
Veria memandang tajam pada kabut yang di buat oleh dinding yang hancur dari sana tampak seorang pria yang berjalan santai memasuki dinding yang telah di hancurkan.
“Anda bersiap-siap untuk apa kepala sekolah EA?”
Ara menatap tajam pada pria yang baru saja menghancurkan dinding academy, ia memeluk erat Noemi yang juga memeluknya dengan erat.
“Dimon,” desis Veria.
“Oh, saya sangat tersanjung anda mengingat nama saya, jadi bagaimana bukankah ini kejutan yang sangat mengejutkan?” tanya pria yang bernama Dimon.
“Dan lihat ternyata anda telah kembali yang mulia Kinara atau Deria? Atau saya harus memanggil anda dengan nama asli anda?” tanya Dimon membuat Ara menatapnya kian menajam.
“Berhenti bermain\-main Dimon!” seru pria lainnya yang juga datang dari tembok yang di hancurkan.
“Oh, ayolah Vamtar aku hanya ingin memberi salam pada tuan putri kita yang baru kembali,” ujur Dimon.
Pria yang dipanghil Vamtar itu menoleh pada Ara lalu tersenyum dengan jahat. “Wah aku tak menyangka kau benar\-benar membawa tuan putri dunia ini kembali kesini,” ucap Vamtar yang kini benar\-benar membuat Ara menjadi kesal.
“Tentu, kau tak perlu menanyakan kemampuanku lagi,” ucap Dimon dengan sombong.
“Terserah kau saja, jadi yang mulia apakah anda bisa menyerahkan bayi itu pada kami? Bukankah ia merepotkanmu?” tanya Vamtar pada Ara.
Awalnya Ara menatap tajam mereka namun kemudian ia tertawa terbahak membuat yang melihat menjadi bingung.
“Kalian menginginkan bayi ini?” tanya Ara.
“Ya seperti yang anda dengar tadi,” balas Dimon.
“Cih para Qaranlıq sialan! Pertama kalian membuatku lepas kendali lalu kalian ingin mengambil bayi tak berdosa untuk membunuhnya, kalian kira aku akan membiarkan itu?” tanya Ara menatap tajam pada 2 pria itu.
“Baik, anda tak ingin memberikannya secara halus jadi maaf saya harus mengambil bayi itu dengan kasar,” ucap Vamtar.
Dimon mengucapkan beberapa mantra begitu juga dengan Vamtar lalu sedetik kemudian beribu pasukan datang di belakang mereka.
“Bagaimana jika kita langsung memulai saja?” tanya Dimon lalu para pasukan Qaranlıq itu segera menyerang.
Veria berserta para murid termasuk murid asrama 02 segera menyerang balik namun setiap di serang dan mati para pasukan itu kembali hidup.
“Apa\-apaan ini!” seru Leo kesal.
“Bagaimana bukankah ini menyenangkan mereka tak akan pernah kalah,” ucap Dimon.
Ara mengeram kesal cahaya menyelimuti tangannya dan keluar sebilah pedang dari cahaya tersebut. Ara menebaskan pedangnya dalam sekali tebas beberapa pasukan menjadi kalah namun ia kembali hidup.
“Ara!” seru Aruna datang bersama beberapa Cydymaith yang segera menghampiri tuan mereka masing\-masing.
“Yang di luar sudah habis semua namun ada beberapa yang seperti mereka,” ucap Aruna.
“Bagaimana cara kita mengalahkannya?” tanya Ara sambil menebas beberapa Qaranlıq yang menyerang.
“Hanya satu, memotong tali kematian mereka,” jawab Aruna.
“Jadi itu sebabnya mereka memiliki benang\-benang itu? Runa kamu siap?” tanya Ara.
“Selalu siap,” jawab Aruna sambil menyeringai.
Pedang Ara menghilang kini ia meletakkan sebelah tangannya di punggung Aruna sedangkan yang satu lagi mengendong erat Noemi.
“Parādiet sevi personai, ka es atļaujos, pārtrauksim ļauno nāves pavedienu,” ucap Ara membaca mantranya.
Cahaya menyelimuti mereka Aruna melebarkan matanya benang\-benang bewarna hitam terlihat olehnya.
“Saya siap memulai Nona,” ucap Aruna dengan seringai penuh kesenangan, ia segera menyerang para Qaranlıq itu dengan bruntal.
Ara menghembuskan napasnya pelan lalu mengucap sepenggal mantra cahaya kembali menyelimuti tombak bukan namun sabit yang terpadu dengan tombak muncul ditangannya.
Sekali tebas para Qaranlıq mati dalam keadaan menganaskan, seperkian detik berlalu telah banyak dari makhluk\-makluk itu mati.
“Aruna pancing mereka keluar!” seru Ara berteriak pada Aruna.
Aruna mengangguk ia terus menyerang sambil memancing para Qaranlıq itu keluar dari kaferia, Ara memeluk erat Noemi yang masih setia berada di gendongannya.
Beberapa mantra keluar dari mulut Ara, setelahnya gadis itu menebaskan sabitnya dan semua Qaranlıq yang ada di ruang itu mati tak tersisa.
“Ara apa yang kau lakukan?!” tanya Veria berseru tak terima.
Ara terlalu banyak mengeluarkan kekuatan baginya apalagi ia baru saja kembali, kekuatan Ara tak sekuat itu dengan membiarkan semua orang sembuh dengan kekuatannya dan memperbaiki kaferia juga menebas para Qaranlıq.
“Mom jaga para murid, Noemi tetap bersamaku,” ucap Ara.
“Ara!” geram Veria ketika melihat keponakan yang dianggapnya sebagai putrinya sendiri itu melompat pergi keluar di mana Aruna sedang bertarung dengan para Qaranlıq.
Veria berjalan hendak menyusul dan membantu Ara namun langkah terhenti ketika seseorang memegang bahunya membuatnya berbalik dan melihat Raj dengan wajah datarnya seperti biasa.
“Dia dapat mengatasinya, apa yang kau khawatirkan,” ucap Raj membuat Veria mendesah frustrasi.
“Kau tak akan m\-,”
“Kalau bukan sekarang kapan lagi? Jangan melarangnya bagai dia anak kecil Ve, ini takdir yang ia buat,” potong Raj.
“Ya tapi....” lirih Veria lalu menubrukkan dirinya pada Raj, ia memeluk erat pria itu.
“Dia harus mengingatnya, ok kalau kamu khawatir namun jangan mengekangnya karena itu membuat prosesnya jadi lama dan bisa\-bisa ia akan selalu lepas kendali jika ia tak menemukan permata itu, mengharapkan matenya tak mungkin karena Ara pasti akan menolak matenya yang datang secara tiba\-tiba atau yang belum ia temui,” ucap Raj agak berbisik.
Veria terisak kecil bagaimanapun dalam benaknya Ara dalah putri kecilnya yang ia besarkan segenap hatinya dan ia tak ingin putrinya kenapa\-napa.
“Mereka semakin banyak saja!” kesal Aruna.
__ADS_1
“Runa jaga\-jaga!” seru Ara sambil menebas Qaranlıq yang menyerang Aruna karena Cydymaithnya itu lengah.
“Jangan sampai lengah,” ucap Ara ketika kini punggung mereka saling menempel dan siap untuk menyerang.
“Ayo kita akhiri ini dan berikan bayi itu pada kami!” seru Dimon dengan bosan.
“Tidak! Dan tak akan pernah!” seru Ara.
“Oh ayolah apa susahnya, kalian tingal memberikan bayi itu pada kami dan kami akan pergi semua selesai,” ujur Dimon.
“Mulutmu begitu manis tuan tapi kami tak akan memberikannya,” ucap Aruna sambil menyerang Dimon.
Namun dengan cepat Dimon menebasnya, sambil menyeringai dan itu membuat Aruna menjadi amat kesal.
“permainan yang menyenangkan tuan putri tapi bagaimana jika anda mengeluarkan Henkō anda?” tanya Vamtar yang melayang di dekat kaferia dan pertanyaan itu dapat di dengar oleh semua murid academy.
“Henkō apa maksudnya itu?” heran Veria.
“ARA PUNYA HENKŌ?!” teriak Nava, Atta, Leo, Rean, Vina dan Vino.
“Membual, apa tujuanmu mengatakan itu?” tanya Ara dengan seringai di wajahnya.
“Tak mengapa hanya ingin melihat bagaimana rupa Kaisar Harimau putih salju juga Kaisar macan kumbang hitam,” ucap Vamtar dengan santai.
“Hal yang harus kau perhatikan jangan lengah saat bertarung!” seru Ara yang ntah kapan sudah berada di belakang Vamtar.
Ara mengayunkan senjatanya kearah Vamtar namun dengan cepat pria itu menghindarinya.
“A gaga eeuu,” celutu Noemi sambil tertawa girang.
“Oh, ini menyenangkan dia tampak senang namun naas umurnya tak panjang lagi,” ucap Dimon yang tiba\-tiba berada di belakang Ara.
“ARA AWAS!!” seru Aruna sambil menahan lukanya.
Dimon mengayunkan senjatanya pada Ara namun sebelum itu terjadi tubuhnya telah lebih dulu di lilit oleh tanaman begitupun dengan tubuh Vamtar.
Bulan besinar terang menyinari pekatnya malam, Ara berdiri tubuhnya seperti disinari ia sangat mengagumkan sekaligus kejam dan bengis dengan seringai di wajah cantiknya.
“Wah, kalian tau kalian harus mengetahui siapa lawan kalian dahulu,” ucap Ara masih setia dengan seringainya.
“Banyak yang mengira kekuatanku melemah karena telah lama di bumi, satu hal yang harus kalian tau kekuatanku tak pernah melemah, malah makin bertambah hingga tak jarang lepas kendali,”ucap Ara.
“Satu yang kurasakan saat kembali kekuatan yang mengumpul!”seru Ara sambil menebaskan senjatanya pada Dimon.
“Ini karena kau membuatku kembali ke sini! Ini karena kau ingin membunuh nyawa yang tak berdosa dan ini karena kau menyakiti Aruna!” seru Ara sambil menebas, nebas Dimon tanpa ampun.
Darah hitam mencuar dari tubuh Dimon dalam sekejam ia menghilang meninggalkan bekas jejek darah di tanah.
“Mengerikan! Anda seperti monster!” seru Vamtar sambil menyeringai dan tentu ia kini telah lepas dari belitan tanaman yang membelit tubuhnya.
Noemi menyatukan keningnya dan kening Ara membuat Ara sedikit tenang sambil menutup matanya.
“Tak mengapa Dewiku, aku tak masalah selamanya aku akan selalu ada di sisimu, menjadi pelindungmu tunggu aku,” ucap suara yang ntah dari mana datangnya.
Mata Ara terbuka lebar ia memandang lekat Noemi yang di balas senyum manis dari bayi itu.
“Emy...” lirihnya.
Vamtar tak menyia\-nyiakan kesempatan itu, ia mengumpul kekuatannya lalu secara diam\-diam menyerang Ara dari belakang.
“ARA AWAS!!” seru Rean dan yang lainnya yang berada di atas.
“Sial! Kenapa kita tak bisa keluar!” seru Leo dengan kesal sambil memukul\-mukul perisai yang mengurung mereka semua.
“PERGI!” teriak Ara yang dapat terdengar di sepenjuruh sekolah.
“Pergi! Sebelum aku berubah pikiran!”bentaknya.
Ara menebaskan senjatanya dalam sekejap para Qaranlıq yang bersembunyi mati dengan mengeluarkan darah hitam dan menghilang, Vamtar yang mendapati luka besar di bahunya segara menghilang ia rasa cukup untuk saat ini karena kini Ara tak bisa di lawan.
Napas Ara sesikit ngos\-ngosan, perisai yang melindungi para murid menghilang membuat yang berada di kaferia segera keluar dari sana.
“Runa!” seru Ara segera menghampiri Aruna.
Ara memegangi Arauna perlahan cahaya bewarna hijau menyinari dan dalam sekejap luka yang ada di tubuh Aruna menghilang.
“Padahal, kau juga kesakitan Ara tapi kau menyelamatkanku,” ucap Aruna.
“Ya aku sakit saat kau terluka,” ujur Ara tersenyum membuat Aruna juga membalas senyum itu dengan lembut.
“Jaga Noemi sebentar,” ujur Ara sembari memberika Noemi pada Aruna.
Ara berjalan kearah darah hitam yang masih berserakan tempat Dimon tadi menghilang.
Dari sana terlihat pantulan cahaya, seperti ada beling atau permata? Atau memang salah satu dari itu?
Ara menjalan mendekatinya tangannya terangkat bersemaan dengan sebuah pecahan permata yang sangat mirip dengan kalungnya – bewarna nila yang indah – tidak itu memang permata yang sama.
Kalung yang dipakai Ara terangkat dengan mengeluarkan sinar begitu juga dengan pecahan permata itu lalu keduanya menyatu dan hampir membentuk sebuah bentuk runcing.
“Kenapa permatanya bisa berada dengan Qaranlıq?”heran Ara.
“Kurasa itu yang membuat mereka menjadi kuat, kau tau Ara membuat makhluk yang tak bisa mati itu sulit dan permata kekuatanmu itu mereka manfaatkan untuk itu,” balas Aruna.
“Kau tau tentang permata ini?” tanya Ara lagi.
“Tau dan sangat tau, aku tau semua tentangmu,” jawab Aruna.
“Ara!” seru Nava berjalan menghampiri Ara bersama Veria, Raj dan yang lainnya.
__ADS_1
“Kau baik\-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Nava dengan khawatir.
“Tak ada yang terluka tenang saja,” balas Ara sambil tersenyum lembut.
“Ara cahaya tadi, itu cahaya apa?” tanya Valeria dengan penasaran.
“Ntahlah aku tak begitu tau,” jawab Ara dengan tenang.
“Ara...” lirih Veria.
“Mom...semua selesai dan aku selamat kan,” ucap Ara.
“Apa yang selamat! Kalau kau tak waspada kau bisa mati!”seru Veria berteriak, dia Khawati juga ketakutan jika saja Ara, Ara tadi terluka dia takkan bisa membayangkannya, jika Ara mati maka dunia ini akan hancur juga hatinya.
“Aku takkan mati semudah itu, aku tak akan mati ya karena sebuah tugas yang mungkin belum selesai,” ucap Ara tersenyum membuat Veria melebarkan matanya memandang lekat putrinya itu.
“Yap, Tuan Putri kau melakukannya dengan sangat baik,” ucap Raj sambil bertos dengan kepalan tangannya bersama Ara.
“Yes, aku tau itu dan aku adalah yang terbaik bukan begitu Dad,” ujur Ara.
“Tentu saja kau yang terbaik,” balas Raj.
“Ua hoam,” guman tak jelas dari Noemi sambil menguap.
“Oh sayangku kau mengantuk? Tentu saja kau mengantuk setelah dibawa dalam pertarungan sengit bersama Mamamu,” ujur Karin pada Noemi.
“Apa tadi menyenangkan?”tanya Fioren pada Noemi di balas celutukan riang dari bayi itu.
“Noemi sudah ngantuk ya? Kita tidur yuk!” ajak Ara menjulurkan tangannya membuat Noemi langsung dengan gembira meloncat kepelukannya.
“Udah malam, kami duluan,”ucap Ara.
“Dan satu lagi jangan ada yang membahas tentang hari ini, soalnya hanya penghuni asrama 02, Mommy sama Daddy aja yang tau,” ujur Ara dan langsung menjentikan tangan dalam sekejap semua murid yang melihat kejadian tadi tersadar dan yak mengingat apa\-apa tentang kejadian itu.
“Permata tadi itu permata apa?” tanya Zen berbisik pada Ara.
“Bisakah kau tak penasaran dengan itu? Tapi aku kagum penglihatanmu cukup jeli,” ucap Ara.
“Nah gendong Noemi ayo ke asrama!” seru Ara pada Zen sambil memberikan Noemi pada pria itu lalu mereka bertiga segera pergi.
“Hai Runa lama tak bertemu,” sapa Elef, Cydymaith Zen.
“Kenapa kau ada di sini?!” tanya Aruna berseru kaget.
“Ntahlah tapi yang pasti aku ada urusan denganmu,” ujur Elef dan dengan segera merangkul Aruna.
“El\-Elef,” panggil Aruna.
“Yes honey kita punya banyak urusan yang harus di selesaikan,”ucap Elef tersenyum dan pergi membawa Aruna.
“Hei apa mereka berdua sepasang kekasih?” tanya Firta Cydymaith Leo pada Maru.
“Ntahlah aku tak tau,” jawab Maru.
“Apa kalian tidak lelah ayo pergi!” ajak Fanya pada teman\-teman Cydymaith dan mereka segera pergi menghilang meninggalkan Veria, Raj dan penghuni asarama 02.
“Mereka semua parah, mereka meninggalkan kita!” seru Shun.
“Hei apa benar Aruna dan Elef sepasang kekasih?” tanya Valeria dibalas angkatan bahu tanda tidak tau dari teman\-temannya.
“Ngomong\-ngomong apa Ara tak takut berdekatan dengan Zen?” heran Leo.
“Ntahlah namun aku khawatir jika bulan purnama datang,” balas Zucca
“Hanya ada dua pilihan saat itu,” tambah Zac.
“Sudah anak\-anak kembalilah ke asrama kalian,” ujur Veria lalu berjalan pergi di ikuti dengan Raj.
Sementara itu...
“Hah...aku tak sabar mendengarkan gosip pagi nanti,” ujur Ara.
“Ingatan apa yang kau tukar dengan para murid?” tanya Zen.
“Apa kau perlu tau?” tanya Ara balik membuat Zen terdiam, “Kau akan segera mengetahuinya.”
Zen masih terdiam tapi ia memberikan sebuah buku pada Ara, buku yang sebelumnya telah di minta oleh gadis itu.
“Terima kasih bukunya, aku akan segera mengembalikannya,” ucap Ara sambil tersenyum senang pada Zen lalu segera pergi menuju kamarnya.
“Aku benar\-benar tak sabar menantikan hari esok,” gumam Ara sambil berbaring di samping Noemi.
\*\*\*\*
Bunyi pecahan terdengar di ruangan gelap itu.
“Apa maksudmu Dimon mati dan kau tak mendapatkan bayi itu!?” seru pria tua itu dengan marah.
“Maaf yang mulia namun Tuan Putri mengeluarkan kekuatannya membuat seluruh pasukan mati,” jawab Vamtar.
“Susun kembali rencanamu aku tak ingin adanya kegagalan!”seru pria itu.
“Baik saya akan segera mepaksanakannya yang mulia,” ujur Vamtar lalu berjalan pergi meninggalkan pria tadi.
Pria itu tersenyum dengan bengis, “Tuan Putri? Aku sangat menantikan hari dimana kau mati dan aku yang menguasai dunia ini! HAHAHAHAHA”
Tawa jahat mengema malam itu kastil menyeramkan itu diliputi kabut tebal dan permainannya baru saja di mulai.
TBC
__ADS_1
“*Benang takdir milikku ini adalah pengendali semuanya, pengendali takdir semua makhluk*,"