
Suara patahan ranting terdengar Nami dengan cepat berlari memasuki hutan dengan Ara yang berada di atasnya.
“Nami ke kiri! Kita sudah hampir dekat,” ucap Ara.
Sesuai yang di ucapkan Ara Nami berbelok ke kiri saat ada persimpangan jalan, harimau putih itu terus berlari dan berhenti di sebuah pohon saat Ara menyuruhnya bergenti.
Ara turun dari harimau itu dan berjalan mendekati pohon tersebut, Nami dengan setia mengikuti Ara dari belakang.
Ara menyentuh pohon itu, “Kekuatannya pohon ini tidaklah terhubung ke dunia manusia lagi,” gumam Ara.
Ara mengacak rambutnya yang memang sudah kusut itu frustrasi, ia lelah sedari tadi ia telah berjalan dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya dan jawabannya sama saja ia tak menemukan portal yang bisa membawanya ke dunia manusia, portal itu ditutup.
Ara terduduk, Nami memandang iba tuannya itu, sebegitu inginnyakah Ara kembali ke dunia manusia?
Suara gemersek semak-semak terdengar membuat Ara menoleh dengan Nami yang berdiri di depan Ara sambil menunjukan sikap siaga siap menyerang.
“Tahan Nami!” pinta Ara membuat Nami mengembalikan posisinya seperti semula.
“Rina! Itu kau bukan?” tanya Ara.
“Seperti biasa insting anda tetap tajam yang mulia,” ucap seorang wanita yang keluar dari balik semak-semak.
“Salam pada tuan putri kerajaan İki qılınc, sang dua pedang dunia,” ucap wanita bernama Rina itu menunduk hormat.
“Bangkitlah Rina, jika kau lupa aku bukanlah aggota kerajaan itu,” ucap Ara.
“Tidak, darah kerajaan mengalir pada Anda yang mulia, Anda tak bisa memungkiri itu, bukankah ini waktu yang tetap untuk memusnahkan mereka?” tanya Rina.
“Memusnahkan ya,” ucap Ara tersenyum, “tapi aku tak ingin melakukannya sedangkan keberadaan kedua orangtuaku tak jelas pastinya.”
“Yang Mulia Raja dan Ratu masih hidup!” seru Rina membuat Ara memandang wanita yang merupakan penyihir agung kerajaan itu dengan tatapan sulit diartikan.
“Apa maksudmu? Ayah dan Ibu masih hidup? Dari mana kau mengetahuinya?” tanya Ara.
“P-peramal Arthos yang mengatakannya, sebelum insiden itu terjadi Yang Mulia Raja dan Ratu menemuinya,” ucap Rina.
“Rina ceritakan semuanya padaku tanpa ada yang tertinggal! Ini perintah!”pinta Ara.
“Bisa dikatakan yang terbunuh di insiden itu bukanlah Yang Mulia Raja dan Ratu melainkan Duke dan Duchess Danĝera Cêno,” ucap Rina.
“Lanjutkan!” pinta Ara.
Rina menceritakan semua hal yang ia ketahui pada Ara setelah Rina selesai Ara segera pergi undur diri kembali ke academy mengingat hari yang sudah gelap dan ia tak ingin ada yang tau bahwa ia pergi mencari gerbang dimensi itu.
“Kabar keluarga Danĝera Cêno yang mehilang sejak kematian Kaisar?” monolog Ara bertanya.
Ara menghembuskan nafasnya kasar. “Luif pasti tau mengenai ini, bukan?”tanya Ara.
“Hah, bodohnya aku sepantasnya aku memanggilnya Kakak bukan? Ah Kakak sudah lama aku tak mengatakan kata itu,” ucap Ara.
Ara mengusap kasar air matanya yang menetes ia menutupi wajahnya dengan bantal terisak menangis.
__ADS_1
Isakan memenuhi ruangan kamarnya, air mata tergenang di pelupuk matanya, hatinya sakit, hancur, ia merindukan mereka namun ia terlalu lemah, tak ada yang tau, takkan ada yang tau bahwa kini sang Dewi melampiaskan amarahnya dengan bening kristal yang mengalir.
Pagi yang cerah, burung berkicau indah namun para penghuni asrama 02 memandang aneh Ara yang sangat amat kusut.
Bagaimana tidak ya wajah Ara memang cantik seperti biasanya dengan pakaian seragam rapi dengan rambut panjangnya yang diikat kuda namun bedanya terletak pada matanya, mata bewarna nila permata itu tidaklah memancarkan aura kejahilan melainkan kerinduan, matanya merah.
“Ara apakah kau tadi malam menangis?” tanya Karin pelan.
“Hah? Menangis tidak aku hanya...hanya memikirkan sesuatu,” ucap Ara lirih membuat mereka menjadi bingung.
Atta menyingkut perut Luif membuat pria itu melotot pada gadis yang kini menatapnya tajam itu.
“Kenapa kau menyingkutku?!” tanya Luif.
“Kau membuat masalah dengan Ara?” tanya Atta menatap Luif tajam membuat pria itu heran.
“Apa maksudmu?” tanya Luif balik.
“Kau tak lihat dari tadi Ara terus menghindari tatapan mata denganmu,” celutu Nava yang ada di sebelah Atta.
“Jadibpasti kaulah pelaku yang membuat Ara menjadi begini!” tuduh Valeria.
“Hah?! Kalian menuduhku! Jika, kalian lupa dari kemarin Ara tak menampakan batang hidungnya kecuali jam pelajaran kemarin,” ucap Luif, “lagipula kenapa kalian tak menanyai Zen saja kemarinkan dia yang terakhir bersama Ara.”
Valeria, Atta, Nava juga Karin, Vina dan Fioren menatap pada Zen engan bertanya mengngat aura pria itu yang lebih dingin dari biasanya.
“Arthos,” gumam Ara tampa suara.
Zen dengan sigap langsung menahan tangan Ara membuat langkah gadis itu terhenti memandang tajam pada Zen.
“Kau mau kemana? Tidak mungkin kau ingin menemui peramal itu bukan?” tanya Zen membuat yang lainnya tambah bingung.
“Kalau aku punya cara untuk menyelesaikan masalahku kenapa tidak?” ucap Ara dengan dingin.
“Lagi pula Yang Mulia Putra Mahkota Şirin qan ini bukanlah urusan Anda dan Saya tegaskan Saya tidak suka dengan orang yang menghalangi saya apalagi dengan orang yang saya percaya namun ia menyembunyikan sesuatu dari Saya,” ucap Ara dengan tajam.
Zen terdiam dia membatu, Ara melepaskan genggaman tangan Zen darinya lalu melangkah pergi.
“Zen apa yang maksud kata-kata Ara tadi?” tanya Leo bingung.
Zen tak menjawab, ia bangkin dari tempat duduknya dan segera pergi berlawanan arah dengan tempat Ara pergi.
“Wah sepertinya ini akan rumit juga sulit,” ucap Zac sambil tersenyum miring.
“Mereka kenapa sih sebenarnya?” heran Vino.
“Lebih baik kita diam,” ucap Rean.
“Ya aku setuju,” tambah Shun.
__ADS_1
“Ada sesuatu yang aneh atau ini ada kaitannya dengan mimpi itu?”gumam Zucca.
“Vera tutup semua gerbang kedunia manusia tampa terkecuali!”pinta Zen bertelepati pada seseorang di ujung sana.
“Baik Yang Mulia,”
“Aku tak akan membiarkanmu lepas dariku, tak akan pernah karena kau milikku,”
“Wah ini menyenangkan mereka sudah mulai?” tanya seorang pria berambut putih perak.
“Aku tak menyangka akan menjadi serumit ini,” ucap pria berambut coklat.
“Lagi pula Nindiga keras kepala juga walau Mahadewa telah memberikan beberapa potong ingatan itu,” ucap pria berambut merah.
“Kalian bergosip yang tak mengenakan,” ucap Zac yang datang tiba-tiba.
“Aku heran kenapa kau bisa sembarang masuk kesini?”heran pria berambut pirang.
“Tentu saja karena aku bagian dari tempat ini, lagi pula Lion asal kau tau isrimu kini tengah didekati pria lain,” ucap Zac membuat pria itu melotot.
“Kau bercanda! Aku pergi dulu!”serunya dan segera menghilang.
“Hei Karsan bagaimana kabarmu?” tanya Zac ah tidak sepatutnya kita memanggilnya itu melainkan Dzive.
“Diamlah Dzive, kau tau bagaimana kabarku bukan? Jadi jika kau ingin membuatku tambah pusing lebih baik jangan,” ucap Karsan.
“Ya aku mengerti kau kini sedang stres mengngat tingkah kedua orangtuamu yang seperti remaja labil bukan?” tanya Dzive.
“tapi aku sarankan padamu lebih baik kau membuat cerita tentang kisah mereka pasti akan menyenangkan bukan?”tanya Dzīve lagi.
Karsan yang sedari tadi duduk di kursi dengan tumpukan kertas di depannya menjadi geram ia melemparkan pena yang ia pegang pada Dzīve namun sayangnya lemparan itu meleset.
“Sepertinya kau harus melatih kemampuanmu lagi Kar,” ejek Dzīve.
“DZĪVE! Kembali ketempatmu!” seru Karsan berteriak dengan marah.
Dzīve dengan koncar kancir pergi begitu juga dengan yang lainnya karena kini Karsan sedang dalam mode onnya.
Karsan memijit pelipisnya pusing Dzīve benar ia memang agak pusing dengan tingkah orangtuanya lagipula ia tak siap jika saja sang ayah tak kembali ke Debelus pils, sungguh ia sudah pusing dengan berkas-berkas ini.
“Ayah cepat kembali dan Ibu semoga semuanya selesai aku ingn bersantai!”seru Karsan dengan letih.
“Andai aku bisa mengetahui masalalu,” ucap Karsan.
“Ya hanya andai ,” ucap Karsan.
“Aku punya Kakak-kakak yang payah lagi pula peramal itu aku akan menemuinya terlebih dahulu sebelum Ibu!”seru gadis kecil itu lalu dengan riang segera pergi.
TBC
Hai maaf ya kayaknya telat banget upnya.
Ada yang nungguin?
Jangan lupa kasih dukungan, kritik, saran, vote dan komentar terus ya biar saya makin semangat buat up cerita ini. Terima kasih semua
__ADS_1
Sampai jumpa minggu depan. 👋