
Pagi indah cerah, burung berkicau, pagi yang menyenangkan. Namun, tidak bagi Ara karena pagi ini ia harus kembali berada di kelas sejarah, menurutnya 2 kali berada di kelas sejarah dalam satu minggu taklah mengapa tapi masalahnya kini ia harus terjebak di kelas itu bersama pangern-pangeran tak tau etika setidaknya itulah julukannya untuk pria yang ada di asrama 02.
“Pagi yang indah namun aku kena sial~ harus terjebak bersama pangeran-pangeran tak tau etika~,” ucap Ara bersenandung dengan wajah datar dan kepala yang di letak di tangannya.
“Leo si sialan~, Rean si *******~, Vino tak tau diri~ Zucca si narsis~ Shun si ******~ Zac si brengsek~ Luif si penghancur~Zen si mesum~ dan mereka semua adalah pangeran tak tau etik~,” tambah Ara bersenandung membuat Leo di samping kanannya dan Rean di samping kirinya menelan ludah dengan kasar.
Bukan hanya mereka berdua saja namun juga Zucca, Shun, Vino yang berada di belakang mereka juga Zac, Luif dan Zen yang berada di depan Ara pun - intinya Ara di kurung oleh mereka - merasakan hal yang sama.
“Aku bisa gila lama-lama,” gumam Leo.
“Dia benar-benar dendam pada kita,” ucap Vino berbisik.
“Ya dan itu sangat jelas bahkan kini murid-murid lain memandangi kita,” ucap Shun.
“Bukankah itu karena pesona kita?” tanya Zucca.
“Ok aku setuju dengan ucapan Ara kau memang narsis Zucca,” ucap Rean membuat Zucca mendengus.
“Hei Zen tak bisakah kau mengunci mulut Ara?” tanya Zac.
“Dengan apa? Dengan mulutku?” tanya Zen yang langsung di hadiahi pukulan kepala oleh Luif.
“Aku menjadi setuju dengan ucapan Ara, kau mesum!” seru Luif.
“Tapi ngomong-ngomong itu ide yang bagus kenapa kau tak melakukannya Zen?” tanya Zac sambil tersenyum jahil.
“Ya Lord, kenapa teman-temanku jadi konslet gini otaknya,” ucap Lyif sambil memijit pelipisnya.
“Gunakan sihirmu Zen, aku bisa gila lama-lama mendengarkan nyanyian absurnya,” ucap Leo membuat Luif menganguk cepat setidaknya dia masih punya teman yang waras.
“Oh,” ucap Zen singkat lalu menjentikan jarinya.
Seketika itu juga mulut Ara tertutup. Ara mendelik spontan ia langsung menarik rambut Zen yang tepat berada di depannya sambil menyumpahi pria itu.
“Aa sakit Ara, jika kau menarik rambutku di ranjang tak masalah tapi sekarang kita ada di kelas,”ucap Zen membuat Ara tambah marah dan semakin kuat menarik rambut Zen.
“Zen terlalu berani,” komentar Zucca sambil mengelidik ngeri.
“Ok baik, baiklah,” ucap Zen lalu menjentikan jarinya.
“Sialan, pangeran mesum tak tau etika!” seru Ara dengan kesal.
Zen hanya meringis sambil mengusap-usap kepalanya untung saja tak ada rambutnya yang terlepas Ara memang ganas.
“Jadi diamlah atau aku akan menciummu,” ancam Zen membuat Ara melotot.
“Pangeran Vampire sialan!” seru Ara dengan mata berapi dan muka merah karena marah.
Ara lebih memilih diam meredakan amarahnya. Kalau saja dia berucap Zen benar-benar akan menciumnya dan Ara tak menyukai itu sama sekali, ia tau Zen selalu menepati kata-katanya termasuk ancaman tadi.
“Selesai,” ucap Zen dengan santainya, hal itu tentu saja membuat Leo dan yang lain lega.
Tak lama setelahnya Mrs. Lesi datang dengan langkah anggunnya ia menuju mejanya.
“Baiklah apa kabar? Tampaknya kalian sangat senang bukan?” tanya Mrs. Lesi.
“Ya Mrs,” jawab semua murid kompak dengan pandangan bosan.
“Baiklah kalau begitu, kali ini kita akan membalas tentang Dewa-Dewi, Magica World dan tempat tinggal mereka,” ucap Mrs. Lesi membuat Ara sedikit tertarik.
Ara menjentikan jari dan dalam seketika di depannya muncul kertas juga pena yang akan ia gunakan untuk mencatat ucapan Mrs. Lesi tentu bukan dia yang mencatatnya melainkan sihir miliknya.
“Kita mulai dari tempat tinggal mereka, Debesu pils atau yang di kenal dengan kerajaan langit, para Dewa dan Dewi tinggal di sana mulai dari pangkat terendah hingga Dewa berpangkat tinggi semua tinggal di Debelu Pils,” ucap Mrs. Lesi memberi jeda.
“Di pangkat tertinggi adalah Dewa Michael dewa Bulan, Malam dan kematian, Dewanya Magica World dengan Dewi Nindiga, Dewi takdir istrinya. Seperti yang kalian ketahui Magica World tercipta karena permintaan dari Dewi Nindiga membuat dunia kita juga memiliki nama Mundus Pertinet Ad Fatum yang artinya Dunia milik sang takdir,
“Dunia ini tercipta karena permintaan Dewi Nindiga dan kapan saja bisa hancur juga atas permintaan sang Dewi pada Dewa Michael,” ucap Mrs. Lesi membuat mata murid-murid di kelas itu menjadi menyelang karena tertarik dengan pembelajaran yang di bawakan Mrs. Lesi.
“Berikutnya ada 14 Dewa dan Dewi. Dewi Fiona, Dewi yang mengabulkan harapan dan pangannya Dewa Leon, Dewa petir dan kepercayaan, mereka berdua adalah Dewa, Dewi Bangsa Fairy dan Werewolf yang memiliki ras Yellow dan Brow. Lalu ada Dewi Vista, Dewi sihir dan persahabatan Dewi milik bangsa Witch ras Violet dengan pasangannya Dewa Leafza, Dewa angin dan kesabaran milik bangsa Elf ras Green.
“Setelahnya ada juga Dewi Calarina, Dewi cinta dan kasih sayang, Dewi yang menyocokkan jodoh dan setelahnya di pasangkan oleh Dewi Nindiga hal ini akan kita pelajari di pelajaran selanjutnya dan Dewi Calarina merupakan Dewi bangsa half Fairy ras Rosea, seperti Dewa-Dewi tadi Dewi Calarina juga memiliki pasangan yakni Dewa Areano, Dewa api, neraka juga keberanian Dewa bangsa Demon Ras Red juga half Demon ras Maron,
“berikutnya ada Dewi Ateya, Dewi kenyamanan dan Cahaya, Dewi milik bangsa half Elf ras White dengan pasangannya Dewa Luanfa Dewa Elementer, keseimbangan juga peperangan, Kakak dari Dewi Nindiga, Dewa Luanfa merupakan Dewa milik Half Witch. Selanjutnya ada Dewi Kiara Dewi Air, kejujuran dan lautan Dewi milik bangsa mermeid dan pasangannya Dewa Shanan Dewa bumi dan tanah Dewa bangsa half Werewolf. Berikutnya ada Dewa-Dewi kembar, Dewa Kenvi dan Dewi Kavisa, mereka adalah Dewa cuaca dan musim, Dewa-Dewi bangsa Dryad dan terakhir Dewa Dzīve, Dewa kehidupan, sampai di sini apa ada yang bertanya?” tanya Mrs. Lesi.
Ara mengangkat tangannya membuat yang melihat menoleh padanya. “Ya Ara silakan,” ucap Mrs. Lesi mempersilakan Ara.
“Apa Dewa Michael dan Dewi Nindiga memiliki anak? Juga Dewa Dzīve apa ia tak memiliki pasangan? Dan Dewa-Dewi lainnya juga tentang rengkarnasi Dewi Nindiga aku ingin mengetahuinya karena aku pernah membacanya di sebuah buku,” ucap Ara.
__ADS_1
Rean, Leo, Zucca, Luif, Shun dan Vino memandangi Ara, Zen hanya tersenyum miring.
“Apa yang kau lakukan Zen, kau benar-benar memberinya ingatan itu? Dan lagi aku tersinggung saat ia menanyai pasanganku,” ucap Zac berbisik pada Zen.
“Tentu saja, bahkan Karsan dan Starla mendatangiku karena protes berbeda dengan Saule yang mendukung, lagi pula kenapa kau juga ikut berengkarnasi? Menyusahkan,” balas Zen balik berbisik.
“Saya kagum dengan anda yang ternyata membaca buku tebal di perpustakaan itu bukan? Baiklah anak-anak, memang para Dewa dan Dewi inti ada 15 selebihnya merupakan keturunan Dewa-Dewi tersebut. Dewa Michael dan Dewi Nindiga memiliki 3 anak di antaranya yang tertua adalah Dewa Karsan, Dewa ilmu pengetahuan, yang tengah ada Dewi Saule, Dewi matahari dia yang merupakan pasangan Dewa Dzīve dan terakhir si bungsu Dewi Starla, Dewi bintang dan untuk rengkarnasi saya kurang tau yang saya tau mungkin abad ini akan menjadi rengkarnasi Dewi Nindiga sekaligus penentu akhir dari Magica World tapi itu juga belum tentu karena sampai saat ini tentang rengkarnasi itu tak pasti,” ucap Mrs. Lesi.
Ara terdiam berpikir jadi maksud mimpinya apa? Dan tentang permata itu? Informasinya masih kurang kemana ia harus mencari informasi lagi, andai saja ia tau di mana burung yang mengetahui tentang segala sesuatu itu, burung penjaga milik Dewa Michael, Oh Ara yakin burung itu tidak berada di Debelus pils tempat para Dewa-Dewi melainkan di dunia ini.
Pandangan Ara dengan cepat menoleh saat mendengar kepakan sayap dari luar jendela, ia melihat seekor burung, berbulu emas, mata dan paruh tajam burung yang terlihat gagah dan Ara tau tentang burung itu, itu burung milik Dewa Michael, burung yang baru saja terlintas di pikirannya.
“Elgan!” seru Ara meloncat kemeja dan berlari ke jendela ingin melompati jendela tersebut.
Burung tersebut berbunyi nyaring bersamaan dengan waktu yang terhenti, Zen melotot pada burung tersebut, mengapa burung itu datang di waktu yang tak tepat seperti ini.
Langkah Ara terhenti bukan namun gerakannya di hentikan dengan sihir, Ara mengeram kesal.
“Zen apa yang kau lakukan!” marah Ara pada pria tersebut.
Zen menghampiri Ara ia mengendong Ara ala bride style membuat Ara kini menjadi bisa mengerakan tubuhnya, ia memberontak di gendongan Zen.
“Turunkan aku!” seru Ara memberontak.
“Diamlah atau aku akan menciummu!” Bentak Zen namun hal itu tak membuat Ara diam.
Zen mendudukan Ara di meja ia mengurung gadis itu dengan dirinya lalu meciumi bibir Ara dengan rakus, gadis itu terus saja memberontak, Zen melepaskan tautan bibirnya saat Ara telah sedikit lebih tenang.
“Pria mesum! Brengsek! Kau, kau menciumi bibirku!” seru Ara sambil memukuli dada Zen.
“Tenang Ara! Kau ingat sekarang jam pelajaran jangan membuat ulah!” bentak Zen, isakan terdengar dari bibir Ara gadis itu menangis.
Zen langsung memeluk Ara erat sambil mengumamkan kata maaf karena baru saja membentak gadis itu, Ara balas memeluk erat Zen.
“Maafkan aku sekarang berhentilah menangis, tatap mataku!”pinta Zen sambil memegangi pipi Ara menariknya agar bisa menatap dirinya.
“Kau ingin informasi tentang permata itukan? Aku akan membawamu ketempat burung itu berada, aku akan membawamu kesarangnya jadi tenanglah ok?” ucap Zen yang di balas anggukan oleh Ara.
“Good girl kini aku akan menjalankan waktunya kembali dan memberi ingatan pada orang-orang bahwa kau pingsan kau mengerti,” ucap Zen sekali lagi di balas anggukan oleh Ara.
Zen kembali mengendong Ara, Ara langsung saja menyembunyikan wajahnya di dada Zen di saat mereka ada di depan pintu Zen mengaktifkan waktu di kelas itu dan semuanya menjadi sadar.
“Apa Ara akan baik-baik saja?”tanya Vino dengan khawatir karena yang di ingatnya adalah Ara yang pingsan.
“Tenanglah adik kecil dia akan baik-baik saja Zen sudah bersamanya,” ucap Leo.
“Zac kau kenapa?” tanya Luif heran pada temannya yang satu itu.
“Bukan apa-apa,” jawab Zac cepat lalu setelahnya pelajaran berjalan kembali.
Di sisi lain....
Zen mengulingkan Ara di ranjang tempat tidurnya ya tadi Zen langsung membawa Ara keasrama. Suara dengkuran halus terdengar gadis itu tertidur walau masih dengan isakan.
“Tidur yang nyenyak Dewiku,” ucap Zen lalu berguling di samping Ara dan memeluk gadis itu. Zen mengecup kening Ara menyalurkan kehangatan membuat isakan Ara hilang, pria itu memeluk erat gadis tersebut.
“Kau butuh informasi maka aku akan memberikannya,” bisik Zen lalu matanya ikut terkatup dan tertidur.
“Ibu kenapa aku harus berpasangan dengan Dzīve?” tanya gadis dengan lambang matahari di keningnya.
“Oh ayola Saule, jangan merungut begitu kau tak kasihan pada Dzīve yang tak memiliki pasangan?” tanya wanita berambut coklat dengan warna Nila di ujungnya, Nindiga.
“Tidak sama sekali,” ucap Saule tanpa dengan kejamnya.
“Putrimu kejam Nin, padahal dia pasanganku dan Ayahnya saja setuju,” celutu Dzīve yang datang ntah dari mana.
“Kau menguping pembicaraan kami!” seru Saule tak suka.
“Hei Nindiga bolehkah aku membawa pergi putrimu yang satu ini?”tanya Dzīve.
“Tentu saja, aku selalu memberimu izin bukan?” tanya Nindiga balik sambil terkekeh kecil.
“Ibu!”seru Saule tak terima.
“Jadi honey ayo kita pergi!”seru Dzīve mengajak Saule.
“Tidak!”seru Saule dengan kesal.
Dzīve mengangkat satu alisnya bingung ia memandang heran pada Saule.
“Apa kau tak ingin meneebitkan matahari? Ini sudah hampir pagi, masa Dewi matahari tak mengetahuinnya,” ucap Dzīve.
Pipi Saule merona ia malu, karena Dzīve ia jadi melupakan itu kalau saja sifatnya yang malu-malu itu tak ada ia mungkin saja akan perhatian pada Dzīve.
Saule menghentakan kakinya ia berjalan lebih dahulu karena malu, Dzīve mengekuti gadis itu dari belakang ia agak tergelak kecil karena tingkah gadia tersebut.
__ADS_1
Nindiga mengelengkan kepalanya, ia lalu bangkit dan berjalan pergi menuju kamar putri bungsunya, sepertinya Starla sedang tidur kini mengingat betapa letihnya ia setelah menaburi bintang dan terjaga sepanjang malam bersama sang Ayah.
Nindiga tiba di kamar Starla namun ia tak melihat tanda-tanda akan adanya si bungsu, Nindiga menyerengit heran. Ia lanyas pergi menuju ke kamarnya.
Saat pintu kamarnya terbuka ia melihat Michael yang memeluk Starla. Nindiga tersenyum melihat itu ia duduk di tepi kasur lalu mengelus kepala Starla membuat gadis kecil itu menjadi nyaman, terakhir ia mengelus kepala Michael memandangi wajah tampan sang suami, Nindiga mengecup singkat bibir Michael lalu pergi keluar kamar tak ingin menganggu waktu tidur ayah dan anak tersebut.
Ara menghampiri tempat Karsen ia melihat anaknya itu sebuk berkulat dengan tumpukan kertas yang ada di mejanya.
“Kau mengerjakan tugas Ayahmu?” tanya Ara.
“Ibu,”panggil Karsen sambil memandang Nindiga meminta pertolongan sang ibu.
“Oh cime boy, kau Dewa pengetahuan jadi hal ini pasti akan menjadi mudah,” ucap Nindiga.
“Ya mudah, sangat mudah lalu setelah ini akan ada tumpukan baru dan banyak tumpukan lainnya saat Ibu dan Ayah pergi,” ucap Karsen berjalan menghampiri Nindiga.
Karsen berguling di pangkuan Nindiga, Nindiga mengelus kepala putranya itu dengan sayang.
“Ibu apakah Ibu tak bisa jika tak berengkarnasi?” tanya Karsen.
“Maaf sayang, tapi Ibu tak bisa namun Ibu janji ini untuk terakhir kalinya,” ucap Nindiga.
“Baik tapi setelahnya berikan aku adik laki-laki agar dia bisa membantuku membersihkan kertas-kertas ini,” ucap Karsen mendengus membuat Nindiga terkekeh.
“Ibu hanya sebentar Karsen tak akan lama, apa yang kau khawatirkan?” tanya Nindiga.
“Saule, Starla dan Ibu, aku khawatir jika nanti di rengkarnasi terakhir Ibu ini tubuh Ibu hancur, aku takut Ibu akan tiada,” ucap Karsen.
“Ayolah sayang itu tidak mungkin terjadi, jika itu terjadi semua makhluk hancur, bahakan dunia para Dewapun hancur mereka semua bergantung pada takdir Karsen,” ucap Nindiga penuh pengertian.
“Dan Ibu merupakan Dewi takdir,” ucap Karsen.
“Itu tau jadi sekarang cepatlah bereskan kertas-kertas itu sebelum Ayahmu memarahi dirimu,” ucap Nindiga.
“Aa, Ibu ayolah sebentar lagi selagi Ayah tidak ada,” ucap Karsen.
“Ibu aku akan merindukan Ibu,” ucap Karsen.
“Ibu juga akan merindukanmu sayang,” ucap Nindiga dan perlahan mata Karsen tertutup pria itu kini tertidur dengan pulas, Nindiga memindahkan anaknya itu ke kasurnya lalu mengambil kertas-kertas yang ada di meja Karsen membawanya pergi menuju ruangan milik Michael.
“Pantas saja ia akan lelah, kertas apa yang kau berikan padanya Mich, Mich,” ucap Nindiga tersenyum lalu mengerjakan kertas-kertas tersebut.
Ara menyerengitkan dahinya saat tidurnya terganggu, Ara terbangun ia memegangi kepalanya yang pusing.
“Kau sudah bangun?”tanya Zen sambil memeberikan segelas air pada Ara.
Ara memeguk habis air itu ia sangat haus. “Jam berapa sekarang?”tanya Ara.
“Sudah hampir masuk waktu makan malam, kau tertidur sangan pulas tadi,” balas Zen.
“Siap-siaplah kita akan pergi ke kaferia setelah itu aku baru akan mengantarmu ketempat burung itu,” ucap Zen membuat Ara mengangguk.
Ara segera menuju kamar mandi segera mandi dan bersiap, Zen berguling di kasur Ara, lebih cepat memang lebih baik.
“Purnama sebentar lagi, apa aku harus menyuruh Karsen untuk menunda purnama?” gumamnya.
“Dan aku tak akan menyetujuinya, Ayah mau agar Ibu cepat ingatkan maka biar aku cepatkan pula purnama,” ucap Karsen yang datang tiba-tiba.
“Jangan pernah lakukan itu atau akibatnya akan fatal,” ucap Zen memandang tajam pada Karsen.
“Ouc baiklah jadi kalian benar-benar akan pergi ke tempat Elgan?”tanya Karsan.
“ya seperti permintaan Ibu Ratu,” jawab Zen.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu larut nanti aku akan kembali menemui Ayah,” ucap Karsen lalu menghilang tiba-tiba.
“Zen apa kau merasakan aura kuat tadinya?” tanya Ara yang baru keluar dari kamar mandi.
“Tidak, kenapa emang? Apa kau merasakaan aura itu? Mungkin itu hanya perasaanmu saja,” ucap Zen.
“Ya kau benar itu mungin hanya perasaan ku saja,” balas Ara.
“Sudahlah, ayo kekaferia bukankah kau sudah lapar, dari siang kau belum makan apapun,” ucap Zen sambil merangkul pinggang Ara membawa hadis itu pergi.
“Jangan lupa dengan janjimu Zen,” ucap Ara.
“Ya aku tak akan lupa,” jawab Zen.
Lalu keduanya segera pergi menuju kaferia dengan Ara yang berpikir tentang aura yanf ia rasakan tadi aura kuat yang membuatnya mengingat seseorang yang ia rindukan tapi siapa?
TBC
__ADS_1
Hai semua silakan komen cerita ini jika ada masukan silakan di utarakan dan kalau suka klik favoritnya please jangan lupa dukung saya dan beri saya semangat agar selalu bisa dengan semangat menulis cerita ini dan membuatnya up dengan teratur.
Dan terima kasih bagi pembaca yang udah baca cerita ini.