
Hentakan kaki serempak dari makhluk-makluk kerdil itu mengema, mereka berjalan sambil mengumamkan kata yang membuat Aruna sungguh pusing.
“Kenapa bisa jadi seperti ini sih!”seru Aruna berteriak sontak membuat salah satu dari makhluk kerdil itu memukulnya membuat Aruna meringis kesakitan.
“Jannya iiibrut!” seru Makhluk itu.
“Ngomong apa sih?” tanya Aruna sedikit berbisik kalau sampai makluk itu dengar bisa di pukul lagi dia.
“Dia memintamu untuk jangan berisik,” jawab Winaya.
“Ya ampun aku benar-benar bingung mengapa mereka menangkap kita,” ucap Browser mengerutu tiada hentinya.
“Hei bukankah kalian tinggal di satu tempat? Kenapa mereka tak mengenali kalian?” tanya Aruna pada Winaya dan Browser.
“Kami memang satu tempat namun kami tak pernah keluar dari wilayah kami,” ucap Browser.
“Kalian bodoh, kalian tuh satu tempat tapi kenapa gak saling kenal? Di mana-mana orang tuh harus bersosialisasi,” omel Aruna.
“Sekedar koreksi kami hewan sihir bukan orang terimakasih,” ucap Winaya.
“Y-ya sama saja,” ucap Aruna terlanjur malu.
“Sudah diamlah kita hampir sampai,” ucap Ara yang sedari tadi diam kini mulai angkat suara.
Aruna memicingkan matanya memandang curiga pada Ara. “Jangan bilang ini semua bagian dari rencanamu?” tanya Aruna.
“Bisa dibilang begitu, kau tau hutan ini bukan hanya tempat Arthos saja melainkan orang-orang agung lainnya,” jawab Ara sambil terkekeh.
“Orang-orang agung? Seperti penyihir agung, kesatria agung dan peramal agung?”tanya Browser di jawab anggukan oleh Ara.
“Tapi jika di perhatikan lagi bukankah ini jalan menuju tempat penyihir agung seperti berita yang menyebar itu?” tanya Winaya.
“Jangan bilang sebelum Arthos kita akan bertemu dengan Artas terlebih dahulu!” seru Aruna.
“Ya Karena sepertinya dia tau tentang sesuatu, aku tak menyangka kita akan di bawa padanya,” ucap Ara.
“Stapp!” seru salah satu makhluk kerdil membuat kerdil lainnya berhenti.
“Tatak eka isni!” seru makhluk kerdil tadi.
Makhluk-makhluk kerdil tadi menjalankan perintah meletakan Ara, Aruna, Browser dan Winaya di tengah-tengah.
“Wah kalian dari mana saja? Aku lelah mencari kalian,” ucap seorang pria pada makhluk-makluk kerdil tadi.
Si kerdil yang sepertinya menjadi pemimpin dari yang lain tadi hormat pada pria itu sambil melapor. “Mi anka usp,” ucap Kerdil itu.
“Maksudmu kalian menangkap penyusup?” tanya pria itu di angguki oleh kerdil itu.
Si kerdil menujuk kearah Ara dan yang lainnya membuat pria itu memandang kearah Ara, Aruna, Winaya dan Browser.
Pria itu membelalakkan matanya kaget saat melihat Ara.
“Apa yang kalian lakukan?!” tanya pria itu berseru marah.
__ADS_1
“I-itu tuan putri Nilara! Cepat lepaskan mereka!” seru pria itu.
“A-p, Eps Eka! At!” seru si kerdil membuat teman-temannya dengan kalang kabut melepaskan Ara, Aruna, Winaya dan Browser.
“Akhirnya!” seru Aruna.
“Dan kau...,” ucap Aruna memicing mengingat-ingat nama pria yang baru saja menolong mereka.
“Arthen apa aku benar? Sang healer agung?” tanya Ara membuat pria itu terkekeh.
“Anda benar Yang Mulia, kalau seperti ini bukankah Anda membutuhkan sesuatu?” tanya pria bernama Arthen itu.
“Arthen! Apa yang terjadi?” tanya seorang pria yang datang dari arah hutan.
“Oh, Artas kemari lah! Lihat siapa yang datang!”seru arthen pada pria itu, Artas.
“Yang Mulia Tuan Putri Nilara?! Salam dari hamba yang mulia!” seru Artas dengan hormat.
“Hei sudahlah jangan terlalu hormat padaku, penyihir agung Artas,” ucap Ara.
“Tapi bagaimanapun saya harus hormat pada Anda bukan?” tanya Artas.
“Orang-orang gila hormat,” ucap Aruna datar.
“Aku tak menyangka bocah yang dulunya sering berkeliaran tak jelas kini telah tumbuh,” ucap Artas yang di tujukan untuk Aruna.
“Siapa yang kau sebut bocah kakek tua!”seru Aruna kesal.
“Hah, muda? Wajahmu iya tapi umurmu tidak,” ucap Aruna.
“Ok sudah jangan bertengkar,” ucap arthen menghentikan pertengkaran Aruna dan Artas.
“Para kerdil sudah aku suruh kembali kini bisahkah kami tau apa maksud dari tujuan kalian?” tanya Arthen.
“Aku yakin kalian tak hanya mencari Arthos bukan?” tambah Artas.
“Kalian benar, aku datang karena membutuhkan bantuan kalian juga mengetahui tentang Debelus pils,” ucap Ara.
“Maksudmu pasti tentang Para Dewa-Dewi termasuk Dewi Nindiga bukan?”tanya Arthen.
“Aku suka bermain teka-teki bersamamu arthen, kau benar,” ucap Ara.
Artas dan Arthen saling pandang, mereka seakan berbicara melalui mata.
“Hallo kalian akan membiarkan kami berdiri di sini dan tidak membiarkan masuk?” tanya Aruna yang karena memang sudah lelah juga mau merasakan bagaimana suasana istana di dekat mereka yang pastinya menjadi tempat tinggal dua orang di depan mereka.
“Ah ya lebih baik kita membicarakannya di dalam bukan,” ucap Artas.
“Mari aku tuntun,” ucap Arthen menjadi pemandu memasuki tempatnya dan Artas selama ini menetap.
Hari mulai berganti matahari telah terbit dan saat itu Ara, Arthen, Artas, Aruna, Browser dan Winaya telah pergi jauh memasuki dalam hutan di ikuti oleh satu makhluk kerdil.
__ADS_1
Hah melihat pemandangan hutan Ara menjadi mengingat pembicaraan mereka kemarin, tiga orang agung yang harus ia temui.
*Api unggun hangat menemani mereka yang kini duduk di sofa kecuali Browser dan Winaya kedua kuda itu kini sedang menikmati waktu istirahat mereka di layani oleh para makhluk kerdil.
“Jadi makhluk-makhluk kerdil ini kalian jadikan sebagai pembantu?” tanya Aruna sambil memakan beberapa biskuit yang di bawakan Kernal si kerdil yang memimpin tadi juga yang memukulnya.
“Garis besarnya seperti itu, mereka dibuat oleh Artas,” ucap Arthen.
“Baik kalau begitu bagaimana dengan pertanyaanku apa kalian tau sesuatu?” tanya Ara.
“Hah, jika kau ingin mengetahui gambaran masa depan datanglah pada Arthos,” ucap Artas.
“Dan jika kau ingin mengetahui akan sejarah dan pengetahuan dewa dewi datanglah pada Arthi,” tambah Arthen.
“Dan jika kau membutuhkan perlindungan datanglah pada Arthur, jika kau membutuhkan obat-obatan terbaik datanglah pada Arthen dan jika kau membutuhkan temeng tersembunyi datanglah pada Artas,” ucap Aruna sambil memutar bola matanya.
“Ya, ya kata-kata itu selalu aku dengar dari orang sekitarku dengan kata lain aku harus mengumpulkan orang-orang agung jika ingin mengetahui tentang Debelu pils ini bukan?” tanya Ara.
“Ya, kau benar karena kami tak terlalu banyak tau tentang para dewa-dewi,” ucap Arthen.
“Ya, kami memang sempat dilatih oleh para dewi dan dewa hingga bosa mendapatkan gelar agung tapi tentang mereka lebih lanjut itu semua buram,” ucap Artas.
“Kalian tau tempat Arthi bukan?” tanya Ara.
“Ya,” jawab Arthen dan Artas kompak.
“Tunjukan aku jalannya lalu kita akan ke tempat Arthur dan terakhir Arthos waktuku di sini hanya dua hari dan aku harap aku bisa mendapatkan informasi,” ucap Ara*.
Dan ya akhir pembicaraan itulah yang membawa mereka kemari ke belukar semak-semak.
“Ini menyebalkan aku tak percaya akan ada kuil di tengah semak belukar ini,” ucap Aruna kesal.
“Dan kuil paling bersinar yang tak kau percaya itu ada di depan kita Nona,” ucap Artas.
Aruna terkagum ini di luar ekspetasinya, di dalam hutan ini benar-benar ada kuil dan ini adalah kuil besar dan indah.
Mereka masuk kedalam kuil tersebut menerusuri isi dalam yang di penuhi oleh patung juga gambar-gambar di dinding.
“Apa yang Anda cari? Semoga saya dapat membantu kerena di kehidupan kini saya tetap di pihak anda,”
*Bersambung....
Hai, hai apa kabar.
Jangan lupa komen walau hanya kata semangat, juga jangan lupa vote juga favoritnya karena kalian pembaca cerita ini adalah penyemangat bagi saya yang menulis.
Sekian jangan lupa juga share cerita ini pada kawan kalian lainnya agar mereka bisa menikmati cerita ini.
Maaf jika ada typo atau ada salah terimakasih perhatiannya.
Sampai jumapa minggu depan...
Bye👋👋*
__ADS_1