Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 25 : Perlombaan


__ADS_3

Termenung, Ara memandang keluar jeldela melihat Arthur, Aruna, Kernal, Nura dan Kabi kini sedang berlatih pedang sedangkan Nami, Arthen dan Arthi mereka ntah sibuk mengerjakan apa dengan tanaman yang ditemukan Arthen.


“Kau masih tambak ragu,” ucap Arthos membuat Ara menoleh.


“Kau tak kembali ke Academy?” tanya Arthos.


Ara mendengus sambil berkata dengan kesal, “Untuk apa? Untuk mendengarkan ceramah panjang orang-orang disana?”


“Jangan terlalu memikirkannya Ara. Aku sudah bilang bukan? Kau tak mungkin kembali ke dunia manusia, gerbang menuju kesana telah ditutup,” ujur Arthos.


“Karena itu aku datang padamu dan kau malah sama saja, kau melarangku,” ucap Ara membuat Arthos terkekeh.


“Aku tak punya kuasa akan gerbang itu, mau di tempatku atau dimanapun gerbang itu telah ditutup oleh Veria,” ucap Arthos.


“Jika aku tak kembali kedunia manusia aku akan di sini selamanya!” seru Ara bertekat.


“Kau yakin? Kau tak ingin balas dendam?” tanya Arthos.


“Itu melelahkan,” ucap Ara dengan kesal.


“Ara jangan keras kepala, ini sudah takdirmu, kau yang mendapatkan takdir untuk mengalahkan para makhluk itu,” ucap Arthos tak membuat Ara bergerak dari kegiatannya yang memandangi keluar jendela.


“Akan aku beri tau kau satu hal, orangtuamu masih hidup,” ucap Arthos yang kali ini membuat Ara menoleh.


“Kau bohong padaku agar aku kembali ke Academy bukan?” tanya Ara.


“Tidak aku tidak berbohong, lagipula untuk apa aku berbohong padamu,” ucap Arthos.


“Kalau begitu dimana mereka kini?” tanya Ara.


“Buram, aku tak dapat melihatnya dengan jelas yang penting mereka baik-baik saja,” ucap Arthos.


“Apa yang kau lihat Arthos?” tanya Ara.


“Aku tak dapat melihatnya tapi aku dapat mendengarnya, bunyi gemersek daun, gemercik air, angin dan suara burung biru,” ucap Arthos.


Ara mengerutkan dahinya, kenapa ia merasa ia pernah mendengar tentang hal itu? Tapi ia lupa pernah mendengarnya dimana.


“Arthos apa pedang benang cahaya benar-benar ada?” tanya Ara.


“Ya? Pastinya itu nyata, itu milikmu,” ucap Arthos.


“Arthur!”panggil Ara membuat Arthur menoleh padanya.


“Ada apa?” tanya Arthur.


Ara meloncat lewat jeldela, ia menghampiri Arthur dan yang lainnya.


“Bantu aku latihan, aku akan mendapatkan senjata-senjata itu,” ucap Ara penuh tekat yang tanpa ia sadari membuat orang-orang yang ada di sana tersenyum.


“Kau telah memutuskannya?” tanya Arthur.


“Setidaknya itu yang dapat aku lakukan demi kerajaanku, rencana kedepannya aku akan memikirkannya nanti,” ucap Ara.


“Bukankah hewan-hewan sihirmu juga butuh latihan nona?” tanya Arthi melipat tangan dia depan dadanya.


Werlan, Sonia, miku dan Serga keluar atas izin dari Ara, mereka memandang kearah Arthi.


“Arthi urusi mereka!” pinta Ara.


“Perintah dilaksanakan tuan putri,” balas Arthi sambil tersenyum.


Setidaknya hanya ini yang dapat Ara lakukan bukan hanya seminggu lagi saat perlombaan terakhir ia akan datang, menyelesaikan dendamnya dan menghilang tanpa jejak.


Hari ke-4


“Apa rencanamu Ara?”tanya Arthur saat mereka sedang ada di dekat air terjun untuk latihan.


“Ntahlah, tapi aku mohon ikuti perintahku,” ucap Ara memohon.


Sejenak mata Arthur melebar melihat aura Ara namun matanya kembali normal dan raut wajahnya berubah menjadi kemisteriusan, semua ini masih misteri.


“Sudah saatnyakan? Aku ingin mendapatkan senjata-senjata itu,” ucap Ara.


“Kau yakin? Kini kau hanya dapat mengambil cambuk itu saja,”ucap Arthur.


“Tak masalah aku bisa mengumpulkan pedang tersebut perlahan-lahan bukan? Lagi pula senjata-senjata itu tidak hanya satu melainkan dua jenis,”ucap Ara.

__ADS_1


“Yah ini sudah keputusanmu, bagaimanapun kau harus menyesuaikan tenaga dalammu, kau sudah membaca buku itukan?” tanya Arthur dijawab anggukan oleh Ara.


“Bersiaplah Nona, ini akan jadi perjalanan yang sangat panjang,” ucap Arthur sambil mengulurkan tangannya membuat Ara terkekeh dan mengulurkan tangannya memegang tangan pria itu.


“Air terjun penerima berkah, titik awal dari perjalanan ini,” ucap Athur melihat kearah air terjun.


“Kau benar Arthur, di usiaku yang ke enam belas ini aku akan mengubah takdirku, pertualanganku dimulai di sini,” ucap Ara memandang kearah air terjun itu dengan tekat.


“Nah Tuan Putri ini sudah saatnya, saya akan menunggu Anda,” ucap Arthur mengantar Ara kedekat air terjun.


“Ya, Arthur terima kasih, sampai jumpa beberapa hari lagi, tolong latih Aruna dan yang lainnya,”ucap Ara sambil tersenyum


“Tenang saja yang mulia bersama Arthur semua aman,” ucap Arthur sambil tersenyum.


Ara membalas senyum Arthur lalu ia beralih kearah air terjun yang deras Ara memasuki sungai mendekati air terjun untuk terakhir kali Ara melihat kearah Arthur yang masih tersenyum kearahnya, gadis itu kembali berbalik dan memasuki air terjun.


 


Ara berjalan memasuki gua yang ada di balik air terjun itu dibalik air terjun ada air terjun lagi itulah kata orang untuk air terjun ini.


 


Langkah Ara berhenti pada kolam dengan air terjun dan bungai teratai indah yang tumbuh di atasnya.


“Air terjun penerima berkah,”gumam Ara.


Ara memasuki kolam tersebut mendekati air terjun, awalnya air kolam itu memang dangkal namun semaki Ara berjalan mendekati air terjun, air kolam semakin dalam dan kini mencapai perutnya.


Ara memandangi air terjun itu lekat lalu naik keatas batu besar yang ada di tengah air terjun tersebut.


Ara duduk bersila di batu itu, air deras yang terjun kebawah membasahinya perlahan Ara menutup matanya melihat lebih jauh hal yang ingin ia dapatkan.


Arthur masih berdiri di dekat air terjun tadi ia tak bergerak sedikitpun matanya masih tertuju pada tempat Ara pergi tadi rasanya masih tak rela membiarkan gadis itu melakukan ini semua.


“Waktunya kembali Arthur,” ucap Arthi yang ntah sejak kapan ada di samping pria itu.


“Ya sepertinya begitu,”ucap Arthur sambil berbalik pergi meninggalkan Arthi yang kini menatap air terjun itu.


“Kita bertemu beberapa hari lagi putri,” ucap Arthi lalu berbalik pergi.


Ini sudah hampir dua minggu namun Ara belum juga kembali hal ini tentu membuat teman-temannya khawatir.


“Ara kira-kira dimana ya?” tanya Karin khawatir.


“Untungnya pertandingan pedang diundur menjadi hari terakhir, jika saja dihari itu Ara masih belum datang kita terpaksa mengantikannya,” ucap Zac.


“Ara sebenarnya kau dimana...,” lirih Atta.


Veleria kini tengah mengikuti lomba meramu namun ia tak bisa fokus sama sekali bagaimanapun ia mengkhawatirkan Ara, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu? Bahkan kini mimpinya makin aneh tiap harinya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Valeria bertanya.


Beberapa hari kemudian....


 


Semua anak asrama 02 berkumpul perlombaan terakhir tengah di mulai, ini hari terakhir namun Ara masih belum kembali.


 


Zen yang telah maju pertama mengalahkan para lawannya dan mereka semua bisa menebak merekalah yang menak namun lomba kedua tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi.


“Dia belum kembali?” tanya Zen dingin.


“Belum sama sekali,” jawab Rean.


“Kemana dia sebenarnya?” tanya Fioren dengan khawatir.


“Ini sudah urutan keberapa?”tanya Zac.


“Setelah ini giliran Ara, dia yang terakhir,” ucap Shun.


“Aih, bagaimana ini, ini benar-benar gawat,” ucap Vino.


“Tak ada cara lain kita harus mengantinya,” ucap Luif.


“Kau gila! Diantara kami yang perempuan hanya Aralah yang bisa berpedang,” ucap Atta kesal.

__ADS_1


“Namun ia tak ada di sini bukan? Lagi pula di bawah Ara masih ada Vina yang bisa melakukannya,” ucap Luif.


“Aku? Tidak-tidak aku tidak bisa!”seru Vina.


“Bagaimana ini?” gumam Leo khawatir.


“Pertandingan terakhir asrama 02 dari EA dan asrama 09 dari GA perwakilan tim perempuan yang akan menjadi penutup kali ini!”seru MC membuat para penonton bersorak.


“Kita panggilkan perserta kita! Dari GA Anatansia Afterland!” seru MC membuat para penonton bersorak makin hebat terkhususnya murid GA.


Anatansia memasuki arena gadis berambut hitam dengan mata hijau itu memegang pedangnya sambil tersenyum penuh percaya diri.


“dan perwakilan EA, Kinara Merme Gradiamon!” seru MC membuat para penonton bersorak.


Namun arena menjadi hening saat Ara tak kunjung muncul mereka semua sama-sama saling pandang dan bertanya-tanya kemana kiranya gadis tersebut.


“Khm sekali lagi kami panggil Kirana,” ucap sang MC.


“Hmp! Apa putri kerajaan Ostrala selemah ini? Bahkan dia tak ingin muncul saat pertandingan,” ucap seorang kaisar kerajaan membuat Baraz memandang tajam dirinya.


“Veria sebenarnya Ara kemana?” tanya Navia berbisik pada Veria.


“Aku tidak tau Ibu dia sudah pergi selama dua minggu dan tak kembali,” bisik Veria.


 


Seseorang menghampiri MC seraya membisikan sesuatu MC tersebut mengguk paham setelahnya.


 


“Baiklah saya hitung sampai tiga jika masih belum muncul maka pemenangnya akan jatuh pada Anatansia!” seru sang MC.


“Bagaimana ini?”tanya Nava khawatir.


“SATU!” hitung sang MC bersamaan dengan penonton.


“Tak ada cara lain harus ada penganti,” ucap Zac.


“DUA,” hitungan berikutnya namun mereka belum juga mengambil keputusan yang pasti.


 


Zen dan Luif hanya terdiam sedangkan yang lain kini harap-harap cemas dan khawatir.


 


“Benar-benar mengecewakan,” gumam seorang pria.


“TI-“ hitungan terhenti ketika langit secara tiba-tiba beruba warna menjadi kelabu.


“Lihat! Apa itu!” teriak seorang siswa sambil menunjuk kearah langit.


Semua mata melihat kelangit termasuk para Kaisar, Raja, MC juga murid asrama 02.


Seseorang memakai tudung terjun dari langit dan mendarat pas di arena.


“Maaf sepertinya aku terlambat,” ucapnya sambil membuka tudungnya menampilkan wajah menawan dengan rambut coklat panjang dan mata bewaena nila.


“ARA!” seru murid asrama 02 bersamaan.


“Ups, apa aku sangat terlambat?” tanya Ara sambil tersenyum.


Bersambung....


Hai! Hai semua apa kabar?


Moga sehat selalu ya!


Huaw maaf banget ini udah sebulan dan EA baru up.


Aku minta maaf sebesar-besar pada para pembaca, aku juga gak tau kapan bakal up lagi jadi maaf ya semua.


Bagaimana menurut kalian eps kali ini seru? Atau membosankan? Kirim komennya ya semua.


Jangan lupa like dan vote serta saran dan kritiknya.


Sekali lagi maaf semua.

__ADS_1


Sampai jumpa di eps berikutnya!


See you bye~


__ADS_2