
Di ruang kerja mereka, kedua orang tua Navya kini terlihat benar-benar sangat marah. Emosi memenuhi isi kepala mereka saat ini.
Dengan kondisi yang seperti ini mereka sudah tidak bisa lagi untuk melanjutkan kerja mereka. Papa Navya menutup laptop yang ada di meja kerjanya dengan sangat kuat, kemudian dia melempar beberapa buku ke lantai.
Tak hanya sampai disitu, kini Hendra juga melempar barang-barang lain yang ada di atas meja kerjanya, seperti vas bunga, kotak peralatan tulis, dan juga lampu untuk bekerja.
Suara-suara yang berisik muncul tiada hentinya dari barang-barang yang Hendra terus lempar ke lantai. Lalu dalam sekejap ruangan kerja itu menjadi benar-benar sangat berantakan.
Hendra mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, kemudian berjalan cepat ke arah meja kerja istrinya untuk meraih sebuah telepon rumah, karena telepon rumah yang ada di atas meja miliknya sudah berakhir rusak di lantai.
Suara tombol telepon rumah yang ditekan dengan kuat terdengar begitu jelas.
Suami Sriayu itu pun menekan beberapa nomor yang sepertinya sudah sangat sering dia hubungi, karena terlihat dengan sangat jelas bahwa dirinya sangat menghafal nomor telepon tersebut.
Ketika telepon rumahnya telah terhubung dengan pemilik nomor telepon yang dia hubungi, Hendra langsung dengan cepat berbicara.
"Cepat cari informasi pria bernama Erick, dia anak berandalan yang saat ini bersekolah di SMA Jaya Sakti, dan berada di angkatan yang sama dengan putriku. Cari informasi tentang dirinya selengkap mungkin!" titah Hendra dengan suara yang penuh penekanan sembari memberikan informasi kecil mengenai pria yang ingin dia cari tahu.
Setelah menerima balasan setuju dari orang yang dia hubungi, Hendra pun menutup panggilan itu dengan cara membanting ganggang telepon rumahnya tersebut dengan cukup kuat.
"Pintar dan sukses tanpa belajar? Mana ada orang di dunia ini yang seperti itu! Omong kosong seperti apa yang telah putrimu itu katakan tadi Sriayu!" gerang Hendra yang emosinya masih belum reda juga.
......................
__ADS_1
Sinar matahari masuk melalui celah-celah ventilasi kelas 12.B dan juga sedikit dari jendela yang tertutup oleh gorden.
Suara ribut dari dalam kelas pun terdengar cukup kuat hingga ke luar, tapi bukan suara ribut karena mereka bermain-main melainkan suara ribut dari mulut mereka yang sedang membahas pelajaran.
Ada juga yang sedang berlatih memainkan alat musik, bernyanyi, hingga berlatih speech dan juga puisi, serta ada yang hanya diam sembari membaca buku sastra ilmiah.
"Woi Luh ada ngeliat Navya gak?" seru Erick bertanya tanpa menyebutkan nama orang yang dia tanyakan. Namun orang yang ditanya itu sadar dan langsung menyahut.
Dia menggelengkan kepalanya, "Dari tadi gak ada liat tuh, mungkin Navya telat?" jawab orang itu yang tidak lain adalah Caera. Lagi pula Erick akan bertanya kepada siapa lagi selain kepadanya? Di kelas itu hanya Navya dan Caera lah temannya.
"Tapi ini udah lebih 20 menit dari jam masuk sekolah, apa mungkin dia gak masuk sekolah hari ini?" balas Erick yang kembali bertanya.
Mendengar pertanyaan itu Caera langsung menghentikan segala aktivitasnya dan fokus melihat Erick, "Mungkin aja sih ... Tapi, Navya itu hampir gak pernah tidak masuk sekolah loh, aku bahkan lupa kapan terakhir kali Navya gak masuk sekolah, selain pas dia izin untuk ikut perlombaan ya," ucap Caera menjelaskan.
Kini wajah Caera terlihat berubah menjadi khawatir, "Duh Rick, kamu ngomong kayak gitu kok sekarang aku jadi kepikiran ya. Waktu sakit aja dia tetap disuruh masuk sama orang tuanya, lah sekarang kenapa bisa gak masuk." Dengan wajahnya yang terlihat semakin khawatir dan panik, Caera terus berbicara tentang Navya.
"Entar biar gue tanya sama Miss Karlina aja, Luh gak perlu terlalu panik kayak gitu sekarang," ucap Erick mencoba menenangkan Caera dengan nada bicara dinginnya yang khas.
Caera pun membalas perkataan Erick dengan anggukan kepalanya, dia tahu bahwa Erick akan benar-benar bertanya kepada Karlina, karena dia melihat wajah khawatir juga dari pria yang duduk dihadapannya saat ini.
Tak lama setelah percakapan antara Erick dan Caera selesai, seorang guru pun masuk ke dalam kelas mereka untuk mengajar.
......................
__ADS_1
Jarum pendek pada jam di kelas sudah menunjukkan pukul 2 siang, sementara jarum panjangnya menunjuk ke angka 9. Itu berarti waktu pulang sekolah SMA Jaya Sakti telah tiba.
Semua guru yang mengajar di kelas kembali ke kantor guru, dan semua murid pun berhamburan keluar kelas. Ada yang langsung pulang, ada yang lari ke kantin, atau pun ke tempat lainnya yang ada dilingkungan sekolah.
Untuk Erick sendiri, saat bel pulang sekolah telah berbunyi, dia langsung pergi menuju ke kantor guru untuk mencari Karlina.
Namun bukannya di kantor guru, Erick malah bertemu Karlina saat masih di depan kelas 12.A. Karlina baru selesai mengajar di sana.
"Erick! Mau pulang?" sapa Karlina dan kemudian bertanya saat dirinya berpapasan dengan Erick di depan kelas 12.A tersebut.
Erick menggelengkan kepalanya, "Saya ingin bertemu dengan Miss," balas Erick dengan nada bicara yang datar. Mendengar hal itu Karlina pun menjadi bingung, "Bertemu dengan saya? Ada apa?" tanya Karlina diiringi dengan aksi menaikkan salah satu alisnya.
"Navya hari ini gak masuk, Miss tahu kenapa? Soalnya dari tadi itu Caera khawatir banget," ucap Erick yang mengutarakan tujuannya.
Si Ketua Geng Sky Bruiser itu berbicara dengan mata yang tak berani untuk melihat mata wali kelasnya, tentu hal itu membuat Karlina ingin tertawa, tapi dia mampu untuk menahannya.
"Caera atau kamu yang khawatir?" seru Karlina dengan nada bicara yang menggoda, setelah mengatakan kalimatnya itu Karlina pun tertawa kecil karena sudah tak mampu menahannya lagi.
"Miss saya serius! Miss tahu gak kenapa Navya tidak masuk sekolah hari ini?" Dengan wajahnya yang terlihat kesal, Erick kembali mengulangi pertanyaannya tadi.
"Baiklah ... Jadi orang tua Navya hanya bilang Navya izin tidak masuk hari ini, mereka tidak mengatakan apa alasannya. Tapi karena Navya memang hampir tidak pernah izin, jadi ya Miss gak mau nanya lagi. Karena menurut Miss kalau Navya gak masuk itu berarti memang ada hal atau keperluan yang benar-benar penting," jawab Karlina setelah tawa kecilnya berhenti.
Setelah mendengar penjelasan Karlina, pertanyaan Erick memang telah terjawab, tapi rasa penasarannya masih belum hilang.
__ADS_1
"Mengapa orang tua Navya tidak memberikan alasan yang jelas?" lirih Erick di dalam hatinya.
Namun karena tak ingin terlalu ambil pusing, Erick memutuskan untuk menyudahi hal ini. Pria itu juga baru ingat bahwa orang tuanya akan menjemput dia sepulang sekolah untuk makan malam bersama. Jadi Erick segera berpamitan dengan Karlina lalu kemudian pergi berlalu.