
Hari mulai gelap di dalam Academy tepatnya di asrama 02 para gadis sedang bersantai dan itupun setelah berkenalan satu dengan yang lainnya.
“Hai para gadis! Kalian pulang lebih dahulu,” ucap Shun masuk ke asrama.
“Hm...ya,” ujur gadis berambut ungu, Veleria namanya.
“Hehe...y-ya,” ucap bayi mungil yang ada pada gendongan Ara.
Shun terpaku melihat itu, di asrama mereka ada bayi?! Garis bawai ada BAYI.
“Perasaanku saja atau memang ada suara anak kecil di sin-,” ucapan Zucca terpotong tak kala melihat bayi yang ada di gendongan Ara, sama seperti shun dia juga terpaku.
“Ga...yaya,” ucap bayi itu dengan senang.
“Kenapa ada bayi di sini!” seru Shun dan Zucca bersamaan.
“BAYI!?!!” teriak Leo, Vino, Rean Zac dan Luif bersamaan kaget melihat bayi itu sedangkan Zen ia hanya memandangnya datar.
“Oh tenanglah kalian bisa membuatnya takut,” ucap gadis berambut kuning memutar bola matanya malas, Fioren namanya.
“Oh unyu-unyu kamu sama aunti yuk,” ucap Nava dengan gemas.
“Sama aunti aja yuk kita main,” tambah gadis berambut toska, Karin.
“Ma-mama,” ucap bayi itu memeluk erat Ara.
“Noemi sayang sama Aunti Karin dan Aunti Nava ya,” ucap Ara pada bayi perempuan bernama Noemi tersebut.
“Nda, nda am am ma,” ucap Noemie mengelengkan kepalanya dengan lucu membuat Ara menjadi gemas.
“A-ara itu bayi siapa?” tanya Leo.
“Bayiku ada masalah?” tanya Ara menatap tajam para pria.
“Ah, tidak-tidak hanya saja kau mendapatkannya di mana?” tanya Rean, waspada.
“Dia tersesat di hutan kasihan kan,” ucap Nava.
“Ok, jadi bayi ini tersesat di hutan saat kalian dalam perjalanan mencari sisik naga itu, tapi apa kepala sekolah mengizinkannya?” tanya Zac.
“Aku meralat kami menemukannya saat perjalanan kembali dan menjaga Noemi adalah hukuman Ara,” ucap Atta.
“Hu...” ucap Zucca sengaja dipotongnya.
“Kuman?” sambung Shun diangguki oleh Atta, Karin, Nava, Fioren dan Valeria.
“Ara handphonemu dari tadi berbunyi itu menganggu konsentrasiku,” keluh Vina sambil memberikan handphone yang ada di atas meja kepada Ara.
Jangan heran ya di dunia sihir juga ada hal semacam ini percaya atau tidak di sini lebih maju dari pada di dunia manusia.
“Si tamak ini lagi,” kesal Ara.
Raut wajah Noemi berubah seketika, saat Ara mengucapkan kata itu tak lama setelahnya raungan tangis terdengar darinya.
“Oh, sayangku dia tak akan menganggumu lagi, mama jamin ya,” ucap Ara menenangkan Noemi.
“Jaga mentar,” ucap Ara memberikan Noemi pada Leo dkk.
“Jangan sampai dia nangis,” ucap Nava mewanti-wanti.
“Jangan sampai dia terjatuh,” ucap Atta.
“Jangan sampai dia luka,” tambah Karin.
“Jangan sampai dia lecet ataupun sakit,” tambah Fioren.
“Kalau terjadi sesuatu pada Noemi....” ucap Veleria sengaja di potong, wajah kelima gadis itu berubah mengelap dan menyeramkan.
“KALIAN MATI DI TANGAN KAMI!” seru kelimanya menekan setiap kata yang mereka ucapkan.
Mereka berlima pergi mengikuti Ara meninggalkan para pria tentu Vina juga ikut tidak mungkin dia akan tinggal sendiri di sana bersama orang-orang bodoh yang masih bingung.
“Serius saja ini belum sampai setengah eps, bahkan ini baru awal,” keluh Zucca.
“Dan kita harus menjaga seorang bayi!!” seru Zac dan Luif kompak.
“P-papa,” ucap Noemi mengapai tangannya pada Zen minta di gendong.
Leo, Luif, Zac, Zucca Shun, Rean dan Vino memandang kearah Zen membuat pria dingin satu itu memandang mereka waspada.
“Wah, Zen kau tau, bukan hanya di kerajaan Şirin qan namun di seluruh Magica World kaulah pria yang paling tampan,” ucap Shun.
“Benar kau pria paling tampan bukan hanya di kerajaan Vampire saja namun di seluruh dunia sihir, kau paling hebat,” tambah Zucca, sebenarnya mengulang perkataan Shun namun dengan kata yang berbeda.
“Lihat saja bahkan Noemi memilihmu menjadi Papanya,” ucap Luif.
“Jadi,” ucap Rean.
“Jaga dia dan jadilah orangtua yang baik!” seru mereka bersamaan memberikan bayi itu pada Zen.
“Kalian gila!” dua kata itu yang keluar dari bibir Zen.
Namun Zen menerima Noemi, bukan mengapa, melawan para gadis? itu adalah hal yang mudah namun menghadapi 5 gadis sekaligus itu sangat merepotkan ditambah lagi dengan Ara yang menjadi mama bayi itu, mengingat kekuatan Ara, Zen jadi terbayang betapa merepotkan menghadapi siswi baru itu.
Zen membawa Noemi bersamanya menuju kamarnya membiarkan teman-temannya yang kini sedang melompat riang.
Sementara itu para gadis....
__ADS_1
“Nona-nona bagaimana mungkin anda tak membayar saya setelah saya menjaga ba- maksud saya Nona Noemi,” ucap Ömür pada Ara, Nava, Atta, Karin, Valeria, Vina dan Fioren.
Dan yah si tamak yang Ara maksud memanglah Ömür yang sempat menjaga Noemi sebelum bayi itu menjadi hukuman bagi Ara karena kejadian tadi pagi.
“Kau masih meminta upah setelah membuat bayi kami menangis?!” marah Fioren.
“Ah hmm,” ucap Ömür menjadi takut.
“Wah ada apa ini, putri-putri kerajaan datang ke tempatku bersamaan ini sebuah kehormatan bagiku,” ucap Johnson yang datang langsung menunduk hormat pada Ara dan yang lainnya.
“Girl cari barang yang kalian butuhkan, Ömür yang akan bertanggung jawab,” ucap Atta.
“Ide bagus karena kini aku membutuhkan bahan-bahan untuk meramu dan aku sangat malas mencari bahan-bahan itu,” ucap Veleria.
“Hm...yang mulia?” panggil Johnson bingung pada Ara.
“Aku yang akan membayarnya, berikan apa yang teman-temanku inginkan,” ujur Ara.
“Jadi...?” tanya Johnson.
“Aku menitipkan seorang bayi pada Ömür dan berjanji akan memberikannya upah jika ia menjaganya dengan benar,” ucap Ara.
“Bayi siapa?” tanya Johnson sambil berjalan kearah meja yang mau tak mau Ara juga mengikutinya duduk di kursi yang tersediakan.
“Sir Amoiral, dia dan istrinya kini sedang pergi makanya mereka menitipkan anak mereka pada kepala sekolah, namun Mommyku itu menjadikan Noemi sebagai hukuman bagiku karena menghancurkan sekolah tadi pagi, walau aku telah memperbaikinya,” jawab Ara.
“Noemi, anak dari Sir Amoiral sepertinya aku pernah dengar,” ucap Johnson berpikir.
“Oh, aku ingat! anda taukan kalau saya kadang bergabung di tempat para Qaranlıq, jadi saya tau tentang mereka,” ucap Johnson membuat Ara mengangguk.
“Jadi, Nona Noemi dalam bahaya, dia adalah satu-satunya Fairy yang memiliki kekuatan istimewa dan kaisar Qaranlıq mengingginkannya,” tutur Johnson.
Ara terdiam mendengar penuturan Johnson, ia juga sudah menduga tentang itu di saat tadi ia bermain bersama Noemi. Saat ia menutup muka Noemi dengan tangan bayi itu, ia menghilang dan saat tangannya sudah tak di muka lagi Noemi kembali terlihat.
“Terima kasih infonya Johnson,” ucap Ara sambil memberikan sebuah daun bewarna emas, biru dan merah juga sebuah buah bewarna ungu.
“Kurasa ini cukup sebagai penukar info dan barang yang diambil teman-temanku,” ucap Ara.
“Ini sangatlah cukup, malah agak lebih,” ucap Johnson.
“Baiklah, Girl’s apa kalian telah selesai?” tanya Ara pada teman-temannya.
“Ya sudah!” seru Nava dan Fioren bersamaan.
“Ini lebih dari cukup,” ucap Karin melihat barang-barang yang ia ambil.
“Ok barang yang aku inginkan sudah lengkap,” ucap Veleria.
“Ayo kita kembali!” seru Vina.
“Benar, aku khawatir pada Noemi,” tambah Atta.
“Awas saja jika Noemi kenapa-napa aku pastikan para pria itu akan menderita seumur hidup,” ucap Veleria dengan muka mengerikan.
Ara terkekeh melihat teman\-temannya. “Ok silakah keluar duluan aku menyusul sebentar lagi,” ucap Ara.
Vina, Fioren, Karin, Nava, Atta dan Veleria berjalan terlebih dahulu keluar dati tokoh. Ara melempar dua koin emas pada Ömür.
“Upah untukmu kurasa itu lebih dari cukup,” ucap Ara pada pria itu lalu menyusul teman-temannya.
Mereka bertujuh berjalan menyelusuri taman Academy pergi ke asrama, jangan heran kalau mereka telah tiba di taman, karena tokoh milik Johnson memiliki pintu yang terhubung ke Academy juga, agar memudahkan para murid yang ingin bertukar barang dan lagi Valeria, Vina, Nava, Atta, Karin serta Fioren telah mengetahui tentang Ara yang mengenal Johnson juga siapa sebenarnya Deria yang sempat menjadi gosip hangat di Magica World kemarin.
“NOEMI AUNTI PULANG!” seru Nava, Karin dan Fioren berteriak saat memasuki asrama namun mata mereka tak melihat adanya tanda-tanda Noemi.
“Ke mana Noemi?” tanya Valeria pada Leo, Zucca, Zac, Luif, Rean, Vino dan Shun.
“Dengan Papanya,” jawab Luif.
“Papanya?” heran para gadis kecuali Ara.
“Ya, bersama Zen,” tambah Zucca.
“kalian gila!” seru Valeria.
“Kalian memberikan Noemi pada Zen?!” tanya Karin berseru tak percaya.
“Aku akan melihat Noemi,” ucap Ara dan langsung pergi menaiki tangga menuju kamar Zen.
Ara mengetuk pintu kamar yang bertuliskan nama Zen dan Luif tak lama kemudian Zen membuka pintu dengan Noemi yang berada di gendongannya.
“Sudah pulang,” ucap Zen dengan muka datar.
Pria itu lalu memberikan Noemi pada Ara. Ara menerima Noemi yang langsung memeluknya erat sambil tertawa dan bercolote senang, Ara tersenyum melihat itu, namun matanya melebar setelah merasakan sesuatu dan membuat ia menerobos masuk ke kamar Zen sambil mengendong Noemi.
“Hei!” seru Zen kesal lalu mengikuti Ara kedalam dengan pintu kamar yang tertutup dengan sendirinya.
“Wah Noemi bintangnya cantik ya,” ujur Ara pada Noemi ketika mereka ada di balkon.
“A-an...ik, hehehe,” ucap Noemi terpaku melihat bintang.
‘Ada sepuluh tidak mereka ada banyak,’ batin Ara walau matanya Fokus pada Noemi dan bintang namun indra pendengaran dan penciumannya merasakan hal yang ada di sekitar.
Zen menarik tangan Ara membawa gadis itu masuk dan menutup pintu balkon serta menutupi gorden.
__ADS_1
“Hei!” seru Ara dengan kesal.
“Apa? Sepantasnya aku yang kesal denganmu masuk ke kamar orang tanpa izin dan itupun kaman pria,” kesal Zen dan itu pertama kalinya ia berbicara panjang tak juga sih waktu kecil ia juga pernah berbicara panjang pada seseorang, ya seseorang.
“Hah...mereka pasukan sepertinya mereka ingin menyerang, bayi itu memiliki kekuatan istimewa selain menghilang dia juga bisa menyerap kekuatan,” ucap Zen seakan mengetahui apa yang Ara pikirkan.
“Menyerap kekuatan?” tanya Ara diangguki oleh Zen.
“Kau menyerang Noemi dengan kekuatanmu!” marah Ara.
“Ya, itu hanya untuk memastikan karena dari pulang tadi, aku merasakan para Qaranlıq itu mengintai asrama,” ucap Zen, mebuat amarah Ara agak mereda walau ia masih kesal.
“Jadi, mereka sepertinya ingin mendapatkan bayi ini untuk memperkuat diri dengan kata lain mereka ingin membunuhnya,” ucap Zen membuat Ara membulatkan matanya kaget.
“maksudmu? Noemi....” lirih Ara.
“Aku mengetahuinya saat membaca buku di perpustakaan kerajaan itu adalah hal yang wajar bagi kaum Qaranlıq,” ucap Zen.
“Kapan kiranya mereka akan menyerang?” tanya Ara membuat Zen tersadar dari lamunan sesaatnya.
“Ntah bisa kapanpun dan bisa jadi tengah malam di saat semua orang telah tidur,” ucap Zen.
Ara memeluk Noemi dengan erat, Zen memandang kearah Ara matanya berubah menjadi merah mengkilat fokus melihat tekuk Ara, ‘kalau begini aku bisa saja lepas kendali, bau darahnya manis,’ batin Zen.
“Hm...sebaiknya kau keluar, kau tau aku pria normal,” ucap Zen.
“Mana berani kau macam-macam denganku saat ada bayi seperti ini dan kalaupun kau berani aku akan memisahkan anggota tubuhmu dari badan,” ucap Ara penuh ancaman.
Zen hanya terdiam berharap agar Ara segera keluar sebelum ia benar-benar lepas kendali. Ara berjalan menuju pintu keluar setelah terdiam sejenak, Zen segera membukakan pintu agar Ara keluar dan menutupnya ketika gadis itu benar-benar telah pergi.
Zen menyandarkan tubuhnya pada pintu perlahan ia terduduk, bau manis masih tercium di indera penciumannya satu kata yang selalu terucap di batinnya ‘Mate,’
“Ayolah Zen jangan sekarang, dia bisa saja membencimu jika melakukan hal yang tidak-tidak,” ucap Zen menepuk pipinya.
Zen berjalan kearah kasurnya dan berguling menutupi mata dengan lengannya.
“Aku ingin memelukmu, aku ingin menciummu, aku merindukanmu, aku mencintaimu, mateku,” gumam Zen.
Jam makan malam semua murid berada di kaferia bersiap memakan makanan masing-masing.
Setiap murid duduk bersama teman asramanya dan hanya ada satu meja yang akan selalu menjadi pusat para murid meja milik asrama 02.
Ya, siapa yang bisa mengalihkan pandangannya dari meja itu ketika melihat para pangeran dan putri kerajaan duduk di sana, ketampanan dan kecantikan mereka tak bisa di tolak begitu saja apalagi dengan adanya tambahan Ara, Nava dan Rean meja itu tampak berkilau dan juga tambahan bayi yang ada di pangkuan Ara.
“Aa...nyam, Noemi pinter!” seru Karin menyuapi makanan pada Noemi membuat Noemi girang.
“Jadi, berapa hari kamu harus jaga bayi ini?” tanya Leo penasaran.
“Gak tau, sampai Sir Amoiral pulang mungkin, ini kan anaknya,” jawab Ara.
“Ara bisakah kau menghentikan tatapan was-wasmu itu?” tanya Vino yang resah sendiri melihatnya namun itu diabakan oleh Ara.
“Hei Ara! Aku punya saran,” ucap Zac membuat Ara mengangkat alisnya bingung.
“Lebih baik kau melepaskan hasrat membunuhmu dari pada lepas kendali, aku yakin Mommy akan mengijinkannya,” saran Zac.
“No, aku tak mau kena omel lagi,” ucap Ara.
“Ya, ‘Ara jangan sampai kau melepaskan hasrat membunuhmu atau gedung academy akan hancur’ begitukan omelan yang akan keluar pasti akan panjang kan itu tante Veria,” ucap Rean mengucapkan omelan yang kirannya akan keluar dari mulut Veria.
“Apa yang anda sedang mengatai saya pangeran Rean?!” tanya suara yang terdengar dekat di telinga Rean membuatnya segera menoleh melihat Veria yang menatap tajam padanya.
“Hehehe gak kok cuman, hm...ngehibur Ara,” ucap Rean.
“Untuk apa kau menghiburku? Aku sedang tak butuh dihibur,” ucap Ara membuat Rean melotot karena sepupunya tak membantunya.
Nava berusaha sekuat tenaga agar tak menahan tawa namun itu membuat Rean menatapnya tajam.
“Bocah nakal jadi kau mengatai tantemu sendiri,” ucap Veria menjewer telinga Rean.
“Au...aa bukan begitu hanya saja ini tentang Ara! Zac memberinya saran bagaimana jika Ara melepaskan hasrat membunuhnya!” seru Rean meringis sakit membuat Veleria melepaskannya seketika.
“Bocah gila kau ingin academy ini hancur?!” seru Veria bertanya pada Zac.
“Tidak!”
“Ya!”
Seru Zac dan Ara bersamaan dengan jawaban berbeda.
“Apa maksudmu bocah nakal!” seru Veria pada Ara.
“Gak tau,” ucap Ara acuh.
“Jadi kepala sekola sekaligus Mommynya Ara anda mengizinkan Ara kan? Mengeluarkan hasrat membunuhnya, aku rasa bau Qaranlıq sangat pekat saat ini,” ucap Zac.
“Memang sih, kita harus bersiap,” ucap Veria dan tepat saat itu bunyi ledakan terdengar.
Dinding kaferia hancur membuat beberapa siswi berteriak dengan Ara dan yang lainnya spontan berdiri dengan posisi siaga.
Veria memandang tajam pada kabut yang di buat oleh dinding yang hancur dari sana tampak seorang pria yang berjalan santai memasuki dinding yang telah di hancurkan.
“Anda bersiap-siap untuk apa kepala sekolah EA?”
__ADS_1
TBC