
Setelah 10 jam mata pelajaran telah mereka lalui, akhirnya semua siswa-siswi SMA Jaya Sakti mulai dari kelas 10, hingga kelas 12 sudah diperbolehkan untuk pulang.
Begitu banyak murid yang berbondong-bondong menuju pagar sekolah, dan meninggalkan sekolah mereka itu.
Namun, ada cukup banyak juga murid yang tetap berada di lingkungan sekolah. Kebanyakan dari mereka adalah murid-murid yang memiliki jam ekskul pada hari ini.
Lalu, ada juga yang masih tetap berada di sekolah karena ada urusan dengan guru, atau hanya sekedar bermain-main di taman, dan membaca buku di perpustakaan.
Dari kelompok murid-murid yang masih berada di lingkungan sekolah karena mempunyai urusan dengan guru, beberapa dari mereka adalah Erick, Navya, Caera, Lutfi, Denisa, dan empat orang lainnya yang juga merupakan murid kelas 12-B.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, kesembilan orang tersebut langsung segera pergi ke kantor dan menemui Karlina, sama seperti yang Karlina katakan saat di kelas tadi.
"Selamat siang, Miss!" sapa mereka kecuali Erick, saat melihat Karlina yang sedang duduk di taman depan kantor guru.
Karlina menoleh, "Siang! Wah udah pada datang semua ya!" ucap Karlina membalas sapaan tadi dengan ramah.
"Putra, Juita, Quena, dan Lintang juga mau ikut?" lanjut Karlina bertanya, karena melihat ada empat orang lain selain dari yang dirinya sudah pilih untuk mengikuti cerdas cermat.
Empat orang yang disebut namanya itu pun menganggukan kepala mereka dengan pelan.
"Oke bagus! Jadinya perwakilan kelas 12-B ada banyak nih. Yasudah, sekarang isi formulir ini ya. Isinya pertanyaan-pertanyaan tentang data diri kalian." Dengan senyumnya, Karlina berbicara sembari memberikan formulir pendaftaran kepada para muridnya itu.
"Baik, Miss!" seru mereka, dan langsung mengambil formulir tersebut dari tangan Karlina.
Selang beberapa menit, semua pertanyaan yang ada di formulir pun telah diisi, dan kesembilan orang tersebut juga telah mengembalikan formulir itu kepada wali kelas mereka.
Jadi, sekarang adalah waktunya bagi Karlina untuk menjelaskan bagaimana teknisi lomba cerdas cermat pada pekan pendidikan nanti.
__ADS_1
"Baiklah anak-anak, sekarang dengarkan Miss baik-baik, ya!" ujar Karlina sebelum memulai penjelasannya, para muridnya itu membalas dengan anggukan kepala.
"Ada 2 hal yang ingin Miss sampaikan, yang pertama tentang mata pelajaran apa yang akan diujikan saat cerdas cermat nanti. Pada lomba itu akan ada 5 mata pelajaran yaitu matematika, IPA, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, lalu sejarah."
"Informasi yang kedua, pada lomba nanti akan ada 2 babak penyisihan, yang pertama adalah dengan kertas, pada tahap ini hampir semua peserta akan gugur, karena yang akan diambil hanyalah 10 orang dengan nilai tertinggi."
"Lalu, kesepuluh orang yang mendapatkan nilai tertinggi akan masuk ke babak lisan, disini semua peserta yang berhasil lolos akan saling berebut untuk menjawab soal yang diberikan."
"Pada babak lisan akan ada 3 ronde, ronde pertama 5 orang akan digugurkan. Ronde kedua, dua orang akan gugur, dan ronde ketiga adalah puncak finalnya, dimana 3 orang yang bertahan sampai akhir akan memperebutkan juara satu, dan mewakili SMA Jaya Sakti pada ajang olimpiade cerdas cermat sekota Batam."
Dengan sangat rinci dan juga dengan suara yang jelas, Karlina memberikan penjelasan kepada kesembilan muridnya, yang akan mengikuti cerdas cermat pada pekan pendidikan nanti.
Mulai dari mata pelajaran yang akan diujikan, sampai pada teknisi dan bagaimana sistem eliminasi pada lomba itu.
Setelah mendengar penjelasan yang amat panjang dari Karlina, tentu saja kesembilan orang yang mendengarkannya pun langsung mengerti.
"Assalamualaikum, Miss!"
"Sampai jumpa, Miss!"
Kesembilan orang itu memberikan sapaan selamat tinggal kepada guru mereka, sembari menyalimi tangan wanita pengajar itu.
......................
Erick, Navya, dan Caera kini sedang berjalan bersama menuju tempat parkir kendaraan yang mereka bawa ke sekolah.
Ditengah-tengah perjalanan itu, tiba-tiba saja Caera berhenti, lalu menatap Erick dengan serius, membuat pria yang ditatap menjadi bingung.
__ADS_1
"Kenapa luh?!" Dengan wajah bingungnya, Erick berbicara dengan cukup kuat, membuat Caera langsung mengalihkan pandangannya, dan kembali melanjutkan jalannya.
"Ehh ... Luh yakin mau ikut, Erick?" ucap Caera, yang langsung menanyakan apa hal yang membuat dirinya menatap Erick tadi.
Erick menaikkan salah satu alisnya, "Ngapain luh nanya gitu? Ya gue yakin lah, gue harus ngalahin Rayn! Memangnya ada apa?" balas Erick juga dengan pertanyaan.
"Bukannya apa-apa sih, cuma gue masih gak bisa percaya aja kalau luh sepintar itu, ya mungkin aja kan kalau waktu ujian tes itu luh cuma hoki?" ujar Caera dengan wajah meremehkannya.
Mendengar hal tersebut, Erick tersenyum semirik, "Ckk ... Luh emang beda banget ya sama Abian. Padahal waktu Abian ngomong tentang luh, dari gaya ceritanya kalian itu kayak dekat banget. Tapi ternyata sikap kalian jauh banget bedanya! Abian gak sebabar luh, dia juga ngehormati gue banget, sementara luh enggak, luh juga jadi cewek barbar banget, gak ada kalem-kalemnya kayak Navya!" ucap Erick menyindir sepupu Abian itu.
"Hah?" Wajah Caera berubah menjadi kesal. Sementara wajah Navya yang ada di sebelahnya terlihat berbinar, itu karena Navya senang dengan perkataan Erick yang mengatakan bahwa dirinya kalem, "Itu sebuah pujian, kan?" lirih Si Angel Girl itu di dalam hatinya.
"Menghormati luh? Buat apa?! Eh ingat ya, gue bukan anak buah luh di geng motor itu, gue juga bukan Abian! Gue Caera. Satu-satunya orang yang gue hormati di sekolah ini selain guru, itu cuma Navya, karena memang cuma dia yang pantas untuk dihormati!" Dengan nada bicara yang kesal, Caera memarahi ketua dari geng motor sepupunya itu.
"Rayn?" Erick yang bingung karena tidak mendengar nama Rayn disebutkan oleh Caera sebagai orang yang dihormati wanita itu, akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Ketua OSIS itu? Gak, lagian menurut gue dia terlalu sombong sebagai sosok ketua OSIS!" jawab Caera dengan cepat.
Mendengar jawaban tersebut, senyum semirik pun kembali terukir di wajah Si Ketua geng Sky Bruiser itu, "Hahaha ... Jadi luh gak suka juga sama dia? Setim dong kita!" ucapnya sembari tertawa kecil.
Navya membuang pandangan wajahnya untuk tidak melihat Erick lagi, "Dih ogah! Gak usah sok dekat deh luh! Lagian nih ya, kalau misalnya ada orang yang nyuruh gue buat milih luh atau Rayn, gue tetep lebih milih Rayn lah!" balas Caera dengan intonasi yang malas.
Tentu saja, ketika mendengar hal tersebut Erick dibuat menjadi kesal. Tapi dia berusaha untuk menahan amarahnya.
Sementara itu, Navya yang kurang mengerti dengan percakapan antara sahabatnya, dengan pria yang ingin dia jadikan teman, membuat dirinya hanya diam dan menyimak.
Navya juga tidak tahu, jika dia ingin masuk ke dalam percakapan antara dua orang itu, dia harus memulainya dari mana.
__ADS_1
Lalu pada akhirnya, tanpa sadar mereka sudah tiba di tempat parkir. Setibanya disana, Erick pergi ke bagian kanan, karena disitulah tempat parkiran motor berada. Sementara Navya, dan Caera pergi ke tempat parkiran mobil yang ada disebelah kiri.