Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 28 : ingatan dan pecahan permata


__ADS_3

Suasana ruangan itu kacau, para makhluk kegelapan itu membuat rusuh apa lagi jika ada pimpinannya disana namun tak ada satupun dari para undangan bisa ikut membantu bertarung, ada temeng yang melindungi mereka.


"Apa ini!" seru Nava sambil memukul-mukul temeng didepannya.


  Bruk! Bunyi keras itu menabrak temeng membuat para perempuan berteriak takut sekagus kaget.


"Sekali lagi, serahkan pecahan permata itu padaku!" seru Ara sambil mencengram leher baju pria didepannya, Khin.


   Walaupun Khin kini memiliki pecahan permata milik dewi takdir didalam dirinya namun kekuatan gadis di depannya sangat kuat, kekuatannya tak terbatas bahkan dengan mudahnya gadis itu melemparnya dengan kuat hingga menabrang temeng yang dibuat gadis itu tadinya.


"Kau hanya menginginkan permatanya? Tidak kah kau ingin tau bagaimana keadaan orangtuamu?" tanya Khin membuat Ara menatap tajam dirinya.


"Hahahahaha baiklah aku akan memberitahumu bagaimana keadaan orangtuamu kini," ucap Khin sambil tertawa keras walau ia sudah hampir sekarat.


"Orangtuamu telah ku ubah jadi batu," ucap Khin dengan santai.


   Khin tak tau akibat dari ucapan santainya itu ketika ia mengetahuinya itu sudah terlambat. Aura kekuatan dengan cahaya putih mengelilingi Ara, gadis itu menatap dingin pada Khin, ia menghempaskan cambuk yang ada padanya. Angin mengelilingi dirinya perlahan Ara terangkat ia seakan melayang.


"Ara...," lirih Valeria dan Atta bersama.


    Kedua gadis itu memegangi kepalanya kala sebuah putaran ingatan melintas dikepala mereka, tak terlihat kompak namun mereka sama-sama menutup matanya bergantian bukan hanya mereka saja namun juga Luif dan Zucca, putaran pada ingatan mereka makin cepat bersamaan dengan tubuh mereka yang terangkat seperti Ara.


   Cahaya keluar dari keempat orang itu warna putih dari Atta yang terlihat terlebih dahulu menuju satu titik lalu juga Valeria dengan cahaya Violet dilanjutkan dengan Luif yang mengeluarkan cahaya biru keunguan dan Zucca yang mengeluarkan cahaya hijau, keempat cahaya itu berkumpul di satu titik yaitu Ara.


    Semua mata terbelalak melihat itu, apa yang baru saja terjadi?


"Aku yakin itu dia, Nindiga itu kau," gumam Zen menatap lekat pada Ara.


****


Valeria.


  Vista, dengan warna violet, dirinya melambangkan persahabatan dan sihir.


   Magica World tempat di mana para makhluk dengan beragam ikatan takdir berada dan dunia itu adalah dunia harapan, permohonan dari Dewi Takdir Nindiga.


    Ya, itu yang aku tau, itu yang aku baca dan ingatan itu baru beputar padaku, aku Valeria Tazanara Sehrli, kini aku baru mrngingat ingatanku aku adalah rengkarnasi dari Dewi Vista, Dewi kerajaanku. Kisah tentang rengkarnasi para Dewa-Dewi itu nyata karena kini aku menyadarinya tujuan kami berengkarnasi satu mencari Nindiga yang menghilang.


   Dan satu yang aku yakini saat melihat Ara dia mirip seseorang ya Nindiga dia persis seperti Nindiga. Para titisan Nindiga tak ada yang mirip dengannya mungkin rambutnya hampir sama memiliki sedikit warna nila diujung rambut mereka, namun Ara tidak dari segi rambut muka dan tubuh mereka sama persis, Aku yakin Ara bukanlah titisan Nindiga melainkan Nindiga itu sendiri pada akhirnya aku menemukan Nindiga, sahabatku, saudariku.


"Vista aku berjanji ini rengkarnasi terakhirku, aku ingin izinmu."


   Ini ingatan beberapa ribu tahun yang lalu ini juga terakhir kalinya aku melihat Nindigaku.

__ADS_1


"Baiklah, tapi seperti biasa aku akan ikut denganmu."


Kalimat itu kalimat yang aku sesali seumur hidupku, kalimat itu adalah sebuah kutukan bagiku, kalimat itu memabawa Nindigaku hilang.


   Pada saat rengkarnasi saat itu dia mengingat ingatannya namun tidak dengan alasan mengapa ia berengkarnasi hingga 1000 kalinya dan pada rengkarnasinya itu dia menghilang didepan kami semua saat bertempur melawan para makhluk Qaranlıq yang tak pernah musnah.


  Debu peri tidak namanya bukanlah itu namun sebut saja begitu yang penting debu itu bercahaya. Menyelamatkan Magica World dan disaat itu dia menghilang tubuhnya berubah menjadi debu bercahaya bewarna putih ya putih dan aku rasa kekuatannya menghilang tidak namun tidak terlihat sementara karena kami bersedih, kami adalah simbol dari benang takdir Nindiga ketika hati kami hancur ketika itu kekuatan benang itu hilang tak bewarna dan menyisihkan warna putih.


   Satu yang diberikannya pada kami pecahan permata, pecahan kekuatannya yang terpecah, ada dua pecahan padaku satu diberikannya secara diam-diam dan satu lagi aku menumukannya saat mencarinya.


   Aku Menggengam erat dua pecahan permata itu, aku lalu mengangguk ini saatnya pecahan permata ini harus menghampiri tuannya.


   Aku melepaskan pecahan permata itu dariku dia melayang tentunya aku mendorongnya, pecahan tersebut keluar dari diriku, menyalur melalui cahaya bewarna violet milikku.


   Vista itu namaku dan aku adalah dewi persahabatan dan sihir, Nindiga adalah teman, sahabat dan saudariku yang tercinta.


****


Atta.


   Ateya dengan warna kuning pucat seperti cahaya mentari, sang cahaya dan kenyamanan Dewi paling lembut, itu dewi kerajaanku.


    Aku tau tentaang kisah rengkarnasi para Dewa-Dewi itu aku selalu menganggap itu nyata karena memng itu lah kenyataannya aku dewi Ateya.


   Alasan rengkarnasiku dan yang lain kali ini sama seperti sebelumnya. Awal rengkarnasi kami awalnya adalah menjaga dan membantu Nindiga kami berengkarnasi secara bergulir dan ketika rengkarnasi Nindiga yang 1000 kalinya kami berengkarnasi bersama dan siapa yang tau rengkarnasi saat itu adalah rengkarnasi terakhir kali kami melihat Nindiga.


   Sampai kini ia tak ditemukan beribu tahun kami mencari dia tak pernah ada yang kami temukan hanya titisannya yang selalu ada di saat kami berengkarnasi seakan mengatakan kami tak akan bertemu dengan Nindiga lagi.


    Namun jika titisannya ada kami yakin dia masih ada, Nindigaku masih hidup ia tak pernah mati, saudariku masih hidup tapi dimana ia kini?


   Mata bersinar bewarna nila dengan rambut coklat yang diujungnya memiliki warna nila dengan wajah yang cantik mempesona. Saat pertama kali aku melihatnya aku tertegun, aku seakan mengingat seseorang namun aku tidak tau siapa itu dan ya kini aku tau saat kami kembali bertemu aku melihatnya, wajahnya, rambutnya, tubuhnya mereka sama persis dia Nindigaku, Nindiga kami, dia saudariku.


   Cukup lama hingga aku mengenalinya, mungkin inilah jawaban kenapa ingatan kami menghilang saat berengkarnasi, ini jawabannya. Ara sahabat dekatku dia adalah Nindiga.


  Terakhir kali aku melihatnya disaat itu ia memberikan pecahan permata kekuatannya ia memberikanku juga Vista, tujuannya? Aku tak tau mengapa. Kini dikepalan tanganku ada dua permata jangan tanya mengapa ada dua ditanganku, ini punya Nindiga aku akan selalu menjaganya dan lagi...permata ini harus kembali ketempatnya yang seharusnya.


   Aku tersenyum sambil melepaskan kepalan tanganku, aku membiarkan peemata itu keluar dari diriku tersalur melalui cahaya milikku.


  Ateya namaku aku adalah dewi kenyamanan serta cahaya dan Nindiga dia sahabatku, saudariku, cahaya serta kenyamanan setiap orang itulah Nindiga.


****


Luif.

__ADS_1


Luanfa, cahaya Nila ada padanya, sang Elementer, keseimbagan juga peperangan, ia adalah Dewa kerajaanku.


    Waktu itu aku sangat kecil kerajaanku dikuasai oleh bangsa Qaranlıq aku mengetahui itu namun aku diam seakan tak pernah mengetahui akan kenyataan itu tapi nyatanya tidak.


   White maksudku Nilara adik kecilku menghilang tidak namun ia pergi aku mengetahui tentang itu, aku tau dimana ia berada namun satuhal yang kurasakan saat ia tak ada di sisiku, rasa kesepian rasa itu seperti kembali padaku.


   Aku menunggu kehadirannya, aura mereka sama, wajah mereka sama dikehidupan dulu maupun kini dia adalah adikku.


   Rengkarnasi aku tak terlalu mempercayainya namun aku merasa tak asing, kini aku mengingatnya aku mempercayai rengkarnasi karena aku adalah Luanfa aku adalah rengkarnasi darinya tidak namun kami adalah orang yang sama.


  Sebab rengkarnasiku yang kesekian kalinya ialah mencapai tujuan kedua kami, tujuan utama setelah Nindiga adikku menghilang. Dia masih hidup aku yakin itu dan aku yakin Ara adalah Nindiga adikku orang yang kami cari selama ini.


   Nindiga ia lahir dari warna dan lambang para 14 dewa dewi, Nindiga adik kecilku ia terakhir dari cahaya dan benang-benang takdir, keseimbangan yang aku buat sempurna dengan kehadiriannya. Kami dikatakan kakak adik karena saat kelahiran kami sangat mirip kami menggunakan batu permata dengan bentuk dan warna berbeda untuk menyegel kekuatan kami.


  Batu permata kekuatan Nindiga terpecah itu yang aku tahu, ada 3 ada 3 pecahan yang aku dapatkan dari pencarianku terhadapnya. Pecahan ini harus kembali pada tuannya, aku menumukan adikku dan pastinya aku akan melindunginya dan tak akan membiarkan kehilangan dirinya untuk kedua kalinya.


   Aku Luanfa sang elementer, peperangan sekaligus keseimbangan secara bersamaan. Nindiga adik kecilku ia adalah kesempurnaan dari keseimbangan, benang-benang takdir adalah kekuatannya dengan keseimbangan yang merupakan dirinya.


****


Zucca


  Leafza, dengan warna hijau yang ada padanya, dia adalah sang kesebaran seperti angin, dia adalah dewa para elf tempatku berada.


   Aku telah membaca ceritanya berulang kali hingga membuatku bosan dan ingin tertawa sekaligus, ceritanya memang mendetail seakan nyata, aku merasa seakan aku pernah mengalaminya.


   Dan ya kini aku tau mengapa aku berpikir begitu, ya karena aku adalah dirinya aku adalah Leafza, aku Zucca pangeran elf adalah rengkarnasi Leafza aku dan dia adalah satu.


   Nindiga ceritanya membuatku selalu tertarik dan memiliki ambisi, ambisi mencarinya, aku tak tau mengapa namun kini aku tau jawabannya, itu adalah tujuan kami, mencarinya, dia adalah saudari kecilku.


   Di rengkarnasi terakhirnya ia menghilang dan setelahnya kami terus mencarinya, yang kami temukan hanya titisannya.


   Rambut panjang coklat dengan sedikit warna nila diujungnya, mata bercahaya dengan irisan nila, wajah yang mempesona bentuk tubuh yang serupa, saat pertama bertemu dengannya aku merasakan sesuatu hal, aku merasakan rasa kerinduan mendalam serta legah.


   Aku tau kini mengapa aku merasakannya, ingatanku kembali setelah belakangan ini aku selalu memimpikan ingatanku dengan yang lainnya dan tentunya saudari kecil kami. Ara dia bukanlah titisannya, Ara adalah Nindiga itu sendiri.


   Akhirnya kami menemukannya dia hidup, dia nyata dan dia ada untuk kami aku yakin itu, semua akan berakhir, apa ini yang dituliskannya pada takdirnya? Kalau ya aku ingin mengatakan dia membuatku dan yang lainnya khawati dan aku berharap ini akan berakhir.


Aku menatap pecahan permata yang ada ditanganku, ini menjadi pecahan saat hari terakhir kami melihatnya sebelum ia menghilang. Dan permata ini harus kembali padanya.


   Aku Leafza sang Angin kesabaran. Nindiga saudari kecilku dia adalah kesabaran, dia adalah angin sejuk yang membuat semuanya tenang, itulah Nindiga.


   Cambuk angin senjata yang aku berikan padanya, aku memberikan izin padanya untuk menggunakan senjata itu sesuka hatinya, angin adalah dirinya dan angin akan patuh padanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2