
Ara selesai dengan hiasan dan gaun yang akan ia kenakan di perta yang akan diadakan di kerajaan İki qılınc.
"Ya itu tampak sempurna tak sia-sia hasil kerja kerasku," ucap Arthi memandang Ara dari atas hingga bawah dengan menilai.
Ara hanya terkekeh, ia kini sedang berada di sebuah tempat dimana Arthi dan yang lainnya tinggal.
"Ya tapi mungkin nanti kau harus kecewa, kalian harus datang," ujur Ara.
"Tentu saja!" seru Arthur semangat.
"Kau tak punya nia untuk menghancurkan istana bukan Art?" tanya Arthi.
"Tidak, tidak aku hanya ingin bersenang-senang," ucap Arthur yang dipandangi curiga oleh Arthi.
"Mereka yakin tak membuat pesta topeng? Bukankah jika memakai topeng itu lebih baik?" tanya Arthas.
"Aku merasa mereka memiliki rencana lain," ucap Ara.
"Kami hanya di sana sebentar Tuan Putri," ucap Arthos.
"Aku tau, tempat kalian jangan sampai ketahuan," ucap Ara.
"Ya dan kita harus tau dimana mereka mengurung Kaisar dan permaisuri," ucap Arthur.
"Semua sudah direncanakan," ucap Ara.
"Jadi Tuan Putri siap menghadiri pesta?" tanya Arthen yang kini merangkap menjadi sopir.
"Tentu saja, akan ada hal menyenangkan nantinya," ucap Ara.
"Arthen kau cocok dengan pakaian itu," ucap Arthi membuat Arthen mendengus dengan mereka semua yang menertawakannya.
****
Mobil mewah dengan lambang kerajaan Ostrala itu berhenti tepat didepan istana mewah yang menjadi lokasi pesta.
"Sama sekali tidak berubah," ucap Arthen.
"Ya kecuali dengan aura Qaranlıq yang terasa pekat," balas Ara.
Arthen keluar dari mobil lalu membuka pintu milik Ara.
"Anda siap Tuan Putri?" tanya Arthen sambil menjulurkan tangannya.
Ara menghembuskan napasnya lalu tersenyum dan membalas uluran tangan Arthen, "Selalu siap," ucap Ara.
Ara keluar dari mobil sambil tersenyum matanya memandang lurus pada istana yang berada didepannya.
"Kita akan berjumpa nanti lagi Arthen," ucap Ara.
"Ya Tuan Putri," balas Arthen.
Ara segera pergi memasuki istana itu setelah pengawal mengumumkan kedatangannya, sedangkan Arthen segera pergi.
Tepat setelah kepergian Arthen sebuah mobil dengan lambang kerajaan Şirin qan berhenti didepan istana dari dalam mobil itu keluar pria dengan rambut hitam dan mata biru rembulan dengan pakaian khas pangeran kerajaan setelah pria itu keluar, keluar pula pria dengan rambut putih dan mata bewarna biru es, sekilas keduanya tampak mirip namun aura yang mereka bawakan terlihat berbeda.
"Aku tak tau rencanamu tapi jangan mengacau," ucap pria berambut hitam dingin lalu segera memasuki istana.
"Aku tak akan mengacau, lagi pula aku ingin bertemu seseorang," ucap pria dengan rambut putih itu memandang lurus ke istana yang ada didepannya, "sudah lama ya."
Di dalam istana....
Mata semua orang tak kunjung lepas dari gadis dengan gaun mewah bewarna biru dengan rambut coklat panjang yang dihiasi aksesoris yang sederhana namun terlihat indah, mata nilanya terkesan lembut namun tajam dalam sekaligus, gadis itu Ara kini tengah berdiri sendirian didekat meja yang dipenuhi makanan dan minuman tak bergabung dalam gerombolan manapun.
Nava, Karin, Fioren dan Vina tak melepas pandangannya dari Ara mereka juga semoat menjadi pusat perhatian tadinya, namun sayang mereka tak bisa menghampiri Ara walau mereka ingin tapi entah mengapa Ara seperti membuat sebuah dinding pembatas.
__ADS_1
"Kau merasakannya bukan?" tanya Atta berbisik pada Valeria.
"Aura para Qaranlıq kental dan pekat di sini," jawab Valeria ikut berbisik.
"Firsatku buruk," bisik Atta lagi.
"Apa Ara mengetahui ini makanya ia menjauhi kita?" tanya Valeria lalu setelahnya mereka berdua terdiam.
Pesta dimulai saatnya orang-orang berdansa setiap orang memiliki pasangan masing-masing termasuk Ara yang kini tengah berdansa bersama Zen karena menurut kabar yang beredar ia akan bertunangan dengan pria itu.
"Apa orang yang kau sukai itu tak hadir di sini?" tanya Zen terdengar sinis membuat Ara terkekeh.
"Entahlah aku tak tau, apa kau mengetahuinya kini Yang Mulia?" tanya Ara.
"Jika aku mengetahui siapa yang kau suka tentu kini ia telah lama mati," ucap Zen dengan acuh tak acuh.
"Namun nyatanya tidak bukan? Pesta ini akan menjadi kejutan besar dan pasti setelah ini rencana pertunangan ini akan dibatalkan," ucap Ara.
"Apa maksudmu?" tanya Zen tak mengerti.
"Anda memiliki mate Anda sendiri begitupun saya bukan? Setelah ini saya akan kembali pada mate saya dan kita tak memiliki hubungan apapun kecuali teman maybe," ucap Ara membuat rahang Zen mengeras.
"Dan yang aku tau mateku adalah kau lagi pula bukankah aku yang telah mengambil ciuman pertamamu? Siapa yang akan mau denganmu setelah itu?" tanya Zen sambil tersenyum miring.
"Bukankah saya belum ditandai? Lagipula ciuman pertamaku bukan kau yang mengambilnya itu yang kedua bagiku," ucap Ara membuat Zen tersedak, apa maksud dari gadis ini.
Dansa berakhir bersamaan dengan lagu yang terhenti, Ara dan Zen memberi penghormatan sebagai akhir dari dansa.
"Setelah ini saya berharap Anda tak mengangap saya mate Anda lagi," ucap Ara lalu berjalan pergi meninggalkan Zen dengan tangan terkepal dan rahang mengeras menahan emosi.
Semua orang bersenang-senang dipesta itu sampai akhirnya suara Kaisar kerajaan itu mengintrupsi perhatian orang-orang.
"Sungguh pesta yang menyenangkan semuanya, saya sangat senang akan pesta ini, seperti yang kita ketahui pesta ini ada karena untuk menjadi penutup dari acara lomba perdamaian antar Academy dan untuk itu kami dari kerajaan İki qılınc mengucapkan selamat pada pemenang lomba!" seru sang Kaisar.
"Dan ya walau saya sedikit terkejut karena perlombaan ini sebagian besar dimenangkan oleh Elementary Academy tempat Pangeran Mahkota kerajaan ini belajar dan juga saya juga ikut terkesan dengan perlombaan terakhir sungguh permainan pedang yang indah Tuan Putri Kinara atau aku harus memanggilmu Nilara?" tanya sang Kaisar.
Ara meminum minumannya dengan santai tak mempedulikan orang-orang yang memandangnya apalagi dengan pandangan khawatir dari Nava, Rean, Leo, Vina, Vino serta Atta.
"Apa maksud Anda Yang Mulia?" tanya Atta memberanikan diri bertanya.
"Maaf Tuan Putri Işık namun Anda sekalian tak salah dengar Kinara yang Anda kenal adalah Nilara Tuan Putri kami yang menghilang sepuluh tahun yang lalu," ucap sang permaisuri.
"Permainan apa yang sedang mereka mainkan," ucap Baraz sambil tersenyum miring.
"Yang Mulia Ara...," lirih Navia cemas yang langsung dipeluk oleh Baraz.
"Ia tau apa yang akan ia lakukan," bisik Baraz.
Ara tetap tenang ia meletakkan kelas minumannya dimeja lalu melangkah dengan berjalan dengan anggun mendekati kaisar dan permaisuri kerajaan İki qılınc.
"Maaf Yang Mulia jika saya menyela namun Anda sepertinya keliru saya adalah Tuan Putri kerajaan Ostrala nama saya Kinara Merme Gradiamon bukan Nilara, dulu saya sempat bersama Nilara bahkan ada yang mengatakan jika kami kembar namun yang anda maksud mungkin bukanlah saya," ucap Ara dengan tenang sambil tersenyum lembut.
"Tidak Nila jangan katakan hal begitu, kau adalah Putri kerajaan ini kau cucu kami," ucap permaisuri dengan sedih membuat yang melihat bersimpati kecuali beberapa orang tertentu termasuk Luif yang memandangnya penuh kebencian.
"Nila jangan berkata begitu, apa kerajaan Ostrala mengancammu? Berhentilah berakting," ucap Kaisar.
"Anda yang harus berhenti berakting Khin!" seru Ara dengan mata tajam memandang dingin kaisar tersebut.
"Apa kau ingin memprovokasi orang-orang agar menghancurkan kerajaan Ostrala yang kau tentang karena membahayakan identitas aslimu?" tanya Ara sinis.
"Apa maksudmu Nila?" tanya Kaisar itu tak mengerti.
"Baik aku mengakui ini Aku Nilara White Deria Knowledge Putri kerajaan İki qılınc yang menghilang tidak kabur karena kerajaanku dikuasai oleh Qaranlıq!" seru Ara membuat orang-orang disekitarnya berbisik, "sekarang berhenti berpura-pura dan ucapkan yang sebenarnya."
"Salah satu panglima terkuat di Qaranlıq Khin katakan sekarang juga dimana Ayah dan Ibuku!" seru Ara dengan dingin.
__ADS_1
"Hah, Hahahahaha sudah kuduga cara ini tak berguna menjebakmu!" seru Kaisar itu yang kini berubah, pakaiannya berubah menjadi pakaian layaknya panglima perang yang kini bewarna hitam.
"Ya ampun Rose ini tak ada gunanya, semuannya sia-sia," ucap Permaisuri yang juga berubah dengan pakaian minim dan mengatakan namanya Rose itu.
"Kapan Anda menyadari itu Tuan Putri? Sepuluh tahun yang lalu? Atau sebelas tahun?" tanya Khin dengan remeh.
"Bukankah aku cukup cerdas saat kecil, apa kalian puas menyiksa tiruanku selama setahun?" tanya Ara sinis.
"Hahahaha apa yang Anda inginkan?" tanya Khin tertawa jahat.
"Kembalikan İki qılınc, bebaskan orangtuaku dan berikan aku permata itu," ucap Ara dengan dingin.
"Anda mengetahui jika para panglima dan pangkat tertinggi Qaranlıq memakai permata itu? Apa Anda baru menyadarinya setelah sekian lama?" tanya Khin.
"Rose, Rose aku kini tau, kau ingin kami membebaskan orangtuamu apa kau ingin mengambil senjata para Dewa-Dewi itu?" tanya Rose.
"Oh, tak ada gunanya berbincang, kenapa kalian tak mengeluarkan para Qaranlıq itu? Aku sangat ingin membunuh kalian saat ini," ucap Ara dengan senyum menyeramkan diwajahnya.
Ara merobek gaunnya menjadi pakaian nyaman untuknya bergerak, pita aksesoris yang ia kenakan ia ubah menjadi ikat rambut ditangannya kini ada sebuah cambuk yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu membuat orang yang melihatnya kaget dengan cambuk itu.
"Cambuk itu?!" seru Rose kaget.
"Menarik sangat menarik jadi Anda menghilang beberapa minggu ini bertemu dengan orang-orang agung itu?" tanya Khin.
"Kepung dia!" pinta Khin dalam seketika ruang dansa itu berubah, beberapa orang berubah menjadi makhluk Qaranlıq mengepung Ara.
"Nami, Kabi, Werlan, Sonia, Serga, Miku!" panggil Ara.
"Aih ini akan merepotkan," ucap Miku.
"Aku lebih nyaman jika aku menerkamnya," ucap Nami dengan wujud harimau putih.
"Sudah lama aku tak bergerak dengan leluasa," ucap Kabi yang awalnya merupakan Macan kumbang kini berubah menjadi manusia.
"Secepat apa kira-kira mereka bergerak?" tanya Serga dalam wujud manusia.
"Ayolah kawan jagan terlalu semangat," ucap Werlan.
"Ini akan menyenangkan!" seru Sonia.
"Ini tidak akan semenyenangkan itu bukan begitu Nura?" tanya Aruna pada gadis didampingnya.
"Mungkin mereka benar Aruna, ini adalah waktu yang menyenangkan ratu bahkan mengizinkanku mengunakan ramuan pembesar tubuh," ucap Nura semangat.
"Wah lihat ini bukankah ini luar biasa? 5 ekor Hankō dan satu Hanbun terlebih mereka adalah hewan yang kuat dan melegenda," ucap Rose.
"Serang mereka!" seru Khin.
Para makhluk Qaranlıq memyerang hewan-hewan itu, Aruna serta Nura dan para tamu bahkan diantara para tamu juga ada makhluk-makluk seperti mereka.
Mata Khin melihat sekeliling mencari keberadaan Ara, ia tak melihat sedikitpun adanya gadis itu.
"Siapa yang kau cari?"
Bersambung....
Hai! Hai kembali lagi dengan cerita Ara. Walau judulnya saya ganti karena menyesuaikan dengan ceritanya, ada yang bingung gak?
Jangan lupa vote dan komen serta berikan saran dan kritiknya.
Jampai jumpa di eps berikutnya
__ADS_1
See you bye