Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Perasaan Zazkia


__ADS_3

"Aku pulang dulu ya, istirahatlah. Sampaikan salamku pada Kak Re dan Kak Kevin"


"Ya, Kak. Hati-hati dijalan"


Vino langsung macu motornya kembali kerumah. Kia masuk kedalam dan langsung menuju kamarnya. Dia segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Matahari sudah tenggelam sejak tadi. Kia masih tiduran diatas kasurnya sambil memandang jari tangannya.


Tok... Tok..


Kia bangkit dan menuju pintu kamar.


Cekreeeeekkk ...


"Maaf, Non. Tuan Re dan Tuan Kevin menunggu Non Kia di ruang makan?"


"Oooh... Baik, Bi. Sebentar lagi aku turun"


Kia menuju meja riasnya. Merapikan kembali rambut panjangnya yang berantakan. Mengikatnya dengan rapi. Lalu bergegas turun. Dia lupa kalo hari ini hari minggu. Pasti kedua kakaknya ada dirumah. Dia juga lupa sudah saatnya makan malam.


"Kamu baru bangun, sayang?", sapa Kevin saat Kia tiba di ruang makan.


"Ah, tidak, Kak. Tadi Kia ada sedikit kerjaan, tugas sekolah", ucap Kia berbohong. Malu dia dengan kakaknya jika mereka tahu kalau dia lupa makan malam bersama karena bahagia dengan pemberian Vino.


Seperti biasanya banyak yamg dibicarakan oleh tiga bersaudara itu dimeja makan. Momen makan bersama adalah momen yang terbaik bagi mereka untuk saling berbagi cerita. Maklum saja Re dan Kevin adalah pengusaha muda yang sukses, dengan segudang pekerjaan mereka yang menumpuk sangat jarang mereka bisa bertemu seperti ini.


Kia sekarang juga mulai disibukkan dengan sekolahnya. Juga kegiatannya di club sains.


"Ini dari Vino?", tanya Kevin memegang tangan adik bungsunya.


Rupanya sejak tadi dia memperhatikan jemari Kia. Dia menanyakan setelah mereka bersantai diruang tengah. Tanpa basa-basi Kevin langsung menembak Kia dengan pertanyaan yang ada dikepalanya.


"Kak Kevin benarkan, sayang?"


Kia hanya menganguk. Kevin melepaskan cincin itu. Mengamatinya dengan teliti. Kevin paham benar dengan benda-benda berharga seperti itu. Re hanya diam dihadapan mereka sambil berpura-pura membaca sesuatu pada ponselnya. Kevin memasangkan lagi cincin itu pada jari Kia.

__ADS_1


"Dia punya selera yang bagus juga rupanya"


"Maksud, Kak Kevin?"


Kevin tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


" Apa sih, Kak. Kia kan jadi penasaran nih"


"Tidak ada apa-apa, sayang. Kak Kevin hanya bicara sendiri saja"


"Bicara sendiri kok Kia dengar loh"


Kevin mengusap kepala adiknya. Lalu dia membisikkan sesuatu pada si bungsunya. Koa tertawa lalu menggeleng.


"Benar?"


"Tidak, Kak"


"Yakin", jawab Kia sambil mengacak-acak rambut Kevin, lalu dia berlari dalam pelukan Reagan.


Kevin mengejarnya. Dia meminta perlindungan Kak Re nya. Reagan memeluknya. Kevin tak dapat berbuat apa-apa. Kia tertawa melihat Kevin memonyongkan bibirnya.


"Sudah malam, Dek. Kamu besok harus sekolah. Istirahatlah", ucap Re sambil memberikan kecupan selamat malam pada Kia.


Kevin melalukan hal yang sama. Kia segera masuk kedalam kamarnya. Memang itulah yang dia tunggu. Kalau lama-lama disana habis dia di wawancara dengan kedua kakaknya, batin Kia.


******


"Kak..."


"Hmm...", Re meletakkan ponselnya dimeja.


"Cincin itu..."

__ADS_1


"Ya, cincin dari anak laki-laki itu, bukan?"


"Vino"


"Hmmm..."


"Cincin itu bukan benda sebarangan. Itu cincin emas putih bertabur berlian murni dan sepertinya itu pesanan khusus"


"Mata mu jeli juga, Dek"


"Aku tak bisa dibohongi untuk urusan yang satu itu"


"Yang Kak Re pertanyaan adalah apa maksud laki-laki itu memberikan cincin itu pada Kia?"


"Sekedar pemberian barangkali?"


"Kevin, kamu kan laki-laki juga. Pasti kamu paham jika seorang laki-laki memberikan sesuatu pada seorang perempuan, apalagi sebuah cincin, tentu dia punya maksud tertentu. Apalagi itu barang bukan barang murah, Dek"


"Ya, Kak. Kevin paham maksud Kak Re"


"Yang Kak Re ingin tahu adalah sudah sejauh mana hubungan mereka berdua"


"Kalau Kak Re tidak menyetujuinya, Kak Re tenang saja, Kevin akan ambil tindakan tegas"


"Kak Re, belum bisa bilang tidak setuju. Kak Re belum menemukan titik temu. Penyelidikan belum selesai, Dek. Lagipula, perasaan Kia tak bisa dibohongi"


"Ya, tampaknya Kia juga menyukai Vino, Kak. Kalau kita terlalu keras, Kevin khawatir dengan Kia. Bagaimana perasaannya nanti. Dia pasti sedih sekali"


"Hmmm...."


Re menghela nafas panjang. Dia menyetujui perkataan adik laki-laki nya. Yang paling penting adalah perasaan Kia yang harus mereka jaga. Sebagai anak sulung laki-laki dia memiliki tanggung jawab besar terhadap kedua adiknya, terutama pada Kia. Sibungsu perempuan mereka.


******

__ADS_1


__ADS_2