
(Awal tahun - Kota Paris, Perancis)
Di Prancis iklimnya cenderung sedang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, namun ritme musim telah diketahui dengan baik. Kala itu, Paris dilanda badai salju langka yang membuatnya tampak lebih cantik bak negeri ajaib di musim dingin.
Badai salju tersebut membuat beberapa tempat wisata di sana ditutup, tak terkecuali Menara Eiffel. Badan cuaca nasional, Meteo-France, juga mengeluarkan sinyal oranye, sinyal peringatan tertinggi kedua akibat kondisi cuaca ekstrem musim dingin. Selama tiga hari warga Paris mengurangi bahkan menghentikan kegiatannya diluar rumah.
Hari ini cuaca lebih baik suhu dingin agak bersahabat kali ini. Emilio keluar dari rumahnya dengan jaket tebal berbulunya. Sepertinya dia ada janji dengan seseorang.
Drrr.... Drrr...
"Halo ...", ucap Emilio dari ujung telepon.
"Au revoir mon stupide ami "1)
Belum sempat Emil menjawab perkataan orang itu ... Door... Doorrr... Dooor...
Tap .... Tap.... Tap... Suara langkah kaki seseorang berlari.
Tiga kali suara letusan peluru mengarah kepadanya. Darah segar menetes diatas salju putih. Emilio tersungkur tak sadarkan diri. Orang-orang yang melihatnya hiteris.
Emilio dilarikan ke Hôpital Européen Georges, disana dia ditangani oleh doktee specialis terbaik di Kota Paris. Ellene terlihat pucat menunggu di depan ruang operasi. Sebuah peluru bersarang di dadanya. Tim dokter sedang berusaha mengeluarkan peluru dari tubuhnya.
Ini adalah operasi kedua dengan membawa serta dokter spesialis bedah, penyakit dalam serta jantung. Operasi pertama berhasil mengeluarkan proyektil pelurunya. Pada operasi kedua ini tim dokter berupaya mengobati luka yang timbul akibat tembakan itu pada ujung vena cava superiornya. Walaupun luka gores itu kecil tapi dikhawatirkan akan menyebabkan infeksi pada pembuluh darah di jantungnya.
"Mi ... !!"
"Rev ... ", Ellene langsung memeluk Vino saat anak tirinya itu datang.
Airmatanya mengalir membasahi kedua pipinya. Vino memegang kedua pipi Ellene dan menghapus airmatanya.
"Bagaimana keadaan Papi?"
__ADS_1
"Dokter sudah mengoperasinya kemarin. Tapi Kak Emil belum sadarkan diri. Aku takut, Rev"
Vino memeluk Ellene erat-erat dia tahu perempuan cantik itu pasti sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Papinya itu.
"Sudahlah Mi, lebih baik mami sekarang pulang dan beristirahat dirumah"
"Tapi, Rev ... "
"Biar aku yang menjaga papi disini. Kasihan Flo"
Ellene mengangukkan kepalanya. Dia memang kurang istirahat sejak kemarin. Keadaan suaminya yang kritis membuat dia sangat khawatir dan cemas.
******
(Rumah keluarga Augustine)
Kevin dan Re asyik bermain bilyard berdua. Sementara itu Kia duduk di kursi sambil membaca sebuah buku.
"Maaf, sayang aku baru sempat membalas pesanmu. Aku harus ke Perancis. Keadaan gawat"
Kia mengerutkan dahinya saat membaca pesan WhatsApp balasan dari Vino. Dia me redialing no ponsel Vino.
Tuuut.. tuuut...
Klik ...
"Halo Kak"
"Ya, sayang", suara Vino terdengar lemah dan serak diujung sana.
Kia merasa khawatir mendengar perubahan nada bicara Vino.
__ADS_1
"Ada apa, Kak. Kak Vino baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, sayang. Maaf ya aku baru sempat membalas pesanmu"
"Apa yang terjadi, Kak? Sepertinya Kak Vino kurang sehat?"
"Tidak apa-apa sayang. Aku hanya kurang istirahat saja. Begitu mendarat aku langsung ke Hôpital Européen Georges. Papi sedang kritis. Dokter baru saja mengoperasinya kemarin. Dia diserang oleh penembak tak dikenal"
"Tertembak!!", suara Kia yang sedikit berteriak membuat Re dan Kevin menoleh ke arahnya.
"Ya, dokter bilang tinggal menunggu masa kritisnya lewat. Baru mereka bisa mengambil tindakan selanjutnya"
"Aku berharap semua akan baik-baik saja, Kak. Jaga kesehatan Kak Vino disana. Jangan sampai Kak Vino sakit"
"Ya, sayang. Terima kasih"
Klik ...
Kia menutup ponselnya. Dia terdiam. Andai saja dia bisa berada disana berbagi kesedihan dengan laki-laki yang sangat disayanginya itu.
"Ada apa, Dek?"
Kia menoleh ke arah Reagan yang berdiri dihadapannya.
"Kak Vino mengabarkan kalau Papinya ditembak oleh orang tak dikenal dua hari yang lalu. Keadaannya kritis"
"Ditembak?"
Kia mengangukkan kepalanya. Dia merangkul pinggang Re yang berdiri dihadapannya. Re mengusap-usap lembut kepala adiknya. Menenangkan perempuan cantik kesayangannya itu.
******
__ADS_1