
Suasana kerajaan tampak sunyi ini biasa dan ini sangat biasa, tak ada kehebohan, tak ada keributan, istana itu selalu tampak sunyi.
Para pelayan hilir muding dengan pandangan datar, kulit mereka putih, putih pucat. Para penjaga bermata merah dengan pandangan tajam siap memangsa apapun yang menjadi ancaman.
Pria berambut putih itu berjalan, kulitnya tampak pucat, warna matanya biru sedingin es, pandangannya tajam.
Pintu tersebut berderit ketika dibuka, pria itu Zeus memasuki ruangan tempat ruang kerja sang kaisar, Kaisar Kinsey.
"Kau kembali Zeus?" tanya Kinsey menatap tajam Zeus.
"Ya, Yang Mulia sepertinya Anda tidak hadir di pesta kemarin bukan? Para makhluk Qaranlıq itu menyerang kemarin," ucap Zeus.
"Ya aku tahu, Zen telah lebih dahulu memberitahukanku," ucap Kinsey kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aku juga bertemu tunanganku, aku bertemu dengan Rara, dia selama ini berada di bumi juga menjadi putri kerajaan Ostrala. Aku akan segera menandainya," ucap Zeus.
'Plak. Bunyi tamparan keras mengema diruangan itu, Zeus melebarkan matanya ia memegang pipinya yang memerah. Kinsey telah berada di depannya menatap tajam putranya itu. Ini terulang lagi.
"Jangan pernah mencoba menandainya, pertunanganmu dengannya akan segera dibatalkan, Zen menginginkannya," ucap Kinsey.
"Lalu mengapa jika dia menginginkannya? Rara memilihku, dia adalah tunanganku," ucap Zeus menatap tajam Kinsey.
Sekali lagi tamparan keras mengenai pipi Zeus jika itu orang biasa maka dia pasti akan terpelental dan jatuh namun tidak dengan Zeus yang masih tetap berdiri kokoh mengepal tangannya dengan rahang yang mengeras.
"Sebentar lagi ia akan menjadi Kakak iparmu, pertunangan kalian akan dibatalkan, dia bukanlah matemu ataupun tunanganmu lagi, aku akan berusaha memutuskan tali matemu dan dirinya sehingga hanya Zen yang menjadi matenya," ucap Kinsey.
"Jangan pernah mencoba!" seru Zeus berteriak marah.
"Jangan berteriak padaku! Bersikap patuhlah seperti biasanya!" bentak Kinsey.
"Sadarlah dan terima segalanya, menjauh darinya. Dia milik Zen, kau tak boleh mendekatinya lagi," ujar Kinsey.
"Aku tak mau, dia tunanganku, dia mateku," ucap Zeus bersikeras.
"Dan dia tak akan menjadi matemu, setelah Zen menandainya dia adalah istri Zen dan juga kakak iparmu, kau harus menerima itu. Aku mengizinkanmu bersekolah di EA, jaga jarakmu dan beri batas pada hubunganmu dan Nilara. Pergilah!" pinta Kinsey.
"Hanya karena dia adalah Dewa kalian menuruti semua kemauannya, saat ini di sini dia bukan Dewa, dia hanya Vampire biasa, makhluk Magica World," ucap Zeus penuh akan penekanan.
Lagi dan lagi Kinsey menampar Zeus. "Jaga ucapanmu, dia adalah Dewa Michael kita, dia Dewa agung, pemimpin dari para Dewa-Dewi dibandingkan kau, kau bukanlah apa-apa," ucap Kinsey penuh akan penghinaan pada Zeus.
Zeus tambah mengeratkan kepalan tangannya hingga tanpa sadar ia melukai tangannya sendiri. Zeus berbalik sembari menahan amarah ia segera pergi kembali kekamarnya.
Kinsey menghela napas kasar lalu kembali duduk ke meja kerjanya.
Saat Zeus kembali ia berpas-pasan dengan permaisuri Tierney ibundanya. Zeus memberi salam pada Tierney yang dibalas senyum lembut dari sang Ibunda.
"Kau telah kembali Zeus?" tanya Tierney dengan lembut.
"Ya Ibu," balas Zeus lembut sambil menunduk.
"Kenapa kau menunduk? Angkat kepalamu, aku ingin melihat putraku satu-satunya ini," ucap Tierney sambil memegangi kedua pipi putranya itu lalu mengangkat wajahnya hingga menatap dirinya.
Tierney tertegu ketika melihat bekas kemerahan di pipi Zeus. Pada dasarnya Vampire seperti mereka bisa dengan cepat menyembuhkan diri tapi pada kasus Zeus hanya satu orang yang bisa menyebabkan begitu, hanya sang kaisar yang serangannya membekas agak lama, setidaknya akan hilang selama 20 menit dan itu menguras tenaga.
"Kau di tampar lagi?" tanya Tierney.
"Tidak Ibu, ini hanya...," lirih Zen terdiam saat memandang Tierney yang memandang nanar dirinya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Tierney, Zeus hanya diam tak menjawab.
"Hanya masalah kecil," ucap Zeus sambil tersenyum getir.
"Katakan padaku Zeus apa yang terjadi?" tanya Tierney penuh dengan nada perintah.
"Bukan apa-apa Ibu, ini hanya masalah kecil. Aku mengatakan ingin segera menandai Rara tapi...sudalah aku akan kekamarku dulu, kita bertemu nanti lagi," ucap Zeus lalu segera pergi.
Tierney tertegu melihat itu, ia melangkah dengan pandangan kosong diikuti oleh beberapa pelayan di belakangnya.
"Salam Ibu," ucap Zen memberi salam ketika ia berpaspasan dengan Tierney.
Tierney memandang tajam pada Zen, ia menatap pria berambut hitam itu dengan dingin. Zen pun begitu ia tak pernah memiliki ekspresi saat berada dekat dengan orang-orang dikerajaannya bahkan ayah dan ibunya. Satu-satunya orang yang di tanggapinya hanya Ara.
"Anda telah mendapatkan semuanya bukan? Kenapa Anda harus merebut apa yang dimiliki putraku?" tanya Tierney dengan dingin.
"Anda adalah Michael yang agung, aku selalu percaya padamu namun mengapa kau merenggut semuanya dari putraku? Kenapa kau masuk kedunia ini melalui aku? Apa aku memiliki dosa yang begitu besar? Kenapa kau malah melimpahkannya pada putraku?" tanya Tierney, nadanya tak lagi dingin melainkan lirih dengan beberapa butir airmata yang menetes, ia hanya seorang ibu yang menginginkan anaknya bahagia.
Zen hanya diam ia tak menjawab malah ia menatap tajam dan dingin pada Tierney, tak ada sedikitpun rasa belas kasihan dihatinya melihat wanita itu meneteskan air matanya. Zen lebih memilih untuk beranjak pergi dari sana membiarkan Tierney menangis di sana.
"Mereka semua merepotkan," gumam Zeus.
****
"Zen, Zeus, namanya Zenus, ya namanya adalah Zenus Val Şirqan, putra mahkota kerajaan Şirin qan!"
Itu adalah hari menyenangkan saat semua makhluk dikerajaan Şirin qan bersenang-senang menyambut kelahiran sang putra mahkota, ya itu adalah 6 tahun sebelum kejadian itu terjadi.
"Ibu, Ayah ada apa? Kenapa kalian terdiam?" ucap anak berusia 6 tahun itu heran dengan anak yang di sampingnya menatap Kaisar dan permaisuri datar.
"Zenus? K-kenapa kalian? Mana Zenus?" tanya Tierney kaget serta bingung melihat dua anak laki-laki yang mirip satu sama lainnya.
Gelas yang ada di tangan Kinsey terlepas dan pecah saat menyentuh lantai, ia terdiam begitu pula orang-orang yang ada di ruangan itu.
"P-panggil Eugen, cepat!" seru Kinsey membuat salah seorang prajurit berlari dengan cepat mematuhi perintah sang kaisar.
Zeus mengedipkan matanya polos saat melihat pria yang ada di hadapannya sedangkan Zen hanya menatap tanpa ekspresi.
Pria itu Eugen, pria yang disuruh panggikan oleh sang Kaisar menatap Zen dengan gemetar, ia lalu terduduk dan memandang penuh hormat dan kegembiraan pada Zen, ia langsung saja bersujud dibawah Zen membuat yang lainnya bingun dan heran.
"Salam dari hambamu untuk sang penguasa agung, Dewaku, Dewa Agung Michael!" seru Eugen sontak membuat orang-orang yang ada di ruangan itu bersujud termasuk Kaisar dan sang permaisuri, kecuali Zeus yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Berdirilah!" pintah Zen dingin mereka dengan segera berdiri dan masih hormat pada Zen.
"Makhluk lemah. Jangan ganggu aku jika tak ada hal penting," ucap Zen dengan dingin lalu berbalik dan segera pergi.
"Zen! Kau mau kemana?" tanya Seus ingin segera mengikuti Zen namun tangannya di tahan oleh Kinsey.
"Kau mendengar ucapannya tadi, jangan menganggunya, dia adalah sang dewa yang tengah berengkarnasi, ingat dan patuhlah jangan mengusiknya dan penuhi semua perintah dan keinginannya, kau mengerti," ujar Kinsey.
Zeus kecil hanya menganggukan kepalanya menatap sang ayah patuh. Setiap hari dan setiap saat Zeus hanya dapat menatap pintu dimana Zen berdiam.
Itu terus berlanjut hingga ia berumur sembilan tahun dan selama tiga tahun belakangan itu ia selalu mendapat didikan keras dari sang Ayah, Zeus bertanya-tanya mengapa Zen tak mengikutinya juga? Kengapa dia hanya selalu didalam kamarnya? Namun yang di dapatkan Zeus hanya tamparan dari sang Ayah yang menatap dingin dirinya.
Semua tak lagi sama mereka bilang Zen adalah sang Dewa agung Michael, mereka bilang Zen berbeda dari mereka semua, mereka mengatakan Zen adalah yang berkuasa dan dia selalu diutamakan hingga Zeus merasa muak, ia hidup tanpa adanya kasih sayang dari sang Ayah, Ibunya hanya mengunjungi dirinya sesekali. Karena itu pribadinya berubah menjadi lebih suram, pendiam dan tampak dingin.
Ya itu dulu sampai saat ia bertemu dengan gadis kecil berambut coklat dengan irisan mata Nila yang bening dan murni, gadis itu memiliki wajah dan senyum yang cantik, dia tunangannya. Zeus menyukai gadis itu dan gadis itu menyukainya, Zeus memanggilnya Rara panggilan kesayangannya.
"Gadis itu...menjauh darinya," ucap Zen ketika ia berpas-pasan dengan Zeus.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus menjauh dari tunanganku sendiri?" tanya Zeus menatap tajam Zen.
Zen hanya diam sambil menatap tajam Zeus lalu ia segera pergi dan saat itu Zeus tak menyadari satu hal, katanya pada saat itu membawanya dalam bencana ya sepertinya.
"Tetap diam di kamarmu Zeus!" pinta Kinsey.
"Apa? Tapi Ayah aku ada janji dengan Rara!" bantah Zeus.
"Patuhlah seperti biasanya, aku paling membenci anak pembangkang," ucap Kinsey lalu segera pergi.
Zeus hanya diam dengan pandangan kosong duduk di kasurnya.
"Janji? Hari ini?" gumam Zen lalu segera menghilang dan muncul di sebuah padang bunga yang tampak indah.
"Zeus!" seru seorang gadis berambut coklat itu membuat Zen menoleh padanya.
Gadis itu tanpa aba-aba langsung saja memeluk Zen. Zen terdiam beberapa saat lalu balas memeluk gadis itu namun gadis itu melepaskan pelukan mereka kasar.
"Kau bukan Zeus? Di mana Zeus?" tanya gadis itu.
"Dia tak akan datang," balas Zen datar.
"Benarkah? Tapi Zeus telah berjanji padaku," ucap gadis itu kecewa.
"Dia ada urusan, aku datang ingin mengatakan itu, aku Zen," ucap Zen dengan tenang.
"Kau Zen? Kau kembaran Zeus? Astaga kau benar-benar mirip dengan Zeus! Zeus pernah menceritakan tentangmu! Katanya kau Kakak yang baik, kau Kakak Zeus berarti kau juga akan menjadi kakakku bukan?" tanya gadis itu.
Zen menghitung nama Zeus yang diucapkan gadis itu, 8 ada delapan kata nama Zeus sejak awal mereka bertemu dan itu membuat Zen mengepalkan tangannya marah.
"Tadi namamu Zen bukan? Kalau begitu perkenalkan aku Nilara, panggil saja Nila," ucap gadis itu.
"Nila? Kenapa Zeus memanggilmu Rara?" tanya Zen dengan wajah datar.
"Hm? Kata Zeus itu panggilan kesayangannya padaku hanya dia yang boleh mengatakan itu. Kau tau ketika aku besar nanti aku dan Zeus pasti akan menikah dan memiliki anak juga cucu, cicit kami akan bahagia! Aku menunggu saat itu," ucap Nila tersenyum senang tak menyadari perubahan yang ada pada Zen.
"Hei Zen! Kau mau bermain denganku? Kak Luif sedang sibuk, kau ingin menemaniku?" tanya Nila.
"Maaf lain kali aku akan kembali, kita bermain lain kali ya!" seru Zen sambil tersenyum kecil dan mengelus puncak kepala Nila.
Nila menghindar sehingga tangan Zen hanya tergantung diudara membuat Zen tertegun.
"Zen tidak boleh ngelus kepala Nila, cuma Zeus yang boleh," ucap Nila.
Zen terdiam lalu tersenyum paksa. "Benarkah? Baiklah maafkan aku, aku pamit dulu aku memiliki beberapa urusan," ucap Zen sambil berbalik pergi.
"Oh, bye Zen! Kapan-kapan kita main ya!" seru Nila.
Setelah beberapa jauh Zen berjalan ia lalu menghilang dan tiba tepat di depan Kinsey memandang dingin pria itu membuat Kinsey tersedak sambil berlutut hormat di depan Zen.
"Jauhkan bocah itu dari tunangannya!" pinta Zen dingin lalu pergi.
Kinsey mengangguk kecil lalu segera melaksanakan perintah dari Zen. Ia pergi ketempat Zeus dan mengirim anaknya itu pergi ke benua lain kekerajaan vampir lainnya sebagai pertukaran pelajar dengan alasan untuk mendidiknya.
Dan hari itu, saat itu adalah saat yang tak akan pernah dilupakan oleh Zeus.
"Hanya karena ia seorang Dewa? Dia hanya seorang vampir bangsawan saat ini dan bukan lagi seorang Dewa," gumam Zeus penuh akan kebencian.
Bersambung....
__ADS_1