Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 32 : Calarina (1)


__ADS_3

   Academy telah berjalan seperti biasanya kejadian beberapa hari yang lalu seakan mimpi, tak ada yang membicarakan kejadian itu.


   Namun satu hal yang dapat di rasakan para murid asrama 02 saat ini, Ara menjauhi mereka, tak ada sebab ya kecuali Zen, Luif, Zucca, Zac, Valeria serta Atta yang mengetahuinya, itu semua karena Ara mengetahui identitas mereka yang sebenarnya.


   Nava memandangi meja yang berada di depannya yang berjarak beberapa meja darinya, di sana ia melihat Ara yang dengan gembiranya dengan pria berambut putih dengan mata sebiru es tunangannya, Zeus.


   Ya setelah kembali ke Academy Ara selalu bersama dengan Zeus dan menjauhi mereka. Nava merasa itu juga penyebab ruangan mereka menjadi sangat dingin bukan hanya Nava namun yang lain juga merasakan hal tersebut.


   Ara tak mempedulikan mereka, Ara seakan menganggap mereka tak ada dan Ara tak lagi tersenyum pada mereka. Hati Nava hancur melihat itu, ia telah berteman dengan Ara sejak lama namun mengapa gadis itu menjauhinya?


   Fioren menghela napas lelah, matanya terlihat sayu, ia juga memandangi Ara dari kejauhan, Academy taklah terasa menyenangkan tanpa Ara di dekat mereka.


"Kenapa Ara menjauhi kita?" tanya Karin dengan lesu.


"Aku adalah sepupunya mengapa dia menjauhiku," gumam Vina, gadis itu seakan mejadi frustasi.


    Keempat gadis itu sama-sama menghela napasnya, mereka tak tahu kemana keberadaan teman-temannya yang lainnya hanya ada mereka beremoat saja ya juga Ara yang berada di kejauhan.


"Hei kira-kira kenapa ia menjahui kita?" tanya Fioren.


"Aku tidak tahu, tapi dia terlihat bahagia dengan tunangannya," ucap Karin.


"Kenapa sampai sekarang mereka masih bertunangan?" tanya Fioren lagi dengan penasaran.


"Entah, itu karena tak ada keputusan pasti. Zeus waktu itu pernah pergi karena diutus kerajaannya untuk belajar di benua lain," jawab Vina.


"Aku pernah melihatnya, dia sesekali dulu mengunjungi Ara saat kami masih di dunia manusia," ucap Nava.


"Benarkah? Itu artinya selama ini mereka berhubungan baik bukan? Aku kira awalnya Zen adalah mate Ara apa itu salah?" tanya Karin.


"Tidak aku awalnya juga merasakan itu," balas Fioren.


"Selama ini Ara hanya menganggap Zen sebagai teman dan Kakak iparnya," ucap Vina membuat mereka menoleh.


   Nava berdiri tiba-tiba membuat perhatian mereka beralih padanya.


"Aku pergi dulu teman-teman," ucap Nava lalu pergi meninggalkan teman-temannya.


   Tanpa mereka sadari Ara sedari awal juga memandangi mereka sekilas, ia menatap lama pada Nava lalu membuat muka dan fokus pada Zeus.


****


Gemeresek rumput, angin yang berhembus dengan lembut, bunyi burung yang berkicau dan suara air terjun yang deras.


   Nava memandang lurus kearah air terjun itu, ia berada di tempat yang hanya ia saja yang mengetahuinya, tempat itu sepi.


   Nava menutup matanya. Cahaya perlahan menyelimuti gadis itu, rambut bewarna merah muda dengan warna merah mawar di ujungnya itu terulai, rambutnya lurus dan sedikit bergelombang diujung, pakaian Nava berubah, pakainya indah dan megah dihiasi perhiasan yang membuatnya tampak bersinar.


   Nava membuka matanya dengan perlahan menampilkan mata bewarna merah muda yang bersinar di sana, tanda yang ada pada lengannya tampak jelas. Para hewan di hutan berkumpul mengerumuninya.


"Hai, kalian menyadari keberadaanku," ucapnya sembari tersenyum.


   Nava mengelus lembut rusa yang menghampirinya, ia lalu mendekat ke air lalu merendam kakinya kedalam air.


   Gadis itu bermain bersama dengan hewan-hewan di sana, tawa kecil menghiasinya namun tawa itu sirna saat ia mengingat senyum yang selalu sama terarah padanya namun kini senyum itu tak terlihat lagi oleh nya.


"Apa dia menyadarinya? Kenapa dia harus menjahuiku?" tanya Nava lirih.


"Calarina, aku telah menduganya kau telah mengetahuinya dari awal," ucap wanita dengan rambut bewarna putih, mata yang bercahaya dan baju yang tak kalah mewah dari Nava bukan namun Calarina.


"Apa yang membawamu kesini Ateya? Kita bisa saja bertemu di asrama bukan?" tanya Calarina.


"Ya, dengan dirimu yang merupakan gadis polos yang tak mengetahui apa-apa," ucap Ateya menghampiri Calarina.


    Sejenak hening, hanya ada suara gemercikan air dan angin yang berhembus.


"Sejak kapan? Sejak kapan kau menyadarinya?" tanya Ateya.


"Sudah dari beberapa tahun belakangan ini, aku menyadarinya, aku yang pertama mengembalikan permata itu padanya," ucap Calarina dengan getir, tidak ucapannya tidak sepenuhnya benar, Calarina mengetahui semuanya dari lama.


"Dia bukan Nindiga, itu yang di katakannya, dia hanya meminjam permata itu, kita hanya berusaha menyatukannya," ucap Ateya membuat Calarina terkekeh kecil.


"Dia hanya tak menyadarinya, aku mengenalnya lebih dari yang kalian kira," ucap Calarina sambil berguling di rerumputan dan memandang lurus kearah langit.


   Ateya juga berguling, ia menatap lurus kearah langit sama seperti Calarina.


"Kau mengetahuinya, apa itu nyata?" tanya Ateya.


"Ya itu nyata, Ara dan Nindiga mereka satu hanya saja ada hal yang di ketahui Nindiga yang tak kita ketahui, Ara ada kaitannya dengan Qaranlıq," ucap Calarina membuat Ateya menoleh padanya memandang temannya itu dengan bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Ateya.

__ADS_1


  Calarina menoleh memandang lekat mata Ateya sambil tersenyum, "Kau akan tau dan yang aku tau akhir Magica World semakin dekat. Ada sebuah belengu yang mengikat Nindiga dan itu adalah penolakan Ara."


"Aura Ara memang berbeda dari Nindiga auranya kini adalah aura Nindiga saat pertama kali lahir, aku yakin kau mengerti maksudku," ucap Calarina.


   Ateya terdiam, ia tau jelas Calarina pasti mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui. Calarina Dewi kedua yang tampak ceria namun misterius setelah Nindiga, ia mengetahui segalanya dari macam sudut, Nindiga tau karena dia adalah takdir dan Calarina tau karena dia adalah Cinta.


"Aku akan kembali," ucap Ateya sambil berdiri membuat Calarina menjadi duduk dan memandanginya.


"Ya dan hanya butuh waktu hingga yang lainnya tau tentangku. Michael mungkin tau. Dan Ateya katakan pada yang lainnya awasi selalu Ara jangan sampai dia pergi lagi dan menghilang seperti waktu itu, kau tau maksudku bukan?" tanya Calarina sambil tersenyum.


"Hah, ya," ucap Ateya balas tersenyum hangat lalu melangkah pergi berjalan keluar lalu menghilang setelahnya.


  Seekor kelinci mendekati Calarina membuatnya tersenyum dan mengendong kelinci tersebut mengelusnya.


"Aku hanya bisa mengenangnya kenangan kita dulu," ucap Calarina memandangi langit.


"Bukan begitu Nindiga, sahabat dan saudariku," ucapnya sambil tersenyum.


   Angin berhembus menerpa Calarina, menerbangkan anak rambutnya, ia mengenang kembali kenangan itu, kenangan yang hanya tinggal sebuah kenangan.


****


   Calarina itulah namanya sang Dewi cinta, tak ada yang terlalu mengenal jelas kepribadiannya, Calarina dia adalah wanita yang ceria namun ia merasa kesepian sangat amat kesepian, ya sepertinya hingga saat itu.


    Sebuah cahaya menyelimutinya, sebuah benang bewarna merah muda mengitarinya, matanya besinar ada cahaya yang seakan menuntunnya, ia berjalan menuju sebuah tempat, tempat terahirnya para dewa dan dewi, apa akan ada penguasa baru? Dalam bidang apa?


    Calarina memandang sekelilingnya teman-temannya yang lain juga ada di sana bahkan Michael sang Dewa tertinggipun berada di sana. Apa yang terjadi? Tak biasa Dewa dan Dewi berkumpul saat adanya kelahiran penguasa baru juga benang-benang yang mengelilingi masing-masing mereka benang apa itu?


"Kita semua memiliki benang-benang yang meliliti kita," ucap Areano.


"Bahkan tak seperti biasanya sang tertinggi berada di sini," ucap Leafza sambil tersenyum kecil.


   Michael memandang tajam semua yang ada di sana matanya terpaku pada batu besar di tengah-tengah kolam siapa kiranya yang akan hadir.


"Dzīve, siapa?" tanya Michael.


"Kau bertanya padaku saat aku sendiri juga merasa bingung? Mana aku tahu," ucap Dzīve.


   Michael terdiam matanya menatap tajam dan dingin, mengapa sebenarnya ia berada di sini? Mengapa juga tadinya ia mengikuti benang yang mengelilinginya, ini bukan seperti dirinya yang biasa.


"Aku merasakan kedatangan sebuah cahaya," ucap Ateya.


"Terlihat samar namun aku merasakan adanya kekuatan yang kuat dan...," ucap Vesta sengaja terpotong.


"Vesta benar ini adalah aura yang sangat kuat," gumam Kavisa.


"Kekuatan ini hampir setara dengan Michael," ucap Shanan membuat mereka semua menoleh memandangi Michael.


   Mata Michael semakin menatap tajam, ia menyeringai kecil, ini jadi menarik, siapa kiranya yang memiliki kekuatan yang hampir menyamainya?


"Suara air? Dia juga bisa mengendalikan air?" tanya Kiara melebarkan matanya.


   Mata mereka terbelalak kaget saat mendengar bunyi derasnya air terjun yang berada di sana padahal airterjun itu tak ada sebelumnya, apa yang terjadi?


    Air terjun dan juga air yang mengisi kolam terdapat adanya benang bewarna biru yang mercahaya, gemerci air seakan membunyikan sebuah lagu dengan alunan indah, tubuh Kiara besinar membuatnya menoleh melihat penampilannya sendiri, benang-benang yang mengitarinya pergi menghampiri batu yang terdapat ditengah kolam.


"Bumi dan tanah menyambutnya," ucap Shanan lalu mata pria itu bercahaya, benang-benang bewarna tanah berdatangan tubuhnya bercahaya sama seperti Kiara benang yang ada padanya menuju ketengah membentuk putaran lingkaran bergabung dengan benang Kiara.


"Bahkah tumbuhan menari untuknya," ucap Kenvi seakan tak percaya.


"Musim bergabung? Apa maksudnya ini semua!" seru Kavisa sama tak percayanya.


    Tubuh keduanya besinar benang dari tumbuhan dan musim menjalar menuju ketengah begitu pula dengan benang yang mengelilingi mereka.


"Angin, perasaan damai ini, ada perubahan yang akan terjadi," ucap Leafza dengan tubuh yang bercahaya dan semilar angin yang berhembus tiba-tiba benang yang mengelilinginya juga menuju tengah.


"Keseimbangan, sebuah keseimbangan telah hadir," gumam Luanfa dengan tubuh bercahaya dan benang-benang yang ada padanya juga menuju tengah.


"Sebuah harapan," gumam Fiona.


"Dan kepercayaan," tambah Leon.


   Keduanya besinar bersamaan dengan adanya petir kecil yang ada di dekat Leon dan benang-benang yang mengitari mereka juga menuju ketengah bersatu dengan benang-benang yang lainnya.


"Rasa persabatan, rasa yang hangat," ucap Vista.


"Cahaya, ini adalah cahaya yang menuntun semuanya," tambah Ateya.


   Sama seperti yang lainnya tubuh keduanya besinar, benang-benang yang mengelilingi mereka pergi menuju ketengah-tengah.


   Suara alunan lagu semakin indah cahaya dengan perlahan menyinari kumpulan benang-benang itu, peri-peri air keluar mengelilinginya, peri musim, tumbuhan, angin dan semua elemen yang ada mengelilinginya seakan menyambut seseorang yang akan hadir.

__ADS_1


"Keberanian aku tak pernah merasakan yang sebesar ini," guman Areano lalu tubuhnya menjadi bercahaya dengan benang-benang yang juga menuju ketengah bergabung dengan yang lainnya, percikan api kecil juga berada di sekelilingnya seakan menerangi, kobaran Kebaranian baru yang kuat.


"Ini dia, pelengkap semuanya, penyempurna, cinta dan kasih sayang yang sempurna yang aku cari," batin Calarina yang tak bisa berucap namun tubuhnya juga ikut bercaya dengan benang-benang yang juga mengarah ketengah bergabung bersama yang lainnya.


"Semua lambang kehidupan dan kehidupan itu sendiri menyambut kedatangannya, kehidupan baru, elemen setiap para penguasa ada padanya," guman Dzīve tenang dengan tubuh yang perlahan bercahaya dan benang yang mengelilinginya juga sama seperti yang lainnya menuju ke tengah.


"Semuanya? Heh," ucap Michael sambil tersenyum miring saat melihat benda langit yang sepertinya juga ikut menyambutnya.


   Sama seperti yang lainnya tubuh Michael juga bercahaya, bercahaya terang dengan benang yang mengelilinginya juga menuju ke tengah.


     Benang-benang itu memutar, menyatu dan memancarkan cahaya yang sangat terang, suara alunan nada yang lembut, nyanyian para peri, sinar yang sangat lembut semuanya seakan menyatu.


   Batu besar itu bercahaya dengan tulisan yang mengelilinginya membentuk sesuatu di sana, sebuah tulisan penuh yang berganti dengan berbagai warna.


   Cahaya yang mengelilingi Michael dan yang lainnya menghilang namun cahaya yang berada di tengah tidak malah semakin terang bahkan sampai kehadirannya.


   Pakaiannya terlihat mewah dengan perhiasan yang seakan bercahaya, rambutnya coklat panjang dengan warna Nila di pinggirnya, tubuhnya memiliki lekuk sempurna yang indah. Wajahnya mempesona, dengan bibir mengoda, kulit putih, alis yang tertata rapi, bulu mata yang lentik, pipi yang kemerahan dan sebuah tanda di keningnya yang perlahan menghilang.


   Matanya yang terkatup terbuka, matanya indah dan cerah seakan memancarkan cahaya ketika ia membuka matanya, setiap kedipan matanya, bulu matanya yang mengibas terlihat indah, senyumnya membuat semuanya jatuh akan pesonanya.


'Nindiga, Dewi Takdir,' tulisan dari cahaya yang perlahan menghilang.


    Di tangannya yang tertampung terdapat sebuah permata. Lagu, alunan nada, air terjun dan para peri dan yang lainnya perlahan menghilang.


"Ini sama persis seperti Luanfa hanya saja tak ada sambutan semewah ini," ucap Leon.


"Sepertinya dia...adiknya Luanfa," ucap Dzīve.


"Tunggu apa?" tanya Ateya tak percaya.


"ADIK?!" tanya mereka semua berseru tak percaya kecuali Michael yang masih terdiam.


   Wanita itu, Nindiga hanya mengerjapkan matanya dengan polos ketika semua mata mengarah padanya.


   Perlahan Nindiga melangkah dengan yang lainnya kini berkumpul sedangkan Nindiga berdiri didepan mereka.


"Ada apa?" tanya suara merdu yang seakan kebingungan itu.


   Semua mata terpaku padanya saat mendengar suara itu. Nindiga memandangi mereka satu persatu, hingga saat dia menatap Michael yang  sedari tadi menatapnya.


   Nindiga mengerjapkan matanya saat pria itu menatap lekat dirinya dan tatapan itu menjadi dingin lalu ia menghilang begitu saja. Ada sebuah rasa sakit yang menjalar di hati Nindiga melihat itu ia memandangi tangannya sejenak lalu tersenyum tipis ketika melihat adanya warna dan benang di sekelilingnya.


   Senyum tipis itu tak lumput dari pengamatan Calarina, dia tau sesuatu mungkin itu senyum kebahagian saat dia terlahir hidup namun juga itu senyum yang terasa pedih ketika dia...tak di pedulikan oleh orang yang di pasangkan dengannya.


'Nindiga adalah pasangan Michael.'


❤️


    Hari dengan sangat cepat berlalu, Nindiga sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, ia juga mulai akrab dengan yang lainnya hanya saja mungkin tidak dengan Michael yang selalu menghindarinya.


   Namun walau begitu tetap saja Nindiga suka kesunyian dan kesendirian contohnya saja kini, ia sedang berdiam diri merendamkan kaki di dekat sungai air mancur sambil bermain dengan para peri air yang menghampirinya.


   Lagi dan lagi Calarina tak tau apa yang sebenarnya terjadi padanya kini, ia malah selalu mengintip Nindiga bersembunyi jika melihat wanita itu, Calarina tak berani mendekat dan berbicara dengannya namun ia sangat ingin selalu berada di sisi Nindiga, ya selalu karena perasaan kosong di hatinya perlahan terisi oleh Nindiga.


"Kenapa kau hanya selalu mengintip di setiap saat? Apakah ada yang ingin kau katakan?" tanya Nindiga membuat Calarina tersentak.


    Calarina spontan berdiri dari tempat persembunyian dengan wajah yang memerah malu. Nindiga terkekeh melihat wanita itu, ia berdiri dari duduknya lalu mendekat ke Calarina dan membuang daun-daun yang tersangkut padanya.


   Sekali lagi Calarina hanya tersenyum malu, sedangkan Nindiga hanya bisa tersenyum sambil tertawa melihatnya, Nindiga menarik tangan Calarina membuatnya agak tersentak, Nindiga hanya terkekeh geli melihat ekspresi Calarina yang terlihat lucu baginya, ia menarik wanita itu dan duduk di dekatnya.


   Keduanya sama-sama merendamkan kaki mereka kedalam air, suara air terjun juga serangga dan burung serta beberapa hewan terdengar seperti alunan nada yang indah dan nyaman.


  Di saat itu, pada saat itu kesepian di hati keduanya menghilang, mereka saling berbagi kata, tertawa lepas sambil melemparkan canda tawa, saling membagi suka dan duka bersama semua mereka lalui.


   Ketika Nindiga bersedih Calarina selalu ada untuknya begitu pula sebaliknya tak ada rahasia diantara mereka ya setidaknya begitu.


   Calarina sedikit ragu jika tak ada rahasia diantara mereka, ia mengingat jelas setelah kejadian itu setelah mereka berulang kali berengkarnasi atas permintaan Nindiga ia yakin ada yang di sembunyikan oleh Nindiga.


    Sampai saat itu Nindiga menghilang, tak terlihat sama sekali olehnya oleh mereka membuatnya merasakan rasa kesepian.


   Entah karena Calarina dekat dengan Nindiga atau bagaimana, ia selalu bisa merasakan adanya aura Nindiga di sekitarnya ia yakin Nindiga masih hidup dan dia akan kembali namun kapan?


   Tak ada yang tau jika dari awal setelah Nindiga menghilang Calarina tak pernah berengkarnasi sekalipun yang ia lakukan hanya membuat sebuah kepalsuan, ia hanya membuat skenario, yang lain mungkin menganggapnya juga ikut namun nyatanya tak sesuai.


    Selama ini dia tinggal di salah satu tempat di Magica World jauh dari Debulus pils, takkan ada yang menyadari lokasinya dan di saat itu pula ia bertemu dengan seorang gadis yang mirip dengan Nindiga.


    Tahun berikutnya saat para Dewa dan Dewi kembali berengkarnasi ia tak ikut, dia tak pernah ikut namun sekali lagi ia bertemu dengan gadis yang sama, gadis itu seakan tak pernah mati, ia seperti hidup abadi itu terjadi, selalu terjadi hingga di kali terakhir Calarina tak bertemu lagi dengannya.


  Bertahun-tahun Calarina kembali lagi dalam kesepian namun di saat itu, tepat di saat para Dewa dan Dewi kembali berengkarnasi dengan waktu yang berbeda.


  Di waktu yang sama dengan dirinya di tetapkan juga ikut dia merasakan ada aura yang sama dengannya, aura yang sama dengan gadis itu yang sama seperti Nindiga.

__ADS_1


   Hanya ada satu jawaban atas segalanya mereka berdua adalah orang yang sama.


Bersambung...


__ADS_2