
Gadis itu termenung ia memandangi taman yang di penuhi bunga di depannya.
"Ini tempat kuta sering bermain dulukan, White," ucap Luif merangkul pinggang adiknya itu sambil tersenyum lembut.
Gadis itu tau. Ara dangat tau jika taman ini adalah tempat favoritnya saat masih kecil bersama Luif, Ayah dan Ibunya, mereka bahagia sangat bahagia, bersama, ya itu dulu. Ara rindu Ayah dan Ibunya, dia rindu suasana harmonis mereka dulu.
Tanpa sadar airmata Ara menetes. Luif menatap nanar adiknya itu, ia memeluk Ara dari samping.
"Aku akan berusaha mencari mereka, jangan menangis," bisik Luif.
Ara melepas pelukan Luif secara kasar, membuat Luif tersentak, memandang Ara tak percaya juga bingung. Ara menghapus airmatanya dengan kasar.
"Jika semua masalahnya selesai aku akan mengembalikan itu padamu dan kembalilah ketempat Anda tinggalkan istana, ini bukan tempat Anda bukan Yang Mulia Luanfa," ucap Ara memandang Luif.
"White, ap-apa maksudmu?" tanya Luif.
"Saya tau, jika Anda menganggap saya sebagai Dewi Nindiga, maaf tapi saya bukan Nindiga. Jika Anda menganggap saya sebagi adik Anda White, maka anda adalah Kakak saya tapi itu tak mungkin, Kakak sata telah pergi tepat di saat Anda melepaskan ikatan Anda saat Anda berada di dalam diri Kakak saya," ucap Ara tajam berbalik lalu pergi.
Luif terdiam, ia memijit pelipisnya, pusing. Luif memandang nanar tempat kepergian Ara tadi lalu dia segera menghilang pergi.
Luif datang tepat berada di dalam kamar Zen. Zen hanya terdiam masih memandang keluar jendela tak mempedulikan Luif yang berada di dalam kamarnya.
"Kita memiliki sebuah masalah di sini Michael," ucap Luif membuat Zen menoleh.
"Heh, kau benar-benar telah tersadar saat permata itu kembali ke pemiliknya?" tanya Zen sambil tersenyum dingin.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Nindiga?" tanya Luif.
"Kau lebih tau bukan? Dia adikmu," ucap Zen.
"Dan dia pasanganmu kau ingat. Di mana dia sekarang?" tanya Luif memandang tajam Zen.
Zen hanya terdiam sambil menatap dalam Luif. "Kau telah bertemu dengannya bukan? Kita telah bertemu dengannya, Ara adalah Nindiga dan Nindiga adalah Ara, mereka orang yang sama."
"Jika mereka orang yang sama, maka Ara tak akan membantah apalagi setelah ia mendapatkan beberapa pecahan permata juga para hewan sihir," ucap Luif mendesah lelah.
"Mereka orang yang sama, dia Nindiga yang kita cari selama ini," ucap Zen.
"Dia benar-benar Nindiga atau Nindiga terkurung dalam dirinya?" tanya Zucca yang entah sejak kapan ada di sana juga.
Zen dan Luif kompak menoleh memandanginya, Zucca juga menatap keduanya.
"Kita tak bisa mengambil risiko mengorbankan makluk biasa dan mengklamnya menjadi Nindiga bukan? Aku tak merasakan adanya kekuatan Nindiga. Dia kuat sama seperti Nindiga namun itu bukan Nindiga," ucap Zucca.
"Dia Nindiga, kalau dia bukan Nindiga maka takkan ada benang sialan yang menginkatku padanya," ucap Zen mengeram kesal.
"Bisa jadi bukan Nindiga mati dan dia kembali terahir kembali, melalui makhluk Magica World. Semua kemungkinan ada, titisan Nindiga tak memiliki kekuatan sebesarnya, tak ada satupun yang memiliki kekuatan sebesar Nindiga hanya dia satu-satunya bahkan melebihi Nindiga," ucap Valeria yang juga ada di sana duduk di kasur Zen.
__ADS_1
"Aku tak menerima cacatan akan adanya kelahiran tentang seorang Dewi jadi itu tak mungkin, apa kalian memiliki pendapat yang lebih pasti?" tanya Zac yang juga ada di sana.
"Dari awal kau juga telah mendapatkan kesadaran? Berarti hanya kami?" tanya Zucca heran.
"Ya, hanya kalian. Lagi pula selama aku mengenal Ara...aku benar-benar menganggapnya seperti Nindiga. Dari sifat, bentuk dan prilakunya mereka mirip satu sama lainnya," ucap Zac.
"Namun Ara bipang dia bukan Nindiga. Jika kita menganggap dia Nindiga maka dia akan menjauhi kita, dia juga tau identitas kita," ucap Luif.
"Dia tidak akan menjauh, aku yakin itu," ucap Valeria yakin.
"Tapi dia menjauhiku," ucap Luif dengan getir.
"Apa yang dia katakan?" tanya Zucca.
"Kakaknya telah mati, aku mengambil tubuh Kakaknya padahal aku orang yang sama," ucap Luif.
"Kalau menurut catatanku, anak yang seharusnya menjadi Kakaknya kini tengah menunggu waktu kelahirannya karena dulu sempat terundur karenamu, aku rasa...dia tak salah, Kakaknya memang tiada," ucap Zac.
"Belum ada! Dan selama ini dia bersamaku! Jangan membuat aku jengkel Dzīve!" seru Luif kesal.
"Hahaha, baiklah, baik, santai kawan aku hanya bercanda," ucap Zac sambil tertawa.
"Sebelumnya sewaktu Luanfa berengkarnasi ia tak memiliki saudara bukan? Ia hanya anak tunggal bukan begitu?" tanya Valeria membuat mereka menoleh padanya.
"Kau benar, ini...bukankah ini menjadi alasan kuat? Dzīve, Nindiga meninggalkan catatannya bersamamu bukan?" tanya Luif.
"Menghilang apa maksudmu?" tanya Zucca tak percaya.
"Aku hanya ingin memeriksanya namun catatan itu menghilang tepat saat Ara lahir kalau tak salah," ucap Zac.
"Bukankah itu bukti yang kuat kalau dia adalah Nindiga? Ya itu jika kalian membutuhkan bukti," ucap Zen.
"Ayah, itu benar-benar ibu! Aku menemukannya!" seru seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul, bajunya berkilau matanya cerah, dia seperti bintang.
"Aku sudah mengatakan dari awal padamu Starla," ucap Zen datar.
"Tidak! Aku memang awalnya kurang percaya tapi aku menemukan sebuah alasan mengapa ibu tak menyadari dirinya sendiri!" seru Starla.
"Alasan? Alasan apa maksudmu?" tanya Luif tak mengerti.
"Hik...? Kalian di sini? Kalian sudah sadar? Kalian mengangetkanku!" seru Starla kesal.
"Star tak bisakah kau fokus sedikit saja?" tanya Zucca.
"Oh, baiklah aku mengerti. Ini hanya menurut pemikiranku dari awal kaisar dan permaisuri İki qılınc telah menyadarinya dan ibupun hampir saja sadar namun itu musnah saat Qaranlıq masuk, penyebab utamamanya adalah Qaranlıq!" seru Starla.
Mereka semua terdiam, tiba-tiba Zen memukul keras meja yang ada di dekatnya membuat mereka tersentak kaget.
__ADS_1
"Berarti aku harus menunggu semua konflik yang ada di Qaranlıq itu? Selama itu juga aku harus tahan jika Nindiga bermadu kasih dengan orang lain?!" tanya Zen berseru marah membuat mereka tersentak.
"A-Ayah, t-tapi Ibu begini juga karena Ayah," ucap Starla kecil.
"Apa maksudmu!" seru Zen kesal.
"Ji-jika Ayah t-tidak me-,"
"Starla kita telah membahasnya berkali-kali bukan? Dia yang memulainya!" bentak Zen.
"Ih! Tapi tetap saja. Huh aku akan kembali. Ayah menyebalkan!" seru Starla kesal lalu segera menghilang.
"Anak itu," desis Zen dengan kesal.
"Aku rasa Starla sepertinya benar," ucap Atta yang ada di sana entah sejak kapan.
"Selama kau masih keras kepala tak ingin menyatukan diri, jangan salahkan dia jika Ara lebih memilihnya dari pada kau Mic. Selama itu juga kau akan merasakan apa yang pernah di rasakan oleh Nindiga dulu," ucap Atta.
"Apa maksudmu itu? Aku tak pernah mengacuhkannya bukan? Aku tak pernah memiliki yang lain selain dia," ucap Zen kesal.
"Kau memang tak pernah memiliki yang lainnya bahkan hanya Nindiga yang pertama," ucap Zucca.
"Namun kau pernah mengacuhkannya," ucap Luif.
"Dia selalu mencari perhatianmu namun kau mengacuhkannya bahkan tak mempedulikanmu," ucap Zac.
"Di saat itu sisimu yang itu kembali, dia yang waktu itu memberi Nindiga perhatian namun kau terlalu mendominasi diri. Wajar jika Ara lebih memilih Zeus di bandingkan Zen," ucap Valeria.
"Dari awal kau dan dia tak pernah bersatu sedikitpun, itulah masalah yang membuat Nindiga tak sadar akan dirinya," ucap Atta.
"Pergilah!" pinta Zen sambil menahan emosinya.
"Jangan ganggu aku!" seru Zen dengan dingin membuat mereka tertegun.
Satu persatu dari mereka menghilang setelah Zen memerintahkan mereka. Zen berjalan kekasurnya berguling di sana. Jika yang di katakan Atta benar, maka ini adalah mimpi buruk! Zen tak akan bisa pernah membayangkan itu.
Bersambung....
Hai! Hai semua! Gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu ya!
Gimana menurut kalian cerita kali ini? Hm? Seru atau bosan? Komen.
Dan maaf kalau cuma dua padahal kemarin mau lebib hehe, tapi gak papa dong ya!
Dan untuk jadwal update aku mau netapin setiap Rabu, setiap jam 10 malam ya! Untuk epsnya sih gak berapa eps, minimalnya dua maksimal tentu lebih.
Cukup sekian dari aku, jika ada typo tolong komen biar bisa aku perbaiki dan jangan lupa like, komen dan votenya.
__ADS_1
See you bye