
Udara sejuknya pagi menghampiri, mobil mewah dengan lambang kerajaan Ostrala berhenti tepat di depan gerbang Academy mewah yang menjadi tujuannya Elementary Academy.
Ara turun dari mobil itu di ikuti Nami dan Kabi, memperhatikan sekitar lalu diam melihat gedung Academynya.
“Elementary Academy, tidak buruk,” ujurnya lalu melangkahkan kaki memasuki gerbang.
Ara menerusuri Academy itu, bangunan luas dengan tumbuhan yang menghiasi tak jarang juga ia mendapati patung dan karya seni yang indah.
“Sepertinya ini dibuat oleh murid Academy,” ucap Ara yang hanya diangguki Nami.
Sedangkan Kabi, ia kini berada di gendongan Ara karena jika tidak begitu Hankō satu itu pasti akan langsung kabur begitu saja.
Kabi memandang semuanya bosan dia terkekang di gendongan Ara tak bisa bermain, sebuah ide muncul di benaknya.
“Ara apa itu? Dia menyerang!” seru Kabi membuat Ara spontan melepaskannya dan memasamg kuda-kuda menyerang.
“Yey asik! Ayo kita main!” seru Kabi berlari kabur.
“Hei! Kabi kau mau ke mana?! Kembali!”seru Ara namun sayang Hankō satu itu tak mempedulikannya.
Ara berlari mengikuti Kabi begitupun dengan Nami, bukan mengapa hanya saja Academy ini sangat luas bagaimana jika ia nantinya tersesat.
“Kemari kau macan kumbang tengil!” seru Nami yang hampir menangkap Kabi, namun dengan secepat kilat ia menghindar.
“Wek, gak kena!” seru Kabi mencibir dan terus berlari.
“BLACK kembali!!” seru Ara berteriak tak kala mereka sampai di dalam Academy.
Aksi kejar-kejaran itu terus berlangsung membuat perhatian siswa-siswi yang belajar di luar menjadi teralihkan.
“Kembali kucing nakal!” seru Ara yang kini mulai kesal tak peduli apa yang ia tabrak.
Kini Ara tak peduli sekitar dan mengeluarkan elemen tumbuhan mengendalikan tumbuhan tersebut agar menjerat kaki Kabi, tidak hanya elemen tumbuhan tetapi juga tanah.
Orang-orang yang melihat itu merasa tabjuk kira-kira berada di tingkat berapa gadis yang kini sedang mengejar kucing hitam itu? Mengeluarkan elemen sambil berlari itu luar biasa.
Benda pipih di saku Ara berbunyi membuatnya mau tak mau mengangkatnya tentu dengan masih berlari mengejar Kabi.
‘Ara kau di mana? Aku menyuruhmu untuk ke ruanganku,’ ucap suara di sebrang sana.
“Yes, Mom, aku akan segera ke sana,” ucap Ara.
‘Sekarang!’ seruan perintah itu membuat Ara menghentikan lariannya.
“What?! Apa tidak bisa sebentar lagi?” tanya Ara.
‘No, Honey tak ada penolakkan! Seterah kamu mau gimana pokok harus sampai sekarang!’ serunya kemudian sambungan telpon terputus.
“Yang benar saja aku harus menangkap kucing nakal itu baru bisa keruangannya,” ucap Ara kesal.
“Jangan salahkan aku nantinya, karena dia bilang seterahkan,” ucap Ara dengan wajah binar kesenangan.
Ara mengamati sekitar mencari keberadaan Kabi juga Nami yang sedang mengejarnya, kalau dilihat sekilas mereka seperti dua kucing yang bertengkar.
“Come baby,” ucap Ara lalu cahaya menyelimuti punggungnya dan sayap muncul di sana.
Ara mengepakkan sayapnya dan dalam sekejap sudah berada di tempat Nami dan Kabi segera mengambil keduanya dan menggendong.
“Ok, kucing-kucingku aku tak punya waktu bermain jadi ayo pergi dan lihat di kelas apa aku berada,” ucap Ara yang tadi berhenti sejenak lalu kembali menerbangkan sayapnya dengan kecepatan kilat pergi.
Satu kata untuk Academy itu kini hancur! Namun, para murid tak mempedulikannya karena masih terpaku dengan kejadian tadi.
Salah satu guru yang tersadar membulatkan matanya tak percaya melihat Academy yang hancur, “Kepala sekolah!” serunya berteriak.
Kesadaran para murid kembali karena teriakan itu lalu mengedarkan pandangan merasa naas dengan sekolah mereka yang kini sudah acak-acakan.
Sedangkan Ara.....
“Kamu ya, di bilangin kalau udah sampai tuh langsung kesini malah pergi ntah ke mana,” omel seorang wanita pada Ara.
“Yes, Mom yes, Ara tadi Cuma ngejar hewan Ara yang kabur,” balas Ara.
“Ngenjawab, lagian bla bla bla bla bla bla bla bla,” Omelan itu membuat Ara menjadi bosan.
Tuk tuk,
“Nyonya Veria,” panggil seorang pria yang mengetuk pintu tadi masuk keruangan itu.
__ADS_1
“Ya, Gio ada apa?” tanya wanita bernama Veria tersebut menghentikan omelannya.
“Ini tentang halaman sekolah, halaman sekolah hancur gara seorang gadis,” ujur Gio dan ya dialah guru yang berteriak tadinya.
Veria spontan mengalihkan pandangannya keluar melihat halaman sekolah yang kini benar-benar hancur, Veria lalu mengalihkan pandangannya pada Ara memandang gadis itu tajam, membuat keringat dingin keluar membasahi pelipis Ara.
“Hehe, itu....” ucap Ara cengengesan.
“KINARA MERME GREDIAMON!!!” teriak Veria, membuat Ara menelan salivanya susah.
“Kembalikan halaman sekolah seperti sebelumnya, terserah mau bagaimana ikuti Profesor Gio, SEKARANG!” seru Varia menekan kata terakhirnya.
“Sekarang?” tanya Ara di hadiahi pelototan tajam dari Varia.
“Kelasku bagaimana?” tanya Ara.
“Vispirms beigas 1, ponix,” ucap Veria tajam.
“Maaf, Nyonya tapi saya penasaran apa gadis ini putri anda?” tanya Gio membuat Veria menoleh.
“Ya dia putriku, kenapa?” tanya Veria balik.
“Tidak hanya saja a-andakan belum m-menikah,” jawab Gio terbata di akhir kalimat.
Kini satu yang Gio takutkan yaitu melihat Veria yang notabenya adalah kepala sekolah academy tersebut karena menanyai hal pribadinya.
“Hm...benar juga jika aku tak mengatakan sebenarnya orang-orang akan mengosipiku yang tidak-tidak,” gumam Veria setelah berpikir sejenak.
“Malah mikirin diri sendiri, nasib aku gimana coba,” gumam Ara sedikit kesal emang.
“Ok aku akan memberi taumu dan jika ada yang bertanya bilang apa yang aku bilang tanpa ada yang di ubah,” ucap Veria tajam diakhir kaliamat membuat Gio mengangguk.
“Baiklah, Tuan Putri yang kau ketahui telah menghancurkan halaman sekolah ini memang putriku lebih tepatnya anak dari Kakakku, karena kedua orangtuanya pergi berkelana maka ia di titipkan padaku dan dari dulu ia tinggal di dunia manusia bersama Ibuku,” ucap Veria.
“Satu lagi kau harus benar-benar menjaganya kalau tidak ia bisa menyerang sembarangan tak peduli sekitar,” tambah Veria membuat Ara membulatkan mata tak percaya.
“Apa-apaan itu?! Aku tak begitu!” seru Ara kesal.
“Ya Nona, tapi saya tak yakin dengan adanya bukti seperti halaman dan lapangan di depan,” ujur Veria.
“Itu karena aku mengejar hewan peliharaanku, lagian Mom juga menyuruhku agar kemari dengan cepat dan itu satu-satunya cara,” protes Ara.
“Ya, ya terserah kau saja, sekarang di mana hewan peliharaanmu?” tanya Veria
“aku letak di luar,” jawab Ara yang tentu saja berbohong karena kini Nami dan Kabi sedang berada di tempatnya ya tentu menyatu dengan Ara.
“Kamu membiarkan mereka di luar?! Mereka pasti akan kabur, lagian peliharaan kamu tuh dua!” seru Veria jangan tanya mengapa wanita satu itu tau, sebab, semua yang mengenai Ara pasti akan ia ketahui, sumber informasinya banyak.
“Hah, lebih baik kau meletakkan mereka di asramamu, asrama 02 ingat,” ucap Veria.
“Kinara! Lakukan tugasmu!” seru Veria berteriak membuat Ara bersembunyi di balik tubuh Gio.
“Gio awasi bocah satu ini!” pinta Veria yang diangguki dengan patuh oleh Gio.
“Baik nyonya kalau begitu saya pergi dulu,” ucap Gio berpamitan.
Gio keluar setelah berpamitan dengan Veria diikuti Ara yang masih setia di pandang tajam oleh Veria.
Pintu ruangan di tutup membuat Veria duduk dan menghembuskan nafasnya kasar.
“Kau tampak lelah,” ujur seorang pria membuat Veria memandangnya kaget.
“Kau mengagetkanku! Kapan kau datang!” seru Veria kesal.
“Beberapa menit yang lalu,” jawab pria itu.
“Jadi, ini sudah di mulai?” tanyanya membuat Veria terdiam.
“Ya kurasa, walau aku tak menginginkannya, aku harus bagaimana Raj?” tanya Veria memutar kursinya dan memandang keluar di mana kini Ara tengah berdiri di sana, pria itu berdiri di samping Veria ikut memandang Ara.
“Kalau bagiku dia bisa mengatasinya dengan kedua belas pelindung yang harus ia sadarkan terlebih dahulu,” ujur pria tersebut.
****
“Hei Zen kenapa tidak kau saja yang memperbaiki halaman ini biar kita bisa kembali belajar,” ujur seorang siswa pada siswa berambut hitam dengan mata biru rembulan, temannya.
Siswa yang di panggil Zen tadi tak menjawab dan hanya memandang dingin temannya, ia lantas mengangkat tangannya ingin memperbaiki halaman sekolah sambil membaca matranya namun niatnya itu ia urungkan ketika melihat Ara dan Gio.
“Wah itu gadis tadi,” ujur teman Zen, Zen hanya memandang Ara lurus.
“Ayolah Sir izinkan saya ke asrama terlebih dahulu,” mohon Ara.
“Maaf Nona tapi anda harus membersihkan kekacauan yang telah anda buat,” jawab Gio.
“Bagaimana dengan kelas? Saya ada kelas bukan? Masa setelah saya sampai di academy saya tidak di bolehkan belajar,” omel Ara.
Gio hanya terdiam, tak mendangapi Ara hingga akhirnya mereka berdiri di pinggir lapangan.
“Sekarang mulailah,” ucap Gio, Ara hanya mendengus lalu memandang lapangan yang benar-benar kacau olehnya.
“Dengan cara cepatkan?” tanya Ara.
__ADS_1
Ara mengangkat satu tangannya menjentikan jarinya dan ‘tik dalam sedetik halaman kembali seperti semula.
Para murid yang melihat juga guru dan tentu Gio menjadi tercengang semudah itu hanya dengan menjentikan jari halaman sekolah kembali seperti sedia kala.
Sepatutnya gadis ini berada di kelas master dan lulus mengapa ia masuk di kelas tahapan? Heran Gio yang masih tercengang dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Baiklah masalah selesai kalau begitu Sir saya pergi dulu,” pamit Ara tersenyum lalu segera melangkah pergi.
“Luar biasa,” ucap teman Zen tadi yang memiliki rambut bewarna warna kehijauan.
Tik salah satu siswa berambut coklat menjentikan jarinya seperti yang di lakukan Ara, “hanya dengan menjentikan jari, ini adalah kejutan luar biasa di minggu ini,” ucapnya.
“Menghancurkan sekolah di hari pertama masuk, Cuma dia aja yang bisa,” ucap salah satu teman Zen yang lainnya membuat teman-temannya menoleh memandang bingung kearahnya.
“Ngomong-ngomong gadis itu sebenarnya siapa?” tanya teman Zen yang berambut coklat tadi bingung.
“Kau akan tau jika melihat lambang yang ada di jubah prajurit itu,” ucap temannya tadi menunjuk salah seorang prajurit yang di jubahnya memiliki lambang kerajaan Ostrala, kesatria kerajaan Ostrala!
Tinggal para murid laki-laki itu dan beralih ke Ara yang kini di hampiri kesatria kerajaannya.
“menghancurkan sekolah di hari pertama masuk? Hanya anda saja yang bisa melakukannya,” ujur kesatria itu.
“Grion?!” teriak Ara berseru kaget.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Ara.
“Salam yang mulia,” ujurnya sambil berlutut di hadapan Ara, “saya di perintah oleh yang baginda Kaisar untuk melihat keadaan anda.”
“Hm...Grion kau tak akan memberi tahu Baba tentang kejadian inikan?” tanya Ara sambil mengang tekuknya.
“Maaf yang mulia tapi hal ini akan saya beri tahukan pada baginda,” jawab Grion.
“Oh, ayolah jangan beri taukan ini pada Baba kumohon,” ujur Ara memohon.
“Saya minta maaf putri,” ucap Grion mana mungkin ia akan berbohong pada Baraz yang ada di akan di pengal kepalanya.
“Hiks...” isakan dari Ara membuat Grion memandanganya datar.
“Kau, b-benar-benar ak hiks...memberi taukannya pada Baba?” tanya Ara terisak.
“Baiklah yang mulia saya izin pamit terlebih dahulu dan saya telah terbiasa dengan akting anda saya tak akan luluh,” ujur Grion.
“Saya permisi,” ucap Grion lalu menghilang membuat Ara kesal sendiri.
“Huh...menyebalkan yang pertama Mommy lalu Grion selanjutnya siapa? Baba?” ucap Ara kesal lalu melangkah pergi sambil terus mengerutu.
“Lihat saja nanti aku hancurkan sekolah ini,” tekat Ara dengan senyum licik di wajahnya lalu berlalu pergi.
Ara berjalan menerusuri sekolahnya sambil mencari asrama nomor 02.
Sesampainya di asrama itu Ara membuka pintunya dan memasuki asrama tersebut memiliki banyak pintu dan sebagian memiliki nama yang sepertinya punya beberapa murid.
Ara menelusuri pintu-pintu yang memampang nama beberapa siswa satu pintu dengan dua nama.
“Wah Zachary di sini juga,” ucapnya.
“Leo, Vino dan Rean juga Nava, Vina dan Atta, ini akan menyenangkan,” ucap Ara.
Ara berhenti di pintu yang menyertakan namanya dan itu hanya namanya seorang.
“Apa-apaan ini?! Aku hanya sendiri!” seru Ara tak terima.
Ara membuka pintu ruangan itu dan mendapati sebuah kasur berukurang king size dengan lemari belajar, lemari baju, balkon, kamar mandi dan koper-kopernya. Mata Ara terpaku pada sebuah surat yang ada di kasurnya.
‘Sebagai hukuman kamu akan tidur sendiri tanpa ada teman sekamar jadi jangan buat perlawanan lagi dan patuh ya.
Salam Mommymu tersayang’
Tulisan di surat itu membuat Ara menjadi lebih dan lebih kesal lagi
“Liat saja nanti,” ucap Ara, “ tanpa ada teman sekamar? Apa yang akan aku lakukan, ini menyenangkan.”
Ara menghempaskan tubuhnya kekasur lalu menjentikkan jarinya seketika koper kopernya menyusun bajunya kedalam lemari dengan sendirinya lalu setelahnya koper tersebut tersusun rapi di atas lemari.
Ara masih berguling sambil melihat dena sekolah dan jadwal pelajarannya juga sistem pelajaran di Academy itu.
“Jadi, di magica world murid bersekolah dari umur 15 sampai 20 dan paling muda 14?” tanya Ara.
“Hanya 5 tahun ya,” gumamnya.
“Kalau di pikir lagi Zachary sudah 20 tahun juga dengan Leo sedangkan Vino 14 sama dengan Vina berarti mereka yang termuda?” ucap Ara bertanya-tanya.
“Satu kamar 14-20 orang ya?” ucap Ara, “ok ini benar-benar akan menyengkan.”
Ara bangkit dari kasurnya lalu meregangkan badan dan berjalan keluar sambil menutup pintu kamarnya dan menguncinya dengan mantra sihir.
“Ayo mulai, hari ini ada kelas yang mungkin akan menyengkan,” ujur Ara keluar dari asrama lalu pergi ke salah satu gedung.
“Aku siap memulai segalanya! Benang-benang indah tunjukan kemana takdir akan membawaku!”
TBC
__ADS_1