
Calarina tak pernah sekalipun ikut berengkarnasi begitupula saat itu saat dia bertemu dengan gadis itu disaat terakhir kalinya.
"Kau masih tetap di sini? Kita bertemu lagi!" serunya dengan gembira, rambut gadis itu pendek sebahu bewarna coklat, matanya coklat bersinar dengan senyum yang cerah sekilas ia mirip dengan seseorang yang sangat Calarina kenal.
"Ya kita bertemu lagi Indi, bagaimana kabarmu?" tanya Calarina.
"Aku baik bagaimana denganmu Carl? Ini sudah beberapa tahun lamanya, haha kau tau aku telah pergi ke bermacam tempat di dunia ini!" seru gadis bernama Indi itu.
Calarina hanya tersenyum di saat itu itulah saat ia mengetahui sepercik kebenaran itulah saat ia melihat adanya cahaya kecil atas segala pertanyaannya.
❤️
"Carl apa kau tau bagaimana rasanya kematian?" tanya Indi lirih, saat duduk bersantai seperti biasanya.
"Tidak, mengapa kau menanyakan itu?" tanya Calarina sambil tersenyum lembut.
"Karena aku ingin merasakannya, kau tau berapa umurku?" tanya Indi.
"Bukankah sekitar 20 atau juga 40 tahun lebih tua dariku," tanya Calarina.
"Hehe kau salah aku hidup lebih dari yang kau bayangkan. Aku dulu juga pernah bertemu gadis yang sangat mirip denganmu itu sekitar 100 atau beberapa ratus abad yang lalu," ucap Indi sambil terkekeh kecil.
Mata Calarina terbelalak kaget apa maksudnya saat pertama kali mereka bertemu? Calarina kira gadis itu gadis yang berbeda namun ia salah. Umurnya mungkin sudah sangat tua namun wajah Indi masih tampak segar seperti halnya gadis remaja.
"Bagaimana mungkin Indi? Kau bercanda," ucap Calarina seakan membantah.
"Tidak Carl aku tidak bercanda sedikitpun itu nyata, aku dari awal tak bisa mati, aku layaknya makhluk abadi," ucap Indi sambil mengelus kepala Calarina yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di pahami.
"Aku hanya wanita yang tak tau di mana orangtuaku, aku besar dengan sendirinya di dalam gua yang dingin, aku memiliki sihir api itu membuat semuanya terasa mudah bagiku, aku mencari makanan di hutan memanfaatkan tumbuhan di sekitarku, mungkin ini yang di tuliskan dalam takdirku," ucap Indi sambil menatap langit yang penuh bintang.
"Di saat itu, kiranya umurku sekitar ratusan tahun namun bentukku seperti gadis kecil berusia 10 tahun, di saat itu juga aku melihat sebuah serbuk bercahaya melayang kearahku, serbuk itu berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik, dia terluka dan dia kesakitan, aku mengobatinya dengan hal-hal yang aku ketahui dari alam, sampai ia sembuh," ucap Indi tersenyum seakan mengingat kembali masa itu.
"Dia mengajariku banyak hal, mulai dari berburu, menggunakan senjata dna mengendalikan kekuatan milikku, membuat rumah indah untuk kami tinggali, dia mengajariku semuanya, hari-hari bersamanya terasa menyenangkan, dia seperti cahaya harapan bagiku, dia begitu lembut, dia mengatakan jika aku adalah bagiannya maka dari itu dia menolongku, aku tak mengerti maksudnya dan aku tak pernah bisa mengerti maksud dari ucapnnya," ucap Indi.
"Lalu apa yang terjadi mengapa kau tak bersama dengannya?" tanya Calarina.
"Dia menghilang tiba-tiba saat itu namun sesekali aku bertemu dengannya dia ada dalam diriku, dia menuntunku agar aku bisa meluhat dunia luar yang lebih luas dan indah. Aku jadi belajar banyak hal, namun sesuatu yang tak bisa aku pahami dan aku cerna adalah kematian. Aku melihat adanya orang yang mati sebelumnya ia merasa menderita, apa benar sesakit itu?" ucap Indi bertanya-tanya.
"Kenapa kau ingin mengetahui hal itu? Dan mengapa kau memberitahukan padaku? Kenapa kau bertanya padaku?" tanya Calarina agak gentar.
"Hm...?" tanya Indi agak bingung lalu ia tersenyum, "Karena aku pernah bertemu denganmu sudah beberapa kali dan aku yakin kau telah banyak mengalami kematian lalu dihidupkan lagi bukan?"
"Kenapa kau seyakin itu kalau aku orang yang sama? Bisa jadi aku orang yang berbeda bukan?" tanya Calarina.
"Hehe tidak sama sekali, kau masih sama dengan orang yang kutemui dulu, kau sama seperti Ari, kau sama seperti Cana, kau sama seperti Lana, kau sama seperti Rina dan yang lainnya. Perbedaanya kalian hidup di masa yang berbeda namun kalian sama, sangat jarang ada orang yang berengkarnasi berkali-kali namun aku yakin kau memiliki urusan yang belum di selesaikan bukan? Dan kau mengingatku, saat yang kedua dan yang seterusnya saat mungkin itu pertemuan pertama kita namun itu tidak karena nyatanya senyummu masih tetap sama, sama-sama tertuju untukku yang dulu hingga aku yang kini bukan?" tanya Indi sambil memandangi Calarina.
Perlahan setetas airmata keluar dari pelupuk mata Calarina, itu menjadi deras disertai isakan membuat Indi menjadi bingung, apa dia ada salah berbicara.
"Terima kasih, teeima kasih, terima kasih," gumam Calarina berkali-kali sambil memeluk Indi.
__ADS_1
Indi awalnya bingung namun ia balas memeluk Calarina sambil mengusap lembut punggu Calarina.
'Terima kasih karena kau telah mengisi kekosangan itu lagi, kau yang kedua yang telah mengisinya,' - Calarina.
💓💓
Calarina semua teringat jelas dalam ingatannya, tentang Indi yang telah menemaninya, ia memberikan sebuah kalung indah pada Calarina sebagai kenangan dan tanpa Calarina sadari saat itu adalah saat kali terakhir mereka bertemu.
Perperangan, lagi-lagi perperangan, banyak nyawa yang terenggut, bangsa makhluk kegelapan mereka yang menyebabkan ini semua.
Semua kerajaan bersatu menuju kegaris depan melawan musuh yang tak pernah habisnya, Calarina masuk dalam perang itu berkali-kali, ia menumpaskan musuh mengalurkan dendamnya akan kepergian Nindiga karena mereka.
Pasukan semakin berkurang, perang kala itu hanya membuat kerugian para Dewa dan Dewi yang lain yang turut serta karena saat itu mereka berengkarnasipun tak bisa mengalahkan musuh entah mengapa saat itu mereka semakin kuat dan terasa tak dapat di kalahkan.
Di hari perperangan berkutnya para pasukan semakin menipis semuanya terluka parah Calarinapun begitu, lukanya sangat parah.
Di saat itu keputusan yang seharusnya diambil adalah 'Mundur.'
Keputusan yang tepat di lontarkan di saat Calarina benar-benar dalam bahaya namun semuanya hilang tak ada lagi kata mundur di saat adanya ledakan besar yang mengalahkan beribu musuh.
Dari kejauhan terlihat seseorang yang berjalan mendekat ia menggunakan tudung, tudungnya terbuka saat di hembus angin, rambutnya panjang bewarna coklat dengan mata cemerlang, wajah cantiknya terlihat menajam.
"Indi," satu kata yang terucapkan oleh Calarina saat itu, kata yang diucapkan diawal adalah ucapan yang terkejut.
Pasukan musuh habis di kalahkannya, sampai sebelum musuh mundur beribu anak panah dengan lancarnya mengenai jantungnya, anak panah yang menyerang seakan sesuai dengan jumlah umurnya.
"INDI!!!" itu adalah teriakan sengsara dan menderita yang di lontarkan Calarina.
"Carl aku merasakannya, kematian, ini tak semenyakitkan itu," ucap Indi membuat Calarina menggeleng.
"Tidak Indi, jangan tinggalkan aku, jangan ada yang meninggalkanku lagi, jangan menjadi orang yang kedua yang meninggalkanku!" seru Calarina sambil menangis.
"Tidak Carl, ini waktunya, aku telah teralu lama hidup, ini waktunya, ini waktu yang tepat setidaknya kau selamat hanya itu," ucap Indi sambil mengelus pipi Calarina.
"Tidak Indi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau ada yang pergi lagi, kau berjanji akan selalu ada di sisiku, kau menjanjikan itu!" seru Calarina tak terima.
"Ya namun aku bukanlah makhluk abadi, aku tak pernah menjadi abadi, kau masih ingat 'dia' yang aku ceritakan bukan? Aku pernah memohon padanya agar aku ketika aku mati aku menghilang setidaknya berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat," ucap Indi.
"Carl jaga kalung yang ku berikan baik-baik, itu sangat berarti bagiku, 'dia' yang memberikan itu padaku jadi kumohon jaga itu dengan baik," ucap Indi lalu terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Indi, tidak Indi kau masih hidup kau akan terus hidup!" seru Calarina membuat Indi mengeleng.
"Tidak, jangan lakukan hal yang seperti itu. Ini ke inginku dari dulu yaitu mati," ucap Indi.
"Hei Carl semoga kau berhasil dengan apa yang kau cari. Dan kalau aku ingat lagi dari awal kita berjumpa sampai akhir aku memikirkannya, namamu mirip dengan nama Dewi Kasih sayang dan Cinta, sifatmupun mencerminkannya," ucap Indi sambil tersenyum.
"Aku menyatukannya, itu membentuk namanya, Calarina ya, Cal...ari...na."
Dan di saat itu pula terakhir kalinya Calarina mendengar suara Indi juga pertama dan terakhir kalinya ia mendengar Indi menyebutkan namanya.
__ADS_1
Raungan dari Calarina mendominasi saat itu, di saat itu Indi berubah menjadi sebuah kelopak bewarna warni yang indah, ada tiga cahaya gemerlap terlihat di salah satu kelopak.
Yang satu terbang entah kemana mengikuti kelopak yang lainnya begitu pula yang satunya berhembus dengan arah berlainan dan yang satu berada tepat di pengelihatan Calarina.
Cahaya itu menyatu dengan tanah lalu di sana tumbuh setengkai bunga dengan cepat menyebar dengan kelopak bermacam warna, bunga Indi, bunga yang bisa menjadi apapun, bunga yang langkah hanya mereka yang pastinya memiliki sifat jujur dan berani serta tak serakah memiliki keinginan kuat dan cinta juga kasih sayang yang besarlah yang bisa mengambil bunga itu.
💕💕💕
Bertahun-tahun, berabad-abad para Dewa dan Dewi tak pernah berengkarnasi lagi, Calarina mengurung dirinya dengan ruangannya yang di penuhi dengan kelopak bunga Indi, ia masih terpaku dengan itu.
Hingga keputusan berengkarnasi kembali lagi dijalankan mereka tak pernah menyerah mencari Nindiga, sebenarnya Calarina merindungan Nindiga ia sangat amat merindukannya.
Mereka bilang jika dia siap maka dia baru bisa ikut, namun Calarina selalu merasa siap, para Dewa yang pertama dan setelahnya para Dewi.
Pada saat gilirannya Calarina menghentikan keputusannya yang ingin berengkarnasi, ia membiarkan dirinya berada di urutan terakhir, sekali lagi ia membuat skenario.
Dia tak berangkarnasi namun ia pergi ketempatnya dulu, tempat ia dan Indi sering bersama, di sana ia memandangi Indi Flower yang mulai menjalar tumbuh namun ia terpaku saat merasakan aura itu, aura yang sama seperti Nindiga namun lebih kuat berkali-kali lipat seperti menampilkan aura yang berbeda.
Di saat itu dengan diam-diam Calarina pergi menuju asal aura itu, tempat Luanfa berengkarnasi kerajaan Half Witch, İki qılınc. Di sana seorang bayi mungil perempuan dengan rambut panjang coklat dengan warna nila di ujungnya.
Ia membuat Calarina merindukan dua sosok yang berarti baginya, Calarina mengendongnya, ia merasakan kedamaian seperti yang ia rasakan dulu.
"Nindiga ya ini kau, ini Nindiga, kau benar-benar masih hidup. Aku mengerti maksud dari cerita Indi, dia menepati janjinya. Kalian benar-benar menepati janji kalian," ucap Calarina.
Calarina meletakkan bayi itu ketempatnya, ketika malam tiba ia akan pergi mengunjungi bayi tersebut, terus berulang kali, ia bercerita banyak pada bayi itu walau mungkin bayi itu tak mengerti apa yang di ucapkan Calarina.
Itu tak mengapa karena di dekatnya saja dan selalu berada di sisinya membuat Calarina senang.
"Hei, aku ada sesuatu untukmu, aku harap kau selalu mengenakannya," ucap Calarina sambil memberikan kalung yang selalu di pakainya pada bayi itu.
Calarina tersenyum lembut, kalung itu terlihat cocok ketika pemiliknya yang memakainya, kalung itu perlahan menghilang sesaat itu membuat Calarina terkekeh.
"Kau benar-benar dia."
Setelah itu kembali lagi Calarina membuat skenario, ia mengetahui akan Qaranlıq yang menguasai İki qılınc, ia membuat ingatan palsu pada bayi yang telah besar itu, ia membuat sebuah ingatan padanya dan orang sekitarnya agak gadis itu dapat di bawa pergi kedunia manusia, ini demi gadis itu juga.
Dan di sana Calarina kembali membuat skenario, mereka bertemu melalui orangtuanya dan kakek nenek gadis itu yang memang kenal. Mereka berteman bersama selalu bersama juga dengan Atta, Ateya yang berengkarnasi, Ateya tak mengingat dirinya saat itu namun Calarina tau semuanya, selama itu ia hanya memasang topeng polos sebagai gadis kecil yang tak mengetahui apa-apa seperti yang lainnya.
Ia hanya memasang topeng ia selalu membantu gadis itu, bahkan saat gadis itu mendapatkan pecahan permata sebelum mereka kembali ke magica world, Calarina sempat khawatir namun ia juga lega dengan bersamaan, semuanya tampak nyata dan semakin dekat, kalung yang diberikan dulu muncul kembali karena permata itu bersatu.
Satu hal yang Calarina pahami saat itu orang yang di temui Indi adalah Nindiga dan saat Nindiga menghilang ia menemui Indi.
Calarina tak pernah menemui catatan kelahiran Indi, Indi bagaikan sebuah kemisteriusan yang mungkin juga di buat oleh Nindiga, Indi dan Nindiga, ada sebuah rahasia dibalik mereka berdua.
Calarina hanya menyakininya seperti dulu Indi yang yakin akan dirinya, seperti itu juga dia pada Nindiga satu hal yang ia yakini jika Ara adalah Nindiga mereka adalah orang yang sama dengan tingkah dan senyum yang sama yang tertuju kearahnya.
Dan untuk Indi yang merupakan kemisteriusan hanya satuhal yang dapat memastikan semuanya, satu hal yang bisa membuat benang kusut menjadi rapi dan tertata, yang harus ia lakukan hanya melindungi Ara dan tak akan pernah membiarkan gadis itu lolos dari pengamatannya, sedikitpun tak akan pernah dan tak akan bisa, itu tekat yang ia lakukan.
Walau Ara menolak sekuat apapun namun kenyataannya dia adalah Nindiga dan dia tak bisa begitu saja di jauhi seperti ini.
__ADS_1
"Ini semakin rumit saat Michael menjadi bodoh seperti ini."
Bersambung...