
Hari 2 latihan
Pagi yang cerah kaferia telah penuh oleh para murid yang sedaang sarapan tak terkecuali dengan Ara dan yang lainnya.
“Hoam aku ngantuk,” ucap Vina sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
“Benar-benar mengantuk,” tambah Fioren yang kini juga memeluk lengan Leo.
“Kalau kau mengantuk mengapa kau memeluk lenganku!” seru Leo tapi tak bisa dipungkiri bahwa pria itu kini senang jika Fioren menempel padanya seperti itu.
“Kau nyaman,” balas Fioren dengan santainya.
“Kalau senang bilang saja,” cibir Zac bergumam kecil.
“Tapi pagi ini aku benar-benar tak ingin bergerak sedikitpun,” ucap Valeria yang menyandar pada Zucca.
“Makanya kalau waktunya tidur ya tidur ini malah ikut begadang sama kami,” ucap Zucca sambil menyentil kening Valeria dengan pelan.
“Zucca sakit,” rengek Valeria sambil memegang keningnya.
“Lagian juga kalian kayak seru banget makanya kami ikut,” ucap Nava.
“Betul tuh lagian kalian juga latihan pedang doang kok kan gak masalah kalau kami ikut,” tambah Karin.
Zucca, Zac, Leo, Shun, Vino, Luif, Zen dan Rean hanya bisa menghembuskan napas pasrah sedangkan Ara kini hanya mengerutkan alisnya dengan Atta yang memandangi dirinya.
“Kenapa kau memandangi terus?” tanya Ara pada Atta membuat teman-temannya yang lain menoleh pada mereka berdua.
“Tidak, tidak kenapa-napa,” jawab Atta namun gadis itu masih tetap memandangi Ara.
“Kalau tidak kenapa-napa, jangan memandangiku seperti itu ok, aku menjadi tak nyaman,” ucap Ara.
“Kau sakit?” tanya Luif sambil memegangi jidat Atta namun tangannya segera di tepis oleh gadis itu membuatnya sedikit meringis.
“Jangan menyentuhku,” ucap Atta penuh peringatan.
“Gadis bar-bar,” gumam Luif mencibir.
“Ara kau tau tentang Dewi Ateya?” tanya Atta membuat semua orang menoleh padanya dengan kaget.
“Atta kau sepertinya sakit,” ucap Nava.
“Keajaiban namanya, Atta yang tak menyukai sejarah menanyainya,” ucap Fioren.
“Diamlah aku hanya penasaran lagi pula Ara ahli dalam bidang ini mengingat ia yang menyalin buku-buku di perpustakaan sihir milik masing-masing kerajaan,” ucap Atta membuat Ara menjadi tersedak makanan.
Semua mata yang ada di meja itu menoleh pada Ara yang sedang meminum air.
“Jadi kau benar-benar menyalin buku-buku di perpustakaan itu?” tanya Leo.
__ADS_1
“Seluruh perpustakaan setiap kerajaan?” tanya Shun.
“Dan sebab itu kau telah bertemu dengan Ayah dan Ibuku?” tanya Vino.
“Diam!” seru Ara yang baru menyelesaikan minumnya membuat teman-temannya terdiam.
“So, Atta dari mana kau mengetahuinya?” tanya Ara.
“Senang saja saat kita berjumpa di alun-alun kota kerajaanku,” ucap Atta sambil tersenyum miring.
“Kau melihatku yang terburu-buru juga sangat berhati-hati sekaligus makanya menyimpulkan hal tersebut?” tanya Ara sambil menghela napasnya.
“Benar lagipula kau melakukan hal itu jika kau memiliki rencana yang sangat amat rahasia bukan? Dan perpustakaan itu adalah perpustakaan paling rahasia milik masing-masing kerajaan,” ucap Atta.
“Apa yang ingin kau ketahui Nona?” tanya Ara.
“Bagaimana jika kita membicarakan di tempat lain?” tanya Atta.
“Ya, keinginan komsumen yang utama,” ucap Ara lalu kedua gadis itu ber tos ria sambil terkekeh dan bangkit dari kursi mereka berjalan meninggalkan kaferia.
Valeria yang melihat itu juga ikut bangkit ingin mengikuti kedua temannya tersebut lagi pula ia punya satu pertanyaan yang masih belum bisa ia jawab dan mungkun Ara bisa menjawabnya.
“Kau mau kemana?” tanya Zucca sambil menahan tangan Valeria.
“Aku punya urusan kecil, aku akan kembali saat latihan telah di mulai bye Darling,” ucap Valeria melepaskan gengaman tangan Zucca sambil mengecup singkat pipi pria itu.
Setelahnya Valeria dengan cepat mengikuti kemana perginya Ara dan Atta.
“Jadi, kenapa kau menanyakan tentang itu?” tanya Ara.
“Aku hanya penasaran dengan Dewi bangsaku,” dusta Atta karena sebenarnya ia ingin mengetahui mksud dari mimpinya yng selalu memunculkan Ateya juga Nindiga.
“Dewi Ateya yah, hm...yang aku tau dia Dewi bangsamu, dia Dewi cahaya dan kenyamanan, dia juga termasuk Dewi dari 15 Dewa-Dewi dengan pasangannya Dewa Luanfa, Dewa milik bangsa half Witch dan asal kau tau saja karena ini bangsamu lebih cocok menikah dengan orang berbangsa Half Witch,” ucap Ara membuat Atta memandangnya horor seketika.
“Sorry ya tapi aku mastikan mateku bukan half Witch karena melihat pangeran mahkotanya aku kadang muak,” ucap Atta yang dengan jelas di tujukan untuk Luif.
“Hei Atta kau mengatakan itu tapi jangan-jangan kau adalah mate Luif,” ucap Ara menggoda.
“Gak mungkin dan tak mungkin terjadi!” seru Atta memandang Ara penuh peringatan.
“Kalau Ateya adalah Dewi bangsa Half Elf bagaimana dengan Dewi Vista? Dewi bangsaku,” ucap Valeria yang datang tiba-tiba dan berada di antara Ara dan Atta membuat kedua temannya itu menjadi kaget.
“Valeria! Kau mengagetkanku, kapan kau datang?!” tanya Atta berseru kaget.
“Hm? Aku mengikuti kalian dari tadi,” jawab Valeria dengan santainya.
“Jadi, tentang Dewi Vista?” tanya Valeria membuat Ara sedikit terkekeh.
Dalam benak Ara berpikir apa yang membuat temannya ini ingin mengetahui tentang para Dewi itu.
__ADS_1
“Dewi Vista, dewi sihir dan persahabatan, Dewi bangsa Witch yang memiliki pasangan Dewa Leafza Dewa bangsa Elf dan oleh sebab itu banyak orang dari kedua bangsa ini saling berpasangannya contohnya saja kau dan Zucca,” ucap Ara.
“Benarkah? Jadi itu? Apa ada pembahasan lain tentang kedua Dewi ini?” tanya Atta.
“Ya cukup dengan dua Dewi ini saja dulu kami ingin mengetahuinya,” tambah Valeria.
“Tak banyak yang bisa aku beri tau kini namun asal kalian tau kedua Dewi lahir bersamaan yaitu melalui cahaya, Dewi Ateya dengan cahaya yang terasa nyaman dan Dewi Vista dengan cahaya yang memancarkan aura persahabatan,” ucap Ara sambil tersenyum.
Atta dan Valeria memandang lekat pada Ara, hal yang membuat keduanya menyakan tentang kedua dewi tersebut adalah sama. Ini semua karena mimpi yang mereka dapatkan beberapa hari berturut-turut seperti sebuah kenangan yang pernah terlupakan.
“Ara bagaimana dengan Dewi Nindiga?” tanya Atta.
“Dewi magica world? Seorang mahadewi pasangan dari Dewa Michael dewa kematian, bulan dan malam juga merupakan dewa penghancur dia ada di pangkat tertinggi para Dewa-Dewi,” ucap Ara.
“Bagaimana dengan Dewi Nindiga?”tanya Valeria.
“Dewi takdir, Dewi yang memutuskan takdir termasuk takdir para dewa dan dewi juga asal kalian tau pemasangan mate di lakukan oleh dewi Calarina Dewi cinta dan kasih sayang namun itu harus ada persetujuan dewi Nindiga kalau tidak maka pasangan yang dipilih oleh dewi Calarina tak akan terjadi dan harus mengganti,” ucap Ara.
“Dengan kata lain Dewi Nindiga adalah dewi yang berkuasa?” tanya Valeria.
“Seperti itu namun tidak juga karena dewi Nindiga merupakan adik dari para Dewa-Dewi inti karena ia lahir paling terakhir dengan cahaya, batu permata juga benang-benang takdir yang mengelilinginya,” ucap Ara.
“Apa sebelum adanya dewi Nindiga semuanya tampak kacau?”tanya Atta.
“Ya semuanya kacau bahkan dewa tertinggi Michael sekalipun ia tak punya belas kasih sedikitpun jika ada kesalahan kecil maka makhluk yang membuat kesalahan itu akan dibunuh, namun semenjak kedatangan dewi Nindiga itu semua berubah hanya sang Dewilah yang bisa meluluhkan sang Dewa,” ucap Ara memberi jeda.
“Bahkan Dewa Michael rela kehilangan posisinya namun jangan sampai posisinya pada Dewi Nindiga menghilang, ia tak masalah jika ia melupakan Debelus pils tempat para Dewa-Dewi namun ia tak sanggup melupakan dewi Nindiga,” ucap Ara.
“Wah aku tak tau cerita tentang Dewi dunia ini sangat menyenangkan,” ucap Valeria.
“Itu romantis sekali aku juga ingin seperti itu,” ucap Atta.
“Pasti kita akan mendapatkan yang seperti itu Atta,”ucap Ara sambil terkekeh kecil.
“Aku akan membuat Zucca juga luluh agar bisa memiliki kisah seperti itu,” ucap Valeria penuh tekat.
“Tanpa kau buat luluhpun ia telah terikat pada mu,”ucap Atta.
“Apa lagi jika kalian melakukan penyatuan dia bahkan akan lebih lengket padamu,”ucap Ara.
“A-ara apa maksudmu? Penyatuan? Tidak untuk saat ini!”seru Valeria dengan muka memerah malu.
“Sudahlah ayo kita kembali waktu pelatihan telah masuk,” ucap Atta menghentikan Ara yang ingin menggoda Valeria.
“Kau benar, ayo kita bahas ini di lain waktu kalau perlu kita bahas ini nanti malam di kamarku,” ucap Ara.
Valeria dan Atta mengangguk setuju lalu ketiga gadis itu segera pergi menuju tempat latihan mereka berikutnya latihan senjata.
__ADS_1
TBC