Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Sebuah Cincin


__ADS_3

"Kita kemana, Kak?"


"Maaf, Kia. Kita kerumahku sebentar. Ada sesuatu yang penting yang tertinggal. Tidak apa-apa kan?"


"Baiklah"


Kia menganguk. Dia duduk di jok belakang motor Vino. Vino melarikan motornya ke kampung sebelah, melewati jalan-jalan kampung yang berbatu dan sedikit becek sia hujan semalam. Lalu masuk kesebuah gang kecil berbelok-belok. Dan akhirnya mereka berdua sampai disebuah bedeng kecil berukuran empat kali tiga meter persegi. Rumah kontrakan sederhana yang hanya mempunyai sebuah ruangan dan kamar mandi didalam.


Kia melangkahkan kakinya kedalam rumah. Disana hanya ada selembar kasur kapuk tanpa ranjang dan sebuah lemari kayu kecil tempat Vino meletakkan pakaiannya. Sebuah televisi empat belas inch dan tas ransel di pokoknya. Vino membuka tas ransel itu dan mengambil sebuah amplop coklat bersegel. Lalu memasukkannya kedalam jaketnya.


"Maaf ya, tempat nya kecil dan sempit"


Zazkia hanya tersenyum.


"Kamu mau minum sesuatu?"


"Tidak usah, Kak"


"Baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang?"


"Ya.."

__ADS_1


Kia naik keatas boncengan motor. Vino dengan cekatan kembali melajukan motornya menembus keramaian kota. Mereka menyusuri pertokoan di mall pusat kota. Kia membeli beberapa peralatan sekolah dan buku-buku. Puas berjalan mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka yang sudah kosong. Pelayan kafe mencatat semua pesanan mereka dan tak berapa lama datang lagi membawakan semua pesanan mereka.


"Maaf ya, kamu tunggu sebentar aku ada perlu dengan seseorang"


Vino meninggalkan Kia seorang diru di kursi kafe. Dia keluar dan menemui seseorang. Seorang pria berjas rapi. Vino memberikan amplop yang di bawa nya tadi pada pria itu. Sementara Kia memperhatikan dari tempatnya duduk.


"Ada apa, Kak?", tanya Kia saat Vino kembali.


"Ah..tidak apa-apa. Hanya menyerahkan dokumen punya seorang teman"


"Teman? Orang tadi teman Kak Vino?"


"Hmm... "


"Kia ..."


"Ya ..."


Vino menyodorkan sebuah kotak kecil berkulit beludru merah pada Kia.


"Apa ini, Kak?"

__ADS_1


"Bukalah"


Kia membukanya. Sebuah cincin bermata hijau kekuningan dengan permata putih sekeliling lingkarannya. Cantik sekali.


"Kak Vino ... Ini ... "


"Yah... Ini untuk mu. Untuk membuktikan keseriusan ku padamu. Aku ingin kamu memilikinya dan memakainya di jarimu"


"Tak perlu seperti ini, Kak. Kak Vino tak perlu repot-repot memberikan aku hadiah seperti ini"


"Kia, maaf kalau ini hanya barang biasa. Aku tahu kedua kakakmu pasti mampu membelikan yang jauh lebih bagus dan mahal. Tapi ini lah kemampuanku. Aku harap kamu mau menerimanya"


"Kak, bukan begitu maksudku. Kak Vino tak perlu memaksakan diri. Aku tak pernah menuntut apapun darimu. Aku hanya ingin kita saling percaya dan saling menjaga"


"Aku tahu kamu seperti apa. Makanya aku memilih mu untuk tinggal dihatiku"


Kia tersipu malu mendengar ucapan Vino. Vino menatapnya dengan wajah berbinar senang, ingin rasanya dia memeluk gadia yang ada dihadapannya, sikap Kia itu membuat dia gemas sekali, namun dia sudah berjanji untuk tidak menyentuh Kia sampai dia berhasil menghalalkan gadis kesayangannya itu. Kia memakai cincin itu di jari tengah tangannya sebelah kanan. Dia tersenyum sambil memandang jari tangannya yang sudah dilingkari oleh cincin pemberian Vino.


"Terima kasih ya, Kak. Ini cantik sekali. Aku suka"


"Syukurlah kalau kamu menyukainya"

__ADS_1


******


__ADS_2