Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 15 : Hewan sihir ( 2 )


__ADS_3

Ini adalah hal menyebalkan bagi Valeria sudah sekitar setengah jam ia berkeliling tapi ia tak menemukan seekor hewan sihir, ini benar-benar menyebalkan padahal ia berencana menyelesaikan hal ini dengan cepat lalu kembali membuat ramuannya.


“Ranfa apa aku harus mencari hewan sihir lagi? Kenapa tidak kau saja? Bukankah kau sudah cukup?” tanya Valeria pada hewan sihirnya yang sudah ia memiliki saat usia 10 tahun.


“Tak bisa kau harus memiliki setidaknya dua hewan sihir kau tau aku Hankō dan kau selalu membuatku menjadi hewan percobaan ramuan-ramuanmu itu,” ucap Ranfa hewan sihir Valeria.


Ranfa adalah seekor kilin makluk setengah naga setengah kuda makhluk yang di temukan Valeria saat ia sedang bermain dengan teman masa kecilnya yang mungkin masih melupakan tentang kenangan kecil mereka.


“Ranfa seberapa jauh lagi aku harus berjalan, bagaimana kalau kita kembali dan mengatakan kau hewan sihir yang kudapatkan dalam hutan?” tanya Valeria memeles.


“Tidak!” seru Ranfa dengan cepat, “apa kau tak kasihan padaku? Aku kesepian sendirian, Valeria tuanku yang baik hati, ku mohon berikan aku seorang teman.”


Valeria menghela nafasnya kasar ia memilih mendiamkan Ranfa yang mungkin kini tengah tertidur. Lagi dan lagi Valeria menghembuskan nafasnya dengan gusar ini sudah hampir satu jam dan ia masih belum menemukan satu hewan sihirpun?! Ini benar-benar menyebalkan!


Suara kepakan sayap membuat Valeria menoleh keatas namun ia tak menemukan siapapun, mungkin itu hanya perasaannya saja. Valeria terus memandangi ke atas langit tampak begitu indah ia memejami matanya dan menunduk lalu melihat ke depan.


Mata Valeria terbuka lebar ia tersentak kaget spontan mundur beberapa langkah.


Di depannya kini ada seekor hippogriff, makhluk setengah rajawali dan setengah kuda.


“Kau mencari hewan sihir bukan? Bagaimana jika aku yang menjadi hewan sihirmu?” tanya hippogriff tersebut membuat Valeria mengerjabkan matanya dengan polos ia bingung.


“Kau ingin menjadi hewan sihirku? Kau yakin?” tanya Valeria dengan mata berbinar hippogriff itu mengangguk.


“Ya dan asal kau tau aku jenis Hankō,” ucap hippogriff tersebut sambil berubah menjadi seorang wanita cantik berambut panjang dan mata tajam bak elang.


“Saranku jangan mau menjadi hewan sihirnya atau kau akan menderita menjadi percobaannya,” ucap Ranfa yang muncul dengan wujut manusia sambil meletakkan kepalanya keatas kepala Valeria.


“Aku tak memanggilmu kenapa kau keluar? Dan lagi kau berat! Aku tuanmu!” seru Valeria kesal pada hewan sihirnya itu.


“Oh ayolah lagipula ucapanku benar,” ucap Ranfa dengan santainya, Kirin dengan bentuk manusia pria dengan kulit putih agak gelap dengan rambut ungu pucat itu memandangi hippogriff tadi dari atas hingga bawah.


“Kau lumayan juga bagaimana jika kau menjadi hewan sihir Valeria kau bisa menjadi temanku,” ucap Ranfa membuat Valeria memutar matanya malas.


“Ranfa jangan genit seperti itu,” ucap Valeria dengan malas.


“What?! Apa maksudmu? Genit? Itu bukan aku!”seru Ranfa.


“Tapi nyatanya kau memang genit,” ujur Valeria memutar matanya malas.


Hippogriff tadi terkekeh kecil membiat Valeria dan Ranfa memandang ke arahnya denfan bingung.


“Kalian menyenangkan,” ucapnya dengan mata yang menyipit karena tersenyum sekilas senyum itu tampak licik.


“Wah aku suka dengan ekspresi wajahmu ketika tersenyum sangat licik, bagaimana jika kau menjadi hewan sihirku saja?” tanya Valeria sambil memegangi tangan hippogriff tersebut.


“Bukankah itu yang kutanyakan tadi nona? Maukah kau bersedia menjadi pemilikku?”tanya hippogriff itu.


“Tentu saja siapa namamu?” tanya Valeria.


“Namaku tak pasti, bagaimana jika kau yang memberiku nama,” saran hippogriff tersebut.


“Ok, baiklah bagaimana jika...hm...Anri?” tanya Valeria.


“Kau memberikan nama yang buruk,” cibir Ranfa.


“Diamlah kirin pembangkang!”seru Valeria dengan kesal.


“Aku menerima nama itu,” ucap hippogriff itu membuat Valeria menoleh padanya dan tersenyum lebar.


Gadis itu dengan cepat melakukan perjanjian sihir dengan Anri dengan sebuah tanda yang muncul di atas dadanya.


“Baiklah kalian boleh istirahan dan ayo kita kembali!”seru Valeria dengan gembira.


Ranfa dan Anri telah menghilang. Valeria dengan riang pergi berbalik berjalan keluar dari hutan tersebut.


Nava....


“Uh sebel, sebel, sebel! Ini semua karena demon sialan itu! Coba kalau dia tak membuat ulah aku tak mungkin berlama-lama di hutan ini,” gerutu Nava dengan kesal.


Nava menyibak semak-semak di depannya saat mendengar adanya suara aliran sungai, setidaknya itu harus sungai jerni karena ia sangatlah ke hausan.


Mata Nava bebinar sunga di depannya adalah sungai jerni yang pastinya bisa di minum.


Nava berlari ke tepi sungai, ia menampungkan tangannya meminum air sungai.


Gerakan Nava terhenti ketika merasakan ada seseorang di sebelah kiri dan kanannya ikut meminum air. Nava menoleh ke kanan mendapati sesosok burung dengan bulu orange indah lalu Nava menoleh ke samping kirinya mendapatkan sesosok wanita setengah burung dengan sayap.


Nava memandang ke depan memandang ke arah sungai memperhatikan kedua makhluk yang tampak tenang meminum air. Nava berteriak mundur kebelakang.


Kedua makhluk itu menoleh dan memandang heran dirinya.


“Ada apa calon pemilikku ada yang salah?” tanya wanita dengan sayap.


Nava memandangi mereka berdua dengan keringat dingin yang membasahinya, gadis itu takut kalau-kalau keduanya menerkam dirinya.


“Kau ketakutan? Ya ampun Harfi ini semua salahmu! Pemilikku jadi ketakutan,” ucap burung berbulu orange.


“Kenapa kau menyalahkanku burung sialan!” seru wanita yang bernama Harfi itu dengan marah.


“Oh, tuanku kau tak perlu takut perkenalkan aku Kuza hewan sihir jenis Hankō dan di sebelahku ada Harfi hewan sihir jenis hanbun,” ucap burung berwarna orange benama Kuza itu.


“Jenis hanbun?” tanya Nava.


“Ya untuk lebih jelasnya lagi kau bisa mencari di buku tentang sejarah hewan sihir,” ucap Harfi.


“Jadi Nona,” ucap Kuza berubah wujud menjadi seorang pria berperawakan tegap dengan rambut orange dan mata berkilat mempesona seperti matahari tengelam.


“Apa kami bisa jadi hewan sihirmu?” tanya Kuza melanjutkan ucapannya tadi sambil mencium tangan Nava.


Nava terdiam berpikir, apa ia harus menerima dua hewan sihir ini? Tapi ia ingin cepat keluar dan beristirahat.


“Baiklah! Ayo kita lakukan perjanjian sihir!” seru Nava membuat Harfi dan Kuza juga ikut tersenyum.


Sama seperti yang lainnya Nava mengikuti prosedur pengikat perjanjian sihir. Ia mengoreskan tangannya dengan pisau membuat darah keluar dari sana, Nava mengucapkan perjanjian sihir dan mengusapkan darahnya pada lengan Harfi juga bahu Kuza dan dalam sekejap sebuah tanda muncul di tubuh Nava dan segera menghilang.


“Baiklah semua selesai! Sekarang kita tinggal istirahat!”seru Nava dengan senang.


Kazu dan Harfi menghilang dengan Nava yang tersenyum lebar gadis itu berbalik dan berjalan keluar hutan sambil melompat kecil dan bersenandung riang.


Sementara itu Atta....


“Half Witch sialan!” umpat Atta.

__ADS_1


Tak jauh berbeda dari Fioren dan Nava sebelum memasuki hutan gadis itu juga di ganggu bedanya ia di ganggu oleh Luif yang ntah sejak kapan makin berani saja.


Bayangkan pria satu itu tak ingin mengalah sama sekali memperebutkan jalan yang akan di ambil bahkan ia selalu mengikuti Atta hingga sampai ke sebuah jalan setapak, ia bersikeras ingin melewati jalan itu sampai-sampai ia menyuruh Atta pergi dengan cara menyebalkan, bayangkan saja ia menciumi Atta! Setela perilaku kurang hajarnya itu ia malah berlari pergi.


“Menyebalkan!” seru Atta.


Atta terhenti ketika merasakan ada yang mengikutinya dari belakang, ia menoleh namun tak mendapati siapapun, gadis itu kembali berjalan namun ia berhenti lagi dan segera menoleh. Atta mendepati seekor kuda yang cantik bewarna putih dengan poni bewarna pirang keemasan dengan tanduk di kepalanya, ugh itu buka kuda biasa melainkan seekor unicorn!


“Kau...hewan sihir bukan? Kenapa kau mengikutiku?” tanya Atta.


“Karena kau adalah pemilikku,” jawab unicorn itu dengan tenang.


Atta tercengang jadi dari tadi ia mencari hewan sihir susah payah padahal ada seekor hewan sihir yang selalu mengikutinya dan ingin menjadi hewan sihir miliknya.


“Kau serius!” seru Atta tak percaya.


“Aku serius, panggil aku Yuni aku jenis Hankō,” ucap Unicorn bernama Yuni itu sambip berubah wujud menjadi sesosok wanita cantik dengan rambut bewarna pirang keemasan.


“Wah jenis yang langkah,” ucap Atta.


“Kau benar-benar ingin menjadi hewan sihirku? Apa kau tak akan menyesal nantinya?” tanya Atta.


“Ya, aku yakin dan aku tak pernah menyesal menjadi hewan sihirmu,” ucap Yuni sambip tersenyum lembut membuat Atta sedikit heran dengan ucapannya tadi.


“Baiklah kalau kau tak keberatan bagaimana jika kita melakukan perjanjian sihir?” tanya Atta.


“Semua keputusan ada padamu,” jawab Yuni.


Setelah itu Atta dengan cepat melakukan perjanjian sihir di bawah matanya terdapat simbol yang kemudian menghilang dengan cepat.


“Baiklah Yuni kalau begi-,” ucapan Atta terpotong.


Atta memegangi kepalanya tak kala merasakan sesuatu yang berputar bagaikan film di ingatannya.


“Atta! Dewi At----,”


Mata Atta tertutup rapat, gadis itu pingdan namun sebelumnya ia dapat mendegar Yuni memanggilnya dan juga kata ‘Dewi At’ setelahnya Atta tak bisa mendengar kelanjutannya.


“Ateya!” seru Wanita berambut panjang bewarna coklat yang di ujung rambutnya bewarna nila dengan mata bewarna nila agak keemasan yang bercahaya.


“Ada apa Nindiga?” tanya wanita berambut panjang sepinggul dengan warna putih agak kepirangan dan mata bewarna kuning pucat bercahaya yang di panggil Ateya tersebut.


“Kau harus lihat tingkah Kak Luanfa! Dia menyebalkan! Kau harus menghukumnya!”seru wanita berambut coklat, Nindiga.


Ateya terkekeh lagi-lagi tentang pertengkaran Nindiga dan suami tercintanya. Luanfa memang jahil sama seperti Nindiga namun itu hanya ia lakukan pada sang adik saja, katanya hanya menghukum Nindiga agar adiknya itu kapok.


“Jadi Dewiku sayang aku harus menghukumnya bagaimana?” tanya Ateya sambil menuntun Nindiga duduk di sebelahnya.


Nindiga mengembungkan pipinya kesal, “terserah kamu saja yang penting dia harus di hukum!” seru Nindiga.


“Baiklah sesuai perintah Mahadewi,” ucap Ateya sambil terkekeh.


Nindiga memandang lekat istri kakaknya sekaligus temannya itu. Wajahnya Nindiga yang awalnya kesal kini berubah menjadi sendu.


“Kau kenapa Nindiga?” tanya Ateya sambil mengusap pipi Nindiga dengan wajah khawatir.


“Ateya...,” lirih Nindiga langsung memeluk Ateya.


Wanita itu terisak di pelukan Ateya ia menangis. Ateya memeluk erat Nindiga menyalurkan kehangatan pada sahabatnya itu.


“Ateya...keputusanku sudah bulat kita akan kembali berengkarnasi dan ini untuk yang terakhir kalinya. Ta-tapi aku mohon pada rengkarnasi kali ini lupakan aku,” ucap Nindiga.


Wajah khawatir Ateya luntur kini berubah menjadi sendu, wanita itu memeluk erat Nindiga ia juga ikut menangis.


Bagi Ateya, Nindiga bukan hanya seorang Dewi takdir, bukan juga Mahadewi pendamping Dewa tertinggi Debelu pils ia melebihi itu. Nindiga itu sahabatnya, ia sudah mengagapnya sebagai adik kandungnya sendiri jadi bagaimana mungkin dia bisa melupakannya jika saja para penghuni Debelu pils di tanya apa mereka bisa melupakan Nindiga pasti jawaban mereka sama tidak akan bisa.


“Ateya berjanjilah padaku, ku mohon, ini demi kita, ini permohonanku,” ucap Nindiga.


“Baiklah aku janji, namun kau harus selamat, kau harus menepati janjimu juga kalau ini adalah rengkarnasi yang terakhir,” ucap Ateya merepas pelukan mereka dan memegangi pipi Nindiga.


Nindiga mengangguk mengiyakan membuat Ateya tersenyum lalu kembali memeluk Nindiga erat.


“Ukh-, sepertinya aku pingsan?” ucapan yang keluar pertama kali saat Atta membuka matanya dan langsung duduk.


“Eh tunggu, bukannya tadi aku sedang mencari hewan sihir? Dan aku mendapan unicorn bernama Yuni dan berhasil membuat perjajian hewan sihir. Dan bukannya aku ada di hutan? Sekarang aku dimana?!” tanya Atta berseru panik.


“Ya, tadi kau pingsan. Ya tadi kau memang mencari hewan sihir dan berhasil membuat perjanjian denganku dan Ya tadi kau ada di hutan lalu sekarang ini kau ada di tepi hutan lebih tepatnya di depan jalan keluar hutan,” jawab Yuni yang kini berwujud unicorn dengan langsung menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Atta saat ia bangun tadi.


“Eh kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Atta heran.


“Karena aku membawamu,” jawab Yuni dengan tenang.


Atta memegangi kepalanya, kepalanya masih sakit apalagi setelah melihat mimpi tadi sebenarnya itu mimpi apa? Nindiga dan Ateya bukankah mereka Dewi takdir dan Dewi cahaya? Kenapa rasanya Ateya mirip dengannya dan Nindiga mirip seperti...Ara?! Heh apa yang baru saja ia pikirkan? Tidak mungkin bukan?


“Oh, aku harus mencari tau ini semua,” gumam Atta sambil mengigit kukunya.


“Yuni kau boleh istirahat pasti melelahkan membawaku sampai ke sini,” ucap Atta.


“Tidak juga tapi aku memang lelah,” ucap Yuni lalu menghilang.


Atta berdiri ia membersihkan roknya. “Baiklah Atta ayo kita keluar setelah semuanya selesai kita akan cari tau semuanya,” ucap Atta lalu berjalan keluar.


Vino dan Vina...


“Kenapa aku harus punya kembaran payah sepertimu!” seru Vina sambil melipat tangannya di dada.


“A-apa?! Kau menghinaku! Siapa yang kau bilang payah?!”tanya Vino berseru dengan marah.


“Siapa lagi yang ku maksud kalau bukan kau!” seru Vina sambil tersenyum remeh pada Vino.


Keduanya lalu saling menatap tajam. Dari tadi kembaran itu tak henti-hentinya selalu bertikai padahal ini sudah satu jam dan mereka belum juga menemukan hewan sihir satupun juga.


Karena keasikan bertikai alias bertengkar dengan adu mulut Vina dan Vino tak menyadari ada yang mengikuti mereka sedari tadi di belakang, keduanya terjatuh saat tak sengaja tersandung dengan sesuatu yang keras dan bersisik.


“Aduh, ini pasti kau yang menyandungkukan! Ngaku!” seru Vino.


“Kau gila! Kau tidak lihat aku ikut terjatu jadi mana mungkin aku menyandungmu!” seru Vina tak terima di tuduh seperti itu.


“Hei kalian berdua, berhentilah bertengkar aku pusing mendengarnya,” ucap sebuah suara di belakang mereka.


“Benar dan maaf karena telah membuat kalian terjatuh,” ucap suara lainnya.


Vina dan Vino melebarkan matanya keduanya spontan berbalik mendapati dua sosok makhluk bewarna hijau seperti ular namun dengan ukuran raksasa dengan yang satu memiliki tanduk dengan empat kaki namun tak bersayap.

__ADS_1


Vina dan Vina saling pandang lalu kedua kembaran itu berteriak.


“Naga!?!” seru keduanya dengan takut sambil berpelukan.


“Heh kalian takut? Padahal dari tadi kami mengikuti kalian tapi kalian tak menyadarinya?” tanya Naga yang hanya berbentuk seperti ular.


“Eh Vina jadi dari tadi kita di ikuti dua naga?” tanya Vino.


“Mana aku tahu lagi pula apa mereka hewan sihir? Kenapa tidak kita jadikan milik kita saja?” tanya Vina.


“Khm, hm...apa kalian hewan sihir?” tanya Vino yang telah melepas pelukannya dari Vina dan berdiri begitu juga dengan Vina.


“Ya,” jawab kedua naga itu kompak.


“Apa kalian ingin menjadi hewan sihir kami?!” tanya Vina berseru dengan binar mata berharap.


“Memang itu tujuan kami mengikuti kalian,” jawab naga bertanduk.


“Tapi kalian malah tak menyadarinya,” ucap naga ular.


“Oh maafkan kami,” ucap Vino.


“Tak masalah, hai iya namaku Panra dan ini Ganra,” ucap Naga bertanduk memperkenalkan diri sebagai Panra.


“Dan kami Hewan sihir jenis henkō,” tambah Ganra.


“Wah berarti kalian bisa berubah?” tanya Vina dengan senang.


“Tentu saja Nona,” ucap Genra berubah menkadi seorang pria dengan rambut hijau terang sambil mencium tangan Vina.


Bukan hanya Genra bahkan kini Penra pun begitu ia berubah menjadi seorang pria berkulit kuning langsat dengan rambut hijau agak tua dengan tanduk di atas kepalanya.


“Wah kalian benar-benar menakjub! Aku tak menyangka akan memiliki hewan sihir jenis henkō!” seru Vino.


“jangan terlalu menyanjung,” ucap Penra.


“Tapi, itu artinya kami bisa menjadi hewan sihir kalian bukan?” tanya Genra.


“Tentu saja!” seru Vina dan Vino kompak.


“Akhirnya!” seru Penra dan Gerna juga kompak yang membuat si Kembar di depan mereka agak bingung dengan ucapan yang keluar dari dua henkō itu.


Tapi Vina-Vino tak memusingkan itu mereka dengan cepat melakukan perjanjian sihir lalu keluar dari hutan lagi pula sepertinya semua orang sudah mendapatkan hewan sihirnya karena ini sudah hampir dua jam berlalu.


Di tempat Ara....


“Hei Ara apa kau tidak capek tidur terus?” tanya Kabi pada Ara yang kini berada di atasnya berguling sambil menutup mata.


“Tidak, lagi pula kau tau sendiri bukan aku tak tidur saat malam karena membaca salinan buku dari perpustakaan sihir dari masing-masing kerajaan,” ucap Ara masih menutup matanya.


“Oh, ayolah Ara seberapa lama lagi kita harus berjalan ini sudah hampir 2 jam, waktumu hampir habis tapi kau tak menemukan satu hewan sihirpun,” ucap Kabi dengan kesal karena kini ia mulai lelah berjalan selama dua jam sedangkan Ara dengan santainya berguling di atasnya.


“Tak usah banyak mengeluh bukankah kau dari kemarin ingin berubah menjadi wujud aslimu jadi gunakan 2 jam ini sepuas-puasnya dengan wujud aslimu,” ucap Ara dengan santai.


Nami muncul di sebelah Kabi dengan wujud harimaunya. “Aku akan menemanimu lagipula kesepakatan kita jika tidak menemukan hewan sihir maka kita akan mencari pecahan permata yang di jaga oleh Werlan bukan?” tanya Nami.


“Ck, suka hati kalian sajalah,” ucap Kabi dengan malas.


Mata Ara perlahan terbuka, ia terduduk membuat Kabi kaget dengan gerakan Ara yang spontan tersebut.


“Ada apa Ara?” tanya Kabi heran.


“Tempatnya sudah dekat,” ujur Ara.


“Apa di dekat danau yang tenang?” tanya Nami.


“Kenapa kau mengatakan itu?” tanya Kabi heran.


“Karena aku mendengar suara percikan air sepertinya bukan air yang mengalir itu artinya adalah sebuah danau dengan suasana tenangkan?” tanya Nami.


“Ayo kesana Kabi!” seru Ara dengan riang sambil memukul kepala Kabi.


“Au, sakit Ara!” seru Kabi kesal.


“Maaf Kabi, aku terlalu bersemangat,” ucap Ara.


Kabi dan Nami berlari dengan kencang. Mereka berhenti di sebuah danau dengan suasana tenang persis seperti yang di katakan Nami tadi. Ara turun dari atas Kabi.


“Dewi Nindiga,” sebuah suara mengema di danau itu.


Danau yang awalnya tenang kini memuncukan ombak seperti lautan di tengah danau terdapat pusaran Air dari sana keluar seekor Naga bewarna putih dengan sisik berkilau emas.


“Kabi, Nami,” panggil Naga tersebut.


“Oh, hai Werlan apa kabar lama tak bertemu,” ucap Kabi.


Nami berubah wujudnya menjadi manusia begitu juga dengan Kabi.


“Bagaimana jika kita berbicara terlebih dahulu Werlan,” ujur Nami.


“Tentu dengan wujud manusia yang bisa bikin santai,” tambah Kabi.


Naga putih yang di panggil Werlan oleh Kabi dan Nami itu merubah wujudnya menjadi manusia sama seperti Nami juga Kabi.


 


Matanya bewarna nila memandang tajam, badannya tegap degan rambut bewarna putih hampir sama dengan Nami tapi bedanya ia tak memiliki helaian rambut yang bewarna nila hanya matanya saja juga simbol di lehernya.


 


“Ada apa?” tanya Werlan.


“Tak ada apa-apa hanya ingin mengambil pecahan permata itu kau tau pemilik kami menginginkannya,” ucap Kabi sambil menunjuk Ara.


“hm Hai,” ucap Ara dengan canggung.


 


Werlan memandang tajam Ara penuh selidik ingatan henkō tersebut berputar dengan kejadian bertahun\-tahun silam.


 


“Werlan...aku memberi namanya Werlan,”

__ADS_1


TBC


__ADS_2