Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 06 : Putri kerajaan Işık


__ADS_3

“Hm...Nona bagaimana dengan sirik Naga emasnya?” tanya Ömür.


“Dasar tamak!” maki Ara sambil tersenyum miring, “ jika kau menginginkannya maka beri aku barang-barang yang berharga!”


“Saya bisa menjamin itu Nona karena 10 tahun terakhir ini banya barang berharga yang toko kami miliki untuk di tawarkan pada anda,” bukan Ömür yang berucap melainkan seorang pria berambut pirang dengan mata hijau juga atas telinga yang agak runcing,dengan baju bewarna gelap namun elegan.


Iya kali si Ömür ramah kayak gitu? Gak munkin kali, sama Ara aja yang sudah menghilangkan kakinya bisa ia bentak walau setelahnya ia ketakutan.


“Katanya kau tidak di sini John, mengapa kau kini di sini?” tanya Ara pada pria tersebut.


“Khusus untuk tamu istemewah seperti anda, pemilik toko ini akan turun langsung melayani,” ujur pria bernama Johnson, pemilik toko tukar barang itu.


“Ya dan kuharap tokomu memberiku barang bagus, juga ajari pelayanmu cara bersopan santun, aku harap kau tak lupa dengan apa yang terjadi dahulu,” ucap Ara membuat Ömür merinding seketika.


“Tentu yang mulia, saya akan mengajari para bawahan saya dan mana mungkin saya lupa dengan kejadian gadis berumur 5 tahun yang membuat kaki bawahan saya menghilang dan hampir menghancurkan toko ini,” ucap Johnson dengan senyum ramah namun tampak mengerikan oleh Ömür dan orang yang mengenalnya kecuali Ara tentunya.


Prok,prok


 


Johnson menepuk tangannya dua kali lalu muncul sebuah cahaya bersamaan dengan pintu kayu ukiran indah.


 


“Ömür beri jamuan yang nikmat untuk melayani tamu VIP kita,” ujur Johnson.


“Berhenti Ömür,” ucap Ara membuat langkah kaki Ömür terhenti.


“Ada masalah Nona?” tanya Johnson bertanya.


“Tidak hanya saja aku ingin di layani oleh pemilik tokonya langsung tanpa bantuan sedikitpun! ” pinta Ara membuat yang mendengar saling berbisik.


Demi apa?! gadis berusia yang mungkin 15 tahun memerintah pemilik toko Apmainīt senlietas, toko paling terkenal di Magica World yang berada di mana saja dengan pintu berbeda namun tempat yang sama hanya satu, bahkan Raja atau Kaisar yang memimpin negarapun tak ada yang bisa memerintah pemilik tokonya.


“Ucapan anda merupakan perintah bagi kami yang mulia,” ujur Johnson dengan hormat pada Ara, membuat banyak orang benar benar tercengan, namun tidak dengan pegawai toko lama di sana yang sudah menganggap itu biasa karena mereka juga sangat hormat pada Ara.


Johnson membuka pintu dengan ukiran kayu itu dan mempersilakan Ara untuk masuk terlebih dahulu baru setelahnya dia.


 


Hamparan pemandangan indah sepanjang mata memandang tak lepas dengan pesona tempat itu.


Ara berjalan kearah tempat duduk serta meja yang satu-satunya berada di tengah padang rumput.


Johnson datang dan berjalan kearah Ara sambil membawa baki berisi gelas dan teko teh, pria itu lalu menuangkan secangkir teh untuk diri juga Ara. Namun tentu, ia memberikan yang pertama pada Ara baru terakhir dia.


 


“Jadi Nona barang apa yang anda inginkan?” tanya Johnson setelah duduk di depan Ara.


“Barang yang bisa berguna untukku apa saja yang akan kamu tawarkan padaku?” tanya Ara.


“Bagaimana dengan panah dari bangsa Elf ras kesatria, keluarga Bruņinieks? Atau mata dari naga Dārgakmeņi? Atau juga Air mata Nymph?” tanya Johnson.


“Tawaran yang menarik, tapi aku ingin membuat ramuan tembus pandang, ramuan itu telah habis,” ucap Ara.


“Hahahaha selalu pilihan yang sulit bukan begitu Nona,” ucap Johnson sambil tertawa.


“Apa kalian tak memilikinya?” tanya Ara.


“Tidak kami memilikinya, daun Naredzams Zalm, bunga nihlon Naredzams, air mata Dryad Naredzams, dan kuku werhyena, balts bear hanya itu dan sayangnya kami tak memiliki bulu firebird, juga sirip hippocampus,” ucap Johnson.


“Tak masalah aku memiliki beberapa bulu Firebird dan satu sirip hippocampus,” balas Ara sambil menyesap tehnya.


“Jadi bagaimana jika aku menukar semuanya termasuk yang kau tawarkan tadi dengan 2 sisik naga emas juga merah dan 3 bulu Firebird?” tawar Ara.


“Saya terima tawarannya termakasih Nona senang berbisnis dengan anda,” ujur Johnson lalu menjentikan tangannya seketika semua barang berada di atas meja dengan beberapa yang trasparan.


“Uzglabāšana,” gumam Ara dan seketika sebuah kantong kecil a da di depannya.


Ara mengeluarkan 3 lembar bulu bewarna merah api juga 3 buah koin namun agak tipis bewarna emas ya sisik Naga juga 2 keping bewarna merah.


“Berikan 1 keping sisik emasnya pada Ömür aku telah berjanji padanya tadi,”ujur Ara.


“Baiklah Nona,” balas Johnson tersenyum setelah menerima benda-benda tersebut.


Ara mengambil barang-barangnya yang ada di atas meja dan memasukkan semuanya ke dalam kantung kecil tadi lalu mengucap mantra dan ‘plas’ kantung itu menghilang.


“Bagaimana dengan kalung penanda kucing yang dibuat dari permata dan emas hutan Brīdinājums untuk kucing anda?” tawar Johnson ketika melihat Nami.


“Tidak terimakasih karena kucingku telah memiliki tandanya sendiri,” balas Ara.


 


Ara berdiri dari tempat duduknya begitu pula dengan Johnson yang masih setia dengan senyum ramah di wajahnya.


 


“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ada tempat yang harus ku datangi,” pamit Ara lalu segera berjalan pergi menuju sebuah pintu dengan cahaya putih dan dililit dengan bunga bewarna putih.


Johnson terus memperhatikan Ara hingga gadis itu hilang di balik pintu.


“Ke kerajaan bangsa half elf? Ada urusan apa yang mulia Ara kesana?” ucap Johnson bertanya-tanya.


Sedangkan Ara....


 


Keluar dari pintu itu Ara disunggahi dengan pemandangan alun-alun kota dengan gedung-gedung tinggi namun dililit dengan beberapa tumbuhan putih membuatnya tampak indah, kota tersebut tampak asri dan sekilas seperti mengeluarkan cahaya.


 


Kerajaan Işık, kerajaan para half elf dan Ara kini berada tepat di tengah pusat kerajaan tersebut.


 


Tujuan Ara kesini hanya satu mendatangi perpustakaan kerajaan tanpa di ketahui siapapun tentu ia harus berhati-hati dengan pemimpin negara itu sebab Kaisar kerajaan Işık sangat peka dengan penciumannya yang tajam.

__ADS_1


Ara berjalan menelusuri pusat kota tak kalah jauh dari kerajaan Ostrala di sini juga banyak para makhluk, itu membuat Ara menjadi agak susah untuk menggunakan sihir.


 


‘Duk


Bahu Ara tersenggol dengan bahu seseorang membuat Ara menoleh, melihat orang yang memakai jubah sepertinya dengan memakai permata putih untuk mengaitkan jubahnya, kalau di lihat dari postur tubuh sepertinya dia perempuan dan seumuran dengannya.


“Maaf, aku tidak sengaja,” ucapnya.


“Tidak, pantasnya akulah yang meminta maaf karena menyengolmu tadi,” balas Ara.


“Eh, Ara!” serunya perempuan tersebut kaget setelah menatap Ara lekat-lekat.


Ara mengerutkan Alisnya bingung, bukankah ia memakai tudung hingga mukanya tak tampak? Kenapa perempuan ini mengenalnya? Apa mereka pernah kenal sebelumnya?


Ara memperhatikan perempuan itu lama mengingat ingat kalau ia pikirkan kembali hanya ada satu orang yang akan mengenalinya walau dirinya di tutupi begitu, anggota kerajaan Şirin.


“Atta! Atta kan?!” tanya Ara berseru kaget.


“Ya! Kapan kau kembali? Kenapa tidak mengabariku? Bagaimana keadaanmu? Apa kau sehat?” pertanyaan bertubi-tubi dari perempuan bernama Atta tersebut putri kerajaan Işık.


“Pelan-pelan Atta dan sebaiknya kita berbincang di tempat yang akan menganggu orang,” ucap Ara.


 


Atta melihat ke sekeliling seakan tersadar bahwa mereka kini berada di tengah jalan dan itu mungkin sangat menganggu pengguna jalan yang berlalu lalang.


 


“Hm...ya kau benar,” ucapnya, lalu tersenyum cemerlang sambil menarik tangan Ara, “Ayo aku tau tempat yang bagus untuk berbincang!”


 


Dan begitulah Ara pergi sambil di tarik Atta dengan Nami yang masih setia duduk di lehernya. Atta membawa Ara kesebuah toko dengan tulisan ‘Atpūsties’, sebuah kafe? Mabey?


 


“Jadi kapan kau sampai?” tanya Atta pada Ara.


“Baru saja,” jawab Ara.


“Apa kau baik-baik saja? Kau tau maksudku bukan?” tanya lagi.


“Ya, aku tau, aku baik-baik saja lagi pula aku juga sudah memutuskannya, beberapa hari yang lalu aku lepas kendali makanya aku kembali juga gara surat dari Elementary Academy,” jawab Ara.


“Kau menerima suratnya? Kau akan tinggal di Academy juga?” tanya Atta lagi.


“Ya, dan kenapa kamu tidak di Academy? Bukan seharusnya kau ada di sana kini?” tanya Ara balik bertanya.


“Aku dalam perjalanan ke Academy namun ada barang yang ingin aku cari sebelumnya, makanya aku ada di pusat kota,” jawab Atta.


“Oh, bagaimana dengan Rean dan Nava apa mereka sudah di Academy?” tanya Ara.


“Apa?! Jadi Rean dan Nava juga akan bersekolah di Elementary Academy?!” seru Atta bertanya dengan kaget.


“Ya, apa ada masalah?” tanya Ara.


 


Ara memandang Atta lama lalu menghembuskan napas pelan. Nattasya Mierīga Gaisma, Namanya putri kerajaan Işık yang pendiam, walau kemampuannya yang hebat itu membuatnya di kenal sombong karena tak ingin bergabung padahal ia hanya malu saja.


 


Dan Ara sudah yakin sahabatnya yang satu ini pasti kesulitan berteman di Academy tanpa dia juga Nava, dulu waktu mereka selalu kemana-mana bersama, bagi Ara dan Nava Atta sudah seperti ibu karena sifat keibuannya kadang kalau juga Ara dianggap ibu olehnya juga Nava.


“Oh, tidak waktuku tak banyak, bagaimana ini padahal kita baru saja bertemu,” ucap Atta ketika mengingat waktunya yang memang tidak banyak dia hanya di izinkan keluar samapai siang itu lagi pula sebentar lagi ia juga ada kelas setelahnya.


“Hei tak mengapa bukan, aku kemungkinan akan masuk ke Academy besok dan besok kita bisa bertemu,” ucap Ara menenangkan Atta yang panik.


“Jadi, kembalilah kau pasti ada kelas setelah ini, lagi pula jangan ada yang tau tentang kedatanganku, jangan beri tau siapa-siapa,” ucap Ara tersenyum membuat Atta menjadi tenang.


“Ya kalau begitu aku pergi dulu Ara sampai bertemu besok di Academy!” pamit Atta lalu ‘plas ia menghilang.


“Tenik teleportasi, orang-orang di Magica World yang kini selalu membuang-buang tenaganya,”ucap Nami.


“Sepertinya, kita juga akan pergi Nami,” ucap Ara lalu membaca Mantra dan hilang seketika berpindah tempat tentu ke perpustakaan.


 


:)


 


Bulan tampak terang di luar sana dengan taburan bintang menyinari gelapnya langit malam.


Ara dan Nami kembali setelah mendatangi perpustakaan setiap kerajaan, hari yang melelahkan memang.


 


Nami melompat turun dari pundak Ara. Ara menghembuskan napasnya pelan lalu membuka jubahnya dan memandang kearah kasur mendapati Kabi dan Aruna yang berguling di sana sambil memambaca buku, Aruna aja sih.


Keduanya tampak tidak mempedulikan kedangan Ara juga Nami dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


 


“Hei kalian baru kembali juga?” tanya Nami pada Kabi juga Aruna namun tak ada sautan dari keduanya.


 


Apa Arauna terlalu fokus dengan buku novel yang ia baca? Kalau begitu bisa saja Kabi yang menjawab tapi Hankō satu itu malah fokus menatap keluar jendela.


 


“Hei kalian kenapa?” tanya Nami.


“Aruna, perasaanku saja atau memang ada suara yang bertanya pada kita?” tanya Kabi pada Aruna.

__ADS_1


“Tidak, aku tak mendengar suara apapun,” jawab Aruna.


“Apa jangan-jangan itu Ara dan Nami?” tanya Aruna.


“Tidak-tidak itu tidak mungkin, merekakan lagi pergi dan ninggalin kita, bersenang-senang berdua, gak setia," jawab Kabi menekan kata terakhirnya.


Nami memandang keduanya sedikit bersalah sih sebenarnya pada mereka tapikan salah mereka juga lagian yang ngajak pergi Ara kok dia ikut-ikutan di ambekin.


 


Nami melihat sekitar tak menemukan Ara, ya itu sebelum pintu kamar mandi dibuka yang membuatnya kesal.


 


‘Dosa aku berapa banyak sih punya tuan kok gini banget,’ batin Nami memandang kesal Ara. Pasalnya, gadis itu dengan santainya mandi dan membiarkan dua makhluk yang berada di kasurnya ngambek gak jelas.


Ara hanya terkekeh melihat kekesalan Nami.


“Sudalah biarin aja mending santai-santai aja, mandi ah!” seru Nami sambil berjalan dan memasuki kamar mandi.


 


Ara hanya menggelengkan kepalanya, kucing kok suka mandi ya? Tapi tak heran juga kalau di lihat lagi Nami memang sangat menyukai danau di hutan tempat pertama kali mereka bertemu, ia sangat menyukai air dan ketenangan berbeda dengan Kabi yang menyukai kebebasan dan petualangan.


 


Ara lalu mengalihkan padangan kearah Aruna yang sedang membaca buku juga Kabi yang memandangi kaki eh atau tangan ya? Pokonya begitulah tatapannya begitu kesal.


 


Ara berjalan kearah mereka dan duduk di samping Aruna. Karena Aruna dan Kabi sepertinya tipe yang sama hanya satu cara yang bisa membuat mereka kembali ribut.


 


Ara mengambil buku Aruna, namun hal itu di biarkan saja oleh Cydymaithnya itu. Sedangkan Kabi Ara memegangi tangan Kabi lalu meletakkannya kebawah.


Kabi membiarkannya seakan-akan itu adalah kehendaknya sendiri.


Ara memutar otaknya berfikir lalu senyum jahil terbit dibibirnya. Nami yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi karena mengingat hari telah malam dan mandi malam juga tidak baik, ia memandang heran Ara.


Ara menghela nafasnya pelan, membuat Nami tambah bingung.


“Aku baru tau ternyata Kabi itu kekanak-kanakan,” ucap Ara membuat Kabi melotot tak terima dengan apa yang di ucapkan Ara.


“Dan Aruna juga selama aku hidup dan terus bersamanya aku baru tau ia menyukai novel romance yang tak sesuai dengan umurnya, apa jangan-jangan...” ucap Ara berpikir.


“Jangan berpikir yang tidak-tidak!” seru Aruna mendelik kesal.


“Emang aku memikirkan apa?” tanya Ara polos.


“Emang apa yang kau pikirkan dengan kata jangan-jangan itu? Itu ambigu!” seru Aruna kesal.


“akukan bilang jangan-jangan maksudku jangan-jangan ada yang kamu sukai itu saja,” jawab Ara membuat Aruna jadi malu sendiri.


“Jadi kalian masih ngambek?” tanya Ara membuat Kabi dan Aruna menghela nafas.


“Tidak!” jawab mereka kompak.


“kalian benar-benar tidak marah lagi?” tanya Ara.


“Ya,” serentak mereka sekali lagi.


“Baiklah kalau kayak gitu,” ucap Ara tersenyum.


“Jadi kalian tadi kemana?” tanya Kabi.


“Tidak kemana-mana hanya bermain-main dan sore tadi menghampiri putri Marry,” jawab Ara dengan enteng.


“Ok, baiklah angap aja begitu,” balas Aruna.


“Jadi, bagaimana dengan Academy itu? Apakah kamu udah siap?” tanya Aruna.


“Aku selalu untuk melakukan pertualangan baru!” seru Ara.


“Setuju! Aku menyukai semangatmu!” seru Kabi.


“Oh, ayolah apa yang kau rencanakan?” tanya Aruna.


“Ntahlah menurutmu apa?” tanya Ara balik.


“Apa maksudmu Aru, jelas-jelas Ara bersemangat siap menerima tantangan seru yang akan terjadi di Academy!” seru Kabi membara.


“Kabi!” seru Aruna mengkat Kabi lalu mengeleng-gelengkan kepalanya membuat Hankō itu menjadi heran.


“Kabi Academy adalah tempat belajar bukan bersenang-senang,” ucap Aruna.


“Aruna benar! Lagi pula kau terlalu semangat bukankah Ara yang akan bersekolah di sana mengapa kau yang lebih semangat!” seru Nami membuat Ara, Kabi dan Aruna memandang padanya.


“Lagian kini aku jadi mengerti bagaimana membujuk kalian jika kalian marah,” tambahnya.


 


Ara, Aruna dan Kabi hanya terdiam memandang Nami membuat Nami keheranan, apa ada yang salah darinya?


 


“Kenapa kalian menatapku bergitu?” tanya Nami.


“Nami...” panggil Ara.


“Kau...” tambah Aruna.


“Baru siap mandi?” tanya Kabi dibalas anggukan polos oleh Nami.


“Dan kau tak mengeringkan bulumu!?” seru Aruna mendelik.


“Aku tidak bisa dengan tubuh begini, tapi karpetnya jadi basah ya,” ucap Nami dengan polosnya.

__ADS_1


“NAMI!!!”


TBC


__ADS_2