
Angin malam berhembus, bintang bertaburan dengan indahnya dan cahaya bulan menerangi gelapnya malam.
Ara memandang itu semua dari balkon kamarnya sambil menghela napas yang ntah sudah berapa kalinya.
Ia bimbang, ia tak ingin pergi ke World Magica tapi bagaimana dengan Aruna bagaimanapun ia dan Aruna merupakan makhluk World Magica yang tak akan bisa bertahan lama.
Ya walau ia telah 10 tahun di sana dan tak terjadi apa-apa. Namun, tidak dengan Aruna, dia bukannya tidak tau.
Aruna dari luar dia memang tampak kuat tapi sebenarnya tidak dia tak sebaik itu. Ara tau bahwa Cydymaithnya itu merasa sakit.
Dia egois? Ya Ara memang egois tapi ia takut, takut dengan dunia tempat dilahirkannya dulu.
Orangtuanya mati terbunuh dan tidak ada satupun yang tau bahwa kerajaannya dikuasai oleh makhluk Qaranlıq, makhluk yang merupakan musuhnya dan semua klan.
Tok tok tok
Suara pintu memecahkan lamunannya, Ara berjalan ke arah pintu membuka pintu tersebut.
"Hai, apa aku boleh masuk?" tanya seorang wanita yang tampak berumur 20 an, tapi percaya atau tidak umurnya lebih tua dari itu sekitar 60 tahun.
"Ya, Nana masuklah," jawab Ara mempersihlakan wanita itu masuk.
Nana panggilan dari Ara beserta sepupunya pada wanita yang merupakan neneknya.
Nana duduk di kasur Ara, menepuk kasur di sebelahnya menyuruh gadis itu duduk disana.
Ara menuruti permintaan neneknya itu dan duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepala ke bahu wanita tersebut.
Keheningan menyapa tak ada yang membuka suara, Nana dengan lembut mengelus rambut coklat indah cucunya itu dengan sayang.
"Ara apa yang kau ragukan?" tanya Nana.
Ara hanya diam memeluk erat pinggang sang nenek.
"Aku tidak ragu, hanya takut," jawab Ara.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Nana lagi.
"Ntahlah yang pasti aku takut, aku tak sanggup kembali ke sana lagi Nana," jawab Ara.
"Aku tau Ara, bagaimana rasa takutmu selama tinggal bersama mereka," ucap Nana menghela napasnya, "tapi apa kau tidak ingin balas dendam, tidak itu juga bukan kata yang tepat, melainkan melawan."
"Demi kerajaanmu, demi rakyatmu dan demi duniamu apa kau tak ingin melawan mereka?" tanya Nana.
"Ya tapi tetap saja bukan," ucap Ara.
"Ara ini bukan hanya untuk mereka atau untukmu, lawan rasa takutmu kembalilah. Apa kau tidak kasihat melihat Aruna yang kesakitan hm?" tanya Nana membuat Ara terdiam.
"Kau memang tak apa-apa, kau hebat karena bisa bertahan di sini selama 10 tahun, tapi tidak dengan Aruna yang hanya seorang Cydymaith," ucap Nana.
"Jadi ku mohon Ara kali ini saja jangan egois sepupu dan teman-temanmu ada di sana bukan? Nava juga akan bersekolah di sana jadi apa yang kau takutkan?" tanya Nana.
"Ingat Ara kita makhluk Magic World kita tak bisa bertahan lama di Bumi. Jangan sampai kekuatanmu lepas kendali," peringatan dari Nana.
"Ya Nana aku akan mempertimbangkannya kembali," jawab Ara.
'Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu menghentikan perbincangan keduanya.
"Nyonya, Nona maaf mengganggu tapi makan malam telah siap,"ucap suara Efra dari luar pintu.
"Ya Efra kami akan segera ke sana," balas Nana.
"Ok baiklah ayo kita makan dahulu lalu istirahat, bukankah hari ini cukup melelahkan?" tanya Nana tersenyum sambil berdiri dan melangkah ke arah pintu.
"Nana," panggil Ara membuat nana menoleh, "aku sedang tak ingin makan, bisakah hari ini aku tidak makan malam?"
Nana terdiam lalu tersenyum. "Yes princess, hanya untuk malam ini aku yakin otakmu harus benar-benar beristirahat saat ini."
"Terima kasih Nana," ucap Ara tersenyum kecil dibalas senyum juga oleh Nana lalu wanita itu keluar dari kamar Ara.
"Aku mohon kali ini Ara setidaknya kau mau pergi ke World Magica dan mengetahui mengapa kau berengkernasi berulang-ulang kali," gumam Nana.
__ADS_1
Ara tersentak dari tidurnya, ia terbangun dengan napasnya terengah-engah. Ia Menuangkan Air kegelasnya lalu menegung habis air itu.
Mimpi buruk? Ya dia mimpi buruk lagi.
Ara Mengengam erat kasur bersembunyi di balik selimutnya.
"Aku takut, sangat amat takut, apa aku memang harus pergi kesana?" ucap Ara lirih.
Ara melihat jam di dinding jam 12, tengah malam.
Swushh~
Angin berhembus menerbangkan anak rambutnya. Ara menoleh mendapatkan jendela balkon kamarnya terbuka.
"Perasaan aku telah menutupnya tadi mengapa bisa terbuka lagi? Apa itu hantu?" Ara mengelengkan kepalanya mana mungkin itu hantu batinnya berpikir.
Ara turun dari kasurnya lalu berjalan menuju jendela balkon kamarnya ingin menutupnya dan kembali tidur.
Namun gerakannya terhenti ketika matanya terpaku ke hutan di dekat rumahnya itu. Ara berjalan menuju batas balkonnya.
"Beautiful,"satu kata yang keluar dari mulutnya.
Bintang masih bertaburan indah menghiasi langit, lampu rumah di sekitar telah lama padam, cahaya bulan besinar menerangi gelapnya malam.
Namun cahaya bewarna nila bercampur biru bulan membuatnya terpaku, lama ia melihat cahaya itu bertanya tanya apakah kiranya cahaya tersebut?
Jujur saja saat ini ia masih bimbang tentang keputusannya untuk menerima undangan dari Elementary Academy dan cahaya itu membuat pikirannya bertambah.
"tuan putri Nilara kembalilah," suara halus yang terdengar oleh Ara, gadis itu memandang kearah hutan itu dengan lekat.
"Kembalilah yang mulia, kami membutuhkan mu" suara itu lagi.
"Dewi ayo kembali rengkarnasimu kali ini tidak akan sia sia,"
"Dewi Nindiga kembalilah dewi, jangan sampai mereka menang,"
"Dewi jangan sampai mereka mencuri ingatanmu lagi,"
"Dewi Nindiga kembalilah, ingat kembali apa tujuanmu,"
Wushh~
Lagi dan lagi angin berhembus menerbangkan anak rambutnya. Bagai terhembus oleh angin, cahaya itu hilang seketika.
"Apa itu tadi? Siapa yang berada dalam hutan? Apa mereka tau tentang itu? Siapa Dewi Nindiga?" gumam Ara bertanya tanya pada dirinya. Ara menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam kamar.
Menutup pintu balkon dan naik ke kasur bersiap untuk tidur.
"Semoga aku tidak akan bermimpi buruk," gumamnya lalu setelah itu Ara terlelap pergi ke alam mimpi.
"Hai namaku Nilara siapa namamu? "Tanya si gadis kecil pada anak laki-laki yang berumur berapa tahun diatasnya.
Anak laki-laki itu menoleh sejenak lalu kembali memandang padang bunga di depannya dengan dingin dan datar.
" Apa kau harus tau?" tanya anak laki-laki itu tanpa menoleh.
Gadis itu mendengus, lalu duduk disamping anak laki-laki itu. "Kalau kau tak ingin memberitahuku juga tak apa apa."
Hening, keduanya keduanya fokus memandang padang bunga di depannya, anak laki-laki tadi menoleh melihat si gadis.
Cantik dan mempesona dua kata yang akan terucap ketika melihat gadis kecil berumur 5 tahun itu.
Ketika besar nanti gadis itu pasti akan mengemparkan dunia karena kecantikannya, pria yang mendapatkannya benar-benar akan beruntung.
Rambut coklat terang kegelapan yang lembut dengan warna nila di ujung rambutnya, mata bulat dengan warna nila yang indah, kulit putih, hidung mancung dengan pipi yang kemerahan juga bibir manum yang menggoda.
"Kau tampan ya," ucap gadis itu tiba-tiba menoleh, beberapa saat mereka bebertatapan sebelum anak laki-laki berpaling dengan pipi merona.
Oh, ada apa ini kenapa ia bisa begini biasanya ia tak pernah begini jika bersama perempuan tapi bersama gadis ini kenapa berbeda ia merasa bahwa mereka ditakdirkan, ada apa dengan jantungnya?
"A-apa maksudmu," tanya anak laki-laki itu dengan gugup.
"Aku menyukaimu, aku suka mata tajam bewarna birumu juga rambut unik yang bewarna gelap malam itu dan kadang juga putih bukan?" tanya si gadis tersenyum membuat anak laki-laki itu tersenyum lembut.
__ADS_1
"Rambut ini tak seunik itu bukan? Dia tak pernah jadi putih," ucap anak laki-laki itu.
"Benarkan? Bisa jadi beberapa tahun lagi bukan?" tanya gadis itu.
Gadis itu kembali memandangi kearah bunga-bunga di depannya.
"Bukan kah bunga-bunga itu indah?" tanya sang gadis membuat anak laki-laki berdehem sebagai jawaban membenarkan ucapan gadis tersebut.
"nama bunga itu moonbaem," ucap gadis itu menoleh pada sang anak laki-laki membuat anak itu juga menoleh padanya.
"Aku suka kisah dibalik bunga ini, bunga yang diberkahi Dewa Michael yang memberikannya pada sang Dewi, Dewi Nindiga," ucap gadis itu dengan mata bebinar antusias beda dengan sang anak laki-laki yang merasa tak asing dengan nama Dewa yang di sebutkan gadis tadi, Dewa kerajaannya namun dia merasakan ada hal lain.
"Kau tau kisahnya, Dewi Nindiga suka berengkarnasi bahkan berulang kali tanpa sebab yang pasti hanya dia yang tau, sang Dewi selalu terakhir sebagai ratu, dia idolaku, Ratu yang rela mengorbankan nyawa demi rakyat, aku ingin sepertinya," ucap gadis itu dengan tatapan agak nanar ke padang bunga.
"Kenapa kau sebegitu percayanya pada cerita itu? Bukankah itu hanya dongeng?" tanya sang anak laki-laki.
"Bukan! Itu nyata!" sangkal sang gadis.
"Tapi walau aku ingin seperti sang Dewi aku juga takut karena aku sendiri aku tak mungkin bisa melawan mereka bukan?" tanya gadis itu sambil menekuk letutnya menyembunyikan wajahnya di sana.
"Hai kau tau asal kau berusaha itu pasti akan bisa," ucap sang anak laki-laki membuat gadis itu menoleh padanya.
"Aku akan selalu di sisimu jika kau merasa takut lihat bulan dan yakin semua baik-baik saja karena aku di sisimu sebagai pelindungmu," ucap anak laki-laki itu memandang si gadis lembut, si gadis menoleh mereka bertatapan.
"Ya," jawab gadis itu sambil tersenyum begitu pula dengan sang anak laki-laki yang juga tersenyum.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia tersenyum bahkan berpandangan lembut itu hanya ia tunjukkan pada seorang gadis yang kini telah mencuri hatinya.
"Tuan putri ternyata anda di sini, Raja dan Ratu memanggil anda," ucap seorang pelayan menghampiri mereka.
"Ya, Dila aku akan segera ke sana," ucap si gadis.
"Cepatlah yang mulia," ucap sang pelayan.
"Baiklah aku pergi dulu sampai jumpa lagi Bulan," ucap si gadis tersenyum manis pada anak laki-laki tadi.
Gadis itu beranjak pergi di ikuti pelayan di depannya, ia menoleh sambil tersenyum saat anak laki-laki memanggilnya.
"Hai, Nilara namaku Ze...jangan lupakan itu, Ze...,"
"Hosh...hosh...hosh...apa itu tadi? Sebuah mimpi?" ucap Ara bertanya-tanya.
Ara memandang kearah dinding matanya membulat, jam menunjukan pukul 7 pagi dan tidak ada yang membangukannya?! Ia terlambat bahkan sangat terlambat.
Handphonenya bergetar Pesan Nava terpapampang di sana menyuruhnya untuk cepat.
"Sial sudah jam segini,"ucapnya pergi ke kamar mandi lalu setelahnya keluar dan memakai baju dengan buru-buru.
"Aih tak ada cara lain aku harus berteleportasi, semoga gak nyasar ke tempat lain," ucap Ara menghilang begitu pula dengan tasnya, ia pergi dengan berteleportasi.
Bersambung....
Assalamualaikum semua
Pertama tama, saya sangat amat berterima kasih dan senang pada pembaca yang membaca cerita saya ini.
Maaf sebelumnya tapi saya tidak yakin jadwal up tepat di mangatoon. Karena saya juga punya cerita lain di *******, jadi fokus saya menjadi terbelah apa lagi dengan ujian.
Mohon maaf bagi pembaca sekalian, yang membaca cerita ini.
Terima kasih bagi yang udah mau baca cerita saya.
nantinya bakal saya usahin akan menetapkan jadwal upnya.
Terima kasih sekali lagi.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Salam
Penulismisterius05
__ADS_1
Next part ya....