Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 08 : Hari pertama


__ADS_3

Suasana kelas tampak hening murid-murid memperhatikan guru ralat kearah lain selain guru karena pelajaran saat ini benar-benar sangat mebosankan.


“Kenapa aku yang berada di kelas ini sendiri padahal yang lain latihan di luar,” gerutu siswa berambut orange itu kesal.


“Bosan,” ujur siswa lainnya yang berambut hijau terang dengan agak kekuningan.


“Hei diamlah! Lagian ini juga tentang sihir, kan menyenangkan,” ucap siswi yang sangat mirip dengan siswa berambut hijau tadi.


“Itu menurutmu!” seru kedua siswa tadi berteriak membuat semua mata memandang kearah mereka.


“Leo, Vino, Vina ada apa?” tanya profesor Afnain pada mereka bertiga.


 


Ketiga murid itu hanya terdiam membuat profesor Afnain ingin berucap dengan marah, namun itu diurungkannya lantaran mendengar ketukan pintu kelas.


 


“Ya silakan masuk,” ujur Profesor Afnein.


Pintu terbuka bersamaan dengan Ara yang muncul dari pintu mendekati profesor Afnein setelah menutup pintu.


“Maaf prof, menggangu tapi apa benar ini kelas Vispirms beigas 1, ponix?” tanya Ara.


“Ya dan apa kau murid baru itu?” tanya profesor Afnain dibalas anggukan oleh Ara.


“Baiklah murid-murid hari ini kita kedatangan siswi baru, silakan perkenalkan namamu,” ujur Profesor Afnein.


“Hm...hai semua namaku kinara Merme Gradiamon kalian bisa memanggilku Kinara salam kenal semua,” ucap Ara memperkenalkan dirinya di akhiri senyum yang membuat para murid terdiam karena terpesona.


Leo dan Vino yang awalnya terpaku menjadi tersadar setelah benar-benar memastikan kalau mereka tidak salah orang.


“ARA!” seru keduanya berteriak membuat para murid tersadar dan spontan memandangi mereka.


“Kapan kau kembali?!” tanya Leo berseru masih kaget.


“kenapa kau tak memberitauku?” tanya Vino.


Leo dan Vino saling melirik lalu dengan cepat berlari kearah Ara.


“Kau harus ikut aku ke kerajaan Skaisti zaļa!” seru Vino merangkul satu tangan Ara.


“Tidak! Kau harus ikut aku ke kerajaan pilnmēness!” seru Leo lalu seketika mereka bertiga hilang.


Pintu kelas di ketuk lalu terbuka menampilkan Ara yang melihat kesekeliling.


“Oh, mereka sudah pergi?” tanya Ara membuat para murid tercengang bagaimana mungkin bukannya tadi Ara di bawa pergi oleh kedua pangeran itu? Heran semuanya.


“B-bagaimana mungkin?” tanya Profesor Afnain.


“Strategi dengan menggunakan sihir, akan merepotkan bagiku kalau pergi bersama kedua pangeran itu,” ujur Ara.


“Wah sir Raj harus memberimu nilai A+ di kelasnya, kau boleh duduk dan mendapat nilai A+ dariku karena kejutanmu tadi,” ucap Profesor Afnein.


“Terimakasih Prof!” seru Ara lalu dengan santai berjalan dan duduk di samping Vina.


“Sihir yang hebat Ara,” puji Vina.


“Yeah, aku bisa mengajarimu kalau kau mau,” ucap Ara.


“Ya dan selamat datang kembali Kakak,” ucap Vina.


“Aku kembali adik,” ucap Ara lalu keduanya terkekeh kecil.


Profesor Afnein kembali menjelaskan pelajarannya namun itu tertunda karena kedatangan Leo dan Vino.


“Ara kau membohongi kami dengan teknik menganda diri!” seru keduanya kesal pada Ara.


Ara hanya mengangkat bahu acuh lalu bertos ‘ria bersama Vina, profesor Afnain memandang kesal pada dua muridnya itu karena mereka pelajarannya terganggu.


“Leo, Vino keluar! Belajar saja di luar kelas! Sekarang keluar!” seru Profesor Afnein kesal.


“Eh, tapi prof....” ujur keduanya bersama-sama.


“Tidak ada tapi-tapian keluar sekarang!” seru profesor Afnain kesal.


Leo dan Vino berjalan keluar kelas sambil mengerutu kesal, “siapa juga yang ingin belajar di kelasnya,” gerutu Leo dengan kesal yang di dengar oleh profesor Afnein.


“Leo, Vino selain di luar kelas kalian juga harus membersihkan sampah yang ada di halaman! Sekarang tanpa bantahan!” seru profesor Afnain membuat mereka berdua melotot.


Kedua pangeran itu segera menghilang dari balik pintu dengan lesu berjalan ke halaman sekolah, “ini semua salahmu!” seru Vino kesal namun tak ditanggapi oleh Leo.


Tring~


“Baiklah anak-anak kita akhiri pelajaran ini sampai jumpa lagi!” seru Profesor Afnein keluar dari kelas.


Para murid berhamburan keluar kelas, begitu juga dengan Vina dan Ara.


“Ayo Ara kita lihat mereka!” seru Vina bersemangat lalu kedua gadis itu berjalan ke arah halaman menghampiri Leo dan Vino.


“Bagaimana kabar kalian? Apa halamannya telah bersih?” tanya Ara.


“Tentu saja, kami becucur keringat memandikan darah membersihkan halaman yang kadang tidak di pedulikan,” ucap Leo.


“Ralat hanya aku yang membersihkan paling banyak, dan tak ada darah yang memandikan diriku,” ucap Vino.


“Oh ayolah adik kecil itu hanya ungkapan bagaimana jika kita ke kantin? Mencari makana, perutku lapar,” ucap Leo diangguki Vino.


“Jadi ayo ke kantin!” seru Leo berjalan lebih dahulu di ikuti Vino di belakangnya dan paling akhir Vina dan Ara.


“Ara kau berada di asrama berapa?” tanya Vina.


“Asrama 02 sama dengan kalian,” ucap Ara.

__ADS_1


“Benarkah? Apa kau yang menjadi teman sekamarku?” tanya Vina bebinar.


“Sayangnya tidak karena aku hanya sendiri, itupun hukuman dari Mommy,” ucap Ara.


Koridor di penuhi oleh hiruk piuk bisingnya para murid yang bergosip tentang kejadian tadi pagi.


“Hei kalian tau tentang gosip yang di bicarakan oleh mereka?” tanya Leo.


“Seorang gadis yang menghancurkan lapangan sekolah lalu mengembalikannya seperti semula dengan jentikan jari, itu bukan kau kan Ara?” tanya Vino.


Leo, Vino dan Vina menghentikan langkahnya lalu memandang curiga kearah Ara, Ara hanya tersenyum polos.


“Sayangnya itu benar-benar ulahku,”ucap Ara polos membuat ketiga sepupunya menepuk jidat.


“Ya ampun di hari pertama masuk kau menghancurkan lapangan sekolah, setelah ini apa?” tanya Leo.


“Ntahlah,” jawab Ara lalu mereka kembali berjalan.


“Hei apa kalian ingin membantuku menghancurkan sekolah?” tanya Ara.


“BIG NO!” seru mereka bertiga berteriak.


“Kau ingin aku terkena masalah, maaf tapi aku tak ingin mendapat hukuman,” ucap Leo.


“Aku juga, sudah cukup di hukum, lagian menghancurkan sekolah sama juga mencari mati,” ucap Vino.


“Dan aku benar-benar tak bisa karena julukanku adalah si murid teladan,” tambah Vina, jawaban dari sepupunya itu membuat Ara cemberut.


“Uh, kalian tak menyenangkan!” kesal Ara berjalan lebih dahulu.


Vina, Vino dan Leo mengangkat bahu melihat tingkah Ara lalu mengikutinya dari belakang.


Setelah menaiki tangga ke lantai 3 karena memang kantin berada disana kecuali kaferia ada yang berada di dekat asarama bertingkat juga sih.


Ara mengedarkan pandangannya keseluruh kantin, matanya menjadi cerah ketika melihat siswa berambut merah yang tengah bercengrama bersama teman-temannya.


“Ryry!” seru Ara langsung melompat dan memeluk siswa itu membuatnya menjadi pusat perhatian.


“Wow hati-hati Tuan Putri Anda bisa terjatuh,”ucap Siswa itu berbalik menghadap Ara dan memeluk gadis itu.


“Aku merindukanmu,” ucap Ara.


“Bagaimana kabarmu? Apa menyenangkan di dunia manusia selama 10 tahun ini?” tanya siswa bernama Zachenry, kalau kalian menggingatnya, dia adalah anak dari Anne lebih tepatnya pangeran dari wilayah kerajaan Ostrala anak dari Kakaknya Anne.


“Sangat menyenangkan! Bahkan aku ingin segera kembali kesana di sini tak menyenangkan, bau Qaranlıq tercium di mana-mana aku bisa saja lepas kendali kapanpun,” ujur Ara.


“Kau kembali...karena lepas kendali?” tanya Zachenry.


“Ya, itu menyebalkan dalam 1 bulan ini aku lepas kendali sebanyak 10 kali dan 1 kali di ketahui aku langsung di suruh kembali,” ucap Ara sebal tanpa beban sedikitpun, seakan itu hanya hal kecil yang menyebalkan.


“Ara, ini masalah serius, keputusan tepat membawamu kembali,” balas Zachenry.


“Ah, kau sama saja!” seru Ara kesal.


“Lihatlah saat bersama Zac kau langsung memeluknya sedangkan aku?” ucap Leo.


“Ara apa kau sering menggunakan sihir di dunia manusia? Dan sejak kapan kau bisa memakai teknik menganda diri?” tanya Zachenry bingung, pasalnya ia tak pernah bisa menguasai teknik tersebut, hanya satu murid sekolah ini yang bisa, salah satu temannya Zen.


Ya kalian tak salah karena memang Zachenry termasuk dalam kumpulan temannya Zen.


“Awal-awal aku berada di dunia manusia lagi pula teknik itu mudah, kalau kau menginginkannya aku bisa mengajarimu,” ucap Ara.


“Oh benarkah? Lalu bagaimana dengan kau yang menggunakan sihir di dunia manusia?” tanya Zachenry.


“Itu biasa, jika aku malas ke sekolah aku akan mengandakan diriku jadi yang pergi sekolah adalah aku yang palsu dan aku dengan santainya tidur di rumah, oh iya juga teknik teleportasi kalau aku terlambat aku selalu menggunakannya, terus kalau aku menjahili orang aku akan memakai elemenku, setelahnya menjadi hantu di rumah kosong dengan menggunakan ramuan menghilang sayangnya ramuan itu kini telah habis, aku harus membuatnya kembali, jika saja Nana ingin memberi tahuku tenik menjadi transparan, aku tak akan membuat ramuan itu,” ucap Ara panjang lebar dalam satu tarikan nafas.


Satu yang di pertanyakan orang yang mendengar itu apa dia tidak capek? Dan juga sehebat apa siswi baru itu sebenarnya!


“Jadi, alasanmu mengatakan bahwa ramuan transparanmu habis apa? Apa kau yang kemarin membuat kekacauan di Aplainīt senlietas?” tanya Zachenry.


“Ayolah kau tau sendirikan di sana lebih instan aku malas mencari barang-banrangnya, walau aku tau di mana tempatnya,” ucap Ara di akhiri gumaman.


“Jadi, kau tau karena itu aku harus menukarkan 3 keping sisik naga emas dan 2 keping sisik naga merah dan terakhir 2 bulu firebird dan sekarang sisik nagaku tinggal sedikit ayo kawani aku mencarinya!” seru Ara sedikit memohon.


“Malas, naga-naga itu tak menyukaiku,” ucap Zachenry.


“Oh, ayolah,” ucap Ara namun tetap saja Zachenry tak ingin menuruti permintaannya.


“Emamg berapa lagi barang-barangmu itu?” tanya Zachenry.


“Entahlah tapi hei Zac,” ucap Ara lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Zachenry berbisik, “bantu aku menghancurkan sekolah ini.”


“Kau gila! Aku tak mau, kalau kau dendam dengan Mommy mu itu bukan cara yang tepat Honey,” ucap Zachenry membuat Ara cemberut.


“Jaga jarak!” seru Rean yang ntah dari mana datangnya langsung meleraikan pelukan Ara dan Zac.


“Oh hai Rean bagaimana kabarmu?” tanya Zac namun Rean hanya menatap tajam dan sengit dirinya.


“Jangan dekat-dekat dengan Kakakku,” ucap Rean menekan ucapan terakhirnya membuat Zac terkekeh.


“Sebenarnya dari tadi aku ingin mengatakan ini, orang-orang bisa salah paham kalau kalian adalah sepasang kekasih,” ucap Vina berkomentar.


“Tidak! Aku dan Ryry adalah kembar!” tegas Ara sambil kembali memeluk Zac.


“Kembar dari mana dari segi wajah dan umur kalian berbeda,” ucap Vino.


“Ya tapi tetap saja-“ ucapan Ara terpotong oleh sebuah teriakan nyaring yang memanggilnya.


“ARA!” seru Nava berteriak sambil berlari memeluk Ara yang sebelumnya telah melepaskan pelukannya dengan Zac.


“Kau baik-baik saja? Tak ada monster yang menyerangmu di hutan itu? Kapan kau kembali? Kata batu kau baru kembali 2 hari yang lalu dan saat itu aku telah ke sini,”ucap Nava panjang lebar.


“Aku baik-baik saja, tentang monster ya aku menemui monster kecil lucu berbulu lembut,” ucap Ara.

__ADS_1


“Apa itu?” tanya Nava binggung dan setelahnya terdengar suara eyongan dari kucing hitam dan putih yang berada di bawah kaki Ara, Nami dan Kabi.


Nava yang melihat itu bebinar dan langsung mengendong kabi mengelus-elus serta memeluknya membuat Kabi jadi risih.


“Oh, unyu Miaw manis, bulumu lembut banget,” ucap Nava.


“Haha masuk ke hutan berbahaya untuk mengambil kucing benar-benar Ara,” ucap Vino datar.


“Siapa namanya Ara?” tanya Atta yang entah dari mana kini sedang mengendong Nami.


“Simpel White dan Black,” ucap Ara.


“Hei demon bagaimana kalau kita bertarung,” ujur Leo kesal pada Rean pasalnya memang keduanya dari tadi sedang berbincang ralat bertengkar.


“Siapa takut, kau kira aku takut denganmu anjing huski,” balas Rean.


“Tutup mulutmu demon sialan!” desis Leo kesal.


“Dari pada kalian bertarung lebih baik kalian membantuku,” ucap Ara yang tiba-tiba berada di tengah mereka.


“Apa!?” tanya keduanya kompak.


“Mencari sisik naga emas dan naga merah,” ucap Ara dengan polos.


“Kau gila!” teriak mereka kompak.


“Mana ada naga itu, itu naga langkah!” seru Rean.


“Aku bahkan tak pernah menemukannya!” tambah Leo.


“Aku punya kenalan naga emas dan naga merah yang kalian lakukan hanya menemaniku,”ucap Ara.


“Selain elemen, teknik ganda, memperbaiki dengan jentikan jari juga mempunyai kenalan naga kau bisa apa lagi?” tanya siswa berambut coklat yang sudah gatal bertanya karena penasaran.


“Juga memunculkan sayap,” tambah siswa berambut kehijauan.


“Menurut kalian?” tanya Ara misterius, lalu setelahnya ia tersenyum ceria, “oh ya hai aku Kinara salam kenal, kalian juga akan jadi teman seasramakukan.”


“Oh, hai aku shun, semoga bisa berteman baik,” ujur siswa berambut coklat menjabat tangan Ara.


“Gak usah lama-lama,” ucap Zac melerai jabatan tangan Ara dan Shun.


“Aku Zucca salam kenal Kinara,” ucap siswa berambut kehijauan memperkenalkan diri tanpa menjabat tangan takut dia kenak amukan Zac.


“Aku Luif,” ujur teman Zac yang sedari tadi hanya diam, kalau di perhatikan lebih detail wajahnya agak mirip dengan Ara.


“Zen,” ucap Zen berujur dengan dingin.


“Ok baiklah kalau gitu sampai jumpa nanti lagi teman-teman, aku pergi dulu,” ucap Ara melangkah ingin pergi.


“Kau ingin kemana?” tanya Rean.


“Hm...bermain mabey? Bye adikku sayang,” ucap Ara mengecup pipi Rean lalu berlari menuju pembatas kantin untuk melihat kebawah tentu jika Ara ada di sana dia akan melompat.


Miauw~


Miaw


‘Ara tunggu!’ seru Nami dan Kabi tentu hanya Ara yang dapat mendengarnya.


Nami dan Kabi melompat pada Ara membuat Ara yang berdiri di pembatas berdiri dan agak oleng karena sepatunya berada di ujung, para murid yang melihat itu menjadi takut jika Ara akan terjatu namun tak ada satupun raut khawatir pada Leo, Vina, Zac, Rean dan Vino.


“Oh, ayo manis-manisku! Kita pergi,” ucap Ara memutar tubuh seketika tubuhnya melayang dan pat dia mendarat dengan selamat dan kini memakai jubah yang menutupi kepalanya.


“Ara tunggu, kami ikut!!” seru Atta dan Nava.


Atta meloncat lebih dahulu sama seperti Ara kini ia juga memakai jubah berlari di belakang Ara.


“Hei! Kalian mau kemana setelah ini masih ada kelas!” seru Rean sedikit berteriak.


“Kami bolos! Atau tunggu saja kami yang palsu bye batu!” seru Nava yang terakhir melompat.


“Siapa yang kau sebut batu gadis bar-bar!” seru Rean berteriak kesal.


“Aku baru tau bahwa Atta ternyata seperti itu,” ujur Vina.


Pasalnya jika di Academy mereka mengenal Atta sebagai putri hebat yang pemalu sebagian juga mengiranya sombong tapi lihat kini bahkan ia pergi meloncat kebawah bahkan dengan aura ceria bukan pemalu dan ragu.


“Kalian saja, aku sudah lama mengetahuinya, ketiga gadis itu bar-bar,” ucap Rean kesal karena ia di tinggal.


“Oh, ayolah Demon kau tau kelas berikutnya kita sekelas,” ucap Leo merangkul Rean.


“Makanya aku menjadi malas gara ada kau ini tak akan menyenangkan,” ucap Rean dengan muka masam.


“Setelah ini kelas bertarung, bagaimana jika kita bertarung saat itu,” tantang Leo.


“Kenapa tidak sekarang saja,” balas Rean menantang.


“Siapa takut!” seru Leo lalu keduanya segera pergi meninggalkan kantin.


Zac dan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya melihat itu sedangkan Zan sedari tadi matanya tak lepas dari tempat kepergian Ara begitupun dengan Luif yang terdiam.


‘Kenapa hatiku sakit saat gadis itu memeluk Zac dan mencium pangerang demon yang merupakan adiknya?’


“Ara...kau kembali, apa kau masih mengingatku?” Lirih gadis berambut kuning yang berada di salah satu meja kantin.


“Tuan putri telah kembali, apa yang harus kita lakukan tuan?”


“Beri serangan dengan perlahan,” ujur pria yang ada di singgah sana denga ruangan yang tertutup kegelapan.


“Saatnya pembalasan dimulai bukan begitu Dewi Nindiga sang takdir,”


Di dalam hutan tersembunyi dengan tumbuhan langkah dan juga tempat berbahaya...

__ADS_1


“Yang mulia anda harus berhati-hati,” ucap pria bertudung sambil melihat ke kolam Air dengan banyak tumbuhan juga beberapa hewan yang mengelilingi tempatnya.


TBC


__ADS_2