Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 34 : Aria


__ADS_3

   Hari seterusnya dan seterusnya Nava tak pernah hentinya mendekati Ara walau gadis itu selalu saja mencuekinya, yang lainpun sempat heran pada Nava apa yang sebenarnya gadis itu rencanakan.


"Jangan mengikutiku Nava! Kenapa kau bertingkah kekanak-kanakan!" bentak Ara kesal pada Nava yang selalu mengekorinya.


"Aku tak bertingkah kenakan, kau lah yang bertikah kekanak-kanakan selama ini!" bentak Nava balik.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Ara lelah.


"Cukup hanya berada di sampingmu," jawab Nava lembut.


   Ara memandang lekat pada Nava yang juga memandanginya, "Ara kita telah berteman sejak lama dan beberapa hari ini kau malah mengabaikan semuanya dan fokus pada tunanganmu, aku merindukanmu Ara aku sangat merindukanmu," ucap Nava dengan lirih.


   Ara terdiam menunduk, ia memejamkan matanya sejanak lalu membukanya dan berbalik dengan cepat dia langsung saja menghilang, sihir transportasi.


   Nava menghembuskan napas lelah, ini terjadi lagi. Sampai kapan Ara menghindar darinya? Ia yakin Ara tak bermaksud begitu namun mengapa keinginannya sekuat itu? Apa karena dia tahu bahwa mereka adalah seorang Dewa-Dewi atau karena ada yang mengendalikannya?


****


   Air yang tenang, senilar angin lembut yang sejut, suasana yang sepi dan tenang, udara yang segar dan pemandangan yang indah, Ara muncul di sana, dia lalu duduk mentandar kepohon memandang lurus ke danau.


"Kita bertemu lagi gadis kecil," ucap suara seorang wanita membuat Ara menoleh bukan ke sampin kanan maupun kiri namun ke atas pohon.


    Wanita berambut pirang terang dibawah bahu dengan sedikit gelombang di ujungnya, matanya mata biru jernih seperti permata safir yang indah senyumnya lembut dan misterius dalam sekaligus lalu baju seragam Academynya kini berganti jubah indah tampak mewah bewarna biru lembut.


"Kau? Kenapa kau ada di sini?" tanya Ara heran, wanita itu melomoat turun denfan sempurna mendarat di tanah dan duduk di samping Ara.


"Apa ada yang salah jika aku ada di sini? Aku sedang mencari suasana dan ngomong-ngomong hm...," ucap wanita itu sambil melihat penampilan Ara.


"Gadis kecil yang kulihat dulu kini telah menjadi dewasa, pantas saja banyak yang menyukaimu kau sangat menarik," ucap wanita itu sambil tersenyum.


   Ara mengerjapkan mata bingung menatap lekat wanita tersebut, apa yang baru saja dia katakan? Ara sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan wanita itu.


"Hai ngomong-ngomong namaku Aria," ucap wanita itu memperkenalkan diri, Ara hanya diam tak membalas, apa maksud dari wanita ini sebenarnya.

__ADS_1


"Tak perlu bingung begitu Nona kecil nah jadi bagaimana kabarmu, hm...Ara? Bukankah itu namamu? Aku sangat suka nada candelmu saat mengatakan itu buka 'Ala tapi Ala,' hahaha aku masih mengingat bagaimana mengemaskan nya dirimu," ucap Aria sambil terkekeh mengingat kenangan itu.


"K-Kenapa kau mengingat itu?!" tanya Ara berseru tak percaya dengan muka memerah malu.


   Ara memalingkan wajah kearah lain sedangkan Kina masih saja tetap terkekeh.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Ara.


"Aku sudah mengatakan aku mencari suasana baru, ya aku lelah berkelana di magica world jadi aku memutuskan untuk bersantai di tempatmu berada," ucap Aria membuat Ara menoleh padanya dengan ekspresi bingung.


"Apa maksudmu? Dan ini sudah lama bukan? Kenapa kau masih mengingatku?" tanya Ara.


"Siapa yang bisa melupakan gadis sepertimu. Aura yang dibawamu kuat, kau pahlawan baru," ucap Aria.


"Maksudmu? Kau juga menggapku sebagai Dewi Nindiga?" tanya Ara sambil mendengus kesal.


"Hehehe apa ada yang salah? Mengapa kau tampak kesal bukankah kau sangat menganggumi sang Dewi?" tanya Aria.


"Ya Half yang memiliki segala darah di tubuhnya," ucap Aria seakan meremehkan namun nyatanya tidak wanita itu tersenyum lembut saat ini.


"Dan ini juga sebabnya kau menjauhi teman-temanmu," ucap Aria membuat Ara menunduk.


"Aku menyayangi mereka namun mereka tidak mereka menganggapku sebagai orang lain," lirih Ara sambil mengangkat kepalanya dan memandang lurus ke danau.


"Mungkin di saat tertentu memang nereka menganggapku sebagai diriku namun...duniaku dan mereka berbeda, mereka adalah Dewa dan Dewi sedangkan aku makhluk Half Magica World aku hanya sebuah makhluk kecil jika berhadapan dengan mereka," ucap Ara.


"Hanya perasaanmu saja? Jika kau melihat lebih dalam kau akan mengetahui mereka Ara. Bukankah kau memperhatikan itu mereka semua merindukanmu, mereka merindukan kebersamaan bersamamu," ucap Aria membuat Ara terdiam.


   Wanita itu berdiri dan mendekati danau, melihat itu Ara juga berdiri dan berjalan mendekati danau berdiri di samping Aria yang tersenyum lembut.


"Ara katakan apa yang kau dengar di dalam air?" tanya Aria.


   Ara diam matanya fokus menatap air, di dalam pikirnya muncul banyak suara, dia seakan melihat warna lembut didepan matanya dan mendengarkan suara-suara itu.

__ADS_1


"Hanya ada ikan kecil dan air yang tenang?" ucap Ara seakan bertanya.


"Lihat lebih dalam lagi," ujar Aria tersenyum lembut.


    Ara lebih memfokuskan dirinya kini ia menutup matanya berkonsentrasi.


    Ara tak membuka matanya ia merasakan ada aliran tenang, suasana yang menenangkan, ia seakan berada di dalam air kini, Ara melihat sesuatu, sebuah cahaya kecil, peri air yang menari mengitari sesuatu, tepat di tengahnya terdapat sebuah cahaya terang seakan cahaya itu berasal dari benda yang sangat langkah dan berharga.


'Oh warnaku, sebuah kenangan, aku belahan dirimu yang kau tinggalkan saat tiba-tiba kau berkumpul menjadi sesuatu hal yang penting, aku ingin kita kembali lagi karena bagaimanapun kau dan aku adalah satu tanpa kita Magica World tak akan lengkap bukan namun kehidupan para makhluk itu menjadi sebuah sia-sia, temukan pecahan terakhir kita. Kita dulu berpecah menjadi tiga dan kau adalah yang utama, maka aku sebagai pendaping akan bersatu denganmu.'


   Suara itu terdengar dari cahaya yang di kelilingi oleh para peri air, cahaya itu semakin terang dan menyilaukan, Ara melihat dengan jelas, air? Wanita? Atau bayangan? Di depannya kini ada seorang wanita yang tersenyum lembut, Matanya bewarna biru lautan dalam, rambutnya lembut bewarna pirang.


   Wanita itu menyatukan keningnya dengan kening Ara ia memegangi tangan Ara, wanita itu mendekat mempersempit jarak lalu mereka seakan menyatu dengan cahaya terang dengan peri air yang mengelilingi dan dengan mata Ara yang seperti bercahaya.


   Mata Ara terbuka lebar tubuhnya terasa dingin di dalam tubuhnya seakan ada yang mengalir dengan deras, napas Ara terengah-engah tak beraturan, kepalanya sakit.


"Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa membaca pikiran seseorang bahkan juga para Dewa-Dewi jadi siapa kiranya kau sebenarnya?" tanya Aria sambil tersenyum


"


Siapa...aku sebenarnya?" tanya Ara dan tiba-tiba semuanya gelap gadis itu pingsan dan terjatuh, ya terjatuh diantara akar tanaman yang menjalar.


   Aria tersenyum sambil memetik bunga yang menjalar menjadi tempat bergulingnya Ara, Aria menghirup Aroma bunga berkelopak indah itu.


"Bunya Indi, bunga kesukaannya Dewi Calarina, cukup sulit menemukan bunga ini bukan begitu?" ucap Aria tersenyum pada Ara yang terlelap.


   Tubuh Ara bercahaya dan menghilang, Aria baru saja memindahkannya dengan sihir miliknya.


"Tempat ini akan menjadi tempat kita bertemu," ucap Aria tersenyum lalu dirinya perlahan menghilang berubah menjadi kelopak-kelopak bunga dengan warna yang indah.


Bersambung....


  Jangan lupa like, vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2