
Fokus, itu yang harus Ara lakukan kini. Lapangan sekolah yang sepi cocok untuk melakukannya, Ara membuat suatu pola dengan tangannya lalu di tanah muncul lah sebuah simbol.
“ARA!” teriak Veria membuat Ara mendecih.
“Ck, padahal sedikit lagi,” gumam Ara.
Ara berbalik memandang Veria yang memandang marah padanya.
“Apa yang ingin kamu lakukan gadis bodoh!” seru Veria khawatir sekaligus marah.
“Pergi mencari peramal Arthos,” jawab Ara.
“Kau gila! Jangan pernah lakukan itu! Tak ada yang berhasil menemui peramal itu kini,” ucap Veria.
“Sayangnya aku selalu berhasil saat ingin bertemu dengannya,” ucap Ara membuat Veria melotot kesal.
“Ara! Jangan keras kepala! Tutup kembali lingkaran portal itu!”seru Veria.
“Tidak dan tak akan pernah,” balas Ara membuat Veria menatapnya tajam.
“Aku ingin mengetahui keberadaan orangtuaku lalu aku akan kembali ke dunia manusia, melalui peramal Arthos,”ucap Ara menekan perkataan terakhirnya.
“Peramal Arthos tak bisa membawamu kembali kesana, pintu gerbangnya tertutup,” ucap Veria tajam.
“Aku tak mempedulikannya,” ucap Ara sambil berjalan mundur mendekati simbol tadi.
“Ara jangan pernah coba-coba!” seru Veria memperingati.
“Sampai berjumpa di saat lomba Mom,” ucap Ara yang telah berdiri di simbol tadi.
“ARA!” seru Veria berteriak ingin menarik Ara dari portal itu.
Simbol yang merupakan portal itu bercahaya yang menjadi pembatas membuat Veria tak bisa menjangkau Ara.
“ARA JANGAN PERNAH MENCOBA MELAKUKAKN ITU!”teriak Veria penuh peringatan dengan mata berkaca.
“Maaf Mom tapi ini harus kulakukan,” ucap Ara walau ucapannya itu tak terdengar sampai keluar.
“Art, art sebuah karya terbentuk art, art membuat masa depan hai portal segala Arah panggil Arthos katakan aku Nilara White Deria Knowledge ingin menemuinya,” ucap Ara.
Cahaya menyelimuti Ara bersamaan dengan teriakan Veria, Ara merasakannya ia terbawa pergi.
“Yang Mulia memanggil saya dan ucapan Anda adalah perintah bagi saya,” ucap suara yang mengema itu.
Zen melihat itu semua dengan tatapan dingin dan bengis mata biru rembulannya itu berkilat merah.
“Padahal kau bisa memintaku jika kau ingin menghancurkan dunia gelap ini,” ucap Zen dengan dingin, tersenyum kecut.
Ara mendarat dengan sempurna kalau saja instingnya tidak tajam ia pasti akan terjatuh dan mengenai ranting-ranting pohon hingga tanah membayangkannya saja Ara sudah ngeri.
“Runa, kemarilah,” panggil Ara membuat Aruna muncul di samping Ara.
“Kita benar-benar akan menemui peramal Arthos?” tanya Aruna.
__ADS_1
“Ya tentu saja aku sudah bertekat,” balas Ara sambil melangkah.
“Apa kau ingat jalan kesana? Ini sudah sepuluh tahun berlalu Ara,” ucap Aruna mengikuti Ara di belakang.
“Kau sudah mengenalku dari dulu bukan Runa?” tanya Ara sambil menjentikkan jarinya.
Sebuah gulungan kertas muncul di tangan Ara, Ara memberikan gulungan kertas tersebut pada Aruna.
Aruna mengambil gulungan itu lalu membukanya dan berlari mengejar Ara yang telah melangkah jauh di depan.
“Kau membuat petanya?!” tanya Aruna berseru kaget.
“Ya dan lagi tanpa peta itupun aku tau jalannya, setidaknya aku ingat di sekitar sini ada kuda yang bisa kita tunggangi dan lagi kita akan melewati sungai,” ucap Ara.
Aruna memandangi peta di tangannya juga Ara dengan aneh, melewati sungai? Itu akan menjadi perjalanan yang panjang sebenarnya apa yang diinginkan tuannya itu?
Aruna terperengah melihat sekolompok kuda yang ada di depannya, sedangkan Ara dengan santainya mendekati salah satu kuda tersebut. Jadi, kuda yang dimaksud Ara adalah kuda liar?! Sekarang Aruna benar-benar tidak mengerti bagaimana dengan pikiran Ara.
“Hai Sanya maukah kau dan salah satu temanmu mengantar kami?” tanya Ara pada kuda putih.
Kuda putih itu menoleh memandangi Ara lama seperti mengingat-ingat.
“Oh, Anda Tuan Putri Nilara? Salam dari Saya yang Mulia,” ujur kuda itu agak menunduk memberi hormat.
“Kau benar dan setidaknya jangan menunduk padaku, aku merasa tak nyaman,” ucap Ara.
“Maaf sebelumnya Yang Mulia tapi saya tidak bisa mengingat umur saya yang sudah semakin tua,” ucap Sanya.
“Sudah...tua?” tanya Aruna bingung, “berapa umurmu?”
“Ntahlah aku tak mengngatnya lagi berapa ya 1 atau 8, ah seingatku 8000 tahun,” ucap Sanya, “aku yang tertua diantara yang lainnya,”
Aruna kembali terperangah dia hanya kuda namun dia bisa berbicara dan umurnya...umurnya lebih dari 1 abad bahkan itu 8 milenium.
“Kau benar-benar tak bisa mengantar kami Sanya?” tanya Ara mengabaikan Aruna yang tercengang.
“Maaf sekali lagi Yang Mulia saya benar-benar tak bisa,” ucap Sanya penuh sesal.
“Namun sepertinya saya bisa mengajukan dua ekor kuda yang akan membantu anda,” ucap Sanya membuat Ara mengangkat alisnya bingung.
Beberapa jam kemudian....
“Hai Nona kapan kita akan sampai?” tanya kuda bewarna coklat gelap pada Ara.
“Diamlah Browser!” seru Aruna kesal pada kuda yang ia tunggangi itu.
Aruna kesal sungguh kesal kenapa dua kuda ini yang harus mereka tunggangi. Ya walau memang Browser kuda yang ia tunggangi yang sedari tadi meribut tidak sama dengan Winaya kuda berwarna putih yang sedang Ara tunggangi itu lumayan kalem walau dia juga sempat mengeluh.
__ADS_1
Ara sedari tadi hanya terdiam tak bersuara ntah apa yang di pikirkan gadis itu kini.
“Suara air,” gumam Aruna.
“Winaya berhenti!” pinta Ara pada kuda putih itu.
Winaya berhenti sesuai perintah begitu juga dengan Browser. Ara turun dari kuda tersebut berjalan begitu juga dengan Aruna dengan Winaya dan Browser yang mengikuti mereka di belakangnya.
“Apa yang kau cari Ara?” tanya Aruna saat mereka hampir sampai di pinggiran sungai.
Ara tak menjawab ia sibuk mencari sesuatu di dekat semak\-semak, selama beberapa menit Ara kembali dan menuju sungai begitu pula dengan Aruna, Browser dan Winaya.
“Akhirnya aku bisa minum,” ujur Winaya dengan legah meminum air.
“Air sungai ini memang benar-benar enak,” tambah Browser.
Ara mencelupkan tangannya kedalam air seperti memeriksa sesuatu sedangkan Aruna juga ikut meminum air.
“Sudah cukup ayo kita melanjutkan perjalanan,” ucap Ara.
“Sebenarnya tadi kau mencari apa?” tanya Aruna heran.
“Bukan apa-apa, ayo pergi!”seru Ara menaiki Winaya.
“Kita langsung pergi? Aku baru saja ingin melepas rasa lelah,” ucap Winaya.
“Kita tidak punya waktu, ayo cepat!” seru Ara bersamaan dengan adanya makhluk yang muncul dari semak-semak di belakang mereka.
“Winaya, Browser lari!” seru Ara membuat kedua kuda itu berlari dengan di kejar oleh makhluk-makhluk kerdil dengan bentuk menyeramkan sambil memegang senjata.
Aruna memeluk erat Browser karena taku terjatuh mengingat mereka menaiki kuda itu tanpa pelana.
Winaya dan Browser sama-sama berhenti sambil berteriak nyaring. Makhluk-makhluk kerdil itu mengepung mereka sambil menatap mereka dengan lapar.
“Ya ampun,” ucap Aruna.
“Ck, sial!”
TBC
Maaf untuk semuanya di karenakan episode kemarin telat up yang patutnya hari senin udah up tapi ntah kenapa belum up-up juga.
Ini episode tambahan khusus untuk minggu kemarin.
Terima kasih semuannya mohon maaf jika ada yang salah juga penggunaan kata yang banyak typonya.
Dan terima kasih yang telah membaca cerita ini dukung terus dan beri vote serta saran dan kritiknya.
__ADS_1