Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 17 : Hewan sihir ( Last )


__ADS_3

“Hei Werlan!” seru Kabi menyadarkan Werlan dari renungannya.


“Maafkan aku,” ucap Werlan.


“Kau kenapa?” tanya Nami heran pada teman lamanya itu.


“Tidak, aku tidak apa-apa hanya saja tak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat ini yang terakhir bukan?” tanya Werlan sambil tersenyum.


“Bukankah anda mencari ini Nona?” tanya Werlan sambil melihatkan serpihan permata pada Ara.


“Ya,” jawab Ara. Tiba-tiba kalungnya bersinar dan langsung keluar membuat permata yang ada pada Werlan tertarik dan menyatu.


“Lagi-lagi secara tiba-tiba,” gumam Ara.


“Jadi bukankah anda mencari hewan sihir? Bagaimana jika saya mencalokan diri sebagai hewan sihir anda,” boleh saja ucap Ara dan langsung melakukan perjanjian hewan sihir.


“Ya ampun kita mencari hewan sihir yang bukan henkō Ara tapi kau malah memilih yang henkō!” seru Kabi dak percaya.


“Mau bagaimana lagi yang mengikuti kita sedari tadi hanya henkō hanya ada satu jenis hanbun sedangkan dua lagi henkō,” ucap Ara.


“Apa maksudmu ada yang mengikuti kita?” tanya Nami heran.


“Apa wanita rubah berekor sembilan, serigala bersayap dan burung ponix itu yang kau maksud?” tanya Werlan.


“Apa Ruba ekor sembilan! Serigala bersayap! Dan ponix!!” seru Nami dan Kabi kompak.


“Matamu jeli,” ucap Ara memuji Werlan menghiraukan teriakan dari Nami dan Kabi.


“Yah kita sepertinya ketahuan,” ucap seekor rubah sambil berubah menjadi sesosok wanita dengan ekor sembilan.


“Ternyata dugaanku benar, walau matamu tertutup kau mengintip sedikit,” ucap seekor burung ponix yang berubah menjadi sesosok wanita cantik dengan rambut merah api.


“Aku hanya ingin menjadi hewan sihirmu saja,” ucap Seekor serigala bersayap yang kini berubah menjadi seorang pria berambut hitam dengan warna emas di ujung rambutnya dan mata bewarna nila.


Nami dan Kabi melotot ke ara ketiga orang itu. “Kenapa kalian ada di sini!” seru mereka berdua kompak.


“Ah ceritanya panjang,” ucap pria berambut hitam.


“Tadi kami hanya ingin berjalan ke sini dan ternyata bertemu kalian,” ucap Wanita rubah berekor sembilan.


“Kalian tau kami selalu pergi ke danau ini,” ucap wanita berambut merah api.


“mereka yang menemaniku selama ini,” tambah Werlan.


“Ya ampun ini benar-benar gawat,” ucap Nami.


“Benar-benar dalam keadaan darurat,” tambah Kabi.


“Baiklah karena waktu sudah hampir habis dan aku tak memiliki waktu untuk memilih bagaimana jika kita langsung melakukan perjanjian sihir saja,” ucap Ara.


“Itu lebih baik perkenalkan terlebih dahulu aku sonia,” ucap wanita berambut merah api.


“Aku Miku,” ucap Rubah ekor sembilan.


“Dan jangan lupa aku Serga,” ucap Serigala bersayap.


“Aku Ara melakukan perjanjian sihir dengan Henkō Ponix Sonia, Henkō Winged Wolf Serga dan hanbun Gumiho Miku,” ucap Ara dengan cepat megoreskan pisau ke tangannya hingga keluar darah lalu mengoleskannya pada bahu Miku, paha Sonia dan lengan Serga.


“Perjanjian sihir selesai jadi siapa yang paling cepat di antara kalian?” tanya Ara pada keenam hewan sihirnya.


“Ara tenagaku lemah aku belum makan,” ucap Kabi memeles.


“Kakiku letih karena di injak Kabi,” ucap Nami.


“Aku selalu di dalam danau jadi lajuku tak secepat dulu,” ucap Werlan.


“Kakiku letih karena dari tadi mengikuti kalian,” ucap Miku.


“Sayapku tak sekuat itu untuk terbang lagi,” ucap Sonia.


“Hm a-ak,”


“Serga saja!” seru mereka berlima memotong ucapan Serga.

__ADS_1


“Dia hanya berjalan dari tadi jadi kalau terbang menurutku dia akan cepat!” seru Miku.


“Hei kalian penghianat semua!” seru Serga.


“Jadi Serga serigalaku yang baik bisakan?” tanya Ara membuat Serga menghembuskan nafas kasar.


Serga menganguk lalu merubah dirinya menjadi serigala bersayap. Miku, Sonia, Werlan, Nami dan Kabi menghilang setelah Ara mengizinkan mereka beristirahat. Ara naik kepunggung Serga lalu mereka segera terbang dengan kecepatan tinggi.


Di sisi lain Luif baru saja keluar dari hutan dengan santai.


“Hm mana Ara? Ku kira aku yang datang terakhir,” ucap Luif pada teman-temannya ketika tak melihat tanda-tanda keberadaan adanya gadis itu.


“Kami tak tau, ia tadi ntah mengambil jalan yang mana,” ucap Zac.


“Bagaimana jika Ara tersesat? Bagaimana jika ia dalam bahaya? Bagai-,”


“Diamlah Ria, Dia tak mungkin kenapa-napa,” ucap Zucca memotong ucapan Valeria sambil memutar bola matanya malas.


“Baiklah anak-anak-,”


“Tunggu Mr. Wilson Ara belum kembali!” seru Atta memotong ucapan Mr. Wilson.


“Tapi ini sudah hampir dua jam,” ucap Mr. Wilson.


Dan tepat saat Mr. Wilson berucap begitu Ara datang tiba-tiba dari langit dan jika saja Zen tak menangkapnya ia pasti akan terjatuh di tanah.


“Huh Aku hampir terjatuh hewan-hewan sialan, mereka terlalu banyak alasan,” gerutu Ara kesal.


“Aku tuan mereka tapi kenapa mereka melakukanku dengan kasar begitu,” ucap Ara tak henti-hentinya mengerutu.


Ara merapikan rambutnya yang kusut juga membersikan pakaiannya, semua mata memandang heran ke arahnya.


“Uh...apa?” tanya Ara galak pada orang-orang yang memandangnya, “Aku tepat waktukan?”


Mr. Wilson melihat ke arah jam tepat dengan waktu yang ia berikan.


“Hei Ara dari tadi kau mengerutu dengan mengunakan kata ‘mereka’ memangnya kau mendapatkan berapa hewan sihir?” tanya Shun.


“Tak banyak aku mendapatkan 4 dan jika di gabung menjadi 6,” jawab Ara dengan santai membuat yang mendengar tercengang.


“Ya,” jawab Ara yang kelewatan santai atau hm...gadis itu tak menyadarinya?


“Dan hewan sihirmu semuanya berjenis Henkō!” seru Rean dan Leo membuat Ara menatap tajam ke dua sepupunya itu.


“Itu bukan urusan kalian!” seru Ara penuh penekanan.


“Baiklah anak-anak cukup sekian untuk hari ini kalian boleh beristirahat dan semoga kalian berhasil di latihan berikutnya,” ucap Mr. Wilson menutup sesi latihan hari pertama.


“Baguslah ini semua selesai, hoam...aku masih mengantuk padahal aku cukup lama tidur diatas Kabi,” ucap Ara sambil melangkah pergi terlabih dahulu.


“Hei Ara tunggu kami!” seru Fioren berlari mengikuti Ara sambil menarik Leo.


Sesampainya di asrama Ara duduk di sofa yang ada di ruang berkumpul.


“Ara jika kau tidak mau di apa-apakan oleh Zen lebih baik kau tidur ke kamarmu,” ucap Luif memberi saran.


“Kenapa namaku kau bawa-bawa,” ucap Zen tak terima namanya di sebut-sebut begitu walau benar kalau Ara tidur itu kesempatan baginya emang dasar si Zen mencari kesempatan dalam kesempitan.


“Aku setuju dengan saran Luif lebih baik kau tidur di kamarmu, aku tak mau adik kecilku di apa-apakan oleh si monster pencari kesempatan itu,” ucap Zucca.


“Kak Zucca,” ucap Ara sambil merentangkan tangan pada Zucca.


Hal itu membuat Zucca juga merentangkan tangannya ingin memeluk Ara namun sebelum hal itu terjadi Zen terlebih dahulu menghentikannya.


“Awas saja jika kau berani,” ucap Zen sambil mengeluarkan aura membunuhnya.


“Wah kau menyebalakn aku hanya ingin memeluk adik kecilku,” ucap Zucca.


“Siapa yang adik kecilmu?” tanya Valeria pada Zucca.


“Ara,” jawab Zucca dengan santai.


“Kapan aku menjadi adik kecilmu? Aku adik kakak Ria dan Kakak Atta,” ucap Ara sambil memeluk Valeria dan Atta yang memang sudah memeluk erat dirinya.

__ADS_1


“Kau plan-plin Ara!” seru Zucca dengan kesal.


“Kau tak jadi tidur Ara?” tanya Zac pada Ara.


“Siapa yang mau tidur?” tanya Ara heran.


“Bukannya tadi kau bilang ingin tidur?” tanya Rean.


“Tidak, tapi aku ingin membicarakan sesuatu,” ucap Ara.


“Kau memang tak ingin tidur tapi gadis satu ini telah tertidur,” ucap Leo sambil menunjuk Fioren yang kini tertidur sambil memeluk lengannya.


“Lanjutkan saja pembicaraannya aku hanya memejamkan mata menghilangkan rasa letihku,” ucap Fioren masih memeluk Erat lengan Leo.


“Fioren kau tak bosan memeluk Leo terus?” tanya Nava.


“Bagaimana denganmu kau tak bosan besandar dengan Rean terus?” tanya Fioren balik karena memang kini Nava sedang bersandar di bahu Rean dengan wajah mengantuk.


“Tidak karena nyaman,” jawab Nava.


“Jawabanku juga sama, aku nyaman tidur begini,” ucap Fioren masih setia menutup matanya dan memeluk erat Leo.


“Jadi bagaimana jika malam ini kita tidur berdua?” tanya Leo yang spontan langsung mendapat cubitan dari Fioren.


“Jaga ucapanmu atau kau akan mendapatkan lebih dari itu,” ancam Fioren masih dengan mata yang tertutup rapat.


“Ngomong-ngomong Karin kau kenapa berguling di paha Shun seperti itu?” tanya Ara heran melihat Karin yang berguli di paha Shun sambil menatap wajah pria tersebut.


“Dia sudah melakukannya begitu dari tadi bahkan kedua orang itu juga, ntah mengapa mereka lebih lengket pada pria-pria itu hari ini,” ucap Vina.


“Bagaimana denganmu Vina? Kenapa kau kini sangat lengket dengan Vino padahal tadi kalian selalu bertikai,” ucap Atta pada Vina.


“Itu tak masalah diakan saudara kembarku,” ucap Vina dengan entengnya.


“Hei! Aku heran dari tadi kenapa pipi dan telingamu memerah tiba-tiba,” ucap Karin sambil memegangi pipi Shun membuat yang mendengar menoleh dan melihat pada mereka berdua bahkan Fioren yang menutup matanya membuka sedikit untuk mengintip apa yang terjadi.


Benar saja pipi Shun kini sedang memerah apa lagi saat karin menyentuh pipinya, warna merah itu jadi tampak jelas.


“Lebih baik kau tak menyentuh wajahku,” ucap Shun sambil memegangi tangan Karin membawa tangan gadis itu agar turun sambil tersenyum paksa.


“Kenapa lagian aku suka menyentuh wajahmu mengemaskan,” ucap Karin membuat wajah Shun kini tambah memerah.


“Oh sudahlah kalau melihat mereka bertiga pembicaraan ini tidak akan selesai-selesai,” ucap Valeria.


“Benar apa lagi kini aku sudah lapar,” tambah Atta.


“Ok baiklah teman-teman, aku yakin tadi kalian mendapat hewan sihir berjenis henkō semua bukan?” tanya Ara.


“Ya,” jawab mereka semua kompak.


“Tapi Ara Hanbun itu hewan jenis apa?” tanya Nava membuat Fioren membuka matanya tapi tetap masih memeluk erat lengan Leo.


“Oh hewan sihir setengah wanita setengah hewan,” ucap Ara, “kalian mendapatkannya juga?”


“Ya, seekor Xana,” jawab Karin masih memegangi pipi Shun yang kini sedang menumpu wajahnya di tangan.


“Aku mendapat Harpies,” ucap Nava.


“Aku mendapatkan Echidna,” ucap Fioren.


“Aku tak mendapatkannya hanya seekor Hippogriff berjenis Henkō,” ucap Valeria.


“Aku juga aku hanya mendapatkan unicorn berjenis Henkō,”ujur Valeria.


“Sama! Aku hanya seekor naga berjenis henkō!” seru Vina.


“bagaimana denganmu Ara?” tanya Fioren.


“Seekor Gumiho,” jawab Ara.


“Mungkin hanya mereka saja yang bisa di ajak belerja sama,” ucap Zac tiba-tiba.


“Mungkin saja, nah sekarang ayo siap-siap jam makan malam sudah dekat nanti baru kita sambung pembicaraan ini,” ucap Ara bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya begitu juga yang lainnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2