Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 29 : Zeus


__ADS_3

Gelombang angin masuk kedalam perlahan mata Atta, Valeria, Luif dan Zucca terbuka mulut mereka mengumamkan tiga kata, "Nindiga kami menemukanmu."


   Mata Ara masih tertutup cahaya menyelimutinya disaat delapan pecahan permata menyatu dengan kalungnya.


  Empat warna violet, kuning pucat, nila dan hijau. Saat Ara membuka matanya ia melihat 4 warna benang yang menjadi pekat bercahaya seakan kekuatan empat benang itu telah kembali.


   Perlahan Luif, Zucca, Valeria dan Atta turun mereka memandang lekat Ara yang perlahan turun kebawah senyum menghiasi wajah mereka, wajah mereka sendu menyiratkan rasa rindu.


    Kaki Ara memijak tanah ikat rambutnya terlepas, rambut coklat dengan ujung nila itu bekibar, Ara menatap tajam Khin didepannya.


"Persahabatan itu indah, namun kalian menghancurkannya! Cahaya kenyamanan setiap orang kalian merubahnya menjati penderitaan! Keseimbangan yang ada, kalian menghancurnya!" seru Ara lantang menatap penuh permusuhan yang kental pada Khin.


"Kesabaran itu angin dan angin itu kawan juga bisa jadi lawan," ucap Ara sambil menghentakkan cambuknya.


   Angin kencang memasuki ruangan, angin tersebut memainkan anak rambut Ara dengan yang lain menutup matanya kecuali Valeria, Atta, Zucca, Luif dan Zen.


   Ara tersenyum tidak namun tepatnya ia menyeringai. Bunyi hentakan cambuk terdengar, Khin membelalakan matanya saat cambuk mengeni dirinya, luka memenuhu tubuhnya dan darah keluar dari mulutnya ia tersungkut jatuh.


"Berikan permatanya dan kembalikan orangtuaku!" pinta Ara.


"Hah, hahahahahaha kau sungguh telah ditipu oleh mereka semua, orangtuamu telah lama tiada!" seru Khin sambil tertawa keras walau ia tengah sekarat kini.


"Khin salah satu panglima terkuat Qaranlıq ucapkan selamat tinggal pada dunia," ujur Ara dingin.


   Ara menyentakkan cambuknya mengenai benang bewarna hitam yaang tersangkut pada Khin dan hanya terlihat olehnya, benang itu ia putuskan.


  Hingga akhir Khin hanya tersenyum, dia gagal, dia kalah dan saat itu ia menyadari satuhal, lawan didepannya bukan sekedar anak kecil dia lebih dari seorang gadis kecil. Cahaya kecil keluar dari tubuh Khin, itu pecahan permata, pecahan batu permata itu mendekati Ara dan menyatu pada kalung milik gadis itu.


"Seperti yang aku duga, kau adalah Dewi Nindiga," ucap Khin terdengar jelas oleh Ara.


   Mata Khin tertutup sepenuhnya dan ia menghilang dengan asap gelap begitu pula para Qaranlıq yang mati sedangkan yang masih bertahan mereka segera pergi.


   Kepala Ara berdenyut, gadis itu memegangi kepalanya, ia berteriak keras ketika rasa sakit menyerangnya.


"Tidak, bukan, aku bukan dia, tidak, tidak, tidak," gumam Ara sambil terduduk.


   Itu tak ada gunanya kepalanya makin berdenyut sakit, putaran ingatan menghampirinya.


"Tidak! Aku bukanlah Nindiga!" teriak Ara membuat yang mendengar tersentak kaget.


"Tidak! Tidak! Aku bukanlah dia! Aku bukan titisannya! Aku bukan dia!" seru Ara berteriak.


   Bening air mata keluar dari mata Ara, tak ada yang dapat menghampirinya karena temeng yang dibuatnya menjadi semakin kuat. Ara berteriak, itu terdengar pilu.


   Sebuah pelukan hangat membuat mata Ara terbuka lebar, ia memandangi wajah orang yang sangat ia rindukan, ia merindukan mata biru sedingin es itu.


"Zeus. Ze aku bukan dia, aku bukanlah dia, aku tak pernah menjadi dia," ucap Ara memeluk erat pria yang ada didepannya.


   Ara mengucapkan itu dengan derai airmata. Pria dengan rambut putih dan mata sedingin es ia memeluk erat Ara sambil mengelus kepala gadis itu, pria itu Zeus hanya dia yang bisa keluar dari temeng dan Ara menjadi tenang didekatnya.


"Ya, kau bukan dia dan dia bukan kau, kau tak pernah menjadi dia, kau adalah Rara, Rara adalah Rara, kau Raraku yang berharga," bisik Zeus menenangkan Ara.


"Aku bukanlah dia Zeus, mereka salah, mereka mendekatiku karena aku dia, aku bukan dia," ucap Ara masih menangis.


   Zeus memegangi wajah Ara, ia menatap lekat wajah gadis itu, menghapus airmata yang menetes dipipinya.


  Dan tanpa aba-aba dan kata-kata, Zeus langsung mendekati dirinya dan Ara. mencium lembut bibir gadis itu, ia menciumi Ara, tak ada penolokan oleh Ara ia malah memeluk erat Zeus dan membalas pria itu.


   Mereka tak peduli orang ramai yang ada di sekitar mereka. Ara kini hanya membutuhkan Zeus dan Zeus kini hanya ingin Ara tenang di dekatnya.

__ADS_1


   Sementara itu Zen mengepal tangannya erat matanya berubah menjadi merah, rahangnya mengeras ia mengertak marah melihat adegan didepan.


   Mengapa Ara tak memberontak ketika diciumi oleh Zeus ini berbanding terbalik saat ia yang menciumi dan memeluk gadis itu waktu itu walau setelahnya Ara tenang namun tatapan Ara padanya berbeda saat itu gadis itu menatapnya sebagai orang lain, apa ia menatapnya sebagai Zeus?


   Zen memukul dinding disebelahnya. 'temeng sialan!' batinya berteriak marah, jika saja temeng ini tak ada maka ia yang akan berada diposisi Zeus pada saat ini.


   Mengapa? Mengapa Ara tak memberontak ketika Zeus memeluknya? Mengapa ia tak marah ketika Zeus mendekat dan memeluknya? Hanya ada kemarahan saat ini di benak Zen.


  Zeus melepaskan tautan bibir mereka, Ara memeluk erat Zeus dengan mata sembabnya.


   Temeng yang mengelilingi para tamu dan yang lainnya menghilang dalam seketika, Zeus mengangkat tubuh Ara dengan ringan mengendong gadis itu dan segera pergi dengan ceoat meninggalkan aula tersebut.


   Zen menatap nyalang ia berbalik pergi, sebaiknya ia pergi sebelum amarahnya keluar lebih baik dia mengeluarkannya di lain tempat.


   Nami, Kabi, Werlan, Sonia, Serga dan Miku menatap kaku ketika melihat kejadian tadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kabi yang terlebih dahulu tersadar melihat Zen yang pergi ia dengan cepat mengikuti pria itu.


   Aruna dan Nura menghela napasnya dan keduanya membawa Werlan, Nami, Serga, Sonia serta Miku segera pergi dari aula tersebut.


"Mereka berpisah," gumam Luif lalu segera mengalihkan perhatian para tamu segera membubarkan acara tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" guman Atta bertanya.


"Bukankah ini berbeda?" tanya Valeria memandang Atta.


   Kedua saling pandang bukan hanya mereka yang berpikir begitu namun Luif dan Zucca juga sama sedangkan Zac dia memaklumi situasi saat ini.


"Zeus? Siapa dia?" gumam Fioren bertanya-tanya.


   Leo, Nava, Rean, Vina dan Vino hanya diam mereka pikir Ara mulai menyukai Zen namun dugaan mereka salah, mengapa Zeus kembali kesini? Bukankah ia pergi dan telah lama menghilang?


****


"Aku merindukanmu," bisik Zeus.


"Aku lebih merindukanmu, kemana kau selama ini?" tanya Ara lirih sambil mengelus rambut Zeus yang bewarna putih itu.


   Zeus mengangkat kepalanya memandang tepat pada mata Ara begitu pula dengan Ara, keduanya saling pandang.


"Maaf aku pergi tanpa berpamitan denganmu, aku memiliki sedikit urusan," bisik Zeus sambil mengengam tangan Ara menciuminya lalu meletakan tangan Ara dipipinya.


"Kau telah selesai dengan urusanmu bukan?" tanya Ara.


"Ya, makanya aku di sini aku ingin bertemu denganmu," balas Zeus.


"Kau akan selalu berada di sisiku bukan?" tanya Ara yang dibalas anggukan oleh Zeus.


   Zeus tersenyum membuat Ara tersenyum dan langsung mengecup lama bibir pria didepannya, ia lalu memandang Zeus membelai pipi pria itu sambil tersenyum senang, ia tampak agresif.


"Rambut benar-benar berubah menjadi putih," ucap Ara sambil tersenyum senang.


"Hm? Hehe, ya kau benar seiringnya waktu rambut ini menjadi putih, namun aku masih muda mengapa rambutku harus putih," gerutu Zeus membuat Ara mencubiti pipi pria itu gemas.


"Kau tampak mengemaskan, kau tampan," ucap Ara membuat Zeus tersenyum.


"Kau juga sangat cantik kini," ucap Zeus.


  Ara masih membelai pipi Zeus dengan lembut satu tangannya memeluk leher Zeus tak ingin melepaskan pria itu begitupula dengan Zeus yang kini memeluk posesif pinggang Ara.


"Ze, aku memilihmu," ucap Ara.

__ADS_1


"Kau yakin? Kau bisa bersama kakakku dia lebih baik dariku, kau pasti akan mencintainya," ucap Zeus.


"Tidak. Aku memliki dua mate kau dan kakak ipar, aku harus memilih bukan? Dan aku memilihmu, aku menganggap Kakakmu sebagai Kakakku, aku tak memiliki perasaan lebih padanya selain sahabat dan kakam bagiku," jelas Ara memeluk erat Zeus.


"Kau yakin? Nantu kau akan berpaling dariku," ucap Zeus.


"Tidak, aku tak akan pernah begitu, aku menyukaimu Ze, aku mencintaimu," ucap Ara memeluk erat Zeus.


   Zeus agak tersentak namun setelahnya ia tersenyum senang, ia memegangi dagu Ara membawa gadis itu agar menghadapnya.


"Aku juga mencintaimu," ucap Zeus sambil tersenyum yang membuat ketampannya bertambah berkali-kali lipat membuat wajah Ara memerah.


   Zeus terkekeh lalu langsung mencium bibir Ara, Ara tak memberontak sedikitpun ia malah membalas ciuman itu. Napas mereka terengah-engah, Zeus mengulingkan Ara di kasur saat napas mereka sama-sama telah teratur.


   Ia mengecup dahi Ara membuat jantung Ara berdetak dua kali lipat lebih cepat dibuatnya.


"Hari ini melelahkan bukan? Tidurlah, aku akan mengunjungimu lagi besok," ucap Zeus.


   Ara mengangguk, ia memeluk Zeus yang ada di sampingnya, Zeus mengelus lembut rambut Ara tangannya berhenti mengelus saat Ara telah tertidur pulas. Zeus tersenyum melihatnya ia lalu mengecup puncuk kepala gadis itu lalu segera pergi keluar dan menutup pintu kamar Ara.


"Mengapa kau harus kembali?" tanya suara dingin yang menyambut Zeus ketika keluar.


Zeus menoleh mendapati Zen berada di sana. "Apa ada masalah jika aku kembali?" tanya Zeus balik dengan suara sama dinginnya.


"Ya, kau membuat jarakku dan dia semakin menjauh, kau menganggu hubungan kami, menjauhlah dia mateku," ucap Zen tajam.


"Dia juga mateku dan dia tunanganku, kau hanya memberi klaman yang tak berdasar," ucap Zeus dingin membuat rahang Zen mengeras menahan amarah.


"Kau belum menandainya bukan? Kau memang tunangannya namun kau tak menandainya kesempatanku masih banyak, jika aku menandainya lebih dahulu dia menjadi milikku," ucap Zen sambil tersenyum miring.


Zeus mencengram erat baju Sen membuat Zen menatap tajam dirinya begitu pula Zeus yang menatap Zen tak kalah tajam.


"Jangan coba-coba, kita telah berjanji tak akan menyentuh apa yang dipunya bukan?" ucap Zeus dengan tajam.


"Ya, dan sayangnya kau menyentuh milikku, Ara adalah milikku," ucap Zen menepis tangan Zeus.


"Kau yang menyentuh milikku Zen dan kau bahkan perna menciumnya paksa, dia menolakmu bukan?" tanya Zeus sambil tersenyum miring.


   Zeus menepuk singkat bahu Zen, "Kita kembar bahkan kita memiliki mate yang sama, dia yang memilih Zen dan dia memilihku, dia milikku lebih baik kau mundur, dia hanya menganggapmu tidak lebih dari pada seorang Kakak iparnya," ucap Zeus lalu segera berlalu pergi.


   Zen menahan amarahnya ia meninju dinding yang ada didekatnya lalu berbalik namun ia melirik pintu kamar Ara, "Kau milikku, jangan pernah melihat pria lain, aku akan membuat ikatanmu dengan sialan itu lepas," gumam Zen penuh amarah lalu berbalik segera pergi.


Bersambung....


Hai semuanya! Apa kabar?


   Udah lama banget gak update cerita ini bahkan sekarang udah mendekati raya.


   Maaf semuanya, aku lagi sibuk banget sama cerita aku di wp mau persiapan yang season 2 nya dan cerita ini yah kadang juga otak aku buntuh gak dapat ide.


   Namun ya sampai di sini dulu cukup 2 bab dulu ya, kalau dipikir-pikir maklum aja sih kalau aku update satu-satu kalian kecewa padahal waktu updatenya lama yang ada kalian malah bosan sama cerita ini ya?


   Sekali lagi maaf semua aku akan usahin semampuku untuk update banyak, 2 bab atau lebih, mungkin memang butuh waktu untuk ngatur alurnya dan idenya kedepannya tapi aku mohon dukungan kalian semua.


   Jangan lupa kasih votenya ya dan juga komen kalau-kalau ada kesalahan dalam kata.


  Sekian dari saya sekali lagi maaf dan sampai jumpa di bab selanjutnya.


See you bye

__ADS_1


__ADS_2