Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 12 : Sebuah mimpi


__ADS_3

Jam makan malam, semua berjalan dengan lancar, gak lancar juga sih sebab para pria asrama 02 menadapatkan tatapan tajam membunuh dari Ara dengan aura yang membuat orang di sekitarnya takut jadilah malam ini mereka makan dengan keadaan tegang.


‘pemberitahuan untuk seluruh murid academy di harapkan untuk berkumpul di aula,’ himbauan yang terdengar dari speker sekolah.


“Ayo Ara kita berkumpul!” ajak Leo sambil merangkul Ara berusaha untuk menghilangkan aura mengerikan dari tubuh saudaranya itu.


Ara menepis kasar rangkulan Leo sembari menatapnya tajam. “jangan sentuh aku,” ucap Ara penuh peringatan lalu dengan acuhnya pergi bersama dengan Fioren yang tengah menahan tawa.


Sesampainya di aula sekolah para murid telah berkumpul, masing-masing dari mereka berbaris sesuai dengan Asramanya.


“Selamat malam murid-murid maaf mengganggu sejenak,” ucap Veria sebagai pembukaan.


“Maaf mendadak namun hari ini para murid yang belum mendapatkan nymph akan memanggil mereka,” ujur Veria membuat para murid menjadi gaduh.


Ara mengerutkan alisnya, “harus ada nymph juga di sisi kita?” monolog Ara namun itu terdegar oleh Zen yang ada di sampingnya.


“Ya dan itu sangat di perlukan,” jawab Zen.


“Oh,” balas Ara dengan acuh membuat Zen terkekeh kecil.


“Kau masih marah tentang ciuman?” tanya Zen.


“Menurutmu?” tanya Ara balik dengan mendengus kesal.


“Hei apa kau yakin jika aku menciummu?” tanya Zen membuat Ara menjadi ragu.


“Aku tidak hanya menciummu sekali sih,” ucap Zen membuat Ara kesal berarti pria itu benar-benar menciumnya bahkan pasti telah banyak.


Zen mendekat berbisik kecil hingga tak ada yang mendengarkan bisikannya kecuali Ara. Ara membulatkan matanya ketika mendengar bisikan Zen bahkan ia langsung memukuli bahu pria tersebut dengan kuat walau itu tak ada artinya bagi Zen.


“Sialan! Pria brengsek! Kau-kau ah,” ucap Ara sambil memegangi wajahnya yang memerah, hal itu malah membuat Zen menjadi terkekeh.


“Kau tau aku tak berbohong,” ujur Zen yang semakin ingin menjahili Ara namun jahilannya ini nyata dan bukanlah sebuah candaan belaka.


“Baiklah murid-murid kalian dengan teman asrama kalian masing-masing silakan mencari tempat yang nyaman di harapkan untuk yang telah memiliki membantu temannya yang belum memiliki,” ucap Veria lalu meakhiri pengumumannya.


“Sudah ayo!” ajak Zen sambil ingin mengandeng tangan Ara.


“Menjauh beberapa langkah dariku,” ucap Ara menatap horor pada Zen.


“Boleh saja tapi aku masih memiliki kesempatan waktu kau tidur,” ucap Zen dengan santainya.


“Cowok brengsek!” seru Ara kesal dengan muka memerah malu.


Zen hanya membalasnya dengan tawaan kecil sedangakan temannya memandangi mereka sambil mengelengkan kepalanya dengan para gadis yang tak mengerti apa perkataan yang di maksud Zen.


“Hei Zucca apa maksudnya itu?”tanya Valeria berbisik pada Zucca.


Zucca membisikan sesuatu pada Valeria membuat gadis itu membulatkan mata tak percaya, “bagaimana jika kita melakukan lebih dari yang Zen lakukan kita melakukan penyatuan?” tanya Zucca yang spontan mendapatkan pukulan dari Valeria.


“Hahaha tidak aku hanya bercanda, tapi jika kau siap aku juga siap,” ucap Zucca mengoda Valeria.


Valeria mendengus kesal dengan Zucca yang terkekeh geli, Zucca merangkul gadis itu dan syukurnya tak ada penolakan sama sekali.


Sesampainya di taman tempat yang mereka tuju setelah sang ketua Zen memutuskan akan melakukan kegiatan mereka di sana.


“Baiklah karena yang tak mempunyainya hanya para gadis maka kita akan bagi orang setuju?” tanya Zen diangguki yang lainnya.


“Ok kalau gitu Zucca dan Valeria, Leo bersama Fioren, Rean dan Nava, Luif bersama Atta, Shuan dan Karin, Zac bersama Vino dan Vina, terakhir aku besama Ara,” ujur Zen.


“Kenapa aku harus bersamamu?” sebal Ara.


“Ada masalah nona?” tanya Zen.


“Ya,” jawab Ara ketus.


“Baik kalau gitu aku tak ada masalah jadi tak ada yang membantah,” ujur Zen membuat Ara menjadi kesal.


“Ok semuanya jadi silakan lakukan pemanggilan dengan nymph,” ucap Zen lalu menghampiri Ara menarik gadis itu ke tepi air mancur yang ada di tengah-tengah taman.


Ara memandang tajam kearah Zen membuat pria itu terkekeh ia menundukan Ara di tepi Air mancur.


“Sudahlah kau tak mungkin marah teruskan?” tanya Zen.


“Cydymaith dan tuannya sama saja,” ucap Elef yang datang sambil merangkul Aruna yang sebal padanya.


“Ok, ok kita mulai karena aku ingin semua cepat selesai dan tidur di kamar kau tau aku mengantuk,” ucap Ara.


“Baiklah kalau gitu,” ucap Zen lalu memejamkan matanya sejenak dan muncul cahaya kecil di bahunya.


Zen membuka mata dan cahaya tersebut meredup bersamaan dengan munculnya makhluk kecil bersayap dengan telinga hampir menyerupai Elf, lebih tepatnya telinga Vampor karena telinganya runcing.


“ini nymphku Feren, kau sudah mengenalnya bukan?” tanya Zen.


“Hai Ara apakabar lama tak berjumpa,” ujur Faren pada Ara.


“Hai Feren aku baik bagaimana denganmu? Dan sang ratu juga tempat nymph?” tanya Ara.


“Baik, ratu sehat dan tempat nymph baik malah sangat baik berkatmu,” jawab Feren.


“Ok cukup sekarang giliranmu Ara,” ucap Zen.


“Bagaimana caranya?” tanya Ara.


“ikuti instruksiku, pejamkan matamu!”pinta Zen, Ara memejamkan matanya mengikuti apa yang Zen instruksikan padanya.


“Lalu konsentrasi mintalah para tempat para nymph, minta izin pada ratu nymph bahwa kau menginginkan nymph yang cocok untukmu,” ucap Zen.


Ara melakukannya ia berkonsentrasi, ‘Nymphi, nymphi, nymph tempat para nymph berada sang ratu nymph aku meminta izinmu,’ ujur Ara dalam hati.


Dari pandangannya Ara melihat sebuah cahaya muncul bersamaan dengan wanita bersayap emas dengan baju emas, berambut panjang indah dan mata yang menatapnya hormat.


‘Ya Ratuku apa yang ingin kau minta, kau tak perlu meminta izin dunia para nymph adalah milikmu,’ ucapnya.


‘Zinji, kau selalu mengatakan itu padaku,’ ucap Ara padanya sang Ratu peri Zinji.


‘tapi itulah kenyataannya,’ balas Zinji sambil tersenyum.


‘Jadi Zinji bisakah kau membantu memilihkan nymph untukku?’ tanya Ara.


‘Tentu saja setiap makhluk memiliki nymphnya masing-masing itu sudah takdir,’ jawab Zinji.


‘Jika anda memerlukan bantuankupun aku siap menjadi nypmh cadangan anda,’ canda Zinji.


‘Ya terimakasih Zinji,’ balas Ara.


‘Sudah kewajibanku Ratuku,’ ucap Zinji tersenyum perlahan cahaya tersebut meredup bersamaan dengan Ara yang membuka mata dengan cahaya yang ada di depannya.


Ara menampung tangannya di bawah cahaya itu, cahaya tersebutpun meredup lalu muncul gadis kecil bersayap dengan rambut panjang indah pakaian mungil dan sebuah lambang di tepi matanya, ia memegangi lututnya kalian tau posisinya seperti bayi yang ada di dalam rahim.


“Nura,” panggil Ara.


Mata gadis nymph itu terbuka ia mengerjapkan matanya, perlahan ia mengepakkan sayapnya membuat sayap itu besinar dengan cahaya bewarna emas.


“Ara!” serunya tersenyum lebar dan langsung memeluk Ara lebih tepatnya pipi Ara.


“Hai Nura bagaimana kabarmu?” tanya Ara sambil terkekeh.

__ADS_1


“Baik bahkan sangat baik, ku kira siapa yang akan menjadi pemilikku ternyata kau, aku sangat sangat senang i am happy!” seru Nura.


“Hah ya sainganku yang lainnya datang lagi,” ucap Aruna.


“Yaampun kenapa aku harus ketemu kalian sih!” seru Nura yang di tunjukan pada Aruna, Elef dan Feren.


“Ayolah Nura jangan mulai,” ujur Feren memutar bolamatanya malas.


“Jadi setelah ini aku boleh kembali lebih dahulu ke asrama?” tanya Ara bebinar pada Zen.


“Ya, karena kau selesai lebih dahulu,” jawab Zen membuat Ara berseru senang.


“Hei Nura bukankah di tempat nymhp ada perpustakaan yang lengkap tentang sejarah?” tanya Ara ketika mengingat sesuatu.


“Ya, lumayan,” jawab Nura agak heran.


“Bagus bagaimana jika kita ketempat nymhp!” seru Ara.


Ara yang baru ingin melangkah pergi di hentikan oleh Zen yang ada di belakangnya.


“Bukankah kau mengantuk? Lebih baik kau kembali ke asrama!” pinta Zen membuat Ara cemberut.


“Kok gitu sih?! Kau tak seru!” seru Ara, Zen memutar bola matanya malas lalu berbisik pada Ara, membuat gadis itu membelalakkan matanya tak percaya.


“Pangeran tak tau etika!” seru Ara spontan pada Zen.


“Jadi kembali ke kamarmu atau...” ucap Zen memberi jeda.


“Ou ok, ok aku kembali ke asrama dan segera tidur jangan mengikutiku!” kesal Ara sambil berjalan pergi menuju asrama.


“Ck, liat Ara sudah kembali Zucca ayo kita kembali,” ucap Valeria dengan nada manja agar pria di depannya luluh.


“No honey selesaikan dulu tugasmu,”ucap Zucca.


“Zucca! Ria ngantuk,” rengek Valeria.


“Kau mengantuk?” tanya Zucca sambil mengelus pipi Valeria.


Valeria menganguk seperti anak yang baik ini semua demi kembali ke asrama kalau tidak ia tidak akan pernah berucap manja dengan pria yang notabenya adalah Matenya.


“Ketika kau dapat memanggil nymph kau boleh kembali ke asrama,” ucap Zucca tersenyum membuat Valeria mendengus sebal.


“Liat saja aku akan mendapatkan nymph sebentar lagi!” seru Valeria.


Tak jauh dari kedua pasangan itu, Nava dan Rean, Luif dan Atta, Shun dan Karin, juga Leo dan Fiorenpun sama walau tak menyentuh dan berujur manja namun intinya para gadis ingin kembali ke asramanya. Berbeda dari teman-temannya, Zac, Vino dan Vina malah bersiap-siap kembali ke asrama.


 


\


 


Aruna, Elef, Maru, Firta, Fanya, Helen Cydymaith Zucca, Caroline Cydymaith Valeria, Sam Cydymaith Shun, Kiran Cydymaith Karin, Fayri Cydymaith Fioren, Lai Cydymaith Luif, Adma Cydymaith Atta, Noel dan Nala Cydymaith Vina dan Vino dan Harran Cydymaith Zac.


Semua Cydymaith itu berkumpul di sebuah ruangan yang ada di tempan Cydymaith berada.


“Elef bisahkah kau melepaskan rangkulanmu dariku?” tanya Aruna yang mulai putus asa karena Elef terus saja merangkulnya.


“Aku tidak merangkulmu tapi memegang bahumu,” balas Elef membuat Aruna mendeluk kesal ‘apa bedanya!’ ingin sekali ia berteriak seperti itu namun suaranya kini malas ingin keluar.


“Jika kau tak suka aku akan melepasnya,” ucap Elef membuat Aruna senang namun itu tak bertahan lama.


Ya Elef memang melepas rangkulannya di bahu Aruna namun kini ia malah melatakkan tangannya melingkar di perut Aruna membuat Cydymaithia satu itu menjadi datar.


“Oh lama-lama aku bisa mati melihat perdebatan mereka,” ucap Caroline memegang dahinya pusing melihat Elef dan Aruna.


“Helen plaese jangan mulai,” ucap Caroline yang malah membuat Helen terkekeh.


“Hei kalian belum mulai?” heran Nura yang datang bersama Feren dan Mars nymph Luif.


“Yang ikut hanya kalian bertiga?” tanya Sam.


“Ya yang lain sudah tepar mereka letih,” jawab Feren acuh tak acuh.


“Baiklah ayo kita mulai,” ucap Elef.


“Ya dan itu akan terjadi saat rangkulanmu terlepas dariku,” ucap Aruna.


“Diam! Atau kau ingin aku menyumbat bibirmu dengan bibirku?” tanya Elef memendang tajam Aruna.


Sontak saja Aruna langsung menutup bibirnya, ‘kok jadi dia yang natap tajam sih pantasnya aku,’ batin Aruna.


“Aku dengar Runa,” ucap Elef sambil memutar bola matanya malas, Aruna hanya menganguk.


“Baik kita mulai?” tanya Nami yang memeng ada di sana dalam bentuk kucing.


“Hei Nami bisakah kita berubah dalam bentuk manusia dulu? Aku ingin bentuk manusia,” rengek Kabi.


“Diam Kabi, kalau ada perintah dari Ara kita boleh berubah,” ucap Nami membuat Kabi kesal.


“Baiklah kalau gitu bagaimana dengan ingatannya? Rengkarnasinya kali ini memang harus berhasil atau Magica World akan hancur,” ucap Elef.


“Dan nama Cydymaithnya akan berubah,” tambah Lai.


“Juga apa yang di inginkan olehnya pasti akan di berikan Michael,” tambah Adma.


“Ara hanya mengumpulkan beberapa permata apalagi para dewa-dewi itu membuat ingatan mereka lupa atas permintaan darinya, kita harus menyadarkan mereka,” ucap Aruna.


“Dan tugasku selesai, Tuanku mengingat semuanya,” ucap Elef membuat yang lain memutar matanya malas.


“Tentu saja mana mungkin dia mau melupakan ingatannya apalagi tentang istri tercintanya,” ucap Kiran.


“Ok kau benar,” ucap Elef sambil terkekeh.


“Kalian tau aku belum membahas ini dengan Ara tapi dia selalu mencari tau dari buku-buku,” ucap Nami.


“Satu hal yang harus kita lakukan,” ucap Kabi.


“Apa?” tanya Firta.


“Menjaga agar Ara tak kembali ke dunia manusia, kalian tau ia memiliki niat untuk kemabali ke sana,” ucap Kabi.


“Dan itu berarti kehancuran bagi Magica World,” ucap Harran.


“Tapi bukankah tuanmu juga akan membatu Harran?” Tanya Noel.


“Tentu saja itu pasti,” jawab Harran.


“Hei aku memiliki Rencana,” ucap Maru, Nura dan Feren bersamaaan.


“Ok kau dulu Maru,” ucap Feren.


Maru menyuruh semuanya mendekat dan berbisik membisikan rencana begitu pula dengan Nura dan Feren yang mendapat giliran.


“Ck, mereka membuat rencana tanpaku,”ucap Zac yang awalnya menutup mata kini mata itu malah terbuka.


“Kira apa yang akan di lakukannya malam ini? Kembali memberikan ingatan melalui mimpi?” monolognya sambil tersenyum misterius.

__ADS_1


“Ok sedikit lagi dan ramuanku selesai,” ujur seorang wanita berambut ungu.


Ia berhati-hati memasukan setiap ramuan dan mencampur, tetesan terakhir dengan teliti ia masukan namun,


“Bum Vista!” seru wanita berambut coklat dengan nila diujungnya.


Bersamaan dengan teriakan tersebut terdengar bunyi ledakan dengan asap mengepu dan wajah wanita bernama Virsa tadi yang sedikit terkena asap.


“NINDIGA!” serunya membuat wanita berambut coklat, Nindiga, segera kabur dan pergi.


“Ok kali ini aku harus berhasil, ku mohon Nindiga jangan mengangu,” ujur Wanita berambut hijau terang dengan ujung bewarna kuning.


“Oh ayolah Kavisa aku belum memulainya,” ucap Nindiga kecewa.


“Bukan kah kau sudah menganggu Vista? Kau belum puas?” tanya Kavisa.


“Ya belum,” jawab Nindiga.


“Kenapa kau tak mengangu Arda dan Kiara saja kudengar mereka ingin menurunkan hujan,” ucap Kavisa.


“Menyenangkan namun ada Leon di sana aku bisa di marahi olehnya,” ucap Nindiga.


“Ya cari yang lain Maharan misalnya, atau ateya dan Luanfa,” ucap Kavisa.


“Ide bagus sekalian aku kerjai mereka semuanya,” ucap Nindiga tersenyum senang.


“Siapa yang ingin kau jahili Nindiga?” tanya pria yang memiliki rambut sama seperti Nindiga.


“Kau ingin di jahili olehnya Luanfa,” ucap Kavisa di balas pelototan dari Nindiga.


“Eh bukan begitu Kak, aku hanya, hanya ingin bermain,” dalih Nindiga.


“Dengan menjahili? Kau tau orang-orang Debesu pils sudah tau kau menjahili Vista kini mereka siap siaga kalau-kalau kau mengangu mereka, lagipula jika Michael tau aku tak tau apa yang akan ia lakukan,” ucap Luanfa pada Nindiga yang merupakan adiknya.


Nindiga cemberut ia menghentakan kakinya berjalan pergi meninggalkan Kavisa dan Luanfa.


“Hei Luanfa apa benar yang lain tau?” tanya Kavisa.


“Ntahlah aku hanya asal bicara karena aku melihat ia menggangu Vista lagi pula kesempatan ini sangan berhaga kini aku bisa berduaan dengan Ataya,” ucap Luafan sambil melangkah pergi membuat Kavisa tercengang.


“Ibu? Ibu kenapa?” tanya pria berambut hitam namun mememiliki mata nila yang serupa dengan Nindiga, Karsan.


Nindiga tak menjawab ia mengabaikan Karsan yang notabenya adalah sang anak. Nindiga masih melangkah pergi mengabai orang-orang yang menanyainya di seperpanjang perjalanan.


“Ayah kau memanggilku?” tanya Karsan menunduk hormat pada pria berambut hitan dengan mata warna biru rembulan yang duduk di singgah sananya, Michael.


“Ya, tapi ngomong-ngomong ibumu kenapa? Aku dengar ia mengabaikan orang-orang tak seperti biasanya,” ucap Michael.


“Aku juga kurang tau,” ucap Karsan.


“Kakak! Kakak! Ayo ikut aku,” ucao gadis kecil yang memiliki rambut seperti Nindiga namun mata seperti Michael.


“sebentar Starla, Kakak ingin bicara dengan Ayah,” bisik Karsen.


“Karsen kau bermain saja dengan Starla aku ingin menemui Ibumu dulu,” ucap Michael pada Karsen.


Karsen awalnya ragu namun Starla menarik tangan Kakaknya itu pergi. Micheal bangkit ia berjalan pergi menuju tempat Nindiga berada.


Pintu besar megah terbuka Michael memasuki ruangan itu dan melihat Nindiga berguling membelakanginya di kasur, pria itu menghembuskan nafasnya pelan ia lalu menghampirinya.


Michael melingkarkan tangannya pada perut Nindiga. Sejenak Nindiga tersentak namun ia menjadi tenang ketika tau siapa yang memeluknya.


“Kau kenapa lagi?” tanya Michael.


Nindiga melepaskan pelukan Michael dari perutnya ia berbalik lalu memeluk Michael menyembunyikan wajahnya di dada bidang Michael. Michael memeluk balik Nindiga dan mengelus kepala wanita itu dengan sayang.


“Mic aku menjahili Vista,” aku Nindiga sontak membuat Michael menahan tawa.


Nindiga memandangi wajah Michael dengan cemberut. Michael terkekeh melihatnya.


“Apa yang kau tertawakan?” tanya Nindiga dengan kesal.


“Come Honey kau ngambek karena itu?” tanya Michael sambil mencium kening Nindiga.


“Ya, kau tidak akan marahkan?” tanya Nindiga takut-takut.


“Untuk apa aku memarahimu? Kau yang paling tau aku takkan bisa memarahimu bukan?” tanya Michael sambil mengecup bibir Nindiga.


“Ta-tapi Kakak bilang orang-orang di Debesu pils sudah mengetahui aku akan menjahili mereka dan kalau kau tau-,”


“Ya bila aku tau apa yang di katakannya hm?” tanya Michael memotong ucapan Nindiga.


“Dia tak akan bisa membayangkan apa yang akan kau lakukan padaku,” cicit Nindiga.


“Ya, tak ada yang bisa membayangkannya, aku tak marah padamu namun aku akan menghukummu,” ucap Michael membuat Nindiga membulatkan matanya tak percaya.


Sedetik kemudia mata yang membulat itu terpejam saat Michael menautkan bibir mereka, “Mic,” panggil Nindiga.


“Shut honey bukankah kau mengingingan hukuman?” tanya Michael lalu kembali menciumi Nindiga.


5 menit berlalu nafas mereka saling terhenga-engah.


“Aku mencintaimu,” ucap Michael sambil mengecup bibir Nindiga sekilas.


“Aku juga mencintaimu,” balas Nindiga memeluk Michael.


“Jadi kenapa kau menjahili mereka?” tanya Michael, “kau tak mungkin menjahili mereka tampa alasan bukan?”


“Mich,” panggil Nindiga dengan mata berkaca, “Aku hanya ingin bersenang-senang sebelum berengkarnasi nanti.”


“Nindiga, look at me, look me in the eyes,” ucap Michael memegangi dagu Nindiga membuat wanita itu memandangi matanya.


“Aku belum mengatakan mereka, kau boleh mengatakannya pada mereka tentangnya,” ucap Michael.


Air mata Nindiga menetes, isakan terdengar dari bibirnya, ia memeluk erat Michael. Michael mengelus kepala Nindiga menenangkannya.


“Mich aku ingin meminta sesuatu,” ucap Nindiga.


“Katakan saja, semua permintaanmu akan aku turuti,” ucap Michael.


“Bukankah kau akan ikut nantikanya? Berengkarnasi bersamaku?” tanya Nindiga.


“Ya, bukan sebelumnya juga begitu?” tanya Michael balik yang di balas anggukan oleh Nindiga.


“Aku mohon Mich nanti tolong lupakan ingatan kalian tentangku dan tentang Debesu Pils, namun untukmu, tentang Debesu pils terserah denganmu tapi ku mohon lupakan aku,” ucap Nindiga membuat Michael terdiam.


“Baiklah,” ucap Michael agak tak rela. “Sekarang tidurlah,” ucap Michael sambil memeluk Nindiga.


Tak beberapa lama setelahnya dengkuran halus terdengar, Michael memandang wajah Nindiga yang tertidur sekilas ia mengecup bibir Nindiga.


“Maafkan aku Nindiga aku tak bisa mengambulkan permintaanmu, aku bisa saja melupakan Debesu pils tapi tidak dengan melupakan dirimu, aku tak mampu melupakanmu,” ucap Michael.


****


“Semoga kau cepat mengingatku,” ujurnya sambil mengecup bibir Ara.


TBC

__ADS_1


__ADS_2