Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 16 : Hewan sihir ( 3 )


__ADS_3

“Werlan...aku memberi namanya Werlan,” ucap Nindiga tersenyum hangat sambil mengelus kepala Naga bewarna putih dengan mata biru lebih kenila.


“Hm...aku boleh menamainya itu kan Mich?” tanya Nindiga pada pria berambut hitam malam dengan mata biru rembulan Michael.


“Tentu Honey karena dia adalah milikmu, kau menyukainya bukan?” tanya Michael.


“Ya aku sangat menyukainya Nami dan Kabi pasti juga akan menyukainya!” seru Nindiga senang sambil memeluk erat Michael.


“Baiklah kalau begitu aku bisa meninggalkanmu di aini sebentar bukan? Kau tau ak-,”


“Tenanglah Sayang kau bisa melakukan pekerjaanmu aku akan aman di sini,” ucap Nindiga memotong ucapan Michael sambil mengecup bibir pria itu sekilas.


Michael terdiam sejenak ia tersenyum memandangi Nindiga dulu ia tak pernah menyangka bahwa kehadiran wanita itu akan berpengaruh baginya bahkan kini ia menjadi istrinya.


Michael mengelus kepala Nindiga sejenak lalu menciumi istrinya itu. “Aku tak akan lama bersenang-senanglah dahulu, kau tau dia sama seperti Kabi, Nami dan yang lainnya,” ucap Michael lalu mengecup bibir Nindiga sekilas.


Nindiga mengangguk, Michael sekali lagi mengusap lembut kepala Nindiga tak rela meninggalkan istrinya namun kemudian ia melangkah pergi setidaknya ia harus menyeleaaikan tugasnya dengan cepat.


Nindiga terus mengikuti Arah kepergian Michael hingga punggung pria itu tak terlihat lagi. Nindiga memandangi naga putih pemberian Michael yang berada di depannya sambil tersenyum lembut.


“Jadi Werlan bagaimana perasaanmu?” tanya Nindiga.


“Saya gembira,” ucap Werlan dengan hormat.


“Oh ayolah jangan terlalu hormat seperti itu,” ucap Nindiga memutar bola matanya malas.


“Nami, Kabi,” panggil Nindiga.


“Oh ayolah Nindiga kenapa kau memanggil kami tiba-tiba aku masih mengantuk,” ucap pria berambut hitam dengan beberapa helai rambut bewarna nila, Kabi.


“Mana sopan santunmu Kabi!” seru Nami pada Kabi dengan marah.


“Oh ayolah lagi pula dia menyuruh kita begitu ‘tak perlu terlalu sopan padaku panggil namaku saja Nindiga,’ bukan begitu Dewi?” tanya Kabi pada Nindiga.


“Ya ya terserah kau saja,” ucap Nindiga sambil duduk di sebuah ayunan.


Wanita berambut putih dengan mata nila dan beberapa helai rambutnya bewarna nila, Nami. Wanita itu mengelilingi Werlan memandangi naga putih itu dari atas hingga bawah.


“Hei kau hisa berubah wujud bukan? Namuku Nami ngomong-ngomong,” ucap Nami memperkenalkan dirinya.


“Oh ya ampun! Nindiga lihatlah! Nami bersikap genit!” seru Kabi heboh.


“Apa maksudmu sialan!” seru Nami sambil memukul kepala Kabi dengan kesal.


“Au, itu sakit lagi pula bukan kah aku benar kau genit!” seru Kabi.


“Tarik ucapanmu!” seru Nami dengan marah.


“Nami, Nami, Nami asal kau tau Werlan ini adalah seorang pria,” ucap Kabi.


“Bagaimana mungkin aku lihat sepertinya dia wanita dan lagi dari mana kau mengetahui namanya?” tanya Nami.


“Kau tau aku memang heb-,”


“Dia bertanya padaku tadi,” potong Nindiga sebelum Kabi dengan wajah sombongnya membagakan diri.


“Huh, kau payah,” ejek Nami.


“Hei!” seru Kabi tak terima.


Werlan merubah wujudnya menjadi seorang pria dengan rambut bewarna putih halus dan mata tajam bewarna nila.


“Wah kau benar-benar seorang pria,” ucap Nami tak percaya.


“Sudah ku bilang bukan, dia seorang pria,” ucap Kabi.


“Itu karena Nindiga memberi taumu,” ucap Nami dengan Cuek membuat Kabi kesal.


“Nah, Warlan mereka sama sepertimu mereka juga milikku,” ucap Nindiga pada Werlan.


Werlan mengangguk tanda mengerti membuat Nindiga tersenyum.


“Ikuti aku,” ucap Nindiga berdiri dari ayinan yang di dudukinya.


Werlan memandang ke arah Nami dan Kabi sekilas ia ragu ingin mengikuti Nindiga sedangkan kedua teman barunya itu tinggal.


“Tak mengapa, jika mereka selesai nanti juga pasti mencari kita, mereka tau tempat yang akan kita tuju,” ucap Nindiga.


Akhirnya Werlan mengikuti Nindiga meninggalkan Nami dan Kabi yang sedang bertengkar.


Nindiga menuntun Werlan kesebuah tempat seperti air terjun tidak tapi itu benar-benar air terjun, air terjun yang indah dengan danau yang ada di sampingnya posisi air terjun dan danau itu berdekatan hanya tanah yang memisahkannya.

__ADS_1


Werlan memandang ke arah danau walau di sebelahnya ada air terjun yang gemercik air deras namun ntah mengapa danau itu sepertinya sangat tenang.


Nindiga tersenyum melihat itu. “Werlan ayo!” seru Nindiga.


Werlan mengikuti Nindiga. Nindiga masuk ke balik air terjun Werlan juga mengikutinya dari belakang.


 


Di belakang air terjun tersebut ternyata a da sebuah gua, air yang sepertinya adalah bagian dari air mancur tadi mengalir di tengah membuat mereka berjalan di pinggirnya.


 


Jika saja gua biasanya akan terlihat gelap tampa penerangan berbeda dengan gua yang satu ini gua ini sangat terang sepertinya karena permata yang ada di dinding gua.


 


Setelah beberapa menit berjalan Nindiga berhenti begitu pula dengan Werlan. Nindiga berjalan melewati jebatan bewarna emas dengan sedikit bewarna Nila yang sepertinya menuju ke tengah\-tengah yang memiliki cahaya berkilau di sana.


 


Werlan mengikuti ke mana Nindiga pergi. Mereka sampai di tengah, sinar rembulan menyinari mereka benang-benang bewarna-warni mengelilingi.


“Kau tau ini tempat pertama kali aku ada dan ini, ini adalah permata kekuatanku,” ucap Nindiga sambil menunjuk permata yang ada di tengah-tengah.


“Dan benang-benang ini?” tanya Werlan membuat Nindiga terkekeh ia suka dengan orang yang ingin tau seperti Werlan.


“Itu benang takdir, benang yang membuatku ada di sini, apa kau memiliki pertanyaan lagi Werlan?” tanya Nindiga.


“Hm...apa di sini selalu ada malam?” tanya Werlan lagi.


“Kau benar di sini hanya ada malam, namun saat aku ada mataharipun berdekatan dengan bulan menyinari tempatku dengan diriki yang di kelilingi benang-benang ini, benang-benang yang ada karena dewa dewi lainnya,” ucap Nindiga sambil tersenyum.


“Hijau untuk kehidupan, kuning untuk harapan, orange untuk kepercayaan, ungu untuk persahabatan, hijau tua untuk kesabaran, pink untuk cinta dan kasih sayang, merah untuk keberanian, putih untuk kenyamanan, abu-abu untuk keseimbangan, toska kejujuran, coklat kehangatan, kuning bercampur hijau untuk kesejahteraan dan hitam untuk kematian lalu biru kesetiaan,” ucap Nindiga sambil memandangi benang-benang tersebut.


“Kau tau Werlan tugasku adalah mengatur takdir dan itu hal yang sedang ku coba,” ucap Nindiga.


“Kenapa kau hanya sekedar ingin mencoba?” tanya Werlan lagi.


“Karena makhluk yang ingin aku atur takdirnya belum sempurna sama sekali,” ucap Nindiga.


“Kau menciptakannya?” tanya Werlan.


“Ntahlah tapi aku menunggu proses,” ucap Nindiga sambil melangkah pergi.


Nindiga dan Werlan menyebrangi jembtan namun kini jembatan yang berbeda, kali ini ia bewarna putih.


“Ini Qilliam dia adalah makluk duniaku yang akan pertama kali ku atur takdirnya,” ucap Nindiga membuat Werlan menjadi bingung.


“Kau tau ada banyak makhluk yang ku atur takdirnya tapi itu hanya di dunia milik para dewa-dewi dan mungkin dunia itu akan hancur sedangkan aku hanya sebentar menjalani tugasku kadi karena itu aku menciptakan makhluk ini tanpa sepengetahuan yang lainnya hanya kau, Nami, Kabi dan Naura dan Arnila saja yang mengetahuinya,” ucap Nindiga.


“Ayo sekarang kita kembali,” ajak Nindiga berjalan terlebih dahulu tentu dengan Werlan yang mengikutinya dari belakang.


 


Mereka keluar dari balik air terjun itu, Nindiga berhenti membuat Werlan ikut berhenti. Wanita itu memandangi danau yang ada di samping air terjun.


 


“Werlan kau ingin melihat danau itu lebih dekat?” tanya Nindiga membuat Werlan mengangkat aatu alisnya binggung.


“Ayo!” seru Nindiga memandangi Werlan sekilas lalu berjalan terlebih dahulu.


Mereka memasuki area danau. Tenang, sunyi dan damai begitulah keadaan danau tersebut walau air terjun berada di sebelahnya namun suara gemercikan derasnya air terjun itu tak terdengar di danau itu.


Werlan memejamkan matanya menikmati angin yang berhembus pelan.


“Kau menyukainya?” tanya Nindiga.


“Ya,” jawab Werlan dengan cepat.


“Kau tau jika air mancur tadi hanya ada malam maka danau ini hanya ada siang, kau lihat hutan itu?” tanya Nindiga menunjuk hutan yang ada di tepi danau.


“Hutan yang ada di danau ini adalah tempat hewan sihir,” ucap Nindiga.


“Werlan jika kau ingin tinggal di sini silakan,” ucap Nindiga.


“apa itu boleh?” tanya Werlan.


“tentu saja,” jawab Nindiga, “tapi pada waktunya.”


“Dewi apa tugasku?”tanya Werlan membuat Nindiga menoleh padanya, “pasti aku memiliki tugas bukan?” tanya Werlan lagi.

__ADS_1


“Ya tentu saja dan tugasmu adalah menjaga permata tadi, menlindungiku,” ucap Nindiga.


“Sudalah ayo kita kembali aku rasa mereka sudah selesai bertengkar,” ucap Nindiga sambil tersenyum lalu berjalan di ikuti Werlan.


Benar apa yang di katakan oleh Nindiga, ketika mereka sampai di tempat tadi Nami dan Kabi telah berhenti bertengkar bahkan kini mereka hanya menatap tajam.


“Kalian tak melanjutkan bertengkar lagi?” tanya Nindiga.


“Tidak,” jawab Nami dan Kabi kompak.


“Kami tak mau di marahi oleh Arnila lagi,” ucap Kabi.


“Juga Naura,” tambah Nami.


“Dan Dewi kau di panggil oleh Dewa besar tadinya,” ucap Nami.


“Michael memanggilku? Apa ia telah selesai?” tanya Nindiga.


“Tidak tau tapi Arnila berpesan itu tadi,” ucap Kabi.


“Baiklah kalau gitu jadilah anak baik jangan bertengkar lagi,” ucap Nindiga sambil mengusap kepala Nami dan Kabi.


“Werlan sesuaikanlah dirimu terlebih dahulu,” ucap Nindiga sambil mengusap Werlan lalu berjalan pergi.


Werlan memandangi Nindiga sampai punggung wanita itu tak lagi tampak.


“Mich kenapa jadi begini?! Aku, aku hany- aku hanya ingin membuat makhlukku sendiri,” ucap Nindiga sambil menangis di pelukan Michael.


“Kenapa kau tak memberi taunya pada kami Nindiga!” seru Luanfa.


“Ya kenapa kau tak perna memberi tau pada kami jika kau membuat makhluk itu!” seru pria berambut orange, Leon.


“Kalau kau memberi tau kami sebelumnya semua tak kan begini!” seru pria berambut hijau tua, Leafza.


“Ak-aku tak tau ji-jika semuanya akan seperti ini,” ucap Nindiga terisak sambil memeluk erat Michael.


“Leafza,” panggil Vista sambil memeluk pria itu.


“Mich aku benar-benar tak memperkirakan ini semua, aku tak tau makhluk itu akan jadi begini,” ucap Nindiga.


“Ya aku tau jadi tenanglah aku tau, tapi Leafza benar seharusnya kau memberi tau kami,” ucap Michael.


Nindiga hanya terdiam ia hanya bisa menangis di pelukan Nindiga.


“Dzīve bawa yang lainnya keluar!” pinta Michael pada Dzīve.


Dzīve menganguk ia membawa teman-temannya yang lain keluar dari ruangan itu.


“Nindiga maafkan aku,” ucap michael lalu membuat ingatan Nindiga tentang kejadian itu menghilang.


“Mich aku kenapa? Kenapa aku mengangis?” tanya Nindiga sambil mengusap matanya yang ntah mengapa terasa berair.


“Hm? Kau takengingatnya? Katamu kau habis mimpi buruk,” ucap Michael.


“Benarkah? Tapi Mich, ak-aku mengan...tuk,” ucap Nindiga lalu dalam sekejab ia terlelap.


Mmichael mengendong Nindiga ala bride style memindahkan istrinya yang tertidur itu keranjangnya.


“Maafkan aku Nindiga tapi ini semua demi kebaikanmu,” bisik Michael sambil memeluk erat Nindiga.


“Werlan jaga pecahan permataku yang ini, pecahan permata terakhir jangan pernah berikan padaku sampai rengkarnasiku yang terakhir!”pintah Nindiga sambil memberi serpihat kecil permata pada Werlan.


“Berarti aku tak bisa menemuimu sampai rengkarnasimu yang terakhir?” tanya Werlan.


“Sayangnya ya, Werlan aku pernah bilang kau boleh tinggal di danau itu bukan? Maka ini waktunya tinggal lah di danau itu tak ada yang akan mengetahunya selain kita yang ada di sini,” ucap Nindiga.


“Nami, Kabi kalain tetap bersamaku, jangan biarkan aku mengambil pecahan permata itu sebelum rengkarnasiku yang terakhir!” pinta Nindiga pada Nami dan Kabi.


“Tapi Dewi,” ucap Nami, Kabi dan Werlan kompak.


“Patuhi perintahku, permata itu adalah pengingat juga awal dari kehancuran makluk itu,” ucap Nindiga.


Werlan mengengam erat pecahan permata di tangannya ia bersumpah bahwa ia akan menjaga permata itu sampai saatnya tiba.


“Baik Dewi, ucapan anda adlah perinta,” ucap Werlan.


“Terima kasih Werlan,” ucap Nindiga.


“Werlan!” seru Kabi, Nami, Naura juga Arnila.


“Maaf tapi ini keputusanku lagi pula benar bukan makhluk itu harus di musnakan,” ucap Werlan lalu segera pergi dan menghilang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2