Di Antara Tiga Cinta

Di Antara Tiga Cinta
Menjauh Karena Sayang


__ADS_3

"Rev ... "


"Hmm...", Vino menoleh pada Ellene


"Ada apa antara kamu dan Zazkia? Kalian sedang bertengkar?"


"Tidak, Mi"


"Tapi aku lihat belakangan ini kalian jarang bersama. Bahkan tadi sikap kalian dingin sekali. Apa ada masalah, Rev?"


"Mi ... "


Ellene menoleh pada Vino. Dia mendengarkan dengan seksama kata-kata yang diucapkan anak tirinya itu.


"Aku fikir aku tak ingin lagi memperjuangkan Zazkia. Aku takut jika kami bersama akan banyak orang yang terluka karena kami. Lagi pula Papi tidak menyetujuinya, bukan"


"Kamu ini tidak seperti Rev yang aku kenal. Ada apa denganmu? Rev yang kukenal adalah laki-laki yang kuat dan tegar, mandiri juga tak pernah kenal kata menyerah. Tapi sekarang yang ada disebelahku hanya sosok laki-laki yang lemah karena patah hati. Yang menyerah pada keadaan. Ayolah, Rev. Kalau kalian saling mencintai berusahalah. Perjuangkan cinta kalian"


Hhhuiuhh... Vino menghela nafas berat.


"Tapi aku lebih khawatir dengan keselamatan Kia. Aku takut terjadi apa-apa dengannya jika dia bersamaku, Mi"


"Maksudmu?",tanya Ellene


"Aku tak bisa menceritakannya. Tapi aku menjauh karena aku sangat menyayanginya bagiku nyawa Zazkia lebih berharga, dan kebahagiaannya adalah hidupku"

__ADS_1


******


Mobil Vino sampai di hotel tempat Emilio dan istrinya menginap. Vino mengantarkan Ellene sampai depan pintu kamar sambil menggendong Flo yang terlelap. Dia menyerahkan Flo pada Ellene saat di depan pintu kamar.


"Kamu tak mau mampir dulu, Rev. Sapalah dulu Papimu"


"Terima kasih. Lain kali saja, Mi. Aku permisi dulu"


"Rev..."


"Ya .."


"Aku harap kamu bisa sedikit melunak pada Papimu, Rev", pinta Ellene pada anak tirinya.


Ting. .. tong ...


Ellene menekan bel kamar. Tak lama Emilio datang membukakan pintu. Dia mengambil Flo dari gendongan istrinya lalu menidurkannya diatas kasur. Ellene membersihkan dirinya dikamar mandi dan mengganti pakaiannya.


"Vino mengantarmu pulang",tanya Emilio.


"Ya, Kak"


Emilio memutuskan pergi dari pesta lebih awal karena ada hal penting yang harus diurusnya. Flo tidak mau berpisah dari kakak tirinya. Jadi Ellene memutuskan untuk menuruti Flo dan menunggu Vino pulang.


"Apa anak itu tak mengatakan apapun padamu?"

__ADS_1


"Dia banyak cerita tadi. Tentang hubungannya dengan Zazkia"


"Ooo... Putri bungsu keluarga Augustine itu?"


"Ya, Kak"


Emilio memalingkan wajahnya. Dalam hatinya sebenarnya dia tak tega melihat putra tertuanya bersedih. Namun, harga dirinya lebih menguasainya saat ini.


"Kak ..."


"Hmm..."


"Apa Kak Emil tidak kasihan melihat putramu itu,Kak. Kasihan Vino. Dia terlihat begitu putus asa dan patah hati. Aku tak pernah melihatnya begini sebelumnya. Aku tak tega melihatnya begitu, Kak"


"Sudahlah tak usah kamu fikirkan anak itu. Dia itu laki-laki. Seharusnya dia kuat dan tidak cengeng seperti itu. Hanya karena seorang perempuan saja dia menjadi laki-laki cengeng begitu"


"Aku menjauh karena aku menyayanginya, bagiku nyawa Zazkia lebih berharga, dan kebahagiaannya adalah hidupku. Itulah yang dia katakan padaku"


Emilio terdiam. Dia mencoba mencerna baik-baik kata-kata istrinya itu. Apa maksud ucapan anak itu, batinnya. Emil masih terdiam dalam pikirannya sendiri. Dia belum menemukan arti kata-kata tadi.


Dia menoleh, disampingnya Flo dan Ellene sudah tertidur dengan lelapnya. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dia turun dari tempat tidurnya lalu mengambil segelas minuman dingin dari kulkas kecil di pojok kamar hotel.


Emilio mengambil ponselnya, dia membuka aplikasi WhatsApp dan mengetik beberapa kata, kemudian mengirimnya pada seseorang. Setelah itu barulah dia kembali mencoba memejamkan matanya.


******

__ADS_1


__ADS_2