
Awan gelap mengelilingi kesunyian malam menghampiri tak ada bintang dan bulan yang menampakan diri.
Ara menghembuskan napasnya, berpikir apa kira-kira rencana yang akan ia lakukan selanjutnya, ia memandangi pemandangan gelapnya malam dari jendela.
Jujur setelah ia mencari dan menemukan orang-orang agung, dia tak tau apa yang akan ia lakukan pada mereka, terlebih yang ia rencanakan ia akan kembali kedunia manusia setelah membebaskan kerajaan miliknya yang dikuasai oleh Qaranlıq.
“Huh...,”
“Kau tampak resah, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Artas yang ntah sejak kapan ada di dekat Ara membuat gadis itu menoleh.
Awalnya Ara memang merasa sedikit kaget namun ia menetralkan rasa kagetnya itu dan kembali melihat jendela.
“Ntahlah,” jawab Ara dengan singkat.
“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanya Ara pada Artas tanpa menoleh sedikitpun.
Artas menoleh pada Ara, dia mengamati wajah gadis itu baik-baik. “Ntahlah mengikutimu mungkin,” jawab Artas.
“Benarkah? Tapi bagaimana jika aku tak ingin diikuti?” tanya Ara lagi.
“Karena kau ingin kembali kedunia manusia?” tanya Artas balik yang kali ini membuat Ara menoleh.
Pandangan mata mereka bertemu terbesit pertanyaan terlihat jelas dari raut wajah Ara.
“Arthos mungkin tak akan setuju, lagi pula setelah bertemu dengannya kau akan langsung diramal olehnya dan ramalan paling jelas ada padamu adalah sang takdir,” ucap Artas saat Ara baru ingin mengangkat suara.
“Sang takdir? Apa itu ada hubungannya dengan dewi Nindiga dan permata itu?” tanya Ara.
“Mungkin saja namun jika kau ingin mengetahui lebih, kau bisa mengetahuinya dari Arthos karena bagaimanapun Arthoslah yang mengetahui lebih banyak hal,” ucap Artas.
“Banyak hal?” tanya Ara mengulangi ucapan terakhir Artas.
“Hehe ya banyak hal, karena dulu ia pernah belajar langsung bersama Dewi Nindiga, sang Dewi sudah seperti Ibu olehnya,” ucap Artas sambil terkekeh geli.
Ara mengerjapkan matanya mencerna maksud dari ucapan Artas tadi, Artas hanya terkekeh ia memandangi langit malam yang melihatkan bulan yang perlahan muncul.
“Ternyata kalian disini, ayo kebawah makan malam sudah siap,” ucap Arthen muncul menghampiri Ara dan Artas.
“Pergilah terlebih dahulu aku akan menyusul nantinya,” ucap Artas membuat Ara dan Arthen menoleh..
Arthen memandang salah satu temannya itu dengan bingung, matanya teralih pada langit malam dengan bulan agak redup yang baru saja akan muncul. “Baiklah,” balas Arthen sambil tersenyum lalu membawa Ara pergi.
Ara memandangi Artas untuk terakhirnya, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang penyihir agung tersebut, Ara mengeleng lalu mengikuti Artas dari belakang.
“Kira-kira apa yang terjadi di Debulus pils saat ini hingga bulan terlambat dimunculkan apa sang Dewa Ilmu pengetahuan itu meminta izin ayahnya dahulu?” monolog Artas sambil tersenyum.
“Tampaknya sang Dewi membuat Dewa agung menjadi kacau atau juga para Dewa-Dewi inti?” gumam Artas.
Dilain tempat....
Suasana ruang makan sangat ramai apalagi keributan yang dibuat oleh Arthur.
“Bagaimana menurut Anda Yang Mulia kita berangkat malam ini juga!” seru Arthur denfan semangat yang malah membuat Arthi mengeram kesal.
“Sekarang malam Arthur bahkan bulan dan bintang tak bermunculan!” seru Arthi dengan kesal.
“Hoho seperti Anda salah pendeta, kemampuan Anda ternyata menurun,” ucap Arthur tambah membuat Arthi menjadi kesal.
“Lihat ke jendela, bintang-bintang baru bermunculan lagi pula jikapun bintang tak muncul kita bisa meminta tolong pada Dewi Starla,” ucap Arthur dengan santai.
“Jadi bagaimana menurut Anda yang mulia?” tanya Arthur pada Ara.
“Yah lebih cepat, lebih baik, lagi pula waktu takkan banyak,” ucap Ara.
“Ya-yang Mulia,” ucap Arthi khawatir.
“Sudah diputuskan kita akan prrgi setelah makan malam!” seru Arthur.
“Ya! Setuju!” seru Aruna dan Nura dengan ceria.
“Ujhu!” seru si Kernal.
__ADS_1
“Huh ini menyebalkan, semak semak belukar ini menutupi jalan!” seru Artes dengan kesal sambil menggunakan sihirnya untuk membuka jalan.
“Baiklah anak-anak yang harus kita lakukan adalah membuka jalan dan berjalan dengan santai, nikmati saja perjalanan ini,” ucap Arthur membuat Aruna, Karnel, Nura dan Kabi mengangguk antusias.
“Orang-orang bodoh!” seru Arthi.
“Perjalanan apa ini sebenarnya,” tambah Nami dan ya kedua hewan sihir Ara ini muncul saat mereka akan pergi, sedangkan Browser dan Winaya kedua kuda itu kembali setelah Artas membuka portal sesuai permintaan mereka.
“Wah ini bisa jadi bahan obat!” seru Arthen antusias sambil memetik tumbuhan di sekitarnya yang kiranya bermanfaat bagi mereka.
“Hm, Arthur apakah masih lama lagi kita akan sampai?” tanya Nura.
“Menurut peta sebentar lagi kita sampai,” bukan Arthur yang menjawab melainkan Kabi.
Harimau kumbang hitam satu itu sangat ceria ketika ia dibolehkan muncul dengan wujud manusianya.
“Sebenarnya apa yang ingin kau rencanakan Ara?” tanya Nami dengan wujud harimau putih yang membawa Ara di punggungnya.
“Ntahlah aku juga tak tau apa yang akan aku lakukan maka dari itu aku akan menemui Peramal Arthos,” ucap Ara.
“Bagaimana drngan kerajaan itu?” tanya Nami kembali.
“Aku akan membebaskannya itu pasti,” ucap Ara.
“Jadi, bukankah semua keputusan akan kau ambil setelah bertemu dengan Arthos bukan?” tanya Nami lagi yang dibalas anggukan oleh Ara.
“Anak-anak lihat ini kita sampai di tempat yang banyak tubuhan yang bisa dimakan di sini terdapat banyak hewan,” ucap Arthur.
“Kita sudah dekat?”tanya Arthi.
“Tidak salah lagi kita sudah hampir sampai,” ucap Arthen.
“Kenapa perjalanan ini terasa cepat?” heran Artas.
“Karena tempatku dan Arthos itu tak terlalu jauh,” jawab Arthi.
“Wah ini kelinci! Kelinci salju?” tanya Ara yang memegang seekor kelinci.
“Wah ternyata kalian menemukan kelinci itu,” ucap seseorang membuat mereka semua menoleh.
Menghitung hari ya setidaknya itulah yang dilakukan para murid asrama 02, mereka semua tak ada semangat untuk latihan padahal hari perlombaan sudah hampir dekat.
“Ini sudah hampir seminggu kemana dia pergi!” seru Rean denfan kesal.
“Lebih tepatnya ini hari ke-5,” ucap Leo.
“Sama saja!” seru Rean dengan kesal.
“Hei Zen kau pasti tau keberadaan Ara bukan?” tanya Zucca pada Zen yang hanya diam tak berkutik.
“Jika aku tau aku pasti akan menyeretnya ke aini sekarang juga,” ucap Zen dengan aura membunuh yang tak henti-hentinya keluar dari dirinya.
“Setidaknya kita tak usah terlalu memikirkan Ara,” ucap Vino diangguki Zac.
“Aku setuju lagi pula Ara tau apa yang harus ia lakukan,” ucap Zac.
“Apa ia ingin kembali kedunia manusia?” tanya Shun membuat teman-temannya menoleh.
“Tidak! Aku tak akan membiarkan itu terjadi!”seru Zen membuat mereka tersentak.
“Hei apa kalian melihat Luif? Dari tadi ia tak terlihat,” ucap Atta dengan heran.
“Benar bukan hanya tadi namun juga sudah hampir seminggu ini,” tambah Nava yang datang bersama Atta.
“Tidak, kami tidak melihatnya,” balas Shun.
Zen mendengus. “Dia ada di kamar,” jawab Zen lalu pergi meninggalkan teman-temannya yang memandang bingung dirinya.
“Ngomong-ngomong di mana Karin?” tanya Shun.
“Ntahlah mungkin di kolam atau laut,” jawab Atta.
__ADS_1
“Seingatku dia pergi ke laut,” tambah Nava.
Shun terdiam sejenak lalu ia menghilang melakukan teleportasi.
“Wow itu sangat tidak sopan dan kalau aku boleh bertanya kalian tau dimana keberadaan Fioren?” tanya Leo.
“Ntah mungkin di taman,” jawab Atta.
“Ok baiklah kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Leo segera pergi.
“Mereka menjadi aneh, bagaimana denganmu Zucca?” tanya Zac pada Zucca.
“Hm? Apanya?” tanya Zucca bingung.
“Kau tak mencari Valeria?” tanya Zac.
“Tidak dan untuk apa aku mencari orang yang beberapa jam yang laku aku temui dan kini tidur di kasurku,” ucap Zucca.
“Ya, lagi pula malam ini adalah malam yang tepat untuk latihan bukan?” tanya Zucca meminta pendapat.
Zac, Rean dan Vino mengangguk setuju sedangkan Atta dan Nava kini berusaha mencari akal agar bisa kabur dan tidak ikut terseret bersama ketiga pria itu.
“Hm...teman-teman aku masih a da urusam jadi-,”
“Tidak ada alasan dan juga kau buruk dalam berbohong nona,” ucap Rean memotong ucapan Nava.
“Ini akan menyenangkan bukan? Tak ada alasan kalian harus ikut!” seru Zac.
“Hei apa kalian melihat-“
“kau juga ikut!” seru Vino menarik Vina yang baru datang membuat gadis itu bingung namun ia tetap mengikuti Vino.
Atta dan Nava menghembuskan napasnya ldan mau tak mau merwka harus mengikuti Rean, Zac dan Vino, latihan ini akan melelahkan.
Sementara itu Luif.
Sinar bulan tak mengalihakan pandangan Luif, ia tak bosan memandangi bulan tersebut walau cahayanya tampak redup.
“White aku tak masalah jika kita tetap seperti ini menjadi sahabat bukan Kakak Adik tapi mohon jangan pergi kembali aku tak ingin sendiri,” ucap Luif dengan lirih.
“Yang Mulia,” panggil seseorang membuat Luif menoleh mendapati seorang pria yang merupakan ajudannya.
“Kau mendapatkan informasi itu Eric?” tanya Luif dengan dingin.
“Ya, mereka ingin memancing Tuan Putri Nilara agar keluar dari persembunyiannya,” ucap peia bernama Aric tersebut.
“Jadi hanya ini alasan mereka hingga lomba kali ini akan diadakan di istana?” tanya Luif.
“Sepertinya begitu, namun, sesuai yang Anda perintahkan saya telah memeriksa Acadrmy yang ada di magica world dan hasilnya banyak para Qaranlıq muda yang belajar di academi termasuk EA, saya rasa ini akan menjadi rencana terakhir mereka, menyerang dari belakang,” ucap Aric.
“Kembalilah berikan aku informasi lebih banyak,” ucap Luif dingin sambil mengepal tangannya.
“Baik, Yang Mulia,” ucap Aric berpamit pergi.
“jika tidak White yang melakukannya maka tanganku sendiri yanga akan membunuh para Qaranlıq sialan tersebut!” desis Luif dengan marah.
Bersambung....
Hai semua apakabar?
Semoga kita semua selalu shat, amin yarabal alamin.
Baiklah bagaimana episode kali ini? Seru? Atau membosankan? Komen ya.
Jangan lupa kritik saran juga votenya.
Dan sekedar info maaf sebelumnya jika kedepannya saya jarang up karena untuk kedepannya saya akan sangat sibuk.
Apa lagi saya ingin mencapaikan target saya pada cerita saya yang ada di wp jadi mohon pegertiannya.
Mungkin saya bisa up sekali dua minggu atau sekali sebulan tapi saya usahin tetap akan up sekali seminggu.
__ADS_1
Sekali lagi maaf dan sampai jumpa di part berikutnya.
See bye...