
Sudah lama mereka duduk di meja itu sekitar 3 jaman dan hanya terlihat senyum dari wanita pencaga kuil yang bercahaya itu.
“Anda sudah tumbuh besar ternyata Yang Mulia,” ucap wanita bernama Arthi itu pada Ara.
“Ya, Pendeta Arthi sudah lama sekali kita tak bertemu,” ucap Ara dengan senyum bisnisnya.
Aruna memandang Arthi dan juga Ara bergantian, apa maksud kedua wanita ini?! Bukankah mereka belum pernah bertemu sama sekali?!
“Hahaha,” ucap Aruna tertawa sumbang sambil memegang dinding ya kira-kira hal itu terjadi beberapa waktu yang lalu.
“K-kau kenapa?” tanya Ara heran pada Aruna.
“Ara!” seru Aruna sambil memegang pundak Ara tiba-tiba membuat gadis itu tersentak kaget.
“Y-ya,” balas Ara memandang Aruna bingung.
“Kau pernah bertemu dengan Pendeta Agung itu?” tanya Aruna yang dibalas gelengan oleh Ara.
“Lalu apa-apaan percakapan kalian tadi!” seru Aruna dengan kesal.
“Sekedar bisnis hanya untuk kepentingan pribadi,” ucap Ara sambil tersenyum bisnis.
“Cukup!” seru Aruna ia benar-benar muak dengan senyum bodoh itu.
“Kenapa? Kenapa? Bukankah itu menyenangkan?” tanya Ara dengan mata bebinar.
“Sebaliknya itu sangat memuakkan,” balas Aruna.
“Kau menyebalkan,” gerutu Ara sambil mengembungkan pipinya.
“Ini bukan waktunya kesal!” seru Aruna, “saat ini kita harus berpikir kenapa semua ini terjadi.”
“Kau terlalu berbelit-belit,” ucap ucap Nura memandang Aruna sambil memakan cemilan.
“Benar, lagi pula ini tidaklah rumit,” tambah Ara yang juga memakan cemilan bersama Nura.
“Sejak kapan Kau di sini Nura?! Dan dari mana cemilan itu?!” tanya Aruna berseru kesal.
“Kau ingin mencobanya Runa? Ini sangat enak,” ucap Nura sambil tersenyum polos.
“Tidak!”seru Aruna.
“Oh, ayolah jangan terlalu banyak berpikir, kau tahu ini sederhana kita hanya ingin tahu tentang Debelu Pils dan Arthi bisa memberi tahu kita tentang itu,” ucap Ara.
Aruna menghela napasnya, apa yang dikatakan oleh Ara benar ia terlalu berlebihan, ia hanya khawatir.
“Oh ternyata kalian di sini,” ucap Arthi datang ntah dari mana.
“Hai Arthi, apa ada masalah?” tanya Ara.
__ADS_1
“Tidak Yang Mulia hanya saja tadi anda ingin mengetahui Debelu pils bukan?” tanya Arthi yang di jawab anggukan dari Ara.
“Saya tak bisa memberi tahu Anda tentang itu, namun, saya bisa memberi Anda satu hal, tentang kekuatan Dewi Nindiga,” ucap Arthi.
“Kekuatan Dewi Nindiga?” tanya Ara memastikan.
“Ya, bagaimana?” tanya Arthi dengan senyum bisnis miliknya yang terpampang indah di wajahnya.
“Tunggu kenapa kau tak bisa memberi tahukan tentang Debelu pils?” tanya Aruna.
“Karena dengan seiring waktu kalian akan mengetahuinya,” ucap Arthi dengan miaterius.
“Arthi beri tahu aku tentang kekuatan sang Dewi,” ucap Ara.
“Sesuai perintah Yang Mulia,” ucap Arthi yang tak lepas dari senyumnya.
“Mari ikuti saya!” seru Arthi menuntun.
Ara dan Aruna saling pandang lalu mengangguk dan mengikuti Arthi dari belakang.
“Eh tunggu aku!” seru Nura sambil mengepakan sayapnya dengan kecepatan penuh menyusul Ara dan Aruna serta Arthi.
“Pada akhirnya Arthi pun tak bisa memberi tahunya ya,” ucap Artas.
“Tentu saja akan sulit memberitahu itu pada orang yang sangat mengetahui tempat itu,” ucap Arthen.
“Lagi pula tak ada salahnya memberi tahu tentang kekuatan itu bukan, mungkin dia bisa menghubungkan puzzel-puzzel itu,” lanjut Arthen.
“Semesta memiliki banyak pengetahuan dan sang pengetahuan hanyalah Mahadewa, pemimpin para Dewa dan Dewi, Dewa Michael sang kematian dan malam,” ucap Arthi sambil menunjukan beberapa gambar.
“Aku ingin bertanya!” seru Aruna mengangkat tangannya membuat Ara dan Nura menoleh memandangnya dengan bingung sedangkan Arthi tersenyum dengan senyum bisnis miliknya.
“Ya, silahkan,” ucap Arthi membolehkan.
“Kenapa Dewa Michael yang menjadi maha Dewa secara harfiah Dewa Michael adalah Dewa malam dan kematian bukan?” tanya Aruna membuat Arthi tersenyum.
“Karena dialah yang awalnya tercipta, partikel-partikel kecil bewarna gelap becampur biru lembut dinginnya cahaya rembulan membuatnya tercipta dan menjadi Mahadewa,” ucap Arthi membuat Aruna mengangguk-anguk.
“Awalnya memang dia namun kemudian muncullah ke 6 Dewa lainnya, Dewa petir juga kepercayaan Leon, lalu Dewa angin juga kesabaran Zucca, Dewa Reano api, keberanian dan neraka, Dewa Luafan sang Elementer, keseimbangan dan peperangan, Dewa Shanan sang Dewa tanah dan juga hewan dulunya lalu terakhir Dewa Dzīve Kehidupan dan juga kesuburan,” ucap Arthi.
“Lalu setelah mereka terciptalah Dewa Kenvi dan Dewi Kavisa sang musim dan cuaca. Selanjutnya para Dewi dan terakhir Dewi Nindiga yang terakhir dari 14 pancaran warna sebuah benang,” ucap Arthi.
“Benang Bewarna? Apa itu benang takdir?” tanya Nura.
“Anda benar peri kecil, sang Dewi takdir tercipta karena adanya takdir namun di antara 15 Dewa Dewi kekuatan terbesar di miliki Dewa Michael dan kedua Dewi Nindiga, satu hal yang pasti Dewi Nindiga tak bisa mengendalikan kekuatannya sepenuhnya sehingga ia meletakkannya di sebuah batu,” ucap Arthi.
“Batu kecil permata yang melambangkan kekuatan Dewa Dewi, Biru Dewa Michael, Merah Dewa Reano, kuning Dewi Fiona, ungu Dewi Vistara, gray Dewa Leafza, merah mudah Dewi Calarina, putih Dewi Ateya, toska Dewi Klara, Coklat Dewa Shanan, Orange Dewa Leon, silver Dewa Luanfa, hijau Dewa Dzīve, Emerald Dewa Kenvi dan Dewi Kavisa,” ucap Arthi.
__ADS_1
“Dan saat mereka berengkarnasi permata itu terpecah dan menyebar, 14 pecahannya terdapat pada masing-masing Dewa-Dewi juga hewan periharaan sang dewi takdir,” ucap Arthi.
“Cukup sampai sini apa ada pertanyaan?” tanya Arthi sambil tersenyum.
Ara, Aruna dan Nura saling pandang ketiganya terdiam, itu penjelasan paling panjang yang pernah mereka dengar, benar-benar sejarah.
“Ah, aku bagaimana dengan kisah Dewa Michael dan Dewi Nindiga bersatu?” tanya Seorang pria yang ntah sejak kapan muncul di dekat Arthi.
“Benar!”seru Aruna setuju.
“Bagaimana kisah mereka?” tanya Nura.
Ara menepuk jidadnya tidakkah mereka berdua sadar akan kehadiran pria asing yang tiba-tiba muncul?
“Eh tunggu tapi paman siapa?” tanya Nura yang pertama kali sadar.
“Benar paman siapa? Apa jangan-jangan penjahat?! Ngaku!” tuduh Aruna.
“Hai nak tempat ini bukan tempat sembarang orang bisa masuk, lagi pula aku memang tinggal di sini,” ucap pria itu.
“Benar sih, tapi aku pernah melihat paman tapi di mana ya?” ucap Aruna berpikir.
“Hah, aku ingat kau Arthur bukan! Benar kau Paman Arthur!” seru Aruna.
“Ternyata kau lupa denganku dan satu lagi bocah! Jangan panggil aku PAMAN!” seru pria itu menekan ucapan terakhirnya sambil menjewer Aruna , Arthur, sang kesatria agung.
“Ah, ah aku minta maaf, itu spontan suer deh, Arthur lepaskan aku!” seru Aruna meringis sakit.
“Bagaimana kabar Anda Guru?” tanya Ara pada Arthur.
“Oh, Nila, aku baik-baik saja, lagi pula kau memiliki banyak masalah hingga hadir ke kuil membosankan milik pendeta datar ini?” tanya Arthur melepaskan jewerannya dan melirik Arthi.
“Wah aku baru saja mendengar sebuah kata tak menyenangkan di sini, bisa kau ulangi lagi Arthur?” tanya Arthi memandang tajam Arthur dengan aura membunuh.
“Er, Nila, Aruna kita akan berbincang nanti sampai jumpa!” seru Arthur lalu berlari pergi.
“ARTHUR KEMBALI!!!” seru Arthi berteriak.
Sementara itu....
“Terima kasih Kernal,” ucap Arthen tersenyum saat Kernel menuangkan teh padanya.
“ARTHUR!!!”
“Wah sepertinya mereka berdua bertengkar lagi,” ucap Arthen yang awalnya sempat tersentak kaget.
“Sepertinya ke depan kita memiliki masa yang tak dapa dilupakan,” ucap Artas tersenyum, menyerup tehnya dengan santai.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa love, vote, like dan komennya ya dan juga shaer pada teman-teman kalain3 agar mereka dapat menikmati cerita ini
Sampai ketemu lagi....