
Baron masih berjongkok memegang lengannya yang terluka.
"Jangan terlalu senang dulu. Suara tawa mu membuat ku muak", seseorang berjalan mendekati mereka.
Kia menoleh kearah orang itu, dia paham benar suara siapa itu. Revzan Alviano Mahawira, laki-laki itu muncul di balik cahaya rembulan malam.
"Siapa kau?!",bentak Baron.
Semua mata tertuju pada Vino. Dengan tenang dia berjalan menuju Re dan berdiri bersisian dengan calon kakak iparnya itu. Re tersenyum menyambut kedatangan Vino. Kevin memberi kode pada Edzard untuk mengawal Kia, lalu dia bergabung dengan Re dan Vino.
Vino menoleh ke arah Kia matanya memastikan kalau pujaan hatinya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Baiklah, rupanya aku sedikit meremehkan kalian tadi. Kali ini aku akan lebih serius", Baron bangkit dari duduknya.
"Jangan terburu-buru, waktu kita masih panjang",ejek Vino.
"Kau?!"
"Aku harus membuat perhitungan denganmu atas apa yang kamu lakukan pada, Papi. Kau ingat kejadian di Paris"
"Paris??? Oooo... Rupanya kamu putra Emillio. Seharusnya aku menghabiskan seluruh peluru ku di tubuh Papimu, agar dia segera menyusul Guatav sahabat konyolnya itu"
Klik...
Klik...
Klik ...
Tiba-tiba banyak lampu menerangi mereka. Dan sebuah mobil melitas diantara ke empat laki-laki itu. Excel turun dari mobil lengkap dengan pengawalan polisi bersenjata yang sudah mengepung mereka.
"Cukup, Baron. Hentikan semua kejahatanmu itu. Semua kekonyolan yang menjijikkan ini. Menyerahlah, Baron"
__ADS_1
Baron hendak melawan namun dengan sigap beberapa polisi melumpuhkannya. Baron segera dibawa kemarkas polisi.
"Kalian tidak apa-apa?",tanya Excel.
"Kami tidak apa-apa, Oom. Terima kasih atas bantuannya",ucap Re sopan.
"Kali ini aku pastikan bahwa Baron akan menerima hukuman yang setimpal dengan semua perbuatannya"
"Kami mengandalkan Oom Excel dalam hal ini", lanjut Re.
"Bagaimana keadaan Papimu, Vino?"
"Papi sudah keluar dari rumah sakit, Oom. Hanya tinggal pemulihannya saja"
"Syukurlah kalau begitu, Oom permisi dulu"
Excel kembali kedalam mobilnya lalu menghilang dalam kegelapan malam di jalan raya.
******
"Sayang, apa kamu baik-baik saja. Mereka tidak menyakitimu, bukan?"
"Ya, Kak. Aku baik-baik saja. Untung saja Kak Re dan Kak Kevin cepat menolongku"
"Syukurlah, maafkan kalau aku datang terlambat, sayang. .."
"Kak Vino datang pada saat yang tepat, terima kasih ya kak sudah menyelamatkan Kak Re"
"Tak usah difikirkan. Begitu aku dengar kamu di culik, hancur rasa hati ini. Aku takut terjadi hal yang buruk padamu. Tapi aku bersyukur, Tuhan masih melindungi perempuan yang paling aku sayangi"
Zazkia tersenyum malu, dia benar-benar tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah karena mendengar kata-kata kekasihnya.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik kamu pulang dulu sayang. Beristirahatlah. Tenangkan dirimu dirumah"
"Kak Vino mau kembali ke Perancis?"
"Tidak, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan disini. Papi juga sudah membaik. Aku yakin pasti mami mengurus nya dengan baik"
"Jaga diri baik-baik ya, Kak. Aku pulang dulu"
Vino mengangguk. Dia mengantar Kia kemobil lalu membukakan pintu mobil untuknya. Vino pergi menaiki mobilnya yang terparkir di ujung jalan setelah berpamitan kepada Re dan Kevin.
******
Kia membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Tubuhnya merasa lebih baik setelah guyuran air shower membasahi ujung kepala sampai ujung kakinya. Kali ini dia merasa senang berada di rumah, dikamarnya sendiri.
Tok .... tok ...
Cekreeeeekkk ...
Kevin masuk dan duduk disisi tempat tidur.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?"
"Sudah lebih baik, Kak"
"Syukurlah, Kak Kevin senang mendengarnya"
"Kak Re kemana, Kak?"
"Kak Re, kekantor polisi bersama Oom Excel. Dia dimintai keterangan lebih dulu. Kamu istirahatlah dengan nyaman. Kak Kevin tinggal kekamar ya, sayang ... "
Cup...
__ADS_1
Sebuah kecupan selamat malam diberikan di kening Kia. Kevin merapihkan selimut Kia lalu menutup pintu kamarnya perlahan.
******