
Istana indah mewah dengan para penjaga dan pelayan bejajar rapi menyambut kedatangan mobil mewah itu.
“Yang mulia Raja Baraz dan Ratu Navia beserta Tuan Putri Ara telah datang!” seru salah satu penjaga.
Baraz turun dari mobil itu mengenakan jubah kebesarannya bersama dengan Navia lalu terakhir Ara yang turun sambil membawa Nami dan Kabi.
‘Aku kembali dan Ostrala Kingdoom hai, kerajaan keduaku,’ batin Ara tersenyum melihat kerajaan yang telah lama ia tinggalkan yang kini telah berubah menjadi kerajaan termegah.
“Hormat kami pada paduka Raja dan Ratu Selamat Kembali!” ucap penjaga dan para pelayan dengan serentak.
“Selamat Kembali yang Mulia Tuan Putri Kinara!” serentak mereka lagi.
Ara mengangguk pada mereka lalu matanya tertuju pada dua pelayang yang kini tersenyum haru padanya.
Ara berlari memeluk keduanya dengan binar wajah bahagia.
“Aku kembali Anne, Marry,” ujurnya pada kedua pelayan itu.
“Selamat datang kembali tuan putri,” balas wanita paru baya yang balas memeluk Ara, Marry.
“Selamat datang kembali Tuan Putri,” ucap Anne wanita muda yang juga ia peluk.
Keduannya adalah pelayannya waktu kecil dengan Marry yang merupakan pengasuhnya.
“Marry antarkan Ara ke kamarnya!” pinta Navia.
“Tapi Nana aku ingin keliling kota setelah ini, lagi pula tadi aku telah banya istirahat,” ujur Ara.
“Ya tapi beberapa hari kau akan ke Academy, istirahatlah yang banyak,” ucap Navia.
“Setelah istirah sejenak kau boleh pergi,” ucap Baraz memberi izin.
“Ta-tapi, ia akan kelelahan nantinya,” protes Navia.
“Aku tidak yakin ia akan kelelahan,” ucap Baraz tersenyum miring mengingat tingkalaku cucu itu.
“Ok, sipp!”seru Ara dengan riang.
“Marry, Anne ayo!” seru Ara berjalan lebih dahulu sambil mengendi Nami dan Kabi di ikuti Marry dan Anne di belakangnya.
‘Hup hah bau Magica World, aku datang kembali duniaku,’ batin Nami.
‘Half Demon mendominasi, apa akan ada hal menyenangkan setelah ini?’ batin Kabi.
“Baiklah apa yang terjadi 10 tahun ini, semua tampak berubah,” ucap Ara duduk di kasurnya.
“Ya, banyak yang berubah tuan putri,” balas Marry.
“Sangat banyak, saya sarankan agar anda berjalan-jalan ke pusat kota, di sana lebih menyenangkan!” seru Anne dengan semangat.
“Hehe benarkah? Aku jadi ingin melihat pusat kota,” ujur Ara terkekeh kecil.
“Oh ya Marry bagaimana kabar Zachery? Aku sudah lama tak bertemu dengannya,” ucap Ara bertanya pada Marry.
“Zac kini bersekolah di Elementary Academy, satu tingkat diatas Anda,” jawab Marry.
“Wah benarkah? Aku tak sabar ingin bertemu dengannya,” ucap Ara mengingat teman masa kecilnya, anak dari Marry.
“Lalu tentang anakmu Anne? Aku dengar ia lahir 5 tahun lalu berarti umurnya akan menginjak 5 tahun?” tanya Ara.
“Benar Putri beberapa bulan umurnya akan 5 tahun,” balas Anne.
“Baiklah kalau begitu, Anne aku harap kau akan membawa anakmu nanti,” ucap Anne.
“Baik Tuan putri,” serentak Anne dan Marry.
“Kami permisi, selamat istirahat Putri!” seru kedua wanita itu berpamitan, lalu berjalan pergi.
Pintu besar itu tertutup, Ara berguling di kasur menghembuskan nafasnya pelan.
Nami dan Kabi menoncat menaiki kasur dan berguling di samping Ara.
“Nami, Kabi untuk penjelasan tentang yang di hutan waktu itu juga pertanyaan-pertanyaanku lebih baik itu di Academy saja besok,” ucap Ara.
“Oh, yeah jadi apa kami boleh jalan-jalan?” tanya Kabi membuat Ara terkekeh.
“Tentu saja,” balas Ara.
“Yes ini akan seru tapi di mana Aruna?” heran Kabi karrna sejak tadi ia tak melihat batang hidung Cydymaith dari tuannya itu.
“Hai-hai Aruna datang!” seru Aruna masuk kedalam pintu sambil membawa banyak kantung belanjaan.
“Wah Aruna Kau memborong toko? Belanjaanmu banyak sekali!” seru Kabi.
“Enak aja kalau ngomong!” seru Aruna tak terima.
“Apa kau pergi ke pusat perbelanjaan para Cydymaith?” tanya Nami.
“Tentu,” jawab Aruna dengan semangat, “Hei Ara aku sarankan agar kau bermain di pusat kota di sana sangat menyenangkan!”
“Aruna ayo kita berkeliling, aku ingin jalan-jalan!” ajak Kabi dibalas anggukan tanda setuju dari Aruna.
Keduanyapun pergi keluar meninggalkan Nami juga Ara.
“Kau ingin ikut denganku ke perpustakaan Nami?” tanya Ara pada Nami.
“Hm...ya dari pada aku sendiri di sini,” ujur Nami.
Ara mengendong Nami dan berdiri lalu mengucapkan kaliamat kecil dan ‘plas’ dalam sekejap mereka menghilang dan tiba di sebuah perpustakaan besar luas di penuhi beribu-ribu buku.
__ADS_1
“Pintunya di kunci dengan sihir? Makanya kamu mengucapkan mantra sebelum teleportasi?” tanya Nami.
“Ya,” jawab Ara dengan kekehan kecil.
“Sekarang kita hanya perlu menyalin buku-buku ini,” ucap Ara lalu menjetikan jarinya.
“Burvju grāmatas, vēsturiskas norādes, Karaliskā bibliotēka,” mantra yang Ara ucapkan setelah jentikan jari tadi.
Layar tembus pandang muncul di hadapannya Ara mengeser-geser layar tersebut beribu-ribu judul sebuah buku ada di sana.
“Yap, ku rasa tugas kita menyalin di sini selesai, ada beberapa perpustakaan kerajaan lain yang harus kita salin bukunya,” ucap Ara.
“Anda tau sendiri bukan yang mulia, menyalin buku tanpa ada izin penjaga perpustakaan itu tidaklah bagus,” ucap wanita berambut pirang bersanggul sambil fokus membaca buku yang ada di tangannya.
“Lubna! Kenapa kau ada di sini?!” tanya Ara berseru kaget.
“Jika anda lupa yang mulia saya adalah pustakawan perpustakaan ini,” ujur wanita bernama Lubna itu menoleh pada Ara.
Lubna berjalan mendekati Ara dan Nami, ia memandangi Nami yang berbentuk kucing itu lama.
“Jadi anda akan apakan salinan buku-buku itu?” tanya Lubni.
“Untuk ku baca, emang harus aku apakan lagi?” ujur Ara bertanya.
“Apa anda sanggup membaca buku sebanyak 1.018.000 buku dengan waktu singkat?” tanya Lubna membuat Ara terdiam bingung ingin menjawab apa.
“Jika dilihat dari kecepatan membaca anda, 20.000 buku dalam sehari maka setidaknya anda akan menyelesaikan membaca buku-buku itu selama 50 hari, 9 jam, hampir 2 bulan,” ucap Lubna.
“Hm ya sepertinya 50 hari itu hanya sebentar,” ucap Ara santai, “ baiklah Lubna aku pergi dulu selamat bertugas.”
“Tunggu sebentar yang mulia,” ucap Lubna membuat langkah Ara terhenti.
“Yang anda gendong itu bukankah hewan sihir langkah jenis Hankō?” tanya Lubna.
Ara mengangkat satu alisnya tersenyum lalu tertawa kecil sambil menurunkan Nami.
“Kau tetap jeli Lubna, membuatku benar-benar yakin bangsa Elf Liby memang tak bisa di remehkan,” ujur Ara.
“Nami, berubahlah!”pinta Ara dan dalam sekejap mata Nami berubah menjadi sosok wanita cantik.
“Salam dariku untuk bangsa Elf Liby, aku Nami dari bangsa hewan sihir Hankō harimau putih salju,” ucap Nami memberi hormat pada Lubna.
“Tidak sepantas harimau putih salju yang merupakan ratu ras harimau tunduk pada saya, lagi pula anda juga merupakan Hankō yang mulia Ara,” ucap Lubna.
“Saya Lubna El Beryan dari bangsa Elf Liby yang hampir punah bangsa tertua Elf yang menjaga buku-buku perpustakaan kerajaan,”lanjut Lubna memberi hormat pada Nami lalu mengalihkan padangan pada Ara.
“Anda mendapatkan dua Hankō kuat yang mulia, mereka bisa melindungi anda juga beberapa Hankō lainnya,” ucap Lubna.
Sebenarnya setelah mendengar perkataan Lubna banyak pertanyaan yang menghampiri benak Ara. Namun, pertanyaan itu ia urungkan tak kala mengingat apa yang akan ia lakukan.
“Lubna, apa para saudaramu menjaga perpustakaan kerajaan lain?” tanya Ara.
“Ya, karena itu tugas kami,” jawab Lubna.
Lubna mengangguk lalu segera menuju mejanya untuk memberikan informasi pada para saudaranya.
Ara memandang Lubna sejenak lalu menjentikkan jari dan seketika Nami bera the dalam gendongannya dalam bentuk kucing. Sekali lagi Ara menatap kearah Lubni untuk terakhir kalinya sebelum ia mengucapkan mantra dan menghilang.
Tudung jubah menutupi wajah, setelah mengambil beberapa senjata yang diselipkan di saku yang ia letakkan di paha, Ara pergi beteleportasi tentu dengan Nami bersamanya.
Ara dan Nami sampai di pusat kota, banyak makhluk Magica World di sana, mulai dari ras dan klan yang berbeda-beda juga makluk yang dapat berubah bentuk.
“Banyak makluk ada di sini, aku yakin jika tadi kita membawa Kabi ia akan berteriak kencak membuat kita menjadi pusat perhatian,” ucap Nami yang kini duduk melingkar di bahu Ara.
“Ya sepertinya,” ucap Ara terkekeh kecil.
“Kita mau kemana Ara?” tanya Nami.
“Ada yang ingin aku cari kita haru singgah di beberapa toko,” ucap Ara.
Setelah beberapa menit berjalan Ara berhenti dan memandangi sebuah toko dengan tulisan ‘Apmainīt senlietas’ yang terpampang jelas di atasnya.
“Ada barang yang ingin kau tukarkan Ara?” tanya Nami.
“Ya mungkin saja,” jawab Ara.
Kring~
Bunyi bel pintu terdengar setelah Ara memasuki toko itu, ada banyak orang di sana bahkan para roh.
“Kenapa bisa ada roh di sini?” tanya Nami dengan heran.
“Ini toko penukaran Nami dan ini hanya ada satu di Magica World, tentu para roh akan dengan senang hati meninggalkan tempatnya ketika ada barang yang sulit mereka dapatkan di sini,” ucap Ara.
“Lagi pula toko ini selalu mengambil untung,” ucap Ara sambil tersenyum miring.
“Apa-apaan ini mengapa kau menginginkan barang langkah seperti itu!,” seru pria setengah kuda dengan marah pada pria yang sepertinya pemilik toko.
“Itu sudah pas lagi pula kau juga menginginkan barang mahal,” balas si pemilik toko dengan santai.
“Bagaimana jika itu kau berikan padaku, apa yang harus aku tukarkan?” tanya wanita cantik dengan tubuh laba-laba.
“Bagaimana dengan tubuhmu nona?” ujur sang pemilik toko balik bertanya dengan senyum licik di wajahnya.
“Kau melecehkanku! Jika kau meminta tenunan terbaikku aku kan memberikannya tapi tidak dengan tubuhku!” seru Wanita itu kesal.
“Tamak dan licik seperti biasa ya Ömür,” ucap Ara mendekat pada mereka.
Pemilik toko yang di panggil Ömür itu memandang takut pada Ara.
“Yang-Yang Mulia!” serunya agak gemetar.
“Ya sudah lama kita tidak bertemu bukan terakhir kali saat umurku 5 tahun sudah 10 tahun,” ucap Ara.
__ADS_1
“Ah, hahaha ya sepertinya memang begitu, apa ada barang yang anda inginkan,” ujur Ömür ketakutan.
“Ya, namun sebelumnya barang apa yang kalian perebutkan?” tanya Ara pada pria setengah kudaa dan wanita laba-laba tadi.
“Itu benang sutra dari bahan terbaik nona,” ujur Ömür.
“Aku tidak bertanya padamu,” ucap Ara membuat yang mendengar terkekeh dengan Ömür yang mukanya memerah malu.
“Gadis kecil seperti kau!” seruh Ömür marah ingin menampar Ara namun tangannya terhenti di udara dan tak bisa bergerak.
“Kau lupa apa yang terjadi dengan sebelah kakimu? Atau kau ingin tangan sebelahmu juga hilang? Atau kau ingin nyawamu melayang di makan para hewan buas milikku?” tanya Ara membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan merinding ketakutan.
“Ma-maafkan saya, y-yang mulia,” ujur Ömür ketakutan.
“Jadi nona Arachne dan tuan Centaurus kalian gunakan untuk apa barang itu?” tanya Ara.
“Aku ingin menghadiakan kain sutra itu untuk istriku, katanya sutra tersebut bisa menyembuhkan segala penyakit,” ucap pria setengah kuda.
“Apa sakit yang di derita istrimu?” tanya Ara.
“Aku tidak tau, yang pasti ia sulit bernafas, tubuhnya menjadi kurus juga kadang ia lupa ingatan, kalau tidak di obati ia mungkin benar-benar akan lupa ingatan total,” ucap pria itu.
“Apa dia juga memiliki bintik aneh di tubuhnya juga beberapa tubuh yang mulai membeku sulit di gerakan?” tanya Ara.
“Ya, dari mana anda bisa tau?” tanya pria balik.
“Senang saja itu serangan Qaranlıq, mereka membuat penyakit menular,” jawab Ara membuat yang mendengar saling berbisik.
Pria itu terdiam dengan pandangan kosong. Ara diam berpikir sejenak, lalu memeriksa saku-saku mencari sesuatu di sana.
Sebuah botol dengan cairan bewarna hijau pekat keluar dari sakunya, Ara melemparkan botol itu dan dengan sigap pria tadi menangkapnya.
“Apa ini?” tanyanya heran.
“Obat penawarnya, itu sulit dibuat jadi gunakan sebaik baiknya,” ucap Ara.
Ara meletakkan sebuah kertas di tangan pria tersebut. “baca baik-baik petunjuknya, dan ikuti semua larangan yang ada di dalamnya pastikan orang-orang desamu mengetahuinya,” ucap Ara.
“Terima kasih Nona, terima kasih, aku berhutang budi padamu nona...," ucapan pria itu terpotong menatap Ara dengan penasaran.
“Deria, panggil aku Deria,” ujur Ara sambil tersenyum di balik tudungnya.
“Baik terimakasih sekali lagi Nona Deria saya pasti akan mengingat kebaikan anda,” ucap pria itu.
“Kalau begitu cepatlah temui istrimu, tidak ada waktu yang tersisa,” ucap Ara.
“Ya tapi sebelumnya perkenalkan aku Ameirus pemimpin Centaurus timur,” ucap pria itu memperkenalkan dirinya.
“Amceti bukan begitu mereka memanggilmu?” tanya Ara.
“Ya, Nona sekali lagi saya berterima kasih, saya pamit undur diri,” ucap Ameirus menunduk hormat lalu berjalan pergi.
“Lalu bagai mana denganmu Nona Arachne? Apa yang akan kau lakukan dengan kain itu?” tanya Ara pada wanita tadi.
“Perkenalkan sebelumnya saya Joanne Arahnean, kain itu akan saya berikan pada anak-anak saya juga untuk panti asuhan yang sedang saya urus,” ujurnya.
“Alasan Anda bukan hanya itu bukan Nyonya Arahnean?” tanya Ara lagi.
“Ya, anda benar Nona, Kain sutra itu juga akan saya gunakan sebagai pelindung karena Qaranlıq mulai menyerang tempat tinggal kami,” ucapnya.
“Ömür, aku bisa menukar kain itu dengan apa?” tanya Ara.
“Kain ini saya dapat dengar menukar barang dengan pria dari kerajaan Şirin qan, ini saya dapatkan dari bangsawaan tempat produk langkah ini di produksi,” ucap Ömür.
“Satu keping sirip naga emas,” ujur Ara.
Sejenak mata Ömur memandang tak percaya pada Ara, dan orang-orang sekitar mulai hiruk piuk, sisik Naga emas! Hewan itu sangat langkah dan hampir menjadi legenda.
“Saya rasa itu tak cukup Nona mengingat berapa pentingnya kain ini,” ucap Ömür mendesah berpura-pura kecewa berharap Ara akan menambah barang yang akan ia tukarkan.
“Bagaimana dengan bulu harpa yang dapat membuat barang-baramg langkah,” ucap Ara.
“Anda yakin Nona ini sangat sulit di dapat,” ucap Ömür.
“Tidak akan, jika kau bisa berteman dan tau tempat mereka berada,” balas Ara.
“Jadi?” tanya Ara.
“Baik saya terima tawaran anda!” seru Ömür girang.
“Nyonya Arahnean, ambil kainnya dan segera buatkan baju hangat untuk anak asuh anda, musim dingin akan segera tiba dan jangan khawatir dengan Qaranlıq,” ujur Ara.
“Terimakasih Nona, terima kasih,” ucap Jeanne berujur dengan senang.
“Baik kalau begitu segeralah kembali,” ucap Ara.
“Ya sekali lagi terima kasih saya sangat berhutang budi pada Anda,” ucap Jeanne, berpamitan sambil menunduk hormat lalu segera pergi.
“Apa Johnson ada di sini?” tanya Ara pada Ömür ketika Jeanne benar-benar pergi.
“Tidak, Tuan Johnson tidak kemari selama beberapa minggu ini,” jawab Ömür.
“Huh, baiklah, padahal aku ada keperluan penting dengannya,” ucap Ara.
“Hm...Nona bagaimana dengan sirik Naga emasnya?” tanya Ömür.
“Dasar tamak!” maki Ara sambil tersenyum miring, “ jika kau menginginkannya maka beri aku barang-barang yang berharga!”
Bersambung....
__ADS_1