Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 26 : Kembali


__ADS_3

Suara airterjun terdengar deras, ini sudah lewat beberapa hari namun Ara belum juga kembali.


Konsenterasi diarahkan oleh Ara, airterjun dengan derasnya berjatuhan keatas kepalanya, suara angin terdengar, suara hentakan cambuk itu entah bagaimana bisa begitu saja terdengar padahal tidak ada yang memainkan cambuk.


Hembusan angin topan terlihat menyelimuti Ara, namun gadis berambut coklat itu tetap tenang dan tenang, tak terganggu dengan angin kuat yang mengelilinginya.


Bau segar tercium dedaunan ikut berputar dengan angin itu menyelimuti Ara. Beberapa detik kemudian mata gadis itu terbuka, mata nila itu besinar, angin yang berputar semakin kuat, tangan Ara terulur kedepan, angin itu berputar dan mengecil. Angin itu berputar di tangan Ara.


Mulut Ara terbuka, ia membaca beberapa mantra dan dalam sekejap angin itu berhenti dan di tangan Ara muncul lah sebuah cambuk, warnanya halus dan halus, namun terlihat aura kuat dari aura itu.


Ara berdiri, tubuhnya dibasahi air, Ara menghentakan cambuk itu keair membuat air kolom tersentak terbelah.


Ara meloncat seakan terbang berdiri dibatu yang ada di tengah-tengah kolom, dia mengayukan cambuknya, senyum terukir di bibirnya.


Ara sekali lagi mencabuk air hingga ir itu terbelah ia memetar cambuk itu membuatnya seperti topam lalu melompat pergi menuju keluar.


 


Sesampainya dimulut gua itu Ara melewati airterjun. Suara burung merdu mendominasi, angin diluar terasa sejuk, aromanya terasa menenangkan.


 


Ara berjalan menuju daratan menginjak rumput hijau yang berbau menyegarkan.


"Yang Mulia," ucap Arthur datang bersama Arthen, Arthas, Arthi, Arthos dan yang lainnya.


"Ini sudah saatnya bukan," ucap Ara sambil tersenyum


****


 


Hiruk puik sorakan para murid terasa ramai, Zen dan yang lainnya tertenggu kaget begitu pula para raja dan ratu serta para kaisar kerajaan.


 


"Hah, kukira aku akan menang," ucap Anatansia.


"Maaf membuatmu kecewa Nona Afterland, namun saya tak akan membiarkan itu terjadi," ucap Ara dengan senyum lembutnya.


"Mohon kerjasamanya Yang Mulia!" seru Anatansia sambil berlutut hormat.


"Kenapa dia berlutut layaknya kesatria?" tanya Nava heran.

__ADS_1


"Dia merupakan putri panglima Ostrala Kingdoom, panglima sangat menghormati Ara jadi ini tidaklah mengherankan," ucap Rean.


"Bahkan Anthasia itu mengakui Ara, ia ingin menjadi kesatria," ucap Zac.


"Hihi, ini bukanlah acara resmi, ini hanya pertarungan bukan? Bolehkah saya melihat bagaimana kemampuan putri panglima terbaik?" tanya Ara sambil terkekeh.


"Tentu yang mulia," ucap Anatansia.


"Saya tak akan lama Nona, saya hanya akan melihat keahlian Anda jika ini menyenangkan ini akan lama dan jika tidak saya akan mengakhirinya," ucap Ara dengan mata menajam dengan serius.


Mata Anatansia menajam mulai serius dia mulai menghunuskan pedangnya memberikan posisi siap menyerang.


"Sudah lebih berkembang," gumam Ara sambil tersenyum miring sambil memutar beberapa kali tangannya lalu sebuah pedang halus dan indah muncul disana.


Anatansia mulai menyerang Ara, Ara selalu menangkis setiap gerakan Anatansia yang terbilang cepat dan gesit.


"Pertandingan ini yang paling menyenangkan! Kinara selalu mengkis serangan dari Anatansia yang merupakan murid terbaik GA! Bagaimana akhir dari ini semua!" seru Mc yang membuat para murid bersorak dengan semangat.


"Permainan pedang yang indah Ana, aku sangat ingin membuat ini lebih lama namun sayang ini harus berakhir," ucap Ara.


Anatansia menyerang Ara namun Ara menahannya ekspresi Ara terlihat santai namun tidak Anatansia yang kesulitan.


Berbeda dengan Anatansia yang begerak kesusahan Ara malah tetap terdiam tak bergerak menahan, entah seberapa kuat sebenarnya gadis itu.


Ara menyentakkan pedang Anatansia membuat gadis itu mundur dalan sekali serang Ara memutar pedang Anatansia membuat pedang itu terlepas dan jatuh menancap jauh dari arena tepat berada di tanah yang beberapa meter berada di depan bangku penonton.


 


Anatansia tersenyum lalu menunduk berlutut didepan Ara dengan hormat.


 


"Sebuah kehormatan karena dapat bertarung dengan Anda yang mulia," ucap Anatansia.


"Permainanmu bagus Anatansia jika kau berada dalam peperangan aku yakin kerajaan kita akan menang," ucap Ara sambil tersenyum.


Pedang yang ada ditangannya menghilang seketika, Ara berbalik dengan senyym diwajahnya, ia merasakan bagaimana aura para pengikut setianya kini berkembang, enatah mengapa ini semua akan menjadi sedikit mudah.


"Ara!" seru Nava, Valeria, Karin, Atta, Fioren dan Vina bersamaan sambil memeluk Ara.


"Hai kalian kenapa?" ucap Ara terkekeh.


"Kau kemana beberapa hari ini!" marah Leo membuat yang mendengar tertengun.

__ADS_1


"Kenapa kau membentak Ara!" seru Fioren marah membuat Leo membuang muka.


"Hanya melakukan beberapa urusan," ucap Ara dengan santai membuat mereka menoleh.


"Apa yang kalian khawatirkan? Bukankah semua sudah selesai? Aku memenangkan lombanya jadi jangan khawatir lagi," ucap Ara membuat Leo terdiam begitu pula yang lainnya.


"Apa maksudmu?" tanya Vina.


"Kami benar-benar khawatir padamu!" seru Vino.


"Ya, namun itu tak perlu, aku rasa kita tak bisa sedekat itu bukan," ucap Ara.


"Apa maksumu Ara!" seru Rean yang kali ini marah.


"Omong kosong apa yang baru kau ucapkan itu!" seru Zac.


"Apa kenangan antara kita semua tak ada artinya bagimu?" tanya Zucca.


"Mabey, tidak," ucap Ara membuat Nava, Karin, Valeria dan Atta lemas seketika.


"Kau menghilang beberapa minggu ini dan yang kau ucapkan setelah kembali itu! Apa sebenarnya maumu!" seru Shun kesal, ia membuang muka setelahnya lalu segera pergi.


Bukan hanya Dhuan namun juga Zac, Luif, Rean, Vino, Zucca, Leo lalu disusul Atta dan Valeria. Nava memandang Ara sejenak tanpa ia sadari airmatanya menetes, ia segera berbalik pergi saat Ara hanya memandangnya seperti tak mengenal dirinya apa itu hanya perasaannya? Karin yang melihat itu segera pergi mengejar Nava begitu pula dengan Fioren dan Vina meninggalkan Ara dan Zen.


"Kau harus membuang jauh-jauh keinginan kembali pergi kedunia manusia, portal menuju kesana tak akan terbuka untukmu," ucap Zen tajam.


"Apa kau yakin itu yang aku inginkan?" bisik Ara menjalan mendekat kearah Zen.


Ekspresi Zen tetap dingin, wajahnya datar memandang tajam Ara yang kini tersenyum miring padanya.


"Kau mengetahui sesuatu namun kau tak memberitahukanku? Sepertinya kita benar-benar tidak cocok yang mulia," ucap Ara.


"Apa maksudmu," ucap Zen menjadi tak mengerti.


"Aku punya orang yang aku sukai jadi aku tak akan pernah setuju pertunangan itu," ucap Ara membuat rahang Zen mengeras.


"Suka tak suka itu akan terjadi kau takkan mungkin bisa bersatu pada orang yang bukan matemu," ucap Zen.


"Bagaimana jika aku memiliki dua orang dan aku pasti akan memilih orang yang aku sukai bukan? Dan itu pastinya bukan Anda," ucap Ara lalu segera melangkah pergi meninggalkan Zen dengan aura dinginnya.


Zen segera berbalik pergi, ia kembali mengingat ucapan Starla padanya, 'Kita tak benar-benar tau keberadaan Ibu bukan? Bisa saja gadis itu hanya utusannya dan ia kini benar-benar tiada.'


Mengingat itu saja membuat emosinya naik, bisa sajakan dia membunuh orang yang Ata sukai? Karena gadis itu dari awal adalah miliknya.

__ADS_1


"Ara? Dia menyembunyikan identitasnya? Bukankah ini sudah lama Nila," gumam pria berambut putih dengan mata biru es yang tampak dingin namun kini bibirnya tersenyum lembut.


Bersambung....


__ADS_2