah kalimat yang Brady katakan sebelum akhirnya dia pergi menyusul Si Istri. Lalu disaat dirinya baru berjalan beberapa langkah, Erick membalas perkataannya.
"Aku tidak pernah minta dilahirkan oleh kalian! Aku juga tidak peduli siapa orang tuaku, bahkan saat ini aku akan lebih bersyukur jika dilahirkan sebagai Sandi! Setidaknya Si Sandi itu masih mendapatkan kasih sayang dari tante Vania, sementara aku? Papa dan Mama selalu sibuk bekerja! Pekerjaan itu kan anak kalian?!" Erick berteriak benar-benar dengan suara yang besar.
Erick sungguh berharap Brady mendengar semua ucapan yang telah meluapkan semua perasaan dirinya selama ini. Tapi Erick merasa tidak yakin Brady mendengar dua kalimat terakhirnya, karena Brady sudah keburu berjalan terlalu jauh.
Hyung ...
Tubuh Erick terasa ingin tumbang, jantungnya berdegup kencang, penglihatannya pun mulai kabur. Entah kenapa Erick merasa tidak sehat secara tiba-tiba.
Disaat dia sudah merasa tak sanggup berdiri, Sukardi yang sejak tadi berada di luar masuk ke dalam rumah itu tepat waktu, dan langsung menahan tubuh Erick untuk tetap berdiri.
Wajah Sukardi terlihat begitu panik dan khawatir, "Tuan muda, lebih baik sekarang kita kembali ke villa dan beristirahat! Saya akan menyuruh dokter Ardi untuk datang ke villa dan memeriksa anda," ucap Sukardi sembari bertindak.
__ADS_1
Dia memapah tubuh Erick untuk berjalan ke mobil, saat sudah masuk ke dalam mobil, Sukardi pun langsung melajukan mobilnya, dan pergi meninggalkan kediaman keluarga Brady.