
Langkah gemeresek rumput yang di pijak terdengar. Ara dan Zen berjalan di hutan gelap itu dengan penerangan sihir cahaya dari Zen.
“Zen kapan kita sampai?” tanya Ara.
“Sebentar lagi,” jawab Zen.
“Dari tadi kau menjawab sebentar lagi, sebentar lagi tapi kita tak sampai-sampai!” marah Ara.
“Ya salah kau sendiri aku menyarankan pergi pagi tapi kau tetap ingin hari ini,” ucap Zen dengan cueknya.
“Ayolah lagipula besok hari libur dan aku ingin tidur tubuhku lelah,” ucap Ara sambil memutar bola matanya malas.
Beberapa saat kemudian keheningan melanda, bunyi bintang malam yang bernyanyi terdengar. Ara memeluk lengan Zen karena merasa takut dan tentunya hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Zen.
“Zen kapan kita sampai?” tanya Ara namun Zen tetap diam tak menjawab.
“Hei Zen!” seru Ara dengan kesal karena tak mendapatkan jawaban sama sekali.
Ara mendogak memastikan kalau yang ia peluk ini adalah Zen takut-takut nantinya ini adalah makhluk astral menyeramkan, kan Ara bisa berabe nantinya.
Ara memperhatikan wajah Zen yang serius memandangi kedepan. Wajahnya tampan, mata bewarna biru rembulan, rambut hitam sehitam malam, hidung mancung, bibir yang selalu menampilkan senyum jahil padanya dan mata tajam yang penuh kewaspadaan seakan\-akan wajahnya memang telah di pahat dengan sempurnanya. kenapa Ara baru menyadari kalau selama ini ia selalu di dekat pria setampan ini?
“Ok Nona sudah cukup mengangumiku? Kita sudah sampai,” ucap Zen sambil menatap Ara.
“Si-siapa yang mengangumimu jangan percaya diri,” ucap Ara gugup sambil melepas pelukannya dari tangan Zen.
“Hehe sebenarnya tak masalah kau memperhatikan wajahku seperti itu asalkan aku menerima bayaran,” ucap Zen mengerling genit pada Ara.
“A-apa? Mesum! Aku tak akan pernah menciummu!” seru Ara kesal membuat Zen tersenyum jahil.
“Hei Ara siapa yang bilang aku ingin kau menciumku? Aku hanya ingin kau membayar dengan makanan,” ucap Zen seketika membuat muka Ara memerah seperti kepiting rebus, ia malu.
“Y-ya terserah kau saja, jadi di mana tempatnya?”tanya Ara mengalihkan topik guna menghilangkan rasa malunya.
“Di depan kita,” jawab Zen.
“Pohon ini?” tanya Ara heran.
Pohon tinggi besar di terangi sinar rembulan pohon yang sekilas tampak menyeramkan namun kalau di perhatikan lagi pohon ini sangatlah indah.
“Ya,” jawab Zen sambil terkekeh melihat Ara yang heran.
Zen menyentuh pohon tersebut lalu seakan memberikan jalan pohon itu terbuka, Zen mengengam tangan Ara menuntun gadis itu agar masuk ke dalam pohon tersebut.
Buku ya itulah yang pertama kali yang di lihat Ara di dalam pohon itu ada beribu\-ribu buku.
Bunyi kepakan terdengar suara burung mengema, burung berbulu emas itu terbang mengelilingi ruangan karena senang melihat kehadiran Zen dan Ara.
“Ada apa Algan, oh ada tamu rupanya,” ujur seorang pria sambil tersenyum mengahampiri Ara dan Zen.
“Apa yang anda perlukan tuan?” tanya pria tersebut pada Zen.
“Berikan apa yang di inginkan gadis ini!” Pinta Zen.
“Baiklah, Algan!” seru pria itu.
Burung berbulu emas tadi turun ia berdiri di atas pundak pria tadi.
“Berikan buku yang di inginkan Nona ini,” ucap pria itu membuat burung tadi berkicau lalu terbang.
“Ikuti dia Ara,” ucap Zen pada Ara, Ara segera mengikuti burung tersebut.
“Sang Dewi benar-benar ingin mencari ingatannya yang hilang?” tanya pria itu pada Zen.
“Ya setidaknya kau harus senang Sena karena ini bukanlah akhir dari Magica World kalau saja ia mengingat ingatannya,” jawab Zen.
“Sepertinya begitu,” jawab pria itu Sena.
Ara datang kembali bersama dengan burung berbulu emas, ia menghampiri Zen dan Sena.
“Sudah selesai ada yang kau inginkan lagi?” tanya Zen dibalas gelengan oleh Ara.
“Baiklah kalau gitu ayo pergi!” ajak Zen sambil menggandeng tangan Ara.
“Hm makasih karena membolehku meminjam buku dan sampai jumpa lagi,” ucap Ara berpamitan pada burung berbulu emas juga Sena.
Zen mengandeng tangan Ara ia menuntun gadis itu sampai ke asrama. Ara menyerengit heran bukankah tadi perjalan mereka sangan jauh? Kenapa kini mereka cepat sampai di asrama.
“Zen kenapa kita cepat sampai?” tanya Ara.
“Tentu saja karena memang jaraknya sedekat itu, tadikan aku hanya membawamu berkeliling,” ucap Zen dengan wajah tanpa dosa.
Ara melotot tek percaya pada pria itu. “ZEN!” seru Ara berteriak dengan marah.
“Maaf honey,” ucap Zen mengecup cepat bibir Ara lalu segera pergi memasuki asrama.
“ZENNN!!!!”
Dua hari kemudian....
semua murid academy berkumpul di lapangan usut punya usut kepala sekolah akan mengumumkan tentang lomba yang diadakan Academy dengan mengundang seluruh Kaisar dan Raja yang ada di masing-masing kerajaan.
“Baiklah anak-anak seperti yang telah di ketahui bahwa kita akan mengadakan lomba bukan hanya antar murid Academy EA saja namun Academy lainnya dan akhir lomba kita akan mengadakan pesta penutupan di kerajaan İki qılınc,” ucap Veria memberi pengumuman.
__ADS_1
“Kelompok sesuai dengan asrama masing-masing. Maka dari itu untuk seminggu kedepan kita akan berlatih, pelatihan akan ada 10 asrama yang akan berlati bersama-sama jadi persiapkan diri kalian baik-baik. Pembagian pelatihan telah ada di papan pemberitahuan silakan lihat di sana. Baiklah cukup sekian kalian boleh bubar,” ucap Veria mengakhiri pengumuman.
Di depan mading pemberi tahuan banyak siswa dan siswi yang berkumpul untuk melihat pengumuman diantara mereka semua Fioren baru saja keluar dari kerumunan bersama Nava menghampiri teman-teman mereka.
“Kita bersama asrama 01, 11, 35, 79, 20, 12, 08, 51 dan 45,” ucap Nava memberi tau.
“Ini menyebalkan!” seru Karin.
“Kenapa kita harus bersama mereka,” ucap Fioren dengan datar.
“Aku benar-benar membenci murid-murid yang ada di asrama itu,” ucap Leo sambil mengacak rambutnya kesal.
“Tapi setidaknya mereka saingan yang lumayan,” ucap Luif.
“Benar! Ayo kita mengaduk ramuan!” seru Valeria dengan semangat.
“Hah dasar penyihir,” ucap Shun.
“Teman-teman kita satu asrama ada berapa orang?” tanya Ara membuat semua menoleh padanya.
“Ara, Ara, Ara kau sudah sebulan di sini, kami selalu bersamamu dan kau tak menghintung jumlah semuanya!” seru Zac berkacak pinggang.
“Aku menghitungnya kita ada...hm empat belas?” tanya Ara.
“Kalau sepuluh hitunganmu dari mana Ara?” tanya Zen mencubit pipi Ara gemas.
“Ampun deh kita ada lima belas orang Ara,” ucap Nava sambil menepuk jidatnya.
“Maaf kepalaku terlalu banyak menyimpan memori,” ucap Ara.
“Bukankah kita waktu latihan menjadi 150 orang?” tanya Vino.
“Ya dan kita harus bersama murid-murid sombong itu selama seminggu ini,” ucap Zucca dengan tak semangat.
“Sudalah ayo ke asrama aku ngantuk,” ucap Ara sambil memeluk lengan Zen.
“Kau tak lelah selalu tidur Ara,” ucap Vina dengan datar.
“Tidur itu hidupku!” seru Ara dengan melepaskan pelukannya dari tangan Zen dan mengepalkan tangannya.
“lagi pula kita butuh tenaga untuk lomba jadi jangan buang-buang tenaga untuk murid-murid tak berguna,” ucap Ara sambil berjalan terlebih dahulu.
“Kau benar! Lebih baik aku juga tidur saja!” seru Zucca sambil mengikuti Ara.
“Aku suka gayanya yang santai itu sampai membuatku gemas dan pusing,” ucap Zac.
“Tapi hai sepertinya benar, tak ada salahnya kita hanya tidur dan tak mempedulikan murid-murid tak berguna itu,” ucap Fioren lalu dengan ceria mengikuti Zucca dan Ara.
Zen, Zac, Luif, Shun, Rean, Leo, Vino, Nava, Vina, Valeria, Karin dan Atta saling pandang lalu mereka mengangkat bahu mereka tak peduli lalu mengikuti Ara, Zucca dan Fioren.
“Hei Ara tunggu kami!” seru Rean.
“Wow ini akan menjadi lomba yang menyenangkan,” ucap seorang siswa yang memakan permen tangkai dengan pakaian academy lain lalu menghilang.
Hari 1 latihan
“Ck, apa aku harus mencari hewan sihir lagi?” tanya Ara bergumam.
‘Sepertinya memang begitu, lagi pula kau bisa menampung banyak hewan sihir,’ telepati Kabi.
‘Dan tak mungkin kau akan menampilkan Hankō seperti kami bukan? Bisa-bisa Magica World bisa gempar,’ kali ini Nami yang berucap.
“Hehe benar juga,” ucap Ara kecil sambil terkekeh.
“Ara ayo!” seru Atta.
Ara mengikuti teman-temannya masuk yang ternyata telah terlebih dahulu masuk kedalam hutan. Di dalam hutan mereka berpencar.
“Wah aku tak tau jika hutan para hewan sihir di academy memiliki tempat seindah ini!” seru Karin sambil memandangi danau dengan air terjun di depannya dengan takjub.
Cerpikan air terdengar membuat karin menoleh memicingkan matanya ketika melihat sesuatu yang ada di tengah danau, bentuknya seperti kuda tapi kenapa ada kuda di tengah danau?
Karin meloncat kedalam air pakaiannya tiba-tiba berubah, kakinya menjadi ekor, Karin berenang dengan lincah dan cepat ke tengah danau, matanya membelalak yang di lihatnya tadi bukan hanya sekedar kuda. Tubuhnya memang kuda namun ia memiliki ekor ikan.
“Kau gila karin, kau sedang mendekati maut, itu hip-hippocampus,” gumam Karin dengan muka pucat.
Hewan itu hippocampus mendekat ke arah Karin. Karin menahan nafasnya sambil mundur perlahan karena takut tapi kini hippocampus itu malah berlari ke arahnya Karin kira makhluk itu marah kepadanya dan ia ingin menyerang gadis itu membuat Karin spontan menutup matanya.
Namun pikiran negatif karin hilang dengan segera ketika hippocampus itu berseru dengan gembira.
“Hei, Hei kau ingin mencari hewan sihir bukan? Bagaimana jika aku menjadi hewan sihir mu! Kau tau aku adalah jenis Hankō! Dan oh ya namaku Cana!” seru hippocampus bernama Cana itu membuat Karin menjadi bingung.
“Hm jadi kau tak akan memakanku? Apa kau benar-benar Hankō? Kenapa kau di sini? Apa kau bisa berubah? Siapa aku? Aku di mana?” tanya Karin dengan di akhiri pertanyaan ngawur.
“Oh sudalah jadi apa kau benar-benar hewan sihir?” tanya Karin.
Cana sempat tercengang melihat calon tuannya namun ia kemudian terkekeh kecil. Dalam sekejab cahaya menyelimuti Cana kini hippocampus itu berubah menjadi seperti manusia, wajah tampan dengan rambut agak ikal, mata bewarna biru laut dengan pakaian mewah bak kerajaan.
“Untuk ukuran hewan sihir kau tampan juga,” ucap Karin sambil mengelilingi Cana menerusuri penampilan Hankō itu.
“So, apa aku bisa menjadi hewan sihirmu?” tanya Cana.
“Hm, ya karena aku ingin cepat selesai baiklah, lagian lumayan aku mendapatkan hewan sihir langkah yang kuat,” ucap Karin tersenyum senang.
“Jadi ayo kita lakukan perjanjian sihir, lagi,” ucap Cana diakhiri gumaman di akhir kata.
“Baiklah!” seru Karin.
Karin mengucapkan sebuah mantra, sebilah pisau muncul di tangannya. Karin mengoreskan pisau tersebut di ujung jarinya lalu dengan cepat menyentuh kening Cana.
“Aku Karin sang penguasa air mengikat janji hewan sihir dengan Cana Hankō Hippocampus,” ucap Karin.
Cahaya bewarna toska menyelimuti mereka, di kening karin muncul tanda hewan sihir lalu segera menghilang.
“Baiklah sekarang Cana kau kini adalah hewan sihirku jadi hm...bisakah kau berubah menjadi beruang kecil,” ucap Karin dengan mata puppynya.
__ADS_1
“A-apa! Aku? Jadi beruang kecil? Seperti boneka teddy?” tanya Cana tak percaya yang di balas anggukan antusias oleh Karin.
“Oh baiklah, baik,” ucap Cana dengan pasrah cahaya menyelimutinya lalu ia beruba menjadi beruang teddy yang kini ada di pelukan Karin.
“Wah ini menyenangkan! Aku memiliki hewan sihir yang hebat!” seru Karin dengan senang lalu dengan riang berenang kembali ketepian.
Karin duduk di tepi danau, ia memegang kalung yang ada di lehernya dan dalam seketika ekornya berubah menjadi kaki dengan pakaian yang kembali berubah menjadi seragam academy.
Karin memeluk erat Cana yang ada di pelukannya masih dengan tampilan boneka teddy lucunya.
Srek~ srek
Bunyi gemeresekan semak-semak membuat Karin menoleh dan dengan cepat mengeluarkan senjata dan memasang posisi bertarung.
Seorang wanita cantik keluar dari balik semak-semak dan ia juga merupakan hewan sihir, sepertinya.
“Oh, aku tadi mencium bau seorang pemilik ternyata Nona manis ini adalah pemilikku,” ucap wanita itu sambil tersenyum menggoda.
“Xana?” ucapan yang terlontar dari bibir Karin.
“Kenapa kau ada di sini!” seru Cana pada wanita itu.
“Ck, kenapa kau bersama pemilikku!” seru wanita itu.
“Ini pemilikku tentu aku harus ada bersamanya,” ucap Cana dengan kesal.
“Prff tapi ngomong-ngomong mengapa kau menjadi boneka teddy? Hahaha,” tawa wanita itu lepas ketika melihat wujud Cana yang awalnya adalah hippocampus yang gagah kini menjadi boneka teddy.
“Diam Xenna!” kesal Cana berteriak pada wanita itu.
“Hei bisakah kalian berhenti bertikai? Aku ingin cepat keluar dari hutan ini,” ucap Karin.
“Tentu saja setelah kau mengikat perjanjian sihir denganku bagaimana?” tanya Xenna pada Karin.
“Baiklah jadi kau jenis hewan sihir Hankō juga?” tanya Karin.
“Bisa iya, bisa tidak karena bentuk ini bentuk asliku, kau mungkin bisa mengetahuiku di buku sajarah,” ucap Xenna.
Karin hanya menganguk ia mengoreskan pisau kejarinya lalu mengusap darahnya yang keluar dari sana ke leher Xenna. Sebuah tanda muncul di leher Karin setelah cahaya menyinari mereka.
“Tidak! Kenapa aku harus bersamanya!” seru Cana dengan kesal.
“Nah Xenna sekarang istirahatlah,” ucap Karin mengabaikan seruan kesal dari Cana.
Xenna mengangguk lalu dalam sekejap ia menghilang tidak lebih tepatnya berada di tanda yang ada di leher Karin.
“Baiklah Teddy Cana ayo kita kembali!” seru Karin dengan semangat pergi keluar hutan dengan Cana yang mendengus kesal.
Di sisi lain Fioren....
Fioren menebas tumbuhan-tumbuhan liar yang mengalangi jalannya.
“Oh, ini menyebalkan! Aku rasa satu hewan sihir nantinya cukup untukku,” ucap Fioren dengan kesal.
Langkah Fioren terhenti ketika mendengar suara gesekan rumput tanda ada seseorang yang mendekat. Fioren memasang kuda-kuda siap menyerang.
“Uh kenapa di hutan ini tumbuhan makin banyak saja!” seru suara mengerutu dari seseorang.
“Diamlah Echidna sialan!” seru yang lainnya membuat Fioren menyerengit heran.
“Kau yang diam Pegasus sialan!” seru suara itu lagi.
Tumbuhan merambat itu disibaknya dari sana datanglah seekor pegasus pitih dengan sayap agak keemasan dengan wanita setengah ular.
Fioren terus memandangi makhluk di depannya dengan heran. Kedua makhluk yang bertikai itu akhirnya menoleh pada Fioren ketika menyadari keberadaan gadis tersebut.
“Wah lihatlah Sinra kita akhirnya menemukan pemilik kita!” seru si pegasus dengan gembira.
“Pemilik kita, sorry saja ya tapi gadis ini hanya pemilikku,” ucap wanita setengah ular sambil mengelilingi Fioren.
“Bisakah kalian berhenti bertengkar? Kalian tau aku lelah jadi apa kalian hewan sihir?” tanya Fioren.
Kedua makhluk itu saling pandang lalu mengangguk kepada Fioren.
“Baguslah kalau begitu akhirnya aku bisa kembali! Kalian saja yang menjadi hewan sihirku! Sekarang ayo kita buat perjanjian sihir!” seru Fioren dengan ceria.
“Hei pegasus sialan ku kira kita akan di tolak tapi ternyata tidak,” bisik wanita setengah ular itu pada sang pegasus.
“Baiklah dengan senang hati Nona perkenalkan aku Perga dan di sampingku ada Sinra dan aku adalah seorang Hankō,” ucap pegasus bernama Perga itu dengan gembira mengabaikan bisikan Sinra tadi. Perga berubah kini bentuknya bukanlah seekor pegasus lagi namun seorang pria tampan yang gagah dengan rambut putih bermata emas.
“Hei pegasus sialan kau mengabaikanku!” seru sinra tak terima.
“Bagaimana jika kita selesaikan ini semua dan melakukan perjanjian sihir?” tanya Fioren dengan gembira karena ia bisa keluar dari hutan itu dengen segera dan meningalkan semak-semak menyebalkan ini.
Fioren berpikir andai ia tak memilih jalan ini ia mungkin tak akan bertemu dengan semak belukar yang menyebalkan ini. Gadis itu menyalahkan semua awal masalah ini terjadi karena Leo andai pria itu tak membuatnya kesal dengan mengadu mulut dengannya mungkin kini ia sedang berjalan dengan damai dengan jalan yang lancar, kalau begini bisa-bisa tenaganya habis tapi jika hewan sihir di depannya mau bekerja sama masalahnya akan cepat teratasi.
“Kau yakin ingin menjadikan kami hewan sihirmu? Kami yang hina ini? Aku takut aku tak pantas untuk itu,” ucap Sinra dengan dramatis.
“Aku mau dan jika Echidna ini tak menginginkannya tak usah membuat perjanjian sihir dengannya,” ucap Perga.
“Hei! Aku tadi hanya bercanda, aku juga ingin mempunyai pemilik!” seru Sinra tak terima dengan perkataan Perga.
“Oh ayolah berhenti bertenfkar ayo kita buat perjanjian sihirnya dengan cepat!” seru Fioren.
Fioren mengoreskan pisau ke tangannya cairan merah keluar dari sana. Gadis itu mengucapkan perjanjian sihir lalu mengusapkan darahnya ke bahu Sinra dan belakang telinga Perga.
Cahaya bewarna kuning menyinari mereka perjanjian sihir berasil di buat, di belakang telinga serta bahu Fioren terdapat sebuah lambang, lambang itu muncul lalu menghilang.
“Kalian bisa beristirahat, kalau aku membutuhkan kalian aku pasti akan memanggil kalian,” ucap Fioren.
“Baiklah,” jawab Perga dan Sinra kompak.
Kedua makhluk itu perlahan menghilang nemasuki tempat mereka yang ada di lambang yang berada di bagain tubuh Fioren.
Fioren meregangkan tubuhnya, ia tersenyum dengan ceria. “Aku selesai kira-kira suapa yang sampai pertama kali? Apa mungkin Ara? Atau Zen?” monolog Fioren menerka-nerka.
__ADS_1
“Sudahlah lebih baik aku cepat kembali dan tidur seperti yang Ara katakan, simpan tenaga untuk lomba nantinya,” gumam Fioren lalu berbalik kembali keluar dari hutan yang membuatnya kesal itu.
TBC