Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 03 : Lepas kendali


__ADS_3

Siang yang membosankan tak ada satupun murid yang fokus pada pelajar, tak terkecuali Ara yang kini termenung memandang jendela.


Tring~


Bunyi bel istirahat membuat para murid berbinar karena dengan itu pelajaran berakhir. Namun, walau bunyi bel dengan suara besar itu terdengar nyaring tetap saja Ara masih termenung, pikirannya benar-benar kacau kini.


"Baiklah anak-anak cukup sekian pelajaran kita kali ini, silakan istirahat," ucap sang guru menutup pelajaran lalu pergi ke luar kelas.


Para murid berhamburan keluar kelas segera pergi ke kantin untuk mengisi perut yang Lapar.


"Ara!" seru Nava sedikit berteriak menyadarkan Ara dari renungannya.


"Ah, ya ada apa? Kenapa?" tanya Ara.


"Kamu kenapa? Dari tadi aku memanggilmu tapi kau tak menjawabnya," ucap Nava.


"Maafkan aku Nava," ucap Ara.


"Ya, sudalah ayo kita ke kantin!" ajak Nava.


"Nava, maaf tapi kamu bisa pergi ke kantin sendirikan? Aku sedang tak ingin pergi," balas Ara.


"Ara, apa kamu masih memikirkan tentang pergi ke Academy?" tanya Nava dengan raut wajah khawatir di wajahnya.


Ara hanya diam tidak menyahuti ucapan Nava yang kini sangat amat mengkhawatirkannya.


“Kya!”


Teriakan para siswi di luar kelas membuat Nava kesal hanya satu orang di sekolah ini yang bisa membuat para siswi berteriak girang dan Nava sangat mengenal orang tersebut.


Tak sampai semenit orang yang dipikirkan Nava datang terbukti dengan seorang cowok yang berjalan kearah mereka berdua.


“Kenapa?” tanyanya pada Nava dengan singkat dan itu pasti tentang Ara.


“Ntahlah dia tak ingin ke kantin, jadi, Rean kenapa kau di sini dan membuat siswi di luar kelas berteriak?” tanya Nava.


“Salah?” tanya cowok bernama Rean dengan cuek.


‘Ya salahlah’ dumel Nava di dalam hati dan berusaha untuk menahan amarah yang kini sedang bergejolok.


“Baik Rean kali ini aku tak ingin ribut. Jadi, sebaiknya kau pikirkan bagaimana cara kita membawa Ara ke kantin,” ucap Nava.


Setelah Nava berbicara tampa pikir panjang Rean segera menarik tangan Ara.


“Eh Rean! Kamu kapan datangnya? Kita mau kemana?” tanya Ara tersentak kaget.


“Tadi, ke kantin,” jawab Rean langsung dengan singkat padat dan jelas.


Nava mengangkat bahunya acuh lalu mengikuti Rean beserta Ara menuju kantin.


Sesampainya di kantin Ara duduk dengan wajah kesalnya dengan Rean yang memandang datar dirinya juga Nava yang duduk santai sambil memakan makanannya dan menonton drama kakak beradik yang akan segera terjadi.


“Makan!” pinta Rean yang hanya di balas dengusan oleh Ara.


Rean menghela nafasnya mengambil sesendok makanan.


Ara melirik sejenak ia kira Rean menyerah menyuruhnya makan dan memakan makanannya sendiri.


Ternyata tidak karena dengan sihir yang tentu tidak di ketahui orang lain selain mereka bertiga, Rean membuat Ara menoleh padanya, membuka mulut dan segera memasukan sesuap batagor pada Ara.


“Hei! Kamu curang!” seru Ara setelah menelan makanan di mulutnya.


“Tak ada cara lain,” balas Rean sambil melatakkan sepiring batagor di depan Ara “habiskan.”


Ara mendengus lalu dengan terpaksa memakan makanannya.


“Hah, sudah gitu aja? Gak seru,” ucap Nava membuat Rean memandangnya tajam.


“Jadi kamu mau yang kayak gimana?” tanya Rean.


“Yang kayak biasalah, kalian adu mulut sampai berbusa,” jawab Nava enteng menghiraukan tatapan tajam dari Rean.


Rean masih menatap tajam Nava sedangkan gadis itu hanya diam tak menghiraukan tatapan itu.


“Hai, kalian tau tentang hutan didekat rumahku?” tanya Ara seakan mengingat sesuatu.


Nava dan Rean kompak memandang ke arah Ara.


“Ara kamu gak masuk ke hutan itu kan?” tanya Rean membuat Ara menjadi bingung.


“Gak,” jawab Ara.


“Huh, syukur,” ucap keduanya kompak.


“Kenapa sih?” tanya Ara heran.


“Gak hanya saja jangan sampai kamu masuk ke hutan itu, hutan itu berbahaya,” ucap Rean.


“Benar, aku pernah dengar kabar orang yang memasukinya tak akan pernah kembali, jika kembalipun itu dengan keadaan tanpa nyawa,” ucap Nava.


“Benar, jadi Ara jangan pernah berpikir untuk memasuki hutan tersebut, kau tak ingin membahayakan dirimukan?” tanya Rean membuat Ara mengeleng seketika.


“Rean,” panggil Nava membuat Rean menoleh.


“Kenapa?” tanya Rean dengan bingung.


“Hari ini kau banyak bicara, dan tumben kata yang kau ucapkan panjang apa kau sedang senang?” tanya Nava.


Seketika Rean mendengus mendengar itu sedangkan Ara dan Nava hanya tertawa melihatnya.


“Tapi, apa hutan itu memakai sihir?” tanya Ara berbisik kecil agar tak ada yang mendengarnya.


“Apa maksudmu?!” tanya Nava berseru kaget namun dengan berbisik juga.


“Kalian tau tentang cahaya indah bewarna biru rembulan dan nila?” tanya Ara seakan mengalihkan topik.


“Tidak, aku tidak pernah mendengar ataupun membaca tentang itu,” ucap Rean.


“Iya aku juga sama,” tambah Nava.


Ara hanya mengangguk-anggukan kepalanya, “Lalu apa di hutan itu memiliki satu gerbang keluar masuk antar dunia manusia dengan Magica World?” tanya Ara membuat Nava dan Rean membelalakan matanya kaget.


“Ara apa maksudmu?” tanya Nava.


“Hutan, cahaya dan juga pemikiran tentang gerbang rahasia itu, apa kau melihat cahaya yang terpancar dalam hutan itu dan hal itu membuatmu kepikiran sampai kini?” tanya Rean membuat Ara mengerjapkan matanya.

__ADS_1


“Wah aku tak menyangka kalau aku memiliki sepupu yang peka sepertimu,” ucap Ara.


“Jadi itu benar?” tanya Rean.


“Ara ceritakan secara detail,” ucap Nava.


“Hm...bagaimana ya, kemarin malam aku bermimpi buruk jadi karena itu aku terbangun dan membuka pintu balkon kamar sekedar menenangkan diri, aku juga tak tau pasti itu jam berapa namun pastinya itu sudah sangat larut.


“saat di luar aku merasa aneh karena angin kencang yang berhembus lalu setelahnya aku melihat cahaya itu dari dalam hutan dengan suara-suara aneh memanggilku tuan putri juga...dewi ntahlah setelahnya angin aneh tadi kembali muncul dan saat berhenti cahaya juga suara itu menghilang bagai angin tadi,” jelas Ara panjang lebar.


Nava dan Rean saling pandang lalu menatap Ara dengan serius.


“Ara kamu harus berhati-hati,” ucap Rean.


“Jangan pernah memasuki hutan itu,” tambah Nava, Ara hanya mengangguk dengan polos.


Namun raut wajah polos itu berubah seketika ketika Ara merasakan aura hitam yang ia benci membuat emosinya naik.


“Ini, ada Qaranlıq di sini!”seru Ara bangkit dari kursinya tiba-tiba membuat yang melihat menjadi kaget.


Ara mengankat tangannya perlahan sulur-sulur tanaman muncul menyerang salah satu siswa yang baru saja duduk dan memperhatikannya.


Sulur-sulur itu melilit tubuh siswa tadi membuat yang melihat berteriak.


“Apa yang kau lakukan di sini!!” emosi Ara pada siswa tersebut.


“Hanya bermain-main dan mungkin melihat tuan putri yang lama menghilang,” ucapnya dengan seringai licik di wajahnya.


“Diam!” bentak Ara mengencangkan lilitan sulurnya, membuat siswa tersebut terbatuk.


“Akan kubunuh kau!,” desis Ara.


“Silakan tapi bukan kah anda harus mempedulikan sekitar anda dahulu yang mulia?” tanya siswi itu.


“Apa apan itu!?”


“Itu sihir!!!


“Sihir?!!”


“Monster! Dia monster!!” seruan demi seruan dan teriakan itu terdengar dari para murid.


“Sial,” desis Ara kesal.


Sulur-sulur tanaman kembali merambat kali ini sulur itu menyerang membabi buta.


Anak sialan!


Plak!


Ara memegangi kepalanya ingatan kejadian masa lalu yang buruk itu kembali berputar.


“Akh!” teriak Ara dengan kesakitan.


Sulur-sulur tanaman itu tak menghilang sama sekali dan malah lebih menyerang menghancur segalanya.


“Ara, tenangkan dirimu!” seru Nava berusaha menangkan Ara.


Ara menepis tangan Nava saat gadis itu ingin memegang pundaknya, Ara tetap saja berteriak ingatan demi ingatan bagai mimpi buruk itu tetap saja mendatangi.


Nava menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan melindungi para siswa dengan temeng sihir. Sedangkan Rean ia berusaha membebaskan para siswa yang terlilit sulur-sulur tanaman dan menanganinya.


Perlahan Cydymaith mendatangi mereka. Fanya, Cydymaith Nava segera membantu tuannya itu melindungi para murid begitu juga dengan Maru Cydymaith Raen yang membantu menghentikan sulur-sulur tanaman.


Aruna datang dan langsung memeluk Ara dari belakang menenangkan gadis itu.


“Lepaskan semuannya Ara, biarkan yang lalu berlalu mereka tidak akan mungkin menyakitimu,” ucap Aruna.


Perlahan demi perlahan Ara menjadi tenang sulur-sulur tanaman itupun melemah dan menghilang.


Qaranlıq yang tadinya di lilit sulur-sulur tanaman oleh Ara pun menghilang pergi.


Rean menghampiri Ara dan Aruna dan membuat Ara menjadi pingsan.


“Nava, Fanya, Maru kembalikan kantin seperti semua dan hapuskan ingatan tentang kejadian ini, setelahnya susul kami ke uks!” pinta Rean yang langsung dilaksanakan ketiganya.


Rean pergi menuju uks sambil mengendong Ara dengan Aruna yang mengikutinya.



Pukul 14.30


Sudah lebih dari 2 jam lamanya Ara masih belum juga terbangun.


“Ukh,” suara yang keluar dari bibir Ara membuat Aruna, Rean, Maru, Nava juga Fanya menoleh.


“Ara kamu baik-baik sajakan?” tanya Nava dengan raut wajah khawatir.


“Ark,” ringis Ara memegangi kepalanya saat ingin duduk.


“Hati-hati,” ucap Fanya membantu Ara.


“Ini di mana? Apa yang terjadi? ” tanya Ara.


“Kita berada di uks sekolah dan kau tak mengingat apa-apa?” tanya Aruna.


“Oh ya, Aku lepas kendali lagi,” jawab Ara membuat yang mendengarnya menjadi heran.


“Apa maksudmu dengan ‘lagi’?” tanya Maru.


“Ya lagi? Karena aku sudah pernah lepas kendali itu terjadi setiap tahun tapi tahun ini sudah mencapai 10 kali aku lepas kendali,” jawab Ara.


“Sial!” seru Rean sambil meninju dinding.


“Kalau begitu mau tak mau kau harus menerima surat itu dan kembali ke Magica World!” seru Rean.


“Tapikan....”lirih Ara.


“Apa yang kau ragukan? Apa yang kau takutkan? Ini sudah lebih dari 10 tahun Ara dan lagi jika kau tetap di sini ntah kapan kau akan lepas kendali lagi bisa jadi 2 hari kemudian,” balas Rean.


Ara kembali berguling memunggungi teman-temannya. “Aku akan pikirkan lagi jangan ganggu aku,” ucap Ara.


“Rean!” seru Nava, Fanya dan Aruna bersamaan.


Rean menghela nafasnya kasar. “Ara,” panggilnya.

__ADS_1


Ara tak menoleh, Rean menepuk bahu Ara dan ntah mengapa rasa kantuk menghampiri perlahan matanya tekatup semua tampak gelap.


“Ara cepat!”


“Kak Ara ayo!”


“Cepat kak!”


“Ara Ayo!”


Senyum terukir di bibirnya mengikuti saudara-saudaranya.


“Ara semoga kita ketemu lagi ya,”


“Ara kapan kau akan ke Magica World?”


“White, jangan tinggalkan Kakak, Kakak mohon,”


“Hah...hah...hah,” Ara terbangun dengan nafas tak beraturan.


“Ark, aku di mana?” gumamnya lalu melihat kesekeliling.


“Kenapa aku ada di kamar? Siapa yang membawaku?” heran Ara melihat kesekililing.


“Rean!” serunya kala mengingat hanya satu orang yang akan melakukannya seperti ini.


Ara bangkit dari tempat tidurnya dan dengan cepar berlari membuka pintu kamarnya.


Bruk


“Au!” ringis Ara kala menabrak benda yang terasa keras.


“Baru bangun langsung lari aja,” ucap Rean.


“Kamu tuh harus banyak istirahat, nanti kalau sakit gimana? Kan nanti jadinya payah,” omel cowok itu sembari menuntun Ara menuju kasurnya dan membaringkan gadis itu di sana.


“Eh, tap-tapi,”


“Gak ada tapi tapian,” tegas Rean.


Ara hanya diam, Rean lalu memberikan sebuah botol kecil berisi cairan bewarna hijau pada Ara.


“Minum setidaknya dengan ini kamu gak akan lepas kendali beberapa saat kedepannya,” ucap Rean.


Ara dengan patuh menuruti perintah dari saudara sepupunya itu dan meminum cairan berupa ramuan yang di berikan olrh Rean.


“Kau tau, Tante Veria marah besar mengetahui bahwa kau sampai seperti ini,” ucap Rean.


“Bagai mana dengan Baba?” tanya Ara menanyai tentang kakeknya.


“Baba langsung menyuruhmu kembali ke Magica World dan hal itu di dukung oleh semua keluarga, kini Baba ada di bawah berbincang dengan Nana,” jawab Rean.


‘Apa yang sudah kulakukan,’ batin Ara.


“Maaf,” ucap Ara.


“Untuk?” tanya Rean bingung.


“Untuk semuanya, aku telah membuat kalian susah,” ucap Ara.


“Kamu gak buat susah kok Ara, kami seperti ini karena kamu berarti bagi kami,” ucap Rean.


Ara langsung memeluk Rean menangis di pelukan sepupunya itu, Rean sempat bingung tapi kemudian dia membalas pelukan Ara.


“Menangis kalau itu membuatmu lega tapi setelahnya katakan padaku kalau kamu baik-baik saja dan bahagia, senyummu adalah kebahagian bagi kami semua,” ucap Rean.


“Terima kasih, terima kasih untukmu aku menyayangimu aku menyayangi semuanya, aku merindukan kalian, aku merindukan duniaku, aku merindukan kenangan kita,” ucap Ara.


“Jadi kau ingin kembali ke Magica World?” tanya Rean.


Ara hanya terdiam tidak mengiyakan ataupun menidakkan pertanyaan dari Rean.


Ara melepas pelukannya dari Rean menghapus air matanya yang tersisa.


“Sudah merasa lega?” tanya Rean.


“Ya,” jawab Ara sambil tersenyum.


“Ara,” panggil seorang pria dari arah pintu membuat Ara dan Rean menoleh.


Pria itu menghampiri keduanya Rean memandang Ara lalu mengacak rambut gadis itu.


“Aku yakin kau dan Baba akan membicarakan hal penting, aku keluar dulu,” ucap Rean.


Rean meninggalkan Ara dan pria yang di panggilnya Baba sang kakek, Baraz.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Baraz pada cucunya.


“Aku baik-baik saja,” jawab Ara.


Baraz duduk di tepi kasur dan mengelus kepala Ara.


“Ara aku tau sulit bagimu untuk kembali ke Magica World, tapi maaf aku harus membuat keputusan ini, dua hari lagi kita akan pergi menuju Magica World akan menjemputmu,” ujur Baraz.


“Baba yang akan mengantar? Baba nginap di sini?” tanya Ara.


“Ya, juga biarkan aku istirahat sejenak meninggalkan urusan kerajaan,” ucap Baraz.


“Aku tau Ara ini akan sulit tapi kalau tidak begini kau akan lepas kendali lagi, aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Setidaknya kau harus bangkit rebut kembali tempatmu!”seru Baraz.


“Tetap saja aku masih takut,” ucap Ara.


“Apa yang perlu kau takutkan saat kami ada bersamamu, hm?” tanya Baraz.


Ara hanya terdiam menundukan kepalanya dan memandangi tangannya.


“Baik aku tau kau butuh waktu, tidurlah, istirahatlah selama 2 hari pikirkan tentang ini baik-baik dan dua hari lagi mau ataupun tidak kau harus kembali ke Magica World tanpa ada penolakan,” tegas Baraz.


Lagi-lagi Ara hanya terdiam, lalu berguling di kasurnya memunggungi Baraz.


Baraz bangkit berdiri, “ini demi kebaikanmu,” ucapnya lalu melangkah pergi keluar.


“Ara....” lirih Aruna dari balkon kamar Ara lalu menghilang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2