Dewi Takdir

Dewi Takdir
Bab 01 : Sebuah surat


__ADS_3

"Hiks...hiks...meleka....benal...i..ini...semua salahku...kalna a..aku...Ayah dan Ibu...pelgi," tangis seorang anak berumur 5 tahun dengan suara candelnya.


"Ini bukan salahmu Nila, jangan menangis," ucap wanita yang memiliki rambut bewarna coklat pekat dengan irisan mata bewarna merah bernama Veria.


"Tapi...Tante semua memang salahku...hiks... Nenek benal aku hanya pembawa sial"kata anak kecil berumur 5 tahun tadi yang benama Nila.


"Jangan sedih ya Nila sayang, itu semua bukan salahmu," ucap Veria sambil menghapus air mata keponakannya itu lembut, "tante gak mau melihatmu menderita lagi lebih baik kita pergi dari sini."


"Tapi...kalau Nila hiks...pelgi nanti hiks...Nenek...malah," ucap Nila tersedu-sedu.


"Dia tidak akan memarahimu Nila dan dia tidak berhak memarahimu. Kita akan pergi ketempat yang jauh mereka tidak akan bisa menemui kita ya," ucap Veria.


Nila hanya mengangguk mengiyakan dan mengikuti Veria menuju ke sebuah portal berupa sebuah pintu.


'Aku berjanji akan melindungi Nila, aku akan melindungi Dewi dengan nyawaku ini aku akan selalu disisimu karna aku adalah salah satu dari ke empat penjaga yang terikat denganmu Dewi,' batin Veria sambil memandang Nila lalu memasuki portal itu.



"Ha...hah...aku memimpikan itu lagi," keluh seorang gadis berambut coklet dengan ujung rambut berwarna nila dan irisan mata bewarna nila sambil mematikan alaram handphonenya.


Ia mengusap pipinya dan mendapati pipinya penuh dgn air mata. "Aku menangis lagi ya?" ucapnya kebinggungan sendiri, "ini sudah seminggu dan aku terus memimpikan hal yang sama dan saat bangunnya aku selalu menangis ingatan waktu kapan itu ya kenapa aku melupakannya."


"Ara udah bangun belum?"tanya seseorang yang membuka pintu kamar gadis bernama Ara itu.


"Udah," ucap Ara pada orang yg membuka pintu kamarnya.


"Cepat mandi dan sarapan nanti telat loh kalau lambat-lambat kayak gitu," ucap orang itu dengan cerewet.


"Iya....iya Aruna yang cerewet" ucap Ara kepada orang yang masuk ke kamarnya, Aruna namanya.


"Ih...Runa gak cerewet!" seru Aruna kesal sambil mengembungkan sebelah pipinya lalu berlalu pergi dari kamar Ara.


Kinara Marme Grediamon namanya biasa dipanggil Ara, umurnya 15 tahun saat ini Ara duduk dikelas 1 sma.


Tentangnya ya hm...Ara hanya gadis remaja biasa yg memiliki manik mata bewarna nila, gadis pendiam namun dikagumi banyak orang ya begitu lah Ara.


kini Ara sedang bersiap memakai baju sekolahnya dan menyandang tasnya lalu turun kebawah menuju ruang makan.


ARA POV


"Pagi runa," ucapku pada seorang gadis bermaniak mata nila dengan rambut sepunggung yang berwana sama dengan kucir buntut kuda dan telinga yang agak runcing yang bernama Aruna.


"Udah cepat habiskan sarapanmu lalu pergi sekolah," ucap Aruna padaku dengan nada kesal, sepertinya dia masih kesal padaku tentang hal tadi.


"Nana mana?" tanyaku padanya setelah duduk.


"Nana dia tadi pergi," jawab Runa singkat.


"Ya untung kan?" tanyaku pada Aruna sambil menahal kepalaku mengunakan tangan.


"Untung kenapa?" tanyanya balik.


"Di rumah ini yg tinggal hanya aku dan Nana kalau engak pasti orang udah pingsan karena lihat pengorengan mask sendiri," candaku sambil terkekeh kecil.


"Hihihi iya padahan kan aku yg masak,"ucap Aruna membalas candaanku.


"Tapi tenang tinggal aktifkan mode terlihat semua orang akan terpesona pada Aruna yang cantik ini," ucap aruna dengan sombong, aku hanya tergelak begitu pula dengan Aruna.


Dan Aruna bukan yang kalian kira kalau menurut percakapan kami tadi kalian mengira Aruna adalah hantu atau semacamnya kalian salah besar.


Aruna itu Cydymaith, Cydymaith itu apa?mungkin itu yang ada dipikiran kalian bukan?.


Kalau kalian bertanya tentang itu padaku maka jangan berharap akan mendapatkan jawaban.


Karena aku juga tidak tau Cydymaith itu apa, aku tidak pernah diberitau Nana. Yang jelas Aruna ada sejak aku masih kecil dia yang selalu ada didekatku. Dia itu teman pertamaku.


Aruna terlihat seperti elf tapi bukan elf, fairy tapi bukan fairy, yang penting aruna campuran dari kedua jenis itu.


Setelah aku selesai makan aku segera berangkat ke sekolah.


"Aku pergi dulu Runa bye jangan rindu ya," pamitku pada Runa.


"Gak bakalan," cibirnya aku hanya tergelak lalu segera pergi menggunakan sepedaku.



"Selamat pagi semua!" seruku saat memasuki kelas sambil berjalan kemejaku.


"Pagi Ara!" balas teman temanku yang ada di kelas.


Saat aku meletakkan tas dan duduk dikursiku di kolong meja aku merasakan ada sebuah kertas disana seperti sebuah surat?


Aku mengambil surat itu dan melihatnya, sebenarnya surat apa ini.


To : Kinara Marme Grediamon


From : Elementary Academy


Surat dari Elementary Academy? Aku belum pernah dengar nama academy ini apakah ini academy baru?

__ADS_1


  Aku melihat kesekeliling orang orang orang sedang sibik bergosip dan bercanda juga ada yang mengerjakan pr, hmm apa aku tanyakan saja ya pada mereka mungkin mereka tau.


"Hai apa kalian tau Elementary Academy," tanyaku pada teman-teman sekelas yang memandang kearahku dengan bingung.


"Elementary Academy? gak pernah dengar tuh," jawab gadis berambut sebahu Rina namanya.


"Academy baru ya?" tanya Tito dengan kepo.


Karena pertanyaan yang ku lontarkan tadi orang-orang di kelas menjadi ribut membahasnya jadi mereka gak tau ya? Ntah mengapa aku merasakan ada sesuatu pada surat ini, apa jangan jangan... Tidak itu tidak mungkinkan?


"Emang kenapa Ra?" tanya Sani padaku.


"Eh gak, gak apa-apa kok," jawabku lalu memandang kearah surat yang kupegang


  Tiba-tiba terlintas di pikiranku sebuah ide aku meletakkan surat itu di meja lalu bertanya pada orang sekelas.


"Hei apa kalian melihat surat yang ada di mejaku?" tanyaku pada mereka.


"Surat? Gak ada apa apa kok di meja kamu dari tadi," ucap Sinta.


"Kamu nunggu surat dari seseorang ya?" tanya Rina prnasaran.


"Oh tidak Ara, kamu nunggu surat dari cowok yang kamu suka kalau gitu gimana nasib cowok-cowok yang ngarapin kamu," ucap Nino cowok yang paling lebay di kelas.


  Dan yang pasti aku tidak menunggu surat dari cowok atau seorang pun karena kalau ada perlukan bisa lewat handphone zaman sekarang udah canggih coi.


"Gak kok cuma nanya doang kok," ucapku membuat mereka ber oh'ria lalu kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda.


  Aku duduk di kursiku lalu kembali memandang surat itu, Elementary...Academy.


  Nama academy itu sepertinya tak asing tapi aku pernah mendengarnya dimana ya? Apa academy ini ada disana ya? Karna mereka tidak bisa melihatnya berarti surat ini memakai si...hir?


Oh tidak Ara hapus pikiran itu dari otak mu, tapi bisa jadi iyakan?


"Selamat pagi Ara!" seru seorang gadis dengan semangat membara menyapaku membuatku menjadi kaget.


"Pa...pagi juga Nava," balasku masih dengan rasa kagetku.


"Sedang apa?" tanya gadis bernama Nava itu sahabatku dari kecil.


"Gak ada," jawabku membuat Nava memandangku curiga.


"Masa iya terus ditanganmu itu ada sur...," aku langsung membekap mulut Nava.


"Kecilkan suaramu mereka tak bisa melihat surat ini," bisikku pada  Nava membuatnya mengangguk, aku segera melepaskan dekapan tanganku.


"Surat apa itu?" tanya Nava dengan berbisik.


"Wah kau juga mendapatkannya!" seru Nava semangat dengan suara besar setelah membaca surat itu membuat semua mata melihat kearah kami.


"Nava kecilkan suaramu," ucapku memperingati.


"Eh maaf iya iya," ucap Nava padaku lalu meminta maaf pada semua orang yang ada di kelas membuat semuanya kembali kekegiatan mereka masing-masing.


"Jadi, Elementary Academy itu ada dimana?" tanyaku pada Nava.


"Ya ampun kamu benar-benar gak tau?" tanya Nava balik yang ku jawab dengan gelengan kepala.


"Kamu kemana aja sih selama ini araa itukan academy terbaik dan terkenal sepanjang sejarah World magica," ucap Nava.


  World Magica pantas saja suratnya di beri mantra sihir, jadi apa aku harus kembali ke tempat terkutuk itu ini sudah 10 tahun dan aku masih takut kesana aku takut akan mereka, disana aku hanya akan mendapatkan beban.


"Ara, Ara apa kau mendengarku?" tanya Nava yang menyadarkanku dari lamunan tentang tempat terkutuk itu.


"Ya ya jadi di mana tepatnya academy  ini berada?" tanyaku membuat Nava menepuk jidatnya, eh, hmm apa dia sudah memberi taukan tadinya?


"Kamu tidak mendengarkanku oh ya ampun," gumam Nava kecil yang masih dapat di dengar olehku.


"Ok baiklah aku akan menjelaskannya lagi Elementary Academy adalah academy terbaik di World Magica yang terletak di antara kerajaan knight,  İki qılınc dan kerajaan vampire Şirin qan," ucap Nava memberi tahuku.


"Kau tahu ini pasti akan menyenangkan ayo kita kesana Ara setidaknya kita bisa bertemu pria tampan," ucap Nava membuatku menggelengkan kepala, benar-benar yang di pikirkannya hanya pria tampan saja.


"Baiklah akan aku pikirkan lagi," balasku.


  Kerajaan İki qılınc sudah lama aku tak pernah mendengar nama kerajaan itu, kerajaan satu satunya yang dikuasai oleh makhluk Qaranlıq dan sampai kini belum ada yang tau tentang itu, mereka terlalu pintar menyembunyikannya.


Dan juga satu satunya bagian kami yang masih ada di sana hanya Kakak....


  Bel masuk berbunyi menyadarkanku dari lamunanku tadi.


"Ok, pikirkan baik-baik Ara, kita harus pergi ke Academy itu karena aku ingin bertemu dengan pangeran mahkota kerajaan Şirin qan kya pangeranku!" seru Nava dengan lebay, "Aku kembali ketempat dudukku dulu Ara bye" ucap Nava lalu pergi ketempat duduknya sebelum aku sempat menjawab.


Hmm... Kembali ke World magic apakah aku harus?



Bel pulang berbunyi sudah dari tadi dan Nava juga sudah pulang di jemput sopirnya, aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumahku hitung hitung olahraga.


Hmm aku masih memikirkannya Elementary Academy memang tak asing bagiku itu tempat para bangsawan belajar. aku rasa aku melupakan sesuatu tapi apa?

__ADS_1


    Aku merasa sangat mengenal academy itu tapi ada hal utama yang aku lupakan kira-kira apa ya hmm.


  Aku hanya ingat academy itu didirikan oleh kakek buyutku dan sekarang keberadaannya tidak ada yang mengetahui apakah dia sudah mati atau bagaimana tapi tetap saja itu bukan hal penting yang ku maksud jadi apa.


    Karena berpikir terlalu keras aku tak sadar kalau kini aku sudah sampai di depan rumahku padahal jaraknya cukup jauh tapi kenapa rasanya dekat sekali ya, ini aneh? Oh sudahlah lebih baik aku beristarahat saja.


  Aku berjalan membuka pintu rumahku melatakkan sepatu di rak sepatu dan segera berjalan menju sofa menghempaskan tubuhku diatasnya.


  Aku lelah, tapi aku masih memikirkan tentang surat itu. Aku segera membuka tasku dan mengambil surat tadi.


To: Kinara Marme Grediamon


Yang terhormat


Kinara Marme Grediamon


  Kami mengundang anda untuk bersekolah di Elementary Academy, sekolah terbaik di Magica World kami harap anda akan menyetujui surat ini dan menjadi salah satu siswi di academy.


  Kami akan menjemput anda seminggu lagi.


Tertanda           


Kepala sekolah EA


Ntahlah apa ini perasaanku saja atau memang surat ini seperti memaksaku untuk bersekolah di academy itu.


Elementary Academy dan World Magica mereka adalah satu bukan jika aku terima berarti aku harus kembali ke World Magica.


  Sial ini buruk, tapi Nava benar benar ingin kesana dan jika aku tidak pergi dia juga tidak pasti dia akan sedih.


  Dan juga Aruna ini sudah tahun kesepuluh kami disini tapi aku baik baik saja tentu, tapi Runa dia tidak akan baik baik saja.


"Huh.... "


"Nona Ara anda sudah pulang, Selamat datang kembali Nona," ucap seorang wanita berambut sebahu berwarna ungu pucat dan telinga runcing dengan sopan padaku


Alleffra namanya, seorang elf yang disini bertugas melayani Nanaku, aku biasa memanggilnya Efra.


"Ya Efradan bisa kah kau memanggil namaku saja, Nana ataupun Baba tak ada disini," ucapku membuat Efra menghilangkan sikap sopannya tadi.


"Baiklah, tapi ngomong-ngomong itu surat apa?" tanya ketika melihat surat yang di tanganku.


"Baca saja," ucapku memberikan surat itu kepadanya.


"Surat apa itu?" tanya Aruna yang datang ntah dari mana dan ikut membaca surat yang ada pada Efra.


"Kau.... " ucap Aruna memandang kearahku kaget dengan memotong ucapannya.


"Diundang... "sanmbung Efra dengan pandangan yang sama padaku


"Ke Elementary Academy! "seru mereka berdua bersamaan. Mereka tau temtang academy itu?


"Ya, kalian juga tau academy itu?" tanyaku.


"Ya, Elementary Academy adalah academy sihir terbaik di World Magica,"ucap Efra mengagumi academy itu dan yang pasti aku tau tentang itu.


"Academy yang menerima orang berbakat, bangsawan dan semua klan yang memiliki kemampuan hebat bersekolah disana, masa kamu gak tau aku aja yang cydymaith tau," ucap Aruna bangga.


"Orang yang masuk di sana adalah orang-orang yang beruntung saja dan aku dulu termasuk disana,"ucap Efra.


"Dan lagi sayangnya cydymaith sepertiku tidak bisa masuk kesana," ucap Aruna.


"Tapi bukankah ini aneh?"tanya Efra.


"Aneh kenapa? "tanyaku bingung.


"Ya aneh kenapa harus ada surat kalau Ara bisa masuk tanpa surat," ucap Efra membuatku tambah heran.


"Kenapa aku bisa masuk tanpa surat?" tanyaku yang tak dihiraukan oleh mereka.


"Iya juga ya," jawab Aruna tak mempedulikanku.


"Iyakan," ucap Efra.


"Hei aku nanya loh ini, kenapa aku bisa masuk tampa surat?" tanyaku dengan kesal.


"Kamu lupa atau gimana sih? "tanya Runa..


"Lupa tentang apaan sih?" tanyaku balik bingung.


"Kamu lupa pemilik academy itu?" tanya Runa lagi.


"Emang pemiliknya siapa?" tanyaku.


"Hm... Ara pemilik sekaligus kepala sekolah academy itu adalah nona Veria,"jawab Efra.


"Hah, Mommy Veria, pantes waktu aku mikir ada hal penting yang aku lupakan ternyata ini,"ucapku.


"Kamu benar-benar lupa ya?"tanya Aruna.

__ADS_1


"Iya kayaknya," ucapku, "yaudah kalau gitu aku pergi ke kamar dulu ya bye,"ucapku pamit dan segera pergi kekamarku untuk beristirahat dan menenangkan pikiran.


Bersambung...


__ADS_2