Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 19 : Zen, Dewa agung Michael


__ADS_3

Detingan pedang terdengar seperti musik yang mengalun indah menghibur para pendengarnya setidaknya itulah yang dipikirkan Ara saat mendengar suara aduan pedang.


Nava mengatur nafasnya, saat ini ia lelah namun ia tetap bertahan. Kalau saja ia mahir mengunakan pedang ini semua tak akan terjadi.


Permainan pedang ini makin lama makin tak menyenangkan, Ara memang menyukai bunyi pedang yang beradu namun ia akan sangat bosan jika lawannya bermain dengan tidak menyenangkan. Awalnya Nava bermain dengan semangat membuat Ara menjadi semangat juga namun lama-lama ini menjadi tak menyenangkan.


Tring~


Satu hentakan dan pedang Nava terjatuh dengan Ara yang memandangi bosan dirinya.


“Lebih baik kita istirahat dulu,” ucap Ara datar sambil berjalan dan duduk di dekat pohon rindang begitu pula dengan Nava.


Ara menjentikan jarinya dan muncul dua botol air, ia memberikan satu pada Nava yang langsung diteguk habis oleh gadis itu sedangkan yang satu lagi tentu saja untuknya.


“Kalian telah selesai?” tanya Rean yang ntah sejak kapan ada di atas pohon berguling di sana.


“Sejak kapan kau di sana! Dan kenapa kau tak memakai baju?!” tanya Nava berseru kaget dengan muka yang memerah.


Rean turun dari atas pohon dan langsung berbaring diatas paha Nava.


“Pakai bajumu sialan!” seru Nava kesal bercampur malu.


Siapa yang tak akan merasa malu saat melihat seorang pria yang tak memakai baju dan hanya memakai celana, apalagi dengan otot-otot Rean yang hm, sexy? Setidaknya itu yang dipikir Nava si gadis penggemar pria tampan dan sexy.


“Ayolah hari ini panas kau tau bajuku basah oleh keringat lagian bukan aku saja semua siswa juga seperti itu,” celutu Rean membuat Nava menoleh.


Benar saja apa yang dikata Rean semua siswa yang berlatih kini tak memakai bajunya dan mereka dengan santai masih berlati pedang dan lebih paranya para siswi hanya diam melihat mereka kagum apalagi dengan otot-otot yang memanjakan mata.


“Lagian Nava,” ucap Rean sambil memegang tangan Nava agar memegangi perutnya lebih tepatnya perut sixpack miliknya sambil tersenyum jahil, “kalau kau ingin memegangnya bilang saja, aku tak akan keberatan.”


“Brengsek!” seru Nava kesal yang dibalas tawa oleh Rean.


“Nah karena dari tadi kau menyandar kepadaku kini gantian aku yang akan menyandar padamu,” ucap Rean sambil membawa tangan Nava agar mengelus kepalanya.


“Hai Ara, apa kau tak merasa panas?” tanya Shun menghampiri Ara, Nava dan Rean.


“Ya sedikit matahari memang sedang terik kini,” ucap Ara.


“Dan aku merasa panas bukan karena matahari melainkan kalian berempat!” seru Luif pada Nava, Rean, Ara dan juga Zen yang ntah sejak kapan sudang anteng berguling di paha Ara.


“Kalian punya masalah?” tanya Zen dengan dingin.


“Tidak,” jawab Luif cepat.


“Zucca ayo kita keasrama saja aku capek,” rengek Valeria sambil memeluk Zucca.


“Come on honey masih ada beberapa jam lagi,” ucap Zucca gemas pada Valeria yang menjadi manja padanya belakangan ini.


“Mereka pasangan serasi,” ucap Vino datar memandangi Valeria dan Zucca.


“Aku setuju,” ucap Vina yang bersandar pada kembarannya itu.


Ara memandangi teman-temannya dengan datar jujur saja ia kini juga sangat mengantuk mengingat kalau setiap malam ia menghabiskan buku-buku salinan perpustakaan itu.


Zen memandang lekat pada mata Ara yang memandang lurus kedepan tanpa ekspresi sedikitpun. Dengan gemas ia mencubiti pipi Ara.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan!”seru Ara dengan kesal.


Zen tak menjawab, ia malah menjentikan jarinya dan dalam sekejap mereka menghilang.


“Wah Zen benar-benar, ia mencari kesepatan diwaktu seperti ini,” ucap Zac sambil berdecak.


“Zuccaaa~ ayo kita juga pergi, aku yakin Ara dan Zen kembali keasrama,” ucap Valeria berusaha membujuk Zucca agar mau kembali keasrama.


“Ria sayangku, ini masih waktu latihan,”ucap Zucca penuh pengertian.


“Kau menyebalkan! Aku akan kembali keasrama bersama Alex saja,” ucap Valeria menyebut nama siswa asrama 11 yang memang suka mendekatinya.


“Jangan pernah mencobanya! Ayo kita kembali!” seru Zucca sambil merangkul Valeria dengan posesif.


“Ck, gitu banget ya mereka main ninggal aja, tapi apa yang akan dilakukan Zen ya?”ucap Zac diakhiri gumaman.


“Hm? Kau mengatakan sesuatu Zac?”tanya Vina.


“Tidak, ayo kita kembali berlatih!” seru Zac lalu mereka yang ada di sana kembali berlatih.


Sementara itu di tempat lainnya Zen dan Ara kini berada di kamar Ara. Zen berguling sambil memeluk Ara yang berguling di sampingnya.


“Z-Zen apa yang kau lakukan? Badanmu penuh jeringat dan lengket!” seru Ara kesal bercampur malu.


“Shut, diam dan tidurlah atau aku akan menciummu,” ancam Zen membuat Ara mau tak mau memejamkan matanya.


Tak beberapa lama dengkuran halus terdengar dari Ara. Zen memandang lekat Ara, ia memeluk gadis itu sambil menyembunyikan wajahnya di tekuk Ara menghirup aroma yang bagai candu untuknya.


“Aku menyukai baumu dulu maupun sekarang kau milikku,”ucap Zen.


 


Dan tak beberapa lama setelahnya Zen ikut tertidur, bedanya kini mata Ara terbuka sambil memandang lekat pria yang tidur di sampingnya.


“Apa yang kau ketahui Zen? Kenapa kau tak memberitauku jika kau mengetahui informasi baru tentang permata itu?” gumam Ara sambil menyentuh pipi Zen.


Ara mengamati Zen rambut hitam segelap malam, kulit yang putih, hidung mancung, bulu mata yang lentik, rahang yang tegas, mata yang kalau terbuka akan memperlihatkan warna biru indah bagai ada beribu bintang di dalamnya, wajah yang selalu menatapnya hangat dan bibir yang selalu tersenyum jahil yang suka menciumnya.


Ara kesal, malu dan bingung sebenarnya apa yang dilakukan Zen? Apa pria ini menyukainya atau bagaimana? Tapi, mereka bukan mate bukan? Dan apa maksud perkataannya tadi?


Dia menyukai Ara sebagai perasaan suka antara wanita dan peria atau hanya pertemanan atau mengangap Ara seperti adiknya, mungkin yang mendengarkan ucapan Zen tadi akan beranggapan bahwa pria itu menyukai Ara namun tidak bagi gadis itu dia akan menangkis hal tersebut karena bagaimana mungkin Zen menyukainya begitulah kiranya pikiran Ara.


Ara perlahan menyingkirkan tangan Zen yang memeluk dirinya lalu dengan perlahan gadis itu turun dari kasur berusaha agar Zen tak bangun.


Ara memamdang sekilas Zen dengan ragu ia mengecup singkat kening Zen. “Mimpi indah Zen.”


Ara sekali lagi memandangi Zen setelah dirasa semua cukup aman Ara segera menghilang ia berteleportasi.


“Aku harus kembali ke dunia manusia,” gumamnya sebelum pergi.


Mata Zen perlahan terbuka ia memandang nanar kearah kepergian Ara, ia mengacak rambutnya frustasi.


Zen, pria itu sedari tadi tidaklah tidur ia hanya menutup matanya karena merasakan kalau Ara tidak benar-benar tidur ia hanya berpura-pura.


Zen menyukainya. Saat tangan lembut dan halus itu menyentuh wajahnya, mengaguminya dan menatapnya penuh cinta. Zen menyukai hal yang ada padanya.

__ADS_1


Bagi Zen ia merupakan segelanya, dia adalah hidupnya tujuan mengapa Zen ada.


“Selamat tidur Miel,” kata yang selalu ia ucapkan pada Zen sebelum mereka tidur Zen merindukan itu semua.


“Aku mohon, jangan kembali ke sana, jangan tinggalkan aku,” gumam Zen sambil menutupi matanya dengan lengan.


Tanpa disadari olehnya bening kristal itu dengan lancangnya menetes membasahi pipinya.


Cinta. Zen tak mempercayai akan adanya Cinta sampai gadis itu datang, gadis yang membawa kehidupan padanya.


“Ck, apa ini seorang Dewa agung menangis,” ucap suara seseorang namun hal itu tak membuat Zen bergeming.


“Diamlah karsan!” pintanya, “jangan menjadi anak durhaka.”


“Ya, ya tapi bukankah Ayah harus menghentikan ibu? Atau aku harus membuat bulan purnama datang lebih awal?” tanya Karsan, Zen tetap tak bergeming ia hanya terdiam.


“Oh ayolah mana si Dewa agung Michael yang selalu di puja orang-orang,” ucap Karsan.


Katakan saja kalau ia kini adalah anak durhaka namun bagaimanapun ia tak akan tega melihat ayahnya yang selalu mengajarinya tentang segala hal itu menangis seperti ini. Dan Karsan tau ia sangat tau bagaimana ayahnya sangat mencintai ibunya bahkan ia mengetahui kisah kedua orangtuanya.


Kalau boleh jujur ia kadang berkunjung ke dunia sihir untuk menyebarkan tulisannya, cerita nyata tentang cinta sang Dewa agung pada istrinya.


Dewa pengetahuan, julukan itu hadir saat ia baru lahir karena sepenuhnya semua kendali itu ada oada ayahnya.


“Ayah aku akan kembali jika Ayah sudah merasa lebih baik, bagaimanapun juga Vera tak akan mungkin membuka gerbang setelah ibu kembali,” ucap Karsan lalu segera pergi.


Dia Zen. Atau lebih tepatnya Michael ya ini rengkarnasinya dengan nama itu Zen.


Masih melekat dengan kuat pada ingatan Michael saat pertama kali ia bertemu dengan Nindiga bagaimana saat wanita itu mencuri hatinya akan kebijaksanaan dan kelembutannya. Wanita satu-satunya yang menjadi alasannya ada dan menjadi hidup.


Tujuan ia berada dan juga wanita yang membuatnya tau apa itu cinta dan karena kecerobohannya kini Nindiga selalu berengkarnasi.


Andai saat itu ia mengetahui apa yang dilakukan wanita itu, andai ia lebih memperhatikan wanita itu pasti ia akan tetap bahagia bersama Nindiga di Debelus pils dan tak ada Nindiga yang melupakannya, melupakan tentang kisah mereka.


Ya sekarang ia hanya bisa berandai karena nasi telah menjadi bubur dan ia harus membuat Nindiga ingat padanya sebelum ada pria lain yang membuatnya tertarik karena sungguh Michael tak akan dapat membayangkan Nindiga bersanding dengan pria lain.


Ia tak masalah jika ia tidak mengingat Debelus pils, ia tak masalah jika dunia membencinya bahkan mencampakannya, ia tak akan mempermasalahkan semua itu namun ia tak akan bisa, ia tak akan sanggup jika melupakan wanita itu, jika wanita itu membencinya, jika wanita itu mencampakannya ia tak akan pernah sanggup apa lagi kalau ia bersama dengan pria lain ia tak akan pernah snaggup.


“aku pastikan ini semua akan segera berakhir kalau ini gagal aku akan mememusnakan dunia ini,” ucap Zen dengan mata merah nyalang.


TBC


Assalamualaikum


Apakabar semua semoga sehat selalu


Aku mau terima kasih sama yang baca cerita ini


Terima kasih banget apa lagi yang udah mau komen buat aku semangat.


Dukung terus cerita ini dan soal jadwal upnya aku pastiin bakal up seminggu sekali kalau lagi senang mungkin lebih 😁


Dukung terus cerita ini, beri komen serta masukannya dan masukan cerita ini ke favorit kalian, kalau bisa juga tolong shere keteman kalian yang lain agar bisa menikmati cerita ini juga.


Maksih semua.

__ADS_1


Wassalamualaikum


__ADS_2