
Malam semakin larut tapi mata Ara tak kunjung terkatup, pikiranyanya kini melayang tentang keputusan yang mungkin akan mengubah masa depannya.
Helahan nafas keluar dari bibirnya, Ara duduk lalu berdiri berjalan membuka pintu balkon dan menikmati sejuknya angin malam di luar sana.
"Bulan bersinar, bintang bertaburan, angin malam sejuk memainkan anak rambutku,
Wahai sang rembulan apa yang harusku lakukan.
Wahai bintang apakah jalan mana yang harusku pilih?
Pada Akhirnya malam ini akan berakhir dengan kebimbangan,” ucap Ara dengan mata sendunya menatap langit.
Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus kembali ketempat itu lagi, bukankah ia hanya ke Magica World dan tak akan mendatangi tempat itu nantinya?
Kalau ya apa yang harus ia ragukan? Pertanyaan demi pertanyaan mendatangi pikiran Ara.
Namun, tetap saja, ia takenemukan jalan keluar dari masalahnya.
Ara memandang lurus kearah hutan yang sangat berbahaya kata Nava dan Rean, Ara yakin mereka tau pikirannya untuk mendatangi hutan itu karena penasaran.
Tapi, ayolah siapa yang tak akan penasaran setelah melihat cahaya misterius itu.
“Hah...aku tak yakin cahaya itu akan muncul kembali atau tidak,” gumam Ara.
Ara memejamkan matanya menikmati angin malam yang menerpanya dan memainkan anak rambutnya.
Angin sejuk yang membuat penasaran, angin pembawa cahaya kemarin yang kini ia rasakan, eh tunggu, ini angin yang sama.
Ara spontan membuka matanya, matanya melebar tak kala melihat cahaya yang berasal dari dalam hutan.
“Cahaya itu lagi!” serunya.
Ara melihat kanan kiri semua lampu rumah mati, ‘sepertinya ini saat yang tepat’ batinnya.
Ara mengendap endap keluar dari kamarnya, berharap agar Nana, Baba juga Rean tak mengetahuinya.
Tapi sayang Rencana mengendap keluar melewati pintu utama gagal ketika melihat Nana dan Babanya sedang berbincang di ruang tamu sedangkan Rean, Aruna serta Maru sedang menonton di ruang keluarga.
“Terpaksa deh harus teleportasi, moga gak lepas kendali lagi,” mohon Ara lalu seketika ia menghilang dan berada tepat di depan hutan.
“Amankan ya gak ada yang tau,” gumamnya sambil melihat kanan, kiri dan belakang.
Ara segera memasuki hutan tersebut mengikuti jalan setapak yang ada.
“Ada yang menggunakan sihir!” seru Baraz ketika merasakan ada sihir yang aktif di rumah itu.
“Apa itu Rean?” tanya Nana.
Keduanya lantas bangkit menuju ruang keluarga menemui Rean.
“Rean kamu ngunain sihir?” tanya Nana pada cucunya itu.
“Sihir? Tidak aku tidak menggunakan sihir, dari tadi aku hanya menonton bersama Aruna juga Maru,” jawab Rean.
Aruna dan Maru saling pandang. “Jangan-jangan, Ara!” seru mereka berteriak lalu segera berlari kekamar Ara di susul Rean, Baraz juga Nana.
“Ara kamu ada di dalamkan?” tanya Aruna membuka pintu kamar Ara dan menyadari bahwa Ara tak ada.
Rean berjalan cepat menuju pintu balkon Ara yang terbuka dan tak melihat adanya Ara di sana, mata Rean tertuju pada hutan yang tepat berada di depannya.
“Oh, ayolah jangan bilang dia memasuki hutan itu!”seru Rean sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Kalau melihat sifat Ara pasti dia kini berada di hutan itu,” balas Maru.
Baraz memandang datar hutan tersebut lalu menghilang dan beberapa detik kemudian berada di depan hutan itu.
“Bagaimana?” tanya Nana yang tadi juga mengikuti Baraz.
“Pelindung sihirnya aktif dia telah memasuki hutan ini,” jawab Baraz.
“Navia, kemasi barang-barang Ara dia akan kembali dua hari lagi dan ini memang sudah waktunya,” ucap Baraz memandangi hutan tersebut.
Navia segera menghilang mengikuti perintah sang suami untuk membereskan barang barang cucunya.
“Nana bagaimana?” tanya Rean dengan cemas.
“Tenanglah Re, Ara akan kembali dua hari lagi, kamu gak usah khawatir,” jawab Navia.
“Tap-tapikan hutan itu,” ucap Rean.
“Ini awalnya Rean, kisahnya baru di mulai dan dengan masuknya Ara ke hutan itu adalah awal dari kemusnahan Qaranlıq,” ucap Navia tersenyum.
Aruna memandang lurus kearah hutan lalu segera menghilang.
“Semoga kamu selamat Ra, Dewi Nindiga,” ucap Aruna lalu meringkuk di ruangan gelap sendirian.
“Sudah lebih sepuluh tahun dan ini saatnya setidaknya kerajaan itu harus di rebut kembali,” gumam Baraz.
Di dalam hutan, Ara.
setelah beberapa menit berjalan ia berhenti lantaran jalan buntuh yang tertutupi tanaman.
“Yah kalau kayak gini harus balik lagi dong ya,” ucap Ara dengan kecewa.
Ara berbalik namun sebelum itu terjadi matanya menangkap cahaya kunang-kunang yang Anehnya bewarna biru.
Seperti mengarahkan ke suatu tempat Ara mengikuti kemana Arah kunang-kunang itu.
“Semuga tidak terjadi apa-apa jika aku menggunakan sihir,” gumam Ara.
“Mənim üçün yol aç,” ucap Ara membacakan mantra lalu seketika tanaman merambat itu menyingkir menampakan jalan setapak.
Selama perjalanan Ara terus di sunggahi dengan pemandangan indah bersamaan dengan kunang-kunang yang memenuhi perjalanan, hutan ini terasa seperti di Magica World.
Ara mengkuti jalan tersebut setelah beberapa menit menempuh perjalanan dengan mengikuti kunang-kunang Ara sampai di sebuah tempat dengan air terjun indah.
Airnya mengalir dengan cahaya bulan, Ara terus melihat sekeliling sampai matanya terpaku dengan sosok hewan yang sedang meminum air di tepi danau.
“Seekor Harimau putih,” ucapnya.
Mengapa ada harimau putih di hutan seperti ini dan apa itu garis bewarna biru? Pertanyaan demi pertanyaan menghampiri benak Ara.
Dengan perlahan Ara mendekati Harimau putih salju tersebut, geresekan rumput terdengar membuat harimau itu menoleh.
Harimau itu diam menatap Ara membuat Ara terdiam dengan pikiran buruk yang menghampiri, apakah harimau itu akan memakannya? Apa ia akan mencabiknya? Lupakan pikiran itu karena Ara lebih terpaku dengan mata bitu harimau itu.
“Sang Dewi takdir, Dewi Nindiga, yang mulia tuan putri Nilara white deria knowledge,”ucap Harimau itu membuat Ara membulatkan matanya.
Harimau itu dapat berbicara? Apakah ia merupakan hewan sihir? Hewan Magica World? Apa ia jenis Oshaberi? Pertanyaan demi pertanyaan itu menghampiri benak Ara.
“Nami! Aku punya kabar gembira untukmu!” seru sebuah suara yang mengarah pada harimau putih itu.
Ara menoleh dan mendapati satu hewan lagi dan kali ini adalah macan kumbang!
Dengan bulu hitam lembut dan juga...garis biru? Apa maksudnya ini semua?
Ara terpaku pada macan kumbang itu dan sama sepertinya macan kumbang itu juga terpaku padanya.
Harimau putih tadi berjalan kearah macan kumbang dan mensejajarkan tempatnya.
“Mana hormatmu Kabi!” seru Harimau putih itu membuat macan kumbang yang awalnya terpaku pada Ara kini menjadi sadar.
“Maaf atas kelancanganku,” ucap macan kumbang bernama Kabi tadi.
__ADS_1
“Salam Dewi, selamat kembali,” ucap kedua hewan itu sambil menunduk hormat pada Ara.
Sontak saja hal itu membuat Ara menjadi kaget juga bingung.
“Ka-kalian, apa kalian hewan sihir?” tanya Ara dengan ragu.
“Ya,” jawab keduanya serentak.
“Kalian jenis hewan sihir Oshaberi?” tanya Ara lagi.
“Lebih tepatnya kami jenis Henkō,” jawab Kabi dengan santai dan mendapati pukulan dari Nami.
“Kalian Henkō?! Kalian bisa berubah jadi manusia?” tanya Ara dengan berbinar.
“Ya tentu saja,” jawab Nami lalu ia berubah menjadi sesosok wanita cantik dengan gaun putih dan rambut panjang dengan beberapa helai rambut bewarna nila.
(anggap aja beberapa helai ada warna nilanya)
Begitupun dengan Kabi yang berubah menjadi pria tampan dengan pakaian hitam dan rambut yang memiliki warna nila di beberapa helainya.
(ini juga anggap aja beberapa helai rambut ada warna nila)
“Maaf Dewi sepertinya kami lupa memperkenalkan diri,” ucap Nami.
“Saya Nami, Henkō harimau putih salju, anda adalah pemilik saya,” ucap Nami.
“Dan saya Kabi, Henkō macan kumbang, anda adalah tuan saya Dewi,” ucap Kabi sambil mengecup tangan Ara.
Ara masih terdiam ia masih kaget dan heran apa yang baru saja terjadi.
“Hm Nami, Kabi sepertinya kalian salah orang, aku bukan Dewi seperti yang kalian ucapkan namaku Ara,” ucap Ara.
“Henkō tak kan pernah salah dalam mengenali tuannya,” ucap Kabi.
‘Iya sih,’ batin Ara.
“Ta-tapi bisa kalian memanggilku Ara dan kita juga tak ada perjanjian sihir,” ucap Ara
“Maka ayo ikat perjanjian lagi!” seru Kabi membuat Ara sedikit heran tapi ia menyetujuinya.
“ini akan sedikit sulit,” ucap Ara lalu melentangkan tangannya dan tiba-tiba muncul sebilah pisau di tangannya.
Ara memandang Kabi dan Nami lalu mengiris sedikit tangannya hingga darah keluar, Nami dan Kabi menunduk hormat pada Ara.
“Aku Ara mengikat perjanjian dengan hewan sihir, Hankō harimau putih salju Nami, Nami White dan Hankō macan kumbang Kabi, Kabi Black,” ucap Ara.
Dua tetes darah keluar kengelai kepala Nami dan Kabi, cahaya Nila besinar perlahan cahaya itu meredup dengan adanya tanda di kedua pergelangan tangan Ara.
Di pergelangan tangan kiri Ara terdapat tanda bulan sabit dan salju di tengahnya dan di pergelangan tangan kanan Ara terdapat tanda bulan sabit dengan petir di tengahnya.
Ara termenung sejenak tiba-tiba ia teringat dengan tujuan awalnya masuk ke hutan itu.
“Nami, Kabi apa kalian tau tentang cahaya yang bersinar di tengah-tengah hutan?” tanya Ara.
“Apa maksud anda ke kuatan anda?” tanya Nami.
“Kekuatanku?” heran Ara.
“Lebih baik kamu mengikuti kami Ara,” ujur Kabi.
Kabi berjalan dengan Nami memasuki sebuah gua yang berada di balik air terjun, Ara mengikuti kedua Hankō itu dari belakang.
Mereka terus memasuki gua tersebut dengan mengikuti air yang terus saja mengalir dengan permata biru yang tampak di setiap dinding gua.
Mereka berhenti di mana ada banyak kristal di dalamnya.
“Baiklah ini dia kristal paling besar, karena ini kekuatanmu mungkin saja kau bisa berkomunikasi dengannya,” ucap Kabi sambil tersenyum.
Ara mendekati kristalnya dan mengikuti arahan Nami dengan memegang kristal itu.
Kilas balik masa lalu berputar dengan cepat membuat Ara menutup matanya, Ara secara spontan membuka mata dan melihat benang-benang yang lama tak ia lihat.
‘Kenapa aku bisa melihatnya lagi!’ batin Ara tak percaya.
“Yang mulia,”
“Dewi anda kembali!”
“Bawa kami Dewi kami milikmu,”
Suara-suara itu kembali muncun membuat Ara menyerengitkan keningnya bingung, suaranya berasal dari kristal ini?
Tiba-tiba mulut Ara bergerak sendiri tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya sehingga hal yang harusnya menjadi rahasia tetaplah rahasia.
“Aku Kinara Marme grediamon rengkarnasi dari Dewi Nindiga,” ucap Ara tampa sadar.
“Ayolah kristal itu tak kan terambil jika kau menyembunyikan identitas,” ucap Kabi.
‘Kalau begitu rahasiaku akan terbongkar,’ batin Ara namun tak ayal kini mulut Ara lagi-lagi bergerak sendiri dan kali ini ia tak bisa mengendalikannya.
“Aku Nilara White Deria Knowledge rengkarnasi dari sang dewi takdir Nindiga, aku ingin mengambil kembali kekuatanku yang tersegel padamu Zeviyek ji hêza, kembali padaku,” ucap yang keluar begitu saja.
Perlahan cahaya terang menyinari, sebuah pecahan permata indah keluar dari kristal itu dengan cepat cahaya dan permata itu menuju arahnya seperti menyerang.
Namun, saat di hadapan Ara cahaya itu meredup dan menghilang, Ara refleks memegang lehernya merasakan ada benda yang tergantung di sana.
“Permata tadi!” serunya.
“Ara aku tau kini banyak pertanyaan di benakmu, Magica World adalah jawabn yang tepat kalau kau ingin mengetahui sesuatu kebenaran kau harus kembali,” ucap Nami.
“permata itu awalnya kau harus mencari pecahaannya agar kekuatanmu sempurna,” tambah Kabi.
“Jadi, apa aku memang harus kembali ke sana?” tanya Ara, ia lalu menghela nafasnya, “tak ada pilihan lain.”
“ngomong-ngomong Ara sepertinya kamu harus kembali Ara,” ucap Nami.
“Sepertinya ya, sudah dua hari kau di sini,” tambah Kabi.
“Apa maksudmu?! Dua hari?! Yang benar saja!” seru Ara tak percaya.
“Ya terserah kau saja tapi tempat ini memang begitu, diliputi sihir,” balas Kabi.
“Kalau begitu aku harus benar-benar pulang, hari inipun akan pergi ke Magica World, ini akan menjadi hari yang panjang,” ucap Ara.
“Nami, Kabi Ayo!” ajak Ara sambil memanggil keduanya.
“Hiks...selamat tinggal hutan tempatku bernaung,” ucap Kabi membuat Nami memutar bola matanya malas.
“Oh ayolah jangan mulai,” ucap Nami.
“Oh ok siap, ayo!” seru Kabi.
Ara tercengang sejenak melihat Kabi meski bentuk manusianya tampan dan bentuk aslinya yang kuat ia sangatlah kekanak-kanakan dan lebai.
“Baiklah Master anda ingin menaiki siapa? Harimau putih sanju Nami atau Macan kumbang berbulu lembut dan membuat nyaman yaitu aku,” ucap Kabi yang berubah menjadi bentuk hewannya.
“Err, aku bersama Nami saja,” jawab Ara lalu pergi menaiki Nami yang kini berubah menjadi Harimau putih salju.
“Oh, hutan tempatlu bernau aku meninggalkanmu dan kini Masterku lebih memilih si putih salju dari pada hitam malam,” ucap Kabi.
“Ayolah Kabi jangan membuat drama,” ujur Nami yang kini benar-benar malas melihat Kabi.
Ara terkekeh geli melihat keduanya, ia mengelus kepala Nami, ‘Lembut,’ batinnya yang berbicara karena bulu Nami benar-benar lembut.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka kalau kalian sebesar ini, jika aku berdiri tinggi kalian seperti tingguku ternyata tidak,”ucap Ara.
“Ya begitulah jadi Nona anda siap untuk kembali?” tanya Kabi.
“Tentu, aku selalu siap!” seru Ara lalu mereka bertiga segera pergi.
Kabi meloncat-loncat menaiki dahan-dahan dengan cepat seakan ia sedang bermain, Nami hanya mengeleng-gelengkan kepalanya tapi ia tetap melajukan larinya.
Ara menikmati ini ia rasa setelah adanya Kabi dan Nami kehidupan di Magica World tidaklah terlalu buruk tentu juga bersama Aruna.
Membicara tentang Aruna ia menjadi rindu dengan Cydymaith sekaligus sahabatnya yang menemaninya sedari kecil itu, bagaimana kabarnya? Semoga keputusan yang Ara ambil telah benar.
Setidaknya ia dapat melihat binar bahagia di mata Aruna kembali sama seperti 10 tahun yang lalu saat mereka di Magica World.
Sepertinya benar yang di ucapkan oleh Kabi hutan itu memang memiliki sihir buktinya saja kini di luar tampak mentari yang baru saja terbit.
“Baiklah sepertinya kami harus bersembunyi bukan?” tanya Nami.
“Tunggu lebih baik kalian berubah menjadi kucing saja!” seru Ara.
“Kucing?! Kau bercanda?!” tanya Kabi berseru kaget.
“Tidak setelah keperhitungkan itu jadi lebih baik setidaknya aku bisa memberi Alasan kalau aku memasuki hutan karena ingin mengambil kedua kucing lucu yang terjebak, juga ini bisa menyembunyikan kalung ini,” ucap Ara.
“Masuk akal juga, baiklah,” ucap Nami yang setuju.
“Kau bercanda? Aku tidak mau, aku Kabi si macan kumbang hitam jantan masa memjadi hewan kecil seperti kucing,” ucap Kabi tak terima.
“Jadi, kalian tak mau?” tanya Ara dengan wajah pura-pura sedih.
“Kabi,” geram Nami memandang tajam Kabi.
“Eh, ah iya iya baiklah,” jawab Kabi.
Lalu keduanya berubah menjadi hewan kecil menggemaskan, nami dengan bulu putihnya yang lembut.
Dan kabi dengan bulu hitam lembut juga kalung bulan sabit yang tergantung di lehernya.
"Ok ini tidak terlalu buruk,” ucap Kabi.
Ara merentangkan tangannya agar keduanya meloncat kepelukannya, Kabi dan Nami yang menyadarinya segera saja meloncat kepelukan Ara.
“Oh, lihat itu bulu kalian sangat lembut,” ujur Ara dengan gemasnya.
“Jadi ayo kita keluar!” seru Ara lalu dengan riang melangkah keluar dari hutan.
“Ara!” seru Rean ketika melihat Ara yang keluar dari dalam hutan.
“Oh Rean kau ada di sini hari baru pagi ya,” ucap Ara seakan-akan ia baru pergi beberapa jam yang lalu.
“Kau kemana saja ini sudah dua hari! Akukan sudah melarangmu janfan memasuki hutan ini!” seru Rean terkesan membentak.
“Maaf lagi pula aku menangkap kedua kucing ini mereka terjebak di dalam,” ucap Ara dengan polos.
“Oh sudahlah lebih baik kau istirahat hari ini kita akan ke Magica World,” ucap Rean.
“Eh bukan kah kita akan pergi kesana 2 hari lagi?” heran Ara.
“Ini sudah lewat dua hari Ara,” ucap Rean.
“Oh benarkah! Ternyata hutan ini memiliki sihir,” ucap Ara pura-pura terkejut.
“Sudahlah lebih baik kita pulang bukan begitu White, Black,” ucap Ara pada Nami dan Kabi.
“Meong~”
“Meong~” balas keduannya dengan eongan.
‘Aku benci jadi kucing!’ batin Kabi berteriak.
Sesampainya di rumah, Navia menyambut cucunya dengan pelukan.
“Aku tau kau kembali dengan pilihan yang tepat, istirahatlah kita akan pergi nanti malam,” ucap Navia.
Ara hanya mengangguk lalu berjalan kearah kamarnya, sebenarnya ia memiliki banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan tapi ia urungkan, biarlah ia mencari jawabannya nanti, pikirnya.
“Hup,” ucap Ara berguling di kasurnya lalu memandang kearah Nami dan Kabi.
“Kalian pakai wujud itu aja dulu ya, kalau aku suruh baru berubah wujud,” ucap Ara pada keduanya.
“Apa?! Oh, ayolah!” seru Kabi tak terima yang hanya di balas kekehan oleh Ara.
Sedangkan Nami ia kini berguling di samping Ara mencari tempat yang nyaman di sisi tuannya itu.
“Ara bagaimana keadaanmu apa kau baik-baik saja?” tanya Aruna yang datang menghampiri Ara.
“Aruna!” seru Kabi kaget membuat Nami memandang kearah Aruna dengan tatapan biasa saja.
“Oh kalian saling kenal?” tanya Ara.
“Ya,” jawab Nami.
“Oh, liat siapa ini, apa dia Kabi? Kau sangat mengemaskan dengan wujud seperti ini!” seru Aruna sambil memeluk Kabi.
Kabi berusaha untuk kabur tapi sayangnya Aruna lebih cepat, Kabi dengan pasrah dan pandangan malas di peluk oleh Aruna.
“Ayolah Ara aku ingin berubah!” seru Kabi sambil memelas.
“Kenapa? Nami saja nyaman,” balas Ara sambil memeluk Nami dan mengelus-ngelus bulunya membuat Nami mengeram nyaman.
“Itu dia, diakan dari Awal memang kucing, kucing besar yang penurut sedangakan aku Macan yang suka kebebasan,” ucap Kabi.
“Sama saja, kau juga kucing besar,” balas Nami.
Kabi mendesah, ia pasrah dengan keadaannya.
“Hei Aruna, aku merasakan adanya salah satu dari ke 12 pelindung di sini apa itu cowok tadi?” tanya Kabi berbisik pada Aruna.
“Itu benar, dia sepupu Ara, si merah berani, ras merah, klan Demon,” bisik Aruna.
“Tuannya Maru? Si Dewa neraka?” tanya Kabi lagi tentu dengan berbisik dan di jawab anggukan dari Aruna.
“Kalian bisikin Apa?” tanya Ara penasaran melihat tingkah keduanya.
“Tak ada hanya mengenang masa lalu,” jawab Aruna.
“Ya, bernostalgia betapa indahnya kenangan masa lalu,” ucap Kabi.
“Mulai lagi deh,” ucap Ara.
“Sudahlah Ara abaikan mereka berdua lebih baik kau istirahat karena di Magica World akan banyak petualang yang akan menanti aku akan menjelaskan sesuatu padamu nantinya,” ujur Nami.
‘Petualangan ya aku menantinya,’ batin Ara lalu tak lama kemudian ia terlelap dengan nyenyak menuju alam mimpi.
“Berapa? Berapa pelindung yang telah Ara temui?”tanya Nami.
“6 hanya tinggal 6 lagi, lebih baik kita menyadarkan mereka terlebih dahulu,” jawab Aruna.
“Bagaimana dengan Dewa kematian? Si Dewa bulan itu apa kau mengetahuinya?” tanya Kabi.
“Belum,” jawab Aruna.
“Bagaimanapun kita harus segera mengetahuinya, kalau tidak akan payah ketika Ara susah mengendalikan kekuatan saat permatanya belum terkumpul,” ucap Nami memandang Ara.
“Lebih baik kalian juga istirahat karena ke depan kita akan melakukan petualangan panjang yang penuh tantangan,” ucap Nami.
Kabi meloncat dari pelukan Aruna dan berguling di samping Ara, di samping Nami, begitupun dengan Aruna yang berguling di samping Ara dan jadilah Ara berada di tengah-tengah.
“Mimpi indah Ara,” bisik Aruna.
“Semoga kita akan melalui pertualangan seru nantinya, bersama-sama,” bisik Kabi.
“Aku harap kamu tetaplah tuanku selamanya, aku akan menemanimu di setiap rengkarnasi mu, mimpi indah dewiku,”bisik Nami.
Lalu ketiganya terlelap memeluk Ara benar-benar memasuki Alam mimpi.
__ADS_1
TBC