Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 11 : Mencari informasi


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Pagi yang cerah dengan fajar yang mulai terlihat, Noemi mengeliat membuat Ara menjadi terbangun.


“Hm...” gumaman tak jelas dari Ara sambil memandang kearah jam.


“Jam lima,” ucapnya sambil duduk dan bangkit dari kasur lalu pergi ke kamar mandi membersihkan diri.


“Hm...mamma,” Panggil Noemi yang terbangun membuat Ara yang sedang memakai baju seragamnya menoleh.


“Noemi lapar ya?” tanya Ara sambil mengelus pipi bayi itu membuat Noemi terkekeh kecil dan menjulurkan tangannya minta digendong.


Ara dengan sigap langsung mengangkat tubuh Noemi dan mengendongnya, Ara lalu mengucup singkat pipi Noemi lalu tersenyum dengan lembut, “mandi dulu ya setelahnya kita makan,” ujur Ara lalu membawa Noemi menuju kamar mandi dan segera membersihkan bayi tersebut.


Setelah Ara dan Noemi bersiap mereka segera pergi menuju caferia untuk makan.


Jam menunjukan pukul setengah lima kaferia masih sangat sepi, hanya ada beberapa murid yang duduk di sana sambil makan ataupun membaca buku. Ara mengambil makanannya sambil mengendong Noemi yang berceloteh dan berteriak girang ketika melihat Zen yang ada di meja makan sambil membaca buku.


“Pap... Papa!”


Teriakan itu mengundang perhatian para siswa yang langsung memandang kearah Noemi dengan sedikit terpaku melihat keimutan bayi tersebut. Zen juga ikut menoleh mendapati Ara dan Noemi yang berjalan kearahnya.


“Bagaimana dengan seminggu ini di sini nona?” tanya Zen masih fokus dengan buku di tangannya.


“Ntahlah, namun ini lumayan menyenangkan,” jawab Ara sambil menyuapi makanan pada Noemi.


“Apalagi bertarung denganmu siap untuk kalah tuan?” tanya Ara membuat Zen mendengus kesal.


“apa kau sudah mendapatkan kabar kalau Noemi akan di jemput orangtuanya hari ini?” tanya Zen dengan acuh masih fokus dengan bukunya.


“Kau mengalihkan topik pembicaraan!” seru Ara.


“Oh ya? Sepertinya kini kaulah yang mengalihkan topik pembicaraan bukan? Kau tak mau membahas tentang itu,” cetus Zen membuat Ara mendengus.


“Kau tau tentang itu, tapi kau mengungkitnya,” lirih Ara.


“Ayolah, kau telah menjadi ibu yang baik baginya seminggu ini, bukankah kau telah memberinya perlindungan?” tanya Zen menutup bukunya dan memandangi Ara yang kini menyuapi Noemi dengan lesu.


“Ya,” jawab Ara agak sedih karena Noemi akan pergi.


“Bubu...mamma gaga eeih,” celutuan riang dari Noemi yang menyemangati Ara.


“Kau liat dia menyemangatimu untuk apa kau sedih,” ujur Zen sambil menyuapi sesendok makanan pada Ara dan ajaibnya langsung diterima dengan baik oleh gadis itu.


“Hey! Kalian tak membangunkan kami dan malah sibuk berduan!” seru Zac menghampiri Ara dan Zen bersama yang lainnya.


“Membangunkan kalian membuang waktu dan bayiku sedang kelaparan,” balas Ara dengan jutek.


“Jutek seperti biasanya kau kini hampir mirip Valeria apa memang kau tertular olehnya?” tanya Zucca yang mendapatkan sikutan di perut dari Valeria.


“Jaga omonganmu,” desis Valeria tak terima.


“Oh come honey, aku hanya bercanda,” ucap Zucca namun Valeria membuang mukanya.


“Bisakah kalian berhenti bertengkar aku pusing mendengarnya,” ujur Fioren pada Nava dan Rean yang memang sedari tadi adu mulut.


“Dia yang mulai!” seru mereka bersamaan.


“Aku curiga,” ujur Shun membuat semua memandanginya penasaran.


“Kalian berdua itu sebenarnya Mate,” lanjut Shun membuat Nava dan Rean saling pandang lalu dengan cepat membuang muka.


“GAK MUNGKIN!” seru keduanya berseru kesal.


Rean sedikit melirik pada Nava yang mengembungkan pipinya kesal di mata Rean itu tampak mengemaskan? Heh? Rean mengelengkan kepalanya cepat, kenapa ia bisa berpikir seperti itu? Nava mengemaskan? Mimpi! Batinnya.


Zac dan yang lainnya mengelengkan kepalanya, mereka itu saling suka tapi selalu nepis mulu.


“Benang merah,” ucap Ara sambil sedikit melirik pada Nava dan Rean, semua yang ada di meja itu memandang bingung kearahnya.


“Maksudnya?” tanya Karin bingung.


“Bukan apa-apa,” jawab Ara lalu kembali menyuapkan makanan pada Noemi.


Sejenak mereka hening hanya bunyi detingan sendok yang terdengar, namun keheningan itu buyar oleh bunyi yang berasal dari handphone Ara. Ara mengambil handphonnya lalu mengangkatnya.


“Yes, Mom,” ucap Ara dengan sedih sambil menutup sambungan telpon.


“Aku duluan,” ucap Ara dengan lesu bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan yang lain, Fioren yang melihat itu juga ikut bangkit dan pergi mengikuti Ara.


 


“Baiklah murid\-murid kalian boleh istirahat,” ujur Mrs. Lesi pada semua murid di kelas Pirmais sākums.


Minggu demi minggu berlalu dan kini sudah 2 minggu setelah kepergian Noemi dan Ara masih saja sedih dan lesu.


“Hei! Hei! Apa kalian bisa membayangkannya auh aku sangat ingin Mate tampan, apa lagi hubungan yang harmonis,” ucap Nava sambil menghayal.


“Seperti Fernan dan Dian kalian lihat pasangan Vampire itu sempurna, aku juga ingin menjadi seperti itu,” tambah Vina.


“Dan namun sayangnya aku telah memiliki Mate dan itu adalah Zucca,” ucap Valeria dengan datar.


“Dan kau masih belum menerimanya,” balas Fioren.


“Tentu saja, walau ia tampan dan banyak yang meminati,” ucap Valeria diakhiri gumaman.


“Dan kau kini mengakunya! Wah keajaiban!” seru Karin sambil tersenyum jahil.


“Aku tak bisa membayangkan jika Zucca mendengannya dia pasti melompat\-lompat senang,” ucap Atta.


Dan ya seperti yang dibicarakan para gadis penghuni asrama 02 tadi, mereka baru saja mempelajari tentang Mate di pelajaran sejarah.


“Ara kau sakit? Dari tadi kau hanya diam,” ujur Vina pada Ara.


“Teman\-teman aku duluan,” pamit Ara.

__ADS_1


Valeria, Vina, Karin, Nava, Fioren dan Atta memandang nanar pada Ara. Sepertinya Noemi telah menjadi pengaruh besar bagi gadis itu,setidaknya itulah yang mereka pikirkan.


Setelah beberapa lama berjalan akhirnya Ara sampai di perpustakaan Academy. Buku ya buku aromanya dapat tercium jelas di indra penciuman Ara dan Ara sangat menyukai aroma itu.


Mata Ara tertuju pada satu buku yang membuatnya tertari, ‘Dewi Magica World’


 


Ara mengambil buku tersebut lalu duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan. Ara langsung membuka lembaran buku tersebut dan membaca dengan perlahan dan teliti. 5 menit waktu yang di habiskannya untuk membaca buku tebal itu. Tak mungkin ada yang bisa menyangkanya, mungkin jika yang melihat akan membantah jika Ara banyak melangkaui halamannya namun percayalah ia membaca setiap kata dengan cermat dan teliti tanpa tertinggal satu katapun.


 


Ara menghembuskan nafasnya. Suasana perpustakaan lengang dan selalu begitu. Kebanyakan di Academy ini adalah bangsawan yang selalu di manja membuat Ara mengerutu, bagaimana mungkin dunia ini akan maju sedangkan penerusnya selalu di manja dan tak di biarkan susah?


Ara memegangi permata yang ada di lehernya. Ya kalung permata itu bagai pengontrol kekuatannya tidak seperti dulu saat ia mengeluarkan kekuatan maka kekuatan itu agak sulit di kendalikan namun kini berbeda.


Lagi dan lagi Ara menghembuskan nafasnya dengan kasar masih memandangi dua pecahan kecil dari kalung permata yang di kenakannya.


Mata Ara kini beralih pada buku yang baru saja di bacanya.


“Dewi Nindiga, Dewi takdir pemegang kelangsungan Magica World, apa itu benar apa adanya?” gumam Ara.


Sekali lagi Ara menghembuskan nafasnya kasar kepalanya pusing memikirkannya selama 2 minggu ini dan ya masalah itulah yang membuatnya sering lesu bukan karena Noemi.


Kalau masalah bayi satu itu sih dia tiap hari mengunjunginya bersama Zen dan hanya pria itulah yang tau tentang ini. Ntah hanya perasaan Ara saja atau kenapa, Zen selalu ada di dekatnya tanpa diduga. Seakan pria itu memang selalu mengawasinya.


Seperti halnya sekarang Ara baru menyadari akan adanya seseorang di depannya dan kalian bisa menebaknya, ya itu Zen. Sepertinya pria itu sudah sedari tadi ada di sana.


“Kapan\-kapan kau harus mengajariku cara menghilangkan Aroma maupun aura tubuh,” ucap Ara sambil menatap Zen yang menatap lekat dirinya.


Ara berdiri dari kursinya lalu mencari buku yang ada di rak buku, masih dengan Zen yang terus menatapnya dengan kilatan merah yang tak di lihat oleh Ara.


“Apa yang kini kau pikirkan? Kau membuat yang lain khawatir,” ucap Zen dengan datar.


“Menurutmu? Kau tau permata itu masih membuatku bingung,” ujur Ara sambil kembali duduk dengan membawa buku yang berjudul ‘MATE.’


Zen mengangkat alisnya bingung melihat buku itu sekilas lalu kembali memandangi Ara.


“Mate? Kenapa kau ingin membaca buku itu?” tanya Zen.


“Di kelas tadi kami membahas ini dan aku tak memperhatikan sama sekali, jadi yah, lagi pula mungkin ada petunjuk di sini,” ucap Ara.


Zen memandangi Ara yang sedang membaca buku itu dengan serius matanya kini tertuju pada leher putih milik Ara, leher yang mengoda, kilatan merah kembali muncul di matanya.


“Oh, ayolah tahan sedikit, aku bisa gila lama\-lama di sini,” gumam Zen sambil menghirup dalam aroma yang ada di sana.


Bukan Aroma buku namun aroma memabukan yang bisa membuatnya gila dan lepas kendali.


“Ya semoga kau menemukan jawabanya, aku pergi,” pamit Zen dan menghilang dalam sekejap.


“Pria aneh,” gumam Ara sambil memandangi kursi yang di duduki oleh Zen tadi lalu kembali beralih pada buku yang di bacanya


“Penjelasan yang menarik, Werewolf dan Vampir akan melepaskan hasrat mereka saat purnama, apa Zen, Leo dan Shun sama seperti ini?” gumam Ara bertanya\-tanya.


Menandai sang mate dengan di setujui maupun tidak walaupun yang akan lepas di sana hanya Vampire. Dan Werewolf? Mereka masih bisa di kendalikan.


 


Tak ada petujuk baru yang Ara temukan dan kini perutnya Lapar sepertinya masih ada waktu jika Ara ingin makan siang, setidaknya perutnya perlu di isi karena berikutnya akan ada pelajaran tentang Elemen. Tentunya bukan Elemen dasar yang telah sangat Ara kuasai.


 


Mandi, makan malam dan tidur itulah kegiatan yang akan Ara jalani setelah ini, pembelajaran telah ia lalui dengan baik saatnya mengistirahatkan tubuh dan melewati makan malam rasanya itu tak masalah.


Ara berguling di kasur, rasa kantuk perlahan menghampiri gadis itu membuatnya terlelap terbuai dengan alam mimpi.


“Nindiga, apa kau memang harus berengkarnasi lagi?” pertanyaan dari suara seorang pria.


Pandangan Ara buram ia tak dapat melihat jelas wajahnya hanya seluet rambut bewarna hitam malamlah yang terlihat olehnya.


Rasanya tubuh Ara bergerak sendiri ia memeluk pria itu yang balik membalas pelukannya.


“Apa yang kau khawatirkan Mic?” tanya Ara tidak namun Nindiga.


“Ini sudah yang 999 kali dan kau baru saja kembali,” ujur pria itu.


“Dan masuk ini menjadi 1000 kalinya aku berengkarnasi,” ucap Nindiga sembari terkekeh kecil.


“Ya ini yang keseribu kalinya,” ucap pria itu membenamkan wajahnya di leher Nindiga dan menghirupnya dalam.


“Michael aku janji ini akan menjadi terakhir kalinya,” ucap Nindiga sambil memegangi kedua pipi pria itu, Michael.


“Kau selalu mengucapkan begitu, namun kau selalu kembali berengkarnasi,” ucap Michael dengan sendu.


“Come Darling aku bersumpah ini akan menjadi terakhir kalinya, jika aku tak mengingat tentang alasan awal aku berengkarnasi, aku berhenti, Magica World musnah dan kita akan menata ulang kembali dunia itu,” ucap Nindiga penuh pengertian.


Michael melepaskan pengan tangan Nindiga pada pipinya membawa tangan wanita itu agar bergantung di lehernya, Michael memeluk Nindiga lalu mengecup singkat bibir wanita tersebut.


“Kau telah berjanji ini untuk yang terakhir kalinya padaku dan aku harap itu memang yang terakhir kalinya,” ucap Michael.


“Lagi pula jika aku berengkarnasi kau tetap menjadi pasanganku bukan? Aku tak pernah berpaling pada yang lain,” ucap Nindiga sambil terkekeh.


“Ya dan selamanya kau selalu menjadi milikku,” ucap Michael.


“Sepertinya akan banyak yang aku urus sebelum aku berengkarnasi, aku harus menentukan takdir orang\-orang yang akan terlahir saat aku rengkarnasi sampai rengkarnasiku selesai,” ucap Nindiga.


“Kau tak perlu khawatir dengan Debesu pils Mic, anak\-anak akan menjaganya untuk kita, apa yang kau khawatirkan?” tanya Nindiga.


“Kau, kaulah satu\-satunya kekhawatiranku, aku mencintaimu,” ucap Michael.


“Aku juga mencintaimu,” balas Nindiga.


“Jadi bisakah kau luangkan waktu kini hanya untuk kita berdua dan hanya ada kita?” tanya Michael meminta izin.


“Untuk apa kau meminta izin, semua keputusan milikmu King dan aku juga adalah milikmu,” ucap Nindiga.

__ADS_1


 


Perlahan Michael mendekatkat wajahnya mengecup bibir Nindiga lalu kecupan itu beralih dengan ciuman dan lumatan. Dan tepat saat itu juga Ara terbangun dari tidurnya.


 


“Aku pasti sudah gila apa yang baru saja aku mimpikan?” gumam Ara bertanya\-tanya.


“Oh ya ampun otak polosku ternodai,” ucap Ara sambil memegangi kepalanya.


“Emangnya kau masih polos?” tanya Zac membuat Ara menoleh memandang kaget pada pria itu bukan, bukan hanya dia saja namun juga teman\-temannya yang lain.


“Sekedar memberi tau Ara otakmu kini dan sebelumnya memang tak polos lagi,” ucap Leo.


“Dan itu semua karenamu!”seru Rean sambil menunjuk Leo.


“Diamlah Demon sialan aku sedang tak ingin ribut denganmu,” ujur Leo sambil memutar bola matanya malas.


“K\-kenapa kalian semua bisa masuk?” tanya Ara memandangi teman\-temannya tak percaya.


Ara yakin dan sangat yakin ia telah memasang pelindung di kamarnya agar tak ada yang memasuki kamarnya tersebut. Dan pelindung yang ia buat sudah di pastikan olehnya sendiri tak ada yang dapat menembusnya.


“Kau tau, Zen menghancurkannya,” ucap Atta.


“Apa kau tak mendengar pecahan tadi?” tanya Fioren.


“P\-pecahan?” tanya Ara balik dengan tak percaya.


“Ya namun sebelumnya juga ada retakan kecil yang di buat oleh Luif,” jawab Atta polos.


Luif langsung membekap mulut Atta dengan tangannya, “Aku bisa gila karena mendengar mulut embermu yang berujur polos,” ucap Luif pada Atta.


Atta mentap tajam pada Luif yang di balas dengan tatapan yang tak kalah tajam oleh pria itu.


‘Half Witch sialan!’ seru Atta membatin.


“Heh, Nona half Elf yang terhormat jika kau ingin mengumpat setidaknya gunakan suaramu bukan batinmu,” ejek Luif membuat Atta mengeram kesal.


“Oh, ayolah berapa banyak lagi aku harus melihat benang\-benang merah ini,” gumam Ara.


“Ara kau benar\-benar tidak apa\-apa?” tanya Nava.


“Ya aku tak apa\-apa emang kenapa? Tunggu sekarang jam berapa?” tanya Ara.


“Tepat kini saatnya makan malam dan kau dari tadi tertidur membuat kami khawatir,” jawab Karin.


“Ya sampai harus memecahkan pelindung kamarmu,” tambah Valeria.


“Dan tentu tak ada yang lebih pantas di salahkan selain Luif dan Zen,” ucap Zucca.


“Hei sebenarnya kau mendukung siapa!” seru Luif yang tak terima di salahkan begitu saja.


Ara terdiam ia merasa ada yang aneh di sini, pikirannya berjalan mengingat pelajaran\-pelajaran yang memusingkan otak. Ia berenti di pelajaran tentang etika kerajaan.


Mata Ara membulat ketika menyadari sesuatu.


“PANGERAN\-PANGERAN TAK PUNYA ETIKA! KENAPA KALIAN ADA DI KAMARKU! KELUAR!!” seru Ara berteriak membuat Zucca, Zac, Leo, Rean, Vino, Shun, Luif dan Zen koncar kacir segera keluar dari kamar Ara.


Setelah para pria keluar Fioren dengan cepat menutup pintu.


“Dasar pria tak punya etika, sebenarnya mereka di ajarkan etika kerajaan atau tidak sih, sembarang masuk ke kamar seorang gadis,” dumel Ara dengan kesal.


“Untung tadi pakai selimutkan kalau tidak bahu, leher dan belahan dadaku akan terekspor begitu saja,” dumel Ara tak ada hentinya.


“Hem Ara aku tak tau apa yang terjadi sebelumnya tapi,” ucap Nava dengan ragu.


“Tapi?” tanya Ara dengan bingung.


“Zen masuk terlebih dulu, dan...” kini beralih Karin yang berucap dengan memotong kalimatnya.


“Dan aku dan Kari tak sengaja melihat sepertinya dia mencium bibirmu,” sambung Fioren dengan polosnya.


“KYA! FIRST KISSKU!” teriak Ara dengan panik.


Leo dan lainnya yang mendengar teriakan Ara memandangi kamar gadis itu heran.


“Hei Zen apa benar yang di bisikan oleh Valeria tadi?” tanya Zucca pada Zen.


Zen mengangkat alisnya bingung begitu pula dengan yang lainnya.


“Apa maksudmu?” tanya Vino dengan heran.


“Bagaimana aku mengucapkannya ya?”heran Zucca.


“Ampun deh bilang aja ngapa sih,” ucap Shun gemas pada teman satunya itu.


“Zen, hm...apa benar tadi...kau mencium Ara?” tanya Zucca membuat yang lain membelalakan matanya berbeda dengan Luif yang telah mengetahuinya lebih dahulu bahkan ia lebih mengetahui hal lainnya.


“Kau gila!” seru Leo dan Rean bersamaan.


“Kenapa? Apa aku salah lagi pula kalian sering melakukan itu saat mate kalian tidur bukan? Dan aku juga melakukan hal yang sama walau agak lebih,” ujur Zen sambil tersenyum miring dengan menyimpan misteri di dalamnya.


“Ayo ke kaferia duluan biar nanti mereka nyusul aja,” ajak Zen yang terlebih dahulu bangkit dari sofa dan berjalan pergi.


“Maksud agak lebih apaan sih?” tanya Rean heran.


Luif mengeleng\-gelengkan kepalanya lalu membisikan sesuatu pada Rean namun itu juga mengundang yang lain untuk mendengar.


“ZEN KAU GILA!” seru mereka berteriak bersamaan yang di sambut tawa dari Luif lalu mengikuti Zen.


Begitu pula, Rean, Leo, Zucca, Vino dan Shun yang ingin tau lebih jelas cerita dari teman mereka satu itu.


TBC


 

__ADS_1


__ADS_2